NovelToon NovelToon
Loud Girl, Cold Engine

Loud Girl, Cold Engine

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Parameter Sederhana

Langkah kaki Kirana bergaung konstan di sepanjang koridor berlantai keramik yang memisahkan Fakultas Sastra dengan gedung dekanat. Di dalam dekapannya, map plastik biru tebal itu terasa agak dingin. Jantungnya berdegup dengan ritme yang sedikit lebih cepat dari biasanya, sebuah anomali fisik yang gagal ia jelaskan dengan logika diksi mana pun.

Tepat di bawah pilar beton besar dekat pintu masuk dekanat, Bima sudah berdiri tegak. Cowok itu menyandarkan punggungnya pada pembatas selasar, kedua tangannya tenggelam di dalam saku celana jeans yang tampak sedikit pudar. Kemeja korsa Tekniknya hari ini terlihat sangat rapi, wangi parfumnya yang segar langsung menyergap indra penciuman Kirana begitu jarak mereka mengikis hingga tersisa dua langkah.

Bima menegakkan posisinya, pandangan matanya langsung turun tertuju pada sepasang sepatu kanvas Kirana sebelum akhirnya naik menatap wajah gadis itu. "Empat menit tiga puluh detik. Bagus, lo nggak bikin gue harus nyari opsi pembatalan jadwal," kata Bima datar, langsung merogoh pergelangan tangannya untuk memeriksa jam mekanik miliknya.

Kirana mendengus, mencoba menyembunyikan rasa salah tingkahnya di balik tatapan ketus yang sengaja ia pasang. "Gue kan emang selalu tepat waktu kalau urusan administrasi, Bim. Nih, berkas fisik yang lo minta." Kirana menyodorkan map biru itu dengan gerakan cepat.

Bima menerima map tersebut. Namun, saat jemarinya tanpa sengaja bersentuhan dengan ujung jari Kirana, gerakan cowok itu mendadak tertahan selama beberapa sekon. Mata hitam Bima menatap lekat ke arah ibu jari Kirana yang masih tertutup oleh plester luka bergambar beruang kecil pemberiannya kemarin sore.

"Plesternya belum lo ganti?" tanya Bima, intonasi suaranya mendadak turun satu oktav, terdengar jauh lebih berat dan rendah di tengah bisingnya selasar kampus.

Kirana buru-buru menarik tangannya kembali ke belakang tubuh, wajahnya terasa sedikit menghangat secara instan. "Belum. Kan lukanya belum kering banget, lagian plester dari lo juga masih nempel kuat, jadi sayang kalau dibuang."

Bima tidak membalas lagi dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan sekali, namun sebuah binar kepuasan yang samar muncul di sudut matanya yang tajam. Sifat protektifnya yang kaku entah bagaimana merasa terpenuhi hanya karena melihat benda kecil itu masih terpasang di sana.

"Ya udah, ayo masuk. Pak Dekan cuma punya waktu sebelum rapat jam sepuluh," ajak Bima sambil berbalik dan berjalan lebih dulu memimpin jalan.

Proses penandatanganan berkas di dalam ruangan berjalan dengan sangat lancar dan formal. Di hadapan jajaran dosen, Bima mampu mempresentasikan alur teknis dengan sangat terstruktur, sementara Kirana melengkapinya dengan narasi penyusunan laporan yang rapi. Mereka terlihat seperti sebuah tim yang sudah bekerja bersama selama bertahun-tahun, saling mengisi celah kosong dengan kapasitas masing-masing.

Begitu pintu ruang dekanat kembali tertutup di belakang mereka, Kirana langsung menyandarkan punggungnya ke dinding koridor, menghela napas panjang karena tugas besar mereka akhirnya resmi selesai. "Hah... lega banget rasanya. Akhirnya tanda tangan keramat itu dapet juga."

Bima yang berdiri di sampingnya diam-diam ikut menaruh map tersebut ke dalam tas ranselnya. Ia melirik Kirana yang tampak sedikit mengusap lehernya yang agak berkeringat karena tegang di dalam ruangan tadi.

"Badan lo gimana?" tanya Bima mendadak, menatap Kirana dengan dahi yang sedikit berkerut penuh perhatian. "Semalam... teh hangatnya beneran diseduh gak?"

Kirana menoleh, menatap mata Bima yang terlihat sangat serius menanti jawabannya. "Iya, diseduh dan diabisin kok sampai bersih."

Bima berdehem agak keras, membuang pandangannya ke arah lapangan tengah kampus yang mulai terik. Ujung telinganya perlahan berubah menjadi agak kemerahan, sebuah reaksi langka dari asisten lab yang biasanya kebal terhadap tekanan apa pun di bengkel mesin. "Gue cuma nggak mau lo sakit di hari H penyerahan berkas. Itu bakal ngerusak estimasi waktu proyek."

Kirana hanya tersenyum tipis mendengarnya, sudah mulai terbiasa dengan pembelaan logis ala Bima yang selalu digunakan untuk menutupi rasa pedulinya.

Namun, atmosfer tenang di antara mereka tidak bertahan lama. Dari arah tangga koridor utama, sosok Danu muncul dengan setumpuk buku referensi di tangannya. Cowok itu berjalan dengan langkah tegap, langsung menghentikan langkahnya begitu mengenali siluet Kirana.

"Kirana?" sapa Danu dengan senyuman yang sangat hangat. Ia melangkah mendekat, mengabaikan jarak dingin yang mendadak tercipta dari posisi berdiri Bima. "Bagaimana kondisi kamu hari ini? Sup yang aku kirim semalam dimakan sampai habis, kan? Aku agak khawatir kamu masuk angin karena cuaca semalam beneran buruk."

Kirana tersentak kecil, mendadak merasa situasi di koridor ini berubah menjadi sangat padat. "Eh... iya, Kak Danu. Makasih banyak ya supnya, enak banget dan bikin badan gue langsung enakan semalam."

Danu tersenyum puas, sebuah binar kompetitif yang halus muncul di matanya saat ia melirik ke arah Bima yang kini sudah bersedekap dengan wajah yang kembali berubah menjadi sangat kaku dan sedatar papan besi.

"Bagus deh kalau kamu suka," kata Danu lembut kepada Kirana, sebelum akhirnya mengangguk tegas ke arah Bima, bersiap menghadapi respons apa pun dari teman seangkatannya itu.

1
Taro
akhirnya up thor🥹
minttea_: huhu iya nihh kemaren author lagi sibuk, maaf yaa🥺
total 1 replies
Taro
teringat sama film pupus kalau baca novel ini. semangat thor
minttea_: wahhh iya kahhhh, makasihh banyak atas dukungannya🥰✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!