Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Lampu-lampu neon di langit-langit kantor penerbitan tampak berputar di mata Siham. Sejak menginjakkan kaki di lobi pagi tadi, dunianya terasa miring. Rasa nyeri di lengannya yang dibalut perban akibat lemparan asbak semalam seolah merambat ke seluruh tubuh, memicu demam yang membakar diam-diam.
Siham mencoba fokus pada draf naskah di layar monitornya, namun huruf-huruf itu tampak seperti semut yang berlarian. Napasnya pendek dan berat. Saat ia hendak berdiri untuk mengambil air minum, dunianya mendadak gelap total.
"Bu Siham!"
Suara pekikan Maya adalah hal terakhir yang ia dengar sebelum tubuhnya luruh ke lantai karpet kantor yang dingin.
Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Siham saat ia perlahan membuka matanya. Langit-langit putih dan bunyi pip-pip yang teratur dari mesin monitor jantung menyadarkannya bahwa ia tidak lagi berada di kantor.
"Ibu? Alhamdulillah, Ibu sudah sadar," Maya langsung mendekat dengan wajah cemas yang luar biasa. Di sampingnya, Pak Hendra berdiri dengan raut wajah yang sama khawatirnya.
Siham mencoba duduk, namun kepalanya terasa berdenyut hebat. "Maya... Pak Hendra... Kenapa saya di sini?"
"Ibu pingsan tadi pagi. Kami semua panik. Pak Hendra langsung memerintahkan untuk membawa Ibu ke rumah sakit terdekat," jelas Maya. "Dokter bilang Ibu kelelahan dan dehidrasi parah, ditambah ada infeksi di luka lengan Ibu."
Siham teringat lukanya. Ia segera menarik lengan bajunya, memastikan perbannya tertutup. Ia tidak ingin mereka bertanya soal asbak kaca itu.
"Apa... apa kalian sudah menghubungi Mas Dewangga?" tanya Siham dengan suara serak, ada ketakutan terselip di sana. Ia tidak siap menghadapi kemarahan Dewangga lagi di tempat umum seperti ini.
Pak Hendra menggeleng. "Belum, Siham. Tadi kami fokus pada pertolongan pertama dulu. Lagipula, Maya bilang tadi Ibu sempat mengigau minta jangan hubungi siapa pun. Jadi kami menahan diri."
Siham menghela napas lega yang sangat panjang. "Terima kasih, Pak. Tolong... jangan beri tahu dia dulu. Saya hanya butuh istirahat."
Pak Hendra menatap editor andalannya itu dengan iba. Sebagai pria yang lebih tua, ia bisa mencium ada sesuatu yang tidak beres dalam kehidupan pribadi Siham, namun ia memilih profesional. "Siham, saya sudah bicara dengan tim manajemen. Saya berikan kamu cuti satu minggu penuh. Tanpa bantahan. Kamu butuh pemulihan total. Soal diskusi dengan tim kreatif, kita bisa lakukan lewat Zoom kalau kamu sudah merasa kuat, tapi untuk sekarang, kesehatanmu nomor satu."
Siham ingin memprotes, namun tubuhnya yang lemas tidak bisa diajak kompromi. "Baik, Pak. Terima kasih."
Setelah memastikan Siham dalam kondisi stabil dan mendapatkan kamar perawatan yang layak, Pak Hendra dan Maya pamit untuk kembali ke kantor. Siham meminta mereka untuk tidak perlu menjaganya. Ia meyakinkan mereka bahwa ia bisa mengurus dirinya sendiri.
Suasana kamar VIP rumah sakit itu menjadi sunyi setelah kepulangan mereka. Siham menatap keluar jendela, ke arah langit Jakarta yang mendung. Ia merasa sangat kecil di atas ranjang putih yang luas ini.
Beberapa saat kemudian, seorang perawat masuk dengan catatan medis di tangannya. Wajah perawat itu tampak ragu, namun tetap profesional.
"Ibu Siham, kondisi fisik Ibu sudah lebih stabil setelah infus kedua," ucap suster itu lembut. "Namun, Dokter spesialis penyakit dalam ingin bertemu langsung dengan Ibu di ruangannya. Ada hasil pemeriksaan darah dan pemindaian yang perlu didiskusikan secara pribadi."
Jantung Siham berdegup tidak menentu. "Apa ada yang buruk, Suster?"
Suster itu hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang sering diberikan tenaga medis untuk menenangkan pasien sebelum berita buruk datang. "Dokter yang akan menjelaskan semuanya secara detail, Bu. Mari saya bantu menggunakan kursi roda."
