NovelToon NovelToon
Fajar Kedua Sang Lady

Fajar Kedua Sang Lady

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Sistem / Wanita perkasa / Tamat
Popularitas:43.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Genevieve mencabut tusuk konde itu dengan satu tarikan kasar.

Darah memuncrat pelan, dan Martha langsung menarik tangannya, memeluk lengannya sendiri ke dada sambil menangis tersedu-sedu. Ia merengkuh tangannya yang gemetar, menatap Genevieve dengan keputusasaan murni seorang pesakitan yang baru saja dijatuhi hukuman mati.

Genevieve meletakkan cangkir keramik yang masih berisi sisa racun itu ke atas meja nakas. Ia lalu mengambil sapu tangan kusam dari balik bantalnya dan menyeka darah yang menempel di ujung tusuk konde perak dengan gerakan santai yang mengerikan, seolah ia baru saja membersihkan kotoran dari sepatunya.

"Satu tetes," ucap Genevieve memecah isak tangis pelayan itu. "Hanya butuh satu tetes racun konsentrat ini ke dalam darahmu untuk mengikat nasib kita bersama, Martha. Akar Silvershade bekerja lambat. Kau akan mulai merasakan sesak di dadamu nanti malam. Besok, sendimu akan terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Dan dalam waktu tepat tujuh hari, paru-parumu akan berhenti bekerja perlahan-lahan hingga kau mati tenggelam oleh darahmu sendiri."

Martha menggelengkan kepalanya kuat-kuat, merangkak maju dan membenturkan keningnya ke lantai batu yang dingin, tepat di bawah ranjang Genevieve. "Ampuni saya... Nyonya, saya mohon, ampuni saya! Saya hanya mengikuti perintah Tuan Gideon! Saya tidak ingin mati... tolong berikan saya penawarnya!"

Genevieve menatap sosok pelayan yang merendahkan diri di kakinya itu dengan tatapan kosong. Di kehidupan lamanya, ia mungkin akan merasa kasihan. Namun di Aethelgard, belas kasihan adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh mereka yang kuat.

"Penawar?" Genevieve mengulang kata itu dengan nada mengejek yang halus. "Tentu saja penawar itu ada. Tapi kau tidak akan mendapatkannya hari ini."

Ia menyandarkan punggungnya kembali ke bantal, diam-diam membiarkan tubuhnya rileks sesaat karena energi empat detiknya telah benar-benar habis. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya, namun posturnya tetap memancarkan dominasi mutlak.

"Kau memiliki pilihan, Martha," suara Genevieve kini turun menjadi bisikan yang menghipnotis, memaksa pelayan itu mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. "Kau bisa berlari ke Gideon sekarang, mengadukan bahwa aku menyadari semuanya. Gideon mungkin akan panik dan mengirim penjaga untuk memenggal kepalaku. Tapi saat kepalaku menggelinding di lantai ini, satu-satunya orang di dunia ini yang tahu cara meracik penawar untuk racun di darahmu juga akan mati bersamaku. Gideon tidak peduli padamu; dia akan membiarkanmu mati perlahan di sudut pelataran belakang."

Martha terisak keras, menelan ludah dengan susah payah. Matanya memancarkan keputusasaan yang tak terelakkan. Ia tahu Genevieve benar.

"Atau..." Genevieve memberikan jeda yang panjang, membiarkan keheningan yang berat menekan bahu pelayan itu. "...kau bisa mulai bekerja untukku."

"A... apa yang harus saya lakukan, Nyonya?" bisik Martha putus asa, darah dari tangannya menetes mengenai lantai batu tanpa ia pedulikan.

"Kau akan kembali ke dapur dan melaporkan kepada Gideon bahwa tugasmu selesai. Beritahu dia bahwa aku telah menelan seluruh racun itu dan kini jatuh ke dalam keadaan koma yang dalam. Katakan padanya aku tidak akan bisa melewati malam ini. Pastikan dia percaya bahwa masalahnya telah selesai."

Genevieve memicingkan matanya, menatap lurus ke jiwa Martha. "Setelah itu, setiap pagi, kau akan membawakan sarapan yang layak untukku. Bukan bubur busuk, tapi makanan yang sesungguhnya. Dan kau akan menjadi mata dan telingaku di kastil ini. Kau akan melaporkan setiap pergerakan Gideon, setiap surat yang datang dari ibukota, dan setiap rahasia yang disembunyikan di balik dinding Ravenscroft. Lakukan dengan baik, dan setiap malam aku akan memberimu penawar sementara untuk memperpanjang hidupmu satu hari lagi. Khianati aku, walau hanya dalam pikiranmu, dan kau akan mati perlahan tanpa ada satu pun tabib yang bisa menyelamatkanmu."

