Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Map Coklat
Sang ibu akhirnya menyudahi obrolan monoton dengan sang putri. Ia tak berhasil membujuk Lova keluar meski sekedar untuk menemani Teddy ngobrol.
Di ruang tamu, tampak Teddy masih duduk menunggu. Namun, saat menyadari wanita paruh baya itu hadir tanpa Lova, terdengar helaan napas meski cukup samar.
"Maaf ya, Nak Teddy. Sepertinya Lova terlalu lelah saat diobservasi oleh psikiater tadi," ucap ibu Lova, agar tak menyinggung perasaan Teddy.
Teddy mengangguk cepat dan tangannya yang mengepal kini, tertumpu di dagu. Jelas dalam ingatannya, memandang Lova yang terlihat lebih banyak pikiran dibanding beberapa waktu terakhir.
"Sebenarnya, apa yang dikatakan oleh psikiaternya, Tan? Kenapa, Lova terlihat cukup gundah?"
Ibu Lova sedikit tersentak dan raut matanya menyiratkan rasa gugup meski bibirnya tak memberikan jawaban.
"Apakah kondisi Lova cukup berat, Tant? Apakah trauma masa lalu itu tak bisa disembuhkan?"
"Hmmm, ...." Ibu Lova menggaruk pelipisnya pelan. Sejenak ia kembali hening memikirkan jawaban yang tak membuat Teddy curiga.
"Sebenarnya saat observasi tadi, Lova menunjukkan banyak perkembangan," ucapnya secara perlahan.
"Perkembangan?" ulang Teddy pelan. Seketika senyum tipis terulas di bibir Teddy. Akhirnya, setelah sekian lama, ia merasa harapan panjangnya bisa terlaksana..
Sang ibu mengangguk perlahan, tetapi tentu beda reaksi dengan Teddy.
"Lalu, kapan rencananya ke sana lagi? Semakin sering, kan hasilnya akan semakin baik," ucap Teddy memberi semangat.
Mendengar semangat Teddy, membuat wanita paruh baya ini memijit pelipisnya perlahan. Entah kenapa, kepalanya terasa sakit memikirkan tindakan yang harus dilakukan Lova. Menikah dengan Dokter Arnold.
...****************...
Di Klinik Kejiwaan
"Udah ah, capek begeteh eikeh ..." keluh pria itu sambil melemaskan jemarinya.
Map cokelat yang sejak tadi berada di tangannya kembali ditutup dengan perlahan. Lalu ia menatap Dev, sahabat yang mengetahui segala sisi dirinya. Kedua alisnya bergerak naik turun beberapa kali.
Pria tinggi itu hanya mendecih pelan. "Tapi aku salut sih. Kok bisa ya, ada perempuan yang nggak kabur lihat kamu."
Arnold terkekeh kecil.
Namun, perlahan tatapannya jatuh pada lembar surat pendaftaran pernikahan yang masih terselip di dalam map.
Senyum tipis terukir di bibir merahnya.
"Dan yang lebih menarik ..." gumamnya pelan. "Dia bahkan nggak sadar kalau dirinya mulai bergantung sama aku."
Deg.
...****************...
Malam harinya, Arnold dan Dev telah berada di sebuah apartemen.
"Eh, ini gerakannya susah juga," celetuk Arnold, meniru tarian India yang ia tonton di layar televisi raksasa di ruang tengahnya.
Akan tetapi, Dev hanya menanggapi dengan wajah malasnya. "Apa kau tak bosan dengan tarian seperti itu? Masa ini, orang pada kiblat K-Pop, kau masih aja India?"
Matanya bergerak naik turun melihat teman dekatnya itu meniru gerakan tarian wanita India. Yang lebih konyolnya, ia memakai hak tinggi dan jemarinya melentik mengikuti tarian.
"Ah, kamu kan tau, aku lebih suka ini. Gerakannya sangat indah," gumamnya sambil terus menari.
"Hmmm, kalau benar kamu menikah, apakah kebiasaanmu ini tetap berlanjut?"
Jemari lentiknya perlahan turun. Tatapannya pun berubah kosong, mencoba melompat ke masa depan, membayangkan dirinya menjadi seorang suami.
"Hmmm, kau kan tau aku menikah untuk apa? Palingan, kalau semua warisan Papa turun, pernikahan juga akan berakhir. Aku tak yakin, dia bisa bertahan denganku." Arnold pun merebahkan diri di sofa, samping Dev.
Ia memasang wajah cemberut dan menarik sendal hak tinggi yang ia pakai tadi.
Dev tersenyum tipis. "Kalau warisanmu dapat, jangan lupakan aku, oke?"
Arnold mencibir membuang muka. "Huh, enak aja!"
...****************...
Keesokan hari, di saat matahari belum naik hingga puncak, terdengar sebuah ketukan di pintu rumah Lova.
Beberapa kali pintu diketuk, tetapi tak ada juga yang membukanya.
Dengan perasaan malas, kelopak mata menghitam, Lova bergerak pelan keluar dari kamarnya. Karena ucapan Dokter Arnold kemarin, tak sedetik pun ia memejamkan mata hingga pagi ini.
"Maaa," rungut Lova berat. Kepalanya berputar ke kiri dan ke kanan, tetapi tak ada jawaban.
"Ah, Mama pasti sedang ke pasar," gumamnya berat.
Tok
Tok
Tok
Ketukan itu masih belum terhenti juga. "Ck, siapa sih? Kenapa tidak sabaran sekali?" sungutnya beringsut bergerak berat menuju pintu depan.
Brak.
Pintu rumah terbuka dengan cukup kasar.
“Iya iya, sabar! Kenapa datang bertamu pagi-pagi banget sih—”
Kalimat Lova langsung terputus.
Di depan rumahnya, berdiri seorang pria dengan kemeja hitam rapi dan kacamata tipis bertengger di hidungnya.
Satu tangannya memegang map cokelat.
Sedangkan tangan lainnya membawa kantong plastik berisi sarapan.
“Pagi, Adik kecil,” ucap Arnold santai sambil tersenyum tipis.
Deg.
Mata Lova langsung membelalak sempurna.
Tubuhnya refleks mundur satu langkah.
Namun anehnya … bukan karena takut.
Melainkan gugup menyambut kedatangan pria yang membuatnya tak bisa tidur semalaman.
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