NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Mafia Kejam

Obsesi Sang Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...

Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8 : Bara Pulang

Rosline masih memegangi nampan teh sambil menghela napas lega pelan.

Jujur saja, tadi ia benar-benar merasa seperti sedang menghadapi ujian hidup dan mati hanya untuk membuat secangkir teh.

Sedangkan Alberto masih terlihat puas sambil menikmati tehnya perlahan.

“Hm… sudah lama tidak ada yang bisa membuat teh lumayan seperti ini.”

Rosline langsung menoleh cepat. “Benarkah?”

“Mm.”

Wajah Rosline langsung sedikit berbinar senang tanpa sadar. “Syukurlah…”

Dan lagi-lagi reaksi polos itu membuat Alberto terkekeh geli.

Namun di saat yang sama…

Brakk!

Suara keras tiba-tiba terdengar dari lantai atas.

Rosline langsung tersentak kaget sampai hampir menjatuhkan nampannya lagi.

“A-apa itu?!”

Bibi Rena terlihat biasa saja. “Paling Tuan Besar lupa menutup jendela lagi semalam.”

Namun Alberto justru langsung mendecak kesal. “Pasti itu kamar Bara.”

Rosline perlahan berkedip bingung. “Kamar… Tuan Bara?”

“Iya,” jawab Bibi Rena sambil membereskan obat. “Sudah hampir dua bulan kosong. Kadang jendelanya terbuka sendiri kalau ada angin besar.”

Rosline langsung menoleh refleks ke arah tangga besar mansion. Entah kenapa bulu kuduknya sedikit meremang. Tidak mungkin mansion sebesar dan semewah ini ada hantunya. Memang kalau sepi terlihat sangat menyeramkan. Apalagi sekarang ia tahu keluarga ini bukan keluarga sembarangan.

Sementara itu Edwin yang sejak tadi diam akhirnya berdiri pelan dari kursinya. “Aku ke atas sebentar.”

“Iya, Tuan.”

Pria itu berjalan menaiki tangga dengan langkah tenang. Kemeja hitamnya sedikit bergerak mengikuti langkah panjangnya.

Dan tanpa sadar, tatapan Rosline malah mengikuti Edwin sampai pria itu menghilang di lantai dua.

“Ck ck…”

Suara Alberto tiba-tiba terdengar.

Rosline langsung tersadar lalu buru-buru menunduk malu. “Eh?!”

Pria tua itu menyipitkan mata jail. “Kau memperhatikan Edwin terus.”

“Ti-tidak!” Rosline langsung panik.

“Bohong.”

“Sungguh tidak!”

Bibi Rena sampai tertawa kecil melihat Rosline yang wajahnya mulai merah lagi. Namun sebelum Alberto sempat menggoda lebih jauh…

Suara langkah cepat tiba-tiba terdengar dari arah depan mansion. Seorang penjaga rumah masuk dengan wajah tegang.

“Tuan Besar.”

Alberto langsung mengernyit. “Apa?”

“Mobil Tuan Bara sudah masuk area gerbang.”

Rosline langsung membeku. Bibi Rena refleks menoleh.

Bahkan Alberto yang tadi santai langsung terlihat jauh lebih hidup. “Benarkah?!”

“Iya, Tuan Besar.”

Jantung Rosline langsung berdetak cepat entah kenapa.

Tuan Bara, pria menyeramkan yang sejak tadi hanya ia dengar dari cerita orang-orang… sekarang benar-benar datang?

Suasana ruang tengah mansion langsung berubah. Rosline yang tadi masih duduk tenang kini otomatis menegakkan tubuh gugup. Tangannya bahkan refleks menggenggam buku catatan kecilnya erat. Entah kenapa jantungnya ikut berdebar.

Sedangkan Alberto terlihat paling bersemangat. “Mana anak itu?!” gerutunya cepat sambil berusaha membenarkan posisi duduknya di kursi roda.

