NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Beberapa minggu setelah badai besar itu berlalu, pengadilan akhirnya menjatuhkan vonis hukuman maksimal bagi Mita dan Ferdian atas semua tindakan kriminal dan konspirasi yang mereka lakukan.

Dengan berakhirnya kasus hukum tersebut, ketegangan yang selama ini menyelimuti keluarga Bayu runtuh seketika, menyisakan ruang untuk kedamaian yang baru.

Untuk memastikan raga asli istrinya mendapatkan ketenangan dan pemulihan fisik yang paripurna tanpa gangguan media atau tekanan bisnis, Pratama membawa Diandra pergi berbulan madu ke sebuah pulau pribadi terpencil di kawasan Indonesia Timur.

Pulau eksotis dengan pasir putih selembut tepung, air laut sewarna kristal toska, dan lambaian pohon kelapa menjadi tempat terbaik untuk penyembuhan total saraf-saraf kaki Diandra.

Pagi sebelum keberangkatan mereka menggunakan jet pribadi, Tuan Bayu mengantar anak dan menantunya hingga ke lobi rumah.

Pria paruh baya itu tampak jauh lebih segar dan bahagia, beban berat di pundaknya kini telah menguap.

"Ingat pesan Papa, nikmati waktu kalian di sana. Papa meminta mereka untuk tidak memikirkan pekerjaan saja," ucap Tuan Bayu sambil menepuk bahu Pratama, memberikan mandat penuh agar menantunya itu menjauhkan segala bentuk laporan korporasi dari jangkauan Diandra.

Diandra yang kini sudah bisa berdiri lebih stabil meski masih bertumpu pada lengan kekar Pratama, tersenyum lebar.

"Baiklah, Pa. Satu bulan kita cuti total dari seluruh urusan Pratama Group dan anak perusahaan."

Mendengar janji putrinya, Tuan Bayu tertawa terbahak-bahak.

Suara tawanya yang lepas menggema di seisi lobi, sebuah suara yang sudah bertahun-tahun tidak pernah terdengar di rumah ini.

"Satu bulan sudah lebih dari cukup," goda Papa dengan kedipan mata yang sarat akan maksud tersembunyi.

"Jangan lupa oleh-oleh Diandra junior saat kalian kembali nanti. Papa sudah tidak sabar ingin menimang cucu di rumah besar ini."

"Papa!" pekik Diandra tertahan.

Seketika, pipi Diandra memerah sempurna bagai buah tomat yang matang akibat godaan sang ayah.

Ia langsung menyembunyikan wajahnya yang panas di balik dada bidang Pratama, membuat suaminya ikut terkekeh pelan sembari mengeratkan pelukannya di pinggang sang istri.

"Akan kami usahakan yang terbaik, Pa," sahut Pratama dengan senyuman maskulin yang menawan, membuat Diandra diam-diam mencubit pinggang suaminya karena ikut-ikutan menggoda.

Dengan tawa hangat yang mengiringi langkah mereka, Pratama menuntun Diandra menuju mobil yang akan membawa mereka ke bandara, siap memulai babak baru kehidupan yang penuh dengan cinta, ketenangan, dan harapan baru di bawah langit Indonesia Timur yang indah.

Sesampainya di landasan pacu pribadi, sebuah jet mewah berwarna perak dengan logo Pratama Group telah menunggu dengan pintu yang terbuka lebar.

Awak kabin menyambut mereka dengan hormat, mengarahkan pasangan tersebut ke dalam kabin yang dirancang khusus dengan interior kulit dan nuansa kayu yang hangat.

Setelah duduk dengan nyaman di kursi reclining yang empuk, Pratama menatap Diandra dengan tatapan menggoda yang tidak bisa disembunyikan.

Tangannya bergerak lembut menyisir anak rambut istrinya.

"Jadi, Sayang. Sudah siap untuk Diandra junior?" bisik Pratama tepat di dekat telinga Diandra, suaranya rendah dan penuh gairah yang tertahan.

Wajah Diandra yang tadinya sudah tenang seketika memerah kembali.

Ia melirik suaminya dengan tatapan pura-pura galak.

"Mas, jangan menggodaku terus! Kita baru saja akan berlibur, jangan mulai dengan pikiran-pikiran seperti itu."

Pratama hanya tertawa kecil, menikmati rona merah yang menghiasi wajah istrinya.

Ia tahu, Diandra sebenarnya menyukai perhatiannya, hanya saja gengsi wanita itu masih setinggi langit.

Tak lama kemudian, mesin pesawat menderu halus, menandakan dimulainya perjalanan mereka.

Pesawat mulai lepas landas, menembus awan-awan putih yang tampak seperti hamparan kapas dari balik jendela.

Saat jet itu sudah stabil berada di ketinggian jelajah, sang pramugari dengan sopan menghampiri mereka.

"Selamat siang, Pak Pratama, Bu Diandra. Mohon maaf mengganggu waktu istirahat Anda," ucap pramugari itu dengan senyum ramah.

