NovelToon NovelToon
Diusir Suami Karena Hamil Anak Perempuan

Diusir Suami Karena Hamil Anak Perempuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir
Popularitas:28.4k
Nilai: 5
Nama Author: Melisa ekprisa

Sekuel Talak di Ujung Ramadhan


Diusir saat mengandung anak perempuan, Sarah kehilangan rumah, harga diri, dan cinta yang pernah ia percaya. Dunia menamparnya tanpa ampun—hinaan, pengkhianatan, dan kesepian jadi makanan sehari-hari.

Namun saat tangisan putrinya lahir memecah sunyi, Sarah memilih bangkit. Bukan sekadar bertahan—ia ingin membalas luka dengan keberhasilan.

Ketika masa lalunya tiba-tiba kembali, membawa rahasia yang bisa menghancurkan segalanya… Sarah dihadapkan pada satu pilihan: tetap diam, atau melawan dan merebut keadilan yang selama ini direnggut darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 8

Suara logam yang beradu tajam itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan malam. Sarah terpaku di depan pintu. Suara itu adalah bunyi kunci yang berputar dua kali dari luar pintu kamarnya. Leo, suaminya, baru saja mengurungnya. Tak lama kemudian, deru mesin mobil Leo menderu, membelah keheningan halaman rumah sebelum akhirnya lenyap ditelan kegelapan jalan raya.

Di luar kamar, tidak ada suara omelan Bu Anisa. Biasanya, ibu mertuanya itu akan mengomeli Sarah atas hal-hal kecil. Namun malam ini, keheningan wanita tua itu terasa jauh lebih kejam. Keheningan yang mengisyaratkan restu dan pembiaran atas semua siksaan yang dilakukan putranya. Semua orang di rumah megah ini telah sepakat untuk membuang Sarah ke dalam sepi.

Sarah menundukkan kepalanya dalam-dalam di balik lipatan kedua tangannya. Bahunya terguncang hebat, tetapi dia menahan kuat-kuat agar jerit tangisnya tidak lolos dari tenggorokan.

Jemari Sarah yang dingin perlahan turun, membelai perutnya yang kini sudah membuncit besar. Di dalam sana, ada detak jantung suci yang tidak pernah meminta lahir dari rahim seorang wanita yang kalah.

"Maafkan Ibu, Nak..." bisik Sarah lirih. Suaranya pecah, tercekat oleh rasa sesak yang menghimpit dadanya. "Maaf karena Ibu belum bisa memberimu rumah yang hangat."

Malam kian merayap pekat, membawa suhu udara yang kian menusuk tulang. Jam dinding berdetak lambat, menunjukkan waktu yang telah melewati sepertiga malam.

Sarah tahu, ini adalah waktu di mana pintu langit terbuka lebar. Dia harus mengadu. Dia harus berbicara pada satu-satunya Dzat yang tidak pernah mengunci pintu-Nya.

Namun, saat Sarah mencoba menggeser tubuhnya ke tepi ranjang, rasa ngilu yang luar biasa menjalar dari pinggang hingga ke ujung jari kakinya. Dia mencoba menggerakkan kakinya, tetapi kedua tungkai itu terasa lumpuh. Mati rasa. Jiwanya limbung oleh tekanan batin yang teramat hebat hingga tubuh fisiknya ikut menyerah.

Sarah menatap nanar ke arah pintu. Kamar mandi berada di luar, dan dia tidak memiliki akses ke sana. Jangankan untuk berjalan keluar, untuk berdiri pun kakinya sudah tidak berdaya. Air matanya kembali luruh, membasahi daster usang yang melekat di tubuh kurusnya. Apakah dia harus melewatkan malam ini tanpa bersujud?

"Tidak," bisik Sarah, menguatkan hatinya sendiri. "Fisikku boleh kau kurung, Leo. Tapi tidak dengan imanku."

Dengan sisa-sisa tekad yang dia miliki, Sarah menatap dinding kamar yang kusam di dekat ranjangnya. Sesuai syariat dalam keterbatasan, dia memutuskan untuk bertayamum.