Bibi Rena sampai tersenyum geli. “Tuan Besar seperti menunggu anak yang baru pulang sekolah.”

“Aku memang menunggunya!”

Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah depan mansion.

Rosline refleks menoleh ke arah pintu utama. Dan detik berikutnya. Seorang pria tinggi masuk ke dalam mansion dengan jas hitam gelap yang masih sedikit terbuka di bagian leher.

Rambutnya sedikit berantakan seperti baru terkena angin luar. Wajahnya tampan dengan rahang tegas dan sedikit brewok tipis yang membuat auranya jauh lebih liar dibanding Edwin.

Tatapan matanya tajam. Dan entah kenapa terasa berbahaya. Di belakangnya beberapa pria berbadan besar ikut masuk sambil membawa map hitam, namun langsung berhenti saat Bara mengangkat tangan kecil memberi kode. Semua orang otomatis diam beberapa detik.

Rosline bahkan sampai lupa bernapas sesaat. Dan kini ia akhirnya mengerti kenapa semua orang mengatakan Bara Alexander lebih menyeramkan dibanding Edwin.

Karena Edwin masih terlihat dingin dan tenang. Sedangkan Bara seperti api yang ditahan paksa. Tatapan mata pria itu perlahan menyapu ruangan.

Lalu berhenti tepat pada Alberto. “Opa.”

Seketika wajah Alberto langsung berubah kesal sekaligus lega. “Bocah tidak tahu diri! Kau akhirnya ingat jalan pulang juga!”

Bara hanya tersenyum miring kecil. “Bukannya Opa yang mengancam mencoret namaku dari ahli waris?”

Alberto langsung mendengus keras. “Bagus kalau ancamanku mempan!”

Bara tertawa pelan. Dan untuk pertama kalinya sejak masuk mansion, aura tajam pria itu sedikit melemah.

Ia berjalan mendekat lalu jongkok santai di depan kursi roda Alberto. “Masih sehat rupanya.”

“Huh! Tentu saja!”

“Katanya sudah sekarat.”

“Itu Edwin yang membual!”

Dari arah tangga…

Edwin akhirnya turun perlahan sambil menatap datar ke arah kakaknya. “Kalau tidak begitu, kau tidak akan pulang.”

Bara langsung menoleh sambil menyeringai kecil. “Kau makin licik sekarang.”

“Belajar dari kakakku.”

Rosline diam-diam memperhatikan keduanya. Aneh, meski aura mereka berbeda jauh, wajah Edwin dan Bara memang sangat mirip.

Sama-sama tampan, sama-sama memiliki tatapan tajam. Hanya saja Edwin terasa dingin seperti es, sedangkan Bara jauh lebih liar dan sulit ditebak.

Dan saat itulah, tatapan Bara tiba-tiba beralih ke arah Rosline.

Deg.

Rosline langsung membeku di tempat.

Pria itu menyipitkan mata sedikit sambil memperhatikan Rosline dari atas sampai bawah tanpa bicara.

Beberapa detik hening. Lalu…

“Siapa gadis itu?”

Rosline langsung menelan ludah gugup.

Tatapan Bara benar-benar tajam sampai membuatnya ingin mundur pelan-pelan dari ruangan itu.

Namun sebelum Rosline sempat menjawab…

“Dia Rosline.” Suara Edwin terdengar tenang dari arah tangga.

Bara tetap menatap Rosline tanpa berkedip. “Lalu untuk apa dia disini?”

“Dia perawat baru yang ditugaskan untuk menjaga Opa.”

Alis Bara langsung terangkat tipis. Tatapannya perlahan beralih ke Edwin. “Kenapa kau tidak memberitahuku?”

Edwin turun beberapa langkah lagi dengan santai. “Semalam aku ingin memberitahumu.”

Tatapan Bara menyipit.

“Tapi kau langsung menutup teleponku.”

Bara terdiam sesaat.

Rosline diam-diam makin tegang melihat suasana kedua bersaudara itu mulai berubah dingin.