Ia mulai menghidangkan makanan mewah yang sudah disiapkan oleh koki pribadi mereka sebelumnya.

Ada piring porselen berisi steak tenderloin dengan saus truffle yang aromanya memenuhi kabin, semangkuk kecil sup krim jamur, serta segelas sparkling water dengan irisan lemon segar.

Diandra menatap hidangan di depannya dengan selera makan yang bagus.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak lagi merasa dikejar oleh rasa takut, bayang-bayang masa lalu, atau ancaman pengkhianatan.

Kini, yang ada di hadapannya hanyalah masa depan cerah bersama pria yang telah berjuang mati-matian untuknya.

Pratama memotong sedikit daging miliknya, lalu menyuapkannya ke mulut Diandra dengan penuh kasih sayang.

"Makan yang banyak, Sayang. Kita butuh tenaga untuk menikmati pulau itu," ucapnya dengan kerlingan mata nakal yang membuat Diandra kembali tersenyum lebar, kali ini tanpa rasa malu.

Di atas ketinggian ribuan kaki, mereka mulai memakan santapan mereka, membiarkan setiap detik perjalanan ini menjadi saksi awal dari kehidupan baru yang telah mereka raih kembali.

Enam jam perjalanan akhirnya mereka telah tiba di bandara internasional utama di wilayah Nusa Tenggara Timur. Udara pesisir yang hangat dan langit biru bersih yang membentang tanpa batas menyambut kedatangan jet pribadi mereka.

Di landasan pacu yang eksklusif, beberapa petugas bandara sudah membungkuk hormat, mengamankan barang-barang bawaan sang CEO.

Pratama membenarkan letak kacamata hitamnya, lalu beralih membantu Diandra turun dari tangga pesawat dengan sangat hati-hati.

"Ayo, Sayang, kita menuju ke landasan helipad di sebelah sana," bisik Pratama lembut seraya menunjuk ke arah ujung apron bandara.

"Helikopter pribadi kita sudah siap mengantar kita ke tujuan akhir."

Diandra mengangguk antusias. Mereka beralih ke helikopter menuju ke pulau kecil yang terletak terisolasi di tengah Laut Flores.

Begitu mesin helikopter menderu dan baling-balingnya berputar cepat, tubuh mereka terangkat ke udara, menyajikan pemandangan gradasi air laut dari hijau toska hingga biru pekat yang sangat memanjakan mata.

Setengah jam kemudian mereka sampai di sebuah pulau pribadi yang asri.

Helikopter mendarat dengan mulus di sebuah helipad yang dikelilingi oleh pepohonan palem yang rimbun.

Di ujung landasan, sebuah vila resor mewah berarsitektur kayu modern langsung menghadap ke pantai berpasir putih bersih yang tak tersentuh oleh publik.

Begitu turun dari helikopter, Diandra langsung menghirup dalam-dalam aroma angin laut yang segar dan bebas polusi.

Matanya berbinar-binar menatap hamparan air laut yang begitu jernih hingga terumbu karang di bawahnya terlihat dengan jelas.

"Indah sekali, Mas..." gumam Diandra dengan nada takjub yang tak bisa disembunyikan.

Segala rasa lelah akibat perjalanan udara selama berjam-jam seketika menguap begitu saja melihat mahakarya alam di depannya.

Pratama melingkarkan lengannya di pinggang Diandra dari belakang, mengecup pundak istrinya dengan mesra.

"Semua ini milikmu selama satu bulan ke depan, Sayang. Hanya ada aku, kamu, dan ketenangan yang luar biasa."

Merasakan kehangatan pasir pantai yang bersih di bawah telapak kakinya, Diandra merasakan dorongan kekuatan baru yang luar biasa mengalir di dalam tubuhnya.

Saraf-saraf kakinya yang selama beberapa minggu ini kaku, mendadak terasa begitu rileks terkena embusan angin laut yang hangat.

Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Diandra mulai bisa melepas tongkatnya secara perlahan.

Ia menyerahkan benda berkaki empat itu kepada pengawal yang berdiri di dekat helipad.

"Mas, lihat," bisik Diandra dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah cantiknya.

Ia mengambil satu langkah, lalu langkah kedua tanpa bantuan alat penyangga sama sekali.

Meskipun tubuhnya masih sedikit limbung, cengkeraman tangan Pratama yang sigap menahan pinggangnya membuat Diandra merasa sangat aman.

Keberhasilan kecil ini menjadi bukti nyata bahwa proses penyembuhan totalnya di pulau ini berjalan dengan sangat sempurna.

Pratama menatap istrinya dengan binar mata yang dipenuhi rasa bangga sekaligus kekaguman yang mendalam.

Ia mengecup kening Diandra lama, meresapi setiap detik perjuangan wanita itu untuk kembali tegak di sampingnya.