Dengan tangan yang gemetar, Sarah menepukkan kedua telapak tangannya ke dinding, meraba debu tipis yang menjadi saksi bisu penderitaannya. Dia meniup debu itu pelan, lalu menyapukannya ke wajahnya yang masih basah oleh air mata. Selanjutnya, dia kembali menepukkan tangan ke bagian dinding yang lain dan membasuh kedua tangannya hingga siku.

"Aku berniat tayamum untuk mendirikan shalat karena-Mu, Ya Allah," bisiknya dalam hati, merasakan kedamaian instan mengalir di nadinya.

Perjuangan belum selesai. Mukena putih bersih miliknya terlipat di atas meja kecil di sebelah kiri kamar, beberapa meter dari ranjang. Tanpa kemampuan untuk berdiri, Sarah menurunkan tubuhnya perlahan ke atas lantai yang sedingin es.

Dia merangkak.

Inci demi inci, Sarah menyeret tubuhnya yang berat karena mengandung. Setiap tarikan badannya menyuarakan rasa sakit yang teramat sangat pada fisiknya. Lutut dan sikunya bergesekan langsung dengan lantai, tetapi fokusnya hanya satu: meraih pakaian suci untuk menghadap Sang Pencipta. Demi menggapai mukena itu, seorang istri yang sah harus merangkak di lantai kamarnya sendiri seperti seorang tahanan.

Begitu jemarinya berhasil meraih kain putih itu, Sarah mendekapnya erat ke dada. Air matanya menetes di atas kain mukena, menyisakan noda basah. Dia memakainya dengan khusyuk, menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.

Dengan posisi duduk karena kakinya yang masih lumpuh, Sarah membentangkan sajadah seadanya. Dia menghadap kiblat, mengangkat kedua tangannya yang masih bergetar di samping telinga.

"Allahu Akbar..."

Suara takbir itu begitu lirih, namun terasa menggetarkan sudut-sudut kamar yang gelap. Saat melafalkan ayat-demi ayat surah Al-Fatihah, napas Sarah tersengal. Isak tangis yang sejak tadi ditahannya mulai pecah, membuat suaranya terdengar terputus-putus. Setiap untaian ayat menjadi sarana pengaduan yang paling jujur atas ketidakberdayaan dirinya sebagai manusia.

Hingga tibalah saat dia melakukan gerakan sujud. Sarah menundukkan tubuhnya sedalam mungkin, menempelkan dahinya ke atas lantai.

Di dalam sujud yang teramat panjang itu, tangis Sarah tidak lagi bisa dibendung. Bahunya berguncang hebat di balik mukena putihnya.

“Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim... Jika kesakitan ini adalah penggugur dosa-dosaku, aku ikhlas. Namun, hamba memohon dengan sangat, lindungilah anak di dalam kandungan ini. Jangan biarkan dia merasakan kepedihan yang dirasakan ibunya. Kuatkanlah hamba-Mu yang lemah ini, Ya Allah...”

Di dalam kegelapan sujudnya, di atas lantai kamar yang terkunci rapat dari luar, Sarah justru menemukan kebebasan yang hakiki. Leo dan Bu Anisa mungkin berhasil mengurung raganya dan memutus aksesnya dari dunia luar. Namun malam itu, mereka telah gagal total untuk mengurung jiwa dan iman Sarah yang terbang tinggi, menembus langit, bersimpuh di hadapan Sang Pemilik Semesta.

Tepat saat Sarah mengucap salam terakhir, sebuah keajaiban kecil terjadi. Janin di dalam perutnya memberikan gerakan lembut, seolah sedang memeluk ibunya dari dalam dan berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja.

...******...

Keesokan paginya, cahaya matahari masuk samar dari sela tirai kamar.

Sarah membuka matanya perlahan.

Kepalanya terasa berat. Kelopak matanya bengkak akibat terlalu lama menangis semalaman. Punggungnya nyeri karena tertidur dalam posisi duduk, bersandar di sisi ranjang.

Mukena putih itu masih menempel di tubuhnya.

Untuk beberapa detik, Sarah hanya diam menatap langit-langit kamar.

Lalu kesadarannya kembali utuh.

Pintu masih terkunci.

Dadanya langsung terasa sesak lagi.

Ia menoleh ke arah jam dinding. Sudah hampir pukul tujuh pagi.

Biasanya di jam seperti ini Bu Anisa sudah sibuk di dapur sambil mengomel karena Sarah dianggap lambat keluar membantu pekerjaan rumah. Tapi pagi ini tidak ada suara apa pun.