Beberapa detik kemudian Bara kembali menoleh ke arah Rosline. Tatapannya kini jauh lebih tajam seperti sedang menilai sesuatu.

“Dari yayasan mana dia?”

“Bukan dari yayasan.”

“Apa kau sudah menyelidiki asal-usulnya?”

Rosline langsung membeku.

Sedangkan Edwin justru terkekeh pelan mendengar nada interogasi kakaknya. “Dia hanya perawat, Bara. Kenapa kau terdengar seperti sedang mencari calon istri?”

Deg.

Rosline langsung tersedak ludah sendiri.

“Eh?!”

Namun detik berikutnya...

Bara tiba-tiba berjalan cepat, lalu menarik kerah kemeja Edwin kasar sampai tubuh adiknya itu sedikit terdorong ke belakang. Suasana ruangan langsung menegang.

Rosline sampai refleks berdiri panik. “Tu-Tuan!”

Tatapan Bara berubah dingin dan berbahaya. “Kau ini sembarangan sekali membawa orang asing masuk ke mansion.”

Edwin masih terlihat santai meski kerah bajunya dicengkeram kuat.

“Aku sudah memperingatkanmu.” Nada suara Bara rendah dan tajam. “Jangan pernah membawa orang asing masuk ke mansion ini. Kalau dia ternyata penyusup… atau anak buah musuh kita, bagaimana!”

Rosline langsung pucat mendengar itu.

Sedangkan Edwin malah tersenyum tipis kecil. “Tidak mungkin.”

“Kenapa kau seyakin itu?”

“Karena dia hanya penjaga toko minimarket langganan keluarga kita.”

Bara tetap menatap tajam. “Tetap saja.”

Pria itu akhirnya melepaskan kerah Edwin kasar lalu kembali melirik Rosline dari atas sampai bawah.

“Aku tidak percaya begitu saja.”

Rosline makin menegang.

“Suruh dia ke ruang kerjaku sekarang.” suara Bara terdengar dingin tanpa bisa dibantah. “Aku akan menginterogasinya sendiri.”

“Tidak.”

Jawaban Edwin langsung membuat semua orang diam.

Bara perlahan menoleh. “Apa?”

“Dia urusanku.”

Tatapan Bara langsung berubah tajam lagi. “Kalau dia masuk mansion ini… berarti dia juga urusanku.”

“Kau keterlaluan Bara.” Edwin mendengus kesal. “Dia bahkan terlihat seperti gadis baik-baik.”

Bara menatap Edwin beberapa detik penuh tekanan sebelum akhirnya mendecak kasar.

“Aku tidak suka dibantah.”

Setelah mengatakan itu, Bara langsung berbalik lalu berjalan menuju lorong mansion..Aura menegangkan pria itu masih terasa bahkan setelah sosoknya menghilang.

1
Arditya
wiihh, jadi ini yang namanya victor. tangkap bara jangan kasih ampun😄
It's me Sky: terimakasih ka🙏
total 1 replies
Indri
Sukaaaa🤣
It's me Sky: wkwkwkkw/Proud/
total 1 replies
Keenan41
semangat thor
It's me Sky: Pasti dong, mksh dukungannya✌🏻/Hey/
total 1 replies
Hennyy exo
semangat rosaline🤭🤭
It's me Sky: Hihihihi, mksh/Smile/
total 1 replies
Hennyy exo
wow sampai sini alurnya bagus thor
It's me Sky: terimakasih bnykk/Smile/
total 1 replies
Amoera
semakin menegangkan thoor, lanjutkan dong😍
It's me Sky: hrs dong/Chuckle/
total 1 replies
Amoera
ceritanya sangat menarik, lanjutkan ceritanya thoor... semangat ratusan bab
It's me Sky: psti dong, mksh/Doge//Rose/
total 1 replies
Amoera
woww... ada cerita baru nih, wajib baca sih kayanya... semangat thoor😍
It's me Sky: iya dong, sni¹ mmpir/Hey/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!