Kontrak darah itu telah dibuat. Bukan dengan sihir, melainkan dengan manipulasi psikologis yang brilian dan ancaman biologis yang nyata.

Martha tidak memiliki ruang untuk berpikir. Ketakutan akan kematian yang dibawa oleh racun di tubuhnya jauh melampaui ketakutannya pada Gideon atau Nyonya Besar. Pelayan itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, menempelkan dahinya pada lantai batu yang dingin bersimbah darahnya sendiri.

"Saya... saya bersumpah, Nyonya. Saya akan melakukan apa pun yang Anda perintahkan. Nyawa saya milik Anda," sumpah Martha, suaranya gemetar oleh kepasrahan yang absolut.

"Bagus," potong Genevieve dingin. "Bersihkan darahmu dari lantai ini. Bawa nampan itu, sisakan cangkirnya di sini. Lalu keluarlah sebelum Gideon curiga kau berada di sini terlalu lama. Dan Martha..."

Pelayan yang sedang tergesa-gesa mengusap sisa darah di lantai dengan ujung celemeknya itu mendongak ngeri.

"Balut tanganmu dengan kain bersih," perintah Genevieve pelan. "Jika Gideon bertanya dari mana luka itu, katakan padanya aku melawan dengan tenaga terakhirku saat kau memaksakan racun itu ke mulutku, sebelum akhirnya aku pingsan. Jangan buat dia curiga pada satu hal pun."

Martha mengangguk cepat, menyambar nampan kayu kosong itu, dan tertatih-tatih mundur ke arah pintu. Ia tidak berani menatap mata majikannya lagi. Begitu pelayan itu memutar gagang pintu dan keluar, suara langkah kakinya yang berat dan berantakan perlahan menjauh, ditelan oleh suara angin musim dingin.

Keheningan kembali merajai kamar raksasa itu.

Begitu derit langkah Martha benar-benar hilang, topeng kebesaran Lady Genevieve hancur berantakan.

Napasnya seketika menderu tak terkendali. Ia terbatuk keras, memegangi dadanya yang terasa seperti dihimpit oleh balok batu giling. Otot-otot di seluruh tubuhnya menegang hebat, mengalami kejang halus akibat pemaksaan tenaga fisik di luar batas yang bisa ditanggung oleh tubuh yang sedang diracun ini. Visinya menggelap di bagian tepi, dan telinganya berdenging nyaring.

Genevieve merosot dari posisi duduknya, tubuhnya jatuh terhempas ke atas kasur dengan bunyi debruk pelan. Ia meringkuk di balik selimut, memeluk perutnya sendiri sambil menahan rintihan kesakitan yang menyiksa saraf-sarafnya.

**[Peringatan Sistem: Energi Vital Tuan Rumah mencapai titik kritis. Kelelahan otot ekstrem terdeteksi. Risiko pingsan paksa: 100%.]**

"Sial..." desisnya dari sela-sela gigi yang bergemeretak menahan sakit. Ia benar-benar telah mencapai batas absolut tubuh ini.

Namun, di tengah rasa sakit yang merobek seluruh persendiannya, seulas senyum kemenangan yang tipis dan letih melintas di bibir pucatnya. Ia telah menipu Martha. Sistem tidak pernah memberitahunya cara membuat penawar Silvershade, apalagi memilikinya. Janjinya tentang "penawar sementara" hanyalah sebuah gertakan mematikan yang ia bangun di atas kepanikan pelayan bodoh tersebut.

Meski begitu, gertakan itu berhasil. Ia tidak hanya mengamankan makanan dan menghentikan asupan racunnya, tapi ia juga baru saja menanam duri beracun tepat di jantung sistem komunikasi musuhnya. Gideon akan berpikir ia telah menang. Penjaga kastil akan menurunkan kewaspadaan mereka.

Mata Genevieve perlahan terpejam saat kegelapan memaksanya masuk ke dalam ketidaksadaran. Hari ini, ia memenangkan pertempurannya melawan waktu. Besok, saat ia membuka mata kembali, perang sesungguhnya untuk menguasai Kastil Ravenscroft akan dimulai dari dalam bayang-bayang.

1
Memyr 67
𝗃𝗂𝗄𝖺 𝗎𝗌𝗄𝗎𝗉 𝖺𝗀𝗎𝗇𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖻𝗂𝖼𝖺𝗋𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖾𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋𝖺𝗇, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗉𝖾𝗋𝗂𝗇𝗍