Rumah terasa terlalu tenang.

Sarah mencoba bangun perlahan sambil memegangi pinggangnya. Kakinya masih pegal dan sedikit bengkak. Perutnya terasa berat sekali pagi itu.

Baru saja ia hendak melangkah, perutnya tiba-tiba melilit.

“Ngh...”

Sarah spontan mencengkeram ujung ranjang.

Rasa nyerinya datang cukup kuat hingga membuat napasnya tercekat beberapa detik.

Ia menunggu sampai rasa itu mereda.

Jantungnya berdegup tidak tenang.

“ jangan sekarang...” bisiknya panik sambil mengusap perutnya. “Tunggu dulu ya...”

Ia benar-benar takut.

Bukan karena sakitnya.

Tapi karena ia sadar... kalau sesuatu terjadi padanya di kamar ini, mungkin tidak akan ada yang cepat menolong.

Tatapannya lalu jatuh ke meja kecil di dekat pintu. Di sana ada piring makan malam tadi.

Masih utuh.

Nasi sudah mengering.

Sarah bahkan tidak punya tenaga untuk menyentuhnya semalam.

Perutnya mual. Tenggorokannya pahit.

Namun demi bayinya, ia memaksa mengambil piring itu lalu makan beberapa suap kecil dengan tangan gemetar.

Baru dua suap, air matanya jatuh lagi.

Bukan karena makanannya.

Tapi karena ia teringat rumah ibunya dulu.

Sesederhana apa pun hidup mereka, ibunya tidak pernah membiarkan Sarah makan sendirian dalam keadaan menangis.

Sedangkan sekarang...

Ia tinggal di rumah besar dengan meja marmer mahal dan lampu kristal di mana-mana, tapi hidup seperti orang yang tidak diinginkan.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat dari luar kamar.

Sarah refleks menoleh cepat.

Jantungnya berdegup.

Ceklek.

1
Renarenn
Lah, temen sesat rupanya
Renarenn
Akhirnya karma is real🤭🤭🤭
Rhica_Yubie
papa sama mama gema buatkan gema adik biar lebih seru🤭
Miu.Nuha
hidupny pk dokter ternyata penuh lika-liku 🤧
Yuliana Purnomo
hayooo gercep dr Gema,, udah ada sinyal dr Sarah 💪
Myz Pena
apakah Hana lelah dengan hubungan mereka ??🤧
Myz Pena
apakah dokter gema tidak memiliki kelemahan ?? 🤭
Myz Pena
luar biasa ya dokter kandungan 😍
Dinarkasih1205
kasihan karakter gema di buat kasar
mama Al: keburu panas saat lihat kebersamaan Ibra dan Sarah
total 1 replies
ginevra
kok ada ya ibubyabg suka ngehasut anaknya
ginevra
terlihat jelas kalau Tuhan akan mencabut rizkinya kalau kamu dzalim pada istri yang sholehah
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
inilah alasan kenapa harus menikahi orang yang mencintai kita bukan kita mencintai dia. tapi lebih bagus saling mencintai dan juga kedua pihak keluarga merestui yah yang paling penting orang tua sih🤭 sok menasehati padahal pacar aja gak punya say😆😆😆
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
seharusnya dulu Sarah lebih pentingkan pendidikan daripada pernikahan /Bye-Bye/rugi kan sekarang
mama Al: makanya di paksa nikah sama Leo
total 3 replies
Aii Flow🌷
Fitnah ihhh, dia yang jahat Sarah yang dipojokin
Teteh Lia
mau bilang "sabar, Gema." tapi gw juga ikut esmosi.
Teteh Lia
jadi pengen makan martabak. masalah na harus nunggu malem. baru nongol kang martabak na
Apriyanti
lanjut thor 🙏
mama Al: lanjut ke bab selanjutnya
total 1 replies
Miu.Nuha
apa ibu berniat mencelakai pemuda itu 🙄
dosa bu dosaaa...
Miu.Nuha
gampang bngt 😭
bahkan uang ny Sarah bakal ditilep sama ibu matre ini jangan2...
Myz Pena
agak curiga dengan suaminya ni.. jangan sampai dia selengki /CoolGuy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!