Siham mengikuti prosedur itu dengan perasaan was-was. Begitu sampai di ruangan dokter, ia disambut oleh dr. Aris, seorang pria paruh baya dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. Dokter itu menatap Siham dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara simpati dan ketegasan medis.
"Silakan duduk, Bu Siham," dr. Aris membuka sebuah map tebal berisi hasil laboratorium. "Saya langsung saja ya, karena Anda sepertinya tipe orang yang lebih suka kejelasan daripada basa-basi."
Siham mengangguk kecil, jemarinya saling bertautan di pangkuan.
"Pingsannya Anda tadi pagi bukan hanya karena kelelahan atau infeksi luar di lengan Anda," dr. Aris menjeda kalimatnya, menarik napas dalam. "Hasil pemindaian menunjukkan adanya massa ganas yang sudah menyebar di area sistem limfatik Anda. Dalam istilah medis, ini adalah limfoma stadium lanjut."
Dunia seolah berhenti berputar. Siham merasa pendengarannya mendadak berdengung. "Maksud Dokter... kanker?"
"Benar, Bu Siham. Dan ini jenis yang sangat agresif. Inilah yang menyebabkan Anda sering merasa lelah luar biasa, demam yang hilang timbul, dan berat badan yang turun drastis belakangan ini. Kondisinya... sudah cukup berat."
Siham terdiam. Anehnya, ia tidak menangis. Ia justru teringat pada bab terakhir novel Aksara Renjana yang sedang ia susun. Surat Pamit. Judul itu mendadak terasa jauh lebih nyata dan mengerikan dari yang ia bayangkan sebelumnya.
"Berapa lama, Dok?" tanya Siham dengan suara yang sangat tenang, ketenangan yang bahkan mengejutkan dr. Aris.
"Kami akan mengusahakan kemoterapi dan radiasi untuk menghambat penyebarannya, tapi secara statistik... dengan agresivitas sel ini, mungkin kita bicara tentang hitungan bulan, bukan tahun, jika tubuh tidak merespons pengobatan dengan baik," jawab Dokter itu jujur.
Siham tersenyum getir. Takdir benar-benar seorang editor yang kejam. Di saat ia baru saja mengumpulkan keberanian untuk melawan Dewangga, di saat ia baru saja merencanakan kebebasannya, tubuhnya justru mengkhianatinya dengan memberikan vonis mati.
"Tolong, Dok," ucap Siham sembari menatap mata dr. Aris. "Rahasiakan ini. Jangan berikan informasi ini kepada siapa pun, termasuk suami saya, jika dia datang bertanya. Ini adalah hak privasi saya sebagai pasien."
"Tapi Bu, dukungan keluarga sangat penting untuk proses pengobatan—"
"Keluarga saya adalah ayah saya yang sudah tua, Dok. Saya tidak ingin membunuhnya dengan berita ini. Dan suami saya..." Siham menjeda, senyum pahitnya semakin dalam. "Suami saya lebih suka mengurusi masa lalu daripada masa depan saya yang singkat ini. Jadi, biarkan ini menjadi rahasia kita."
Siham keluar dari ruangan dokter dengan perasaan yang sangat asing. Ia kembali ke kamarnya, meminta suster meninggalkannya sendirian. Ia mengambil ponselnya yang masih mati, lalu menghidupkannya. Ratusan notifikasi masuk, namun matanya hanya tertuju pada satu hal: draf naskah Aksara Renjana yang tersimpan di cloud.
Ia mulai mengetik, jemarinya kini bergerak lebih cepat, seolah sedang berkejaran dengan waktu yang sedang berdetak mundur di dalam tubuhnya.
"Ternyata, kebebasan sejati tidak datang dari perceraian, melainkan dari kematian yang mengetuk pintu. Mas Dewangga, kamu bisa memiliki rumah ini, kamu bisa memiliki kenangan Agata, tapi kamu tidak akan pernah memiliki sisa napasku. Aku akan pergi dengan caraku sendiri, sebelum kamu sempat membuangku."
Siham menutup matanya, membiarkan satu tetes air mata jatuh. Ia punya waktu satu minggu cuti. Satu minggu untuk menyelesaikan naskah terakhirnya, dan satu minggu untuk menyiapkan perpisahan yang akan membuat Dewangga menyesal seumur hidupnya karena telah menyia-nyiakan wanita yang mencintainya dengan sisa nyawanya.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
kenapa di buat semenderita itu thor