"Kamu luar biasa, Sayang. Kemajuanmu jauh lebih cepat dari perkiraan dokter," puji Pratama dengan suara baritonnya yang sarat akan cinta.

Pria itu kemudian menyusupkan satu lengannya di bawah lutut Diandra dan lengan lainnya di punggung sang istri, lalu mengangkat tubuh Diandra ke dalam gendongannya dengan sangat mudah.

Diandra memekik pelan karena terkejut, refleks mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Pratama.

Pratama menatap dalam-dalam netra istrinya dengan kerlingan mata yang penuh arti.

"Ayo, Sayang, kita masuk ke kamar. Perjalanan hari ini cukup panjang, dan kamu harus segera mengistirahatkan kakimu di tempat tidur yang nyaman."

Diandra tidak memprotes, ia justru menyandarkan kepalanya di dada bidang Pratama, mendengarkan detak jantung suaminya yang konstan dan menenangkan.

Di bawah payungan langit sore Indonesia Timur yang mulai meredup berganti warna keemasan, Pratama membawa ratunya melangkah masuk ke dalam vila mewah mereka, siap untuk memulai lembaran baru yang hanya dipenuhi oleh kebahagiaan berdua.

Malam pun tiba menyelimuti pulau pribadi itu dengan romansa yang begitu kental.

Di tepi pantai yang sunyi, Pratama telah menyiapkan makan malam romantis yang luar biasa.

Lilin-lilin kecil tertata rapi di atas pasir, membentuk jalur cahaya menuju meja makan kayu yang menghadap langsung ke laut lepas.

Suara deburan ombak yang tenang berpadu dengan petikan gitar samar dari pemutar musik, menciptakan atmosfer yang begitu syahdu.

Diandra duduk dengan anggun, mengenakan gaun putih panjang yang melambai ditiup angin malam.

Senyumnya tidak pernah pudar sejak sore tadi. Puncaknya adalah saat makan malam dimulai, Diandra menyadari bahwa kakinya semakin membaik; ia bahkan bisa berjalan beberapa langkah ke meja makan tanpa merasa nyeri sama sekali.

Rasa bahagia yang membuncah terpancar jelas dari binar matanya.

Pratama menuangkan minuman ke gelas Diandra, lalu menatap istrinya dengan tatapan yang begitu memuja.

"Kita seperti pengantin baru," bisik Diandra dengan pipi yang merona, menggenggam jemari tegap suaminya di atas meja.

Rasa traumanya seolah menguap, digantikan oleh kehangatan malam pertama mereka di pulau terpencil ini.

Pratama tersenyum manis, baru saja hendak membalas ucapan istrinya. Namun, insting tajam sang CEO mendadak menangkap kejanggalan.

Suara petikan gitar dari pengeras suara tiba-tiba mati, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Bahkan para pengawal yang seharusnya berjaga di sekitar vila tidak terdengar suaranya.

"Sayang, ti—"

ZUT! ZUT!

Belum sempat Pratama menyelesaikan kalimatnya, dua buah anak panah kecil melesat cepat dari balik kegelapan pohon palem.

Suara desingan itu disusul dengan sensasi dingin yang menusuk leher mereka masing-masing.

Mereka berdua seketika dikejutkan dengan tembakan bius berdaya militer tinggi.

"M-Mas..." pandangan Diandra mendadak kabur.

Kepalanya terasa sangat berat seolah berputar dengan hebat.

Diandra melihat Pratama mencoba bangkit dan meraih tangannya, namun tubuh kekar suaminya justru ambruk terlebih dahulu ke atas pasir. Efek obat bius itu terlalu cepat dan mematikan.

Tanpa mampu bertahan lebih lama, mereka berdua langsung pingsan di tepi pantai yang sunyi itu.

Lilin-lilin romantis yang menyala mendadak bergoyang ditiup angin, menjadi saksi bisu runtuhnya pertahanan mereka.

Dalam sisa kesadaran yang sangat tipis sebelum semuanya menjadi gelap gulita, Diandra merasakan tubuhnya diseret kasar.

Ia membuka matanya sedikit, memaksakan pandangannya yang buram untuk melihat ke atas.

Dari balik remang-remang cahaya obor, Diandra melihat lelaki yang menjambak rambutnya dengan kasar agar wajahnya mendongak.

Lelaki itu mengenakan pakaian taktis hitam dengan seringai kejam yang sangat asing, namun memancarkan aura dendam yang sangat pekat.

"Bawa mereka," perintah lelaki itu dengan suara berat yang dingin, memberikan instruksi kepada beberapa orang berbadan tegap lainnya untuk mengangkat tubuh Pratama dan Diandra masuk ke dalam kapal cepat yang sudah bersandar di dermaga gelap.

Surga rahasia yang baru saja mereka nikmati dalam hitungan jam, kini berubah menjadi mimpi buruk yang kembali mengancam nyawa.

1
Aretha Shanum
oh paling malas bca, ujung2 nya ga jelas
Dede Dedeh
kiraan mau happy ending........
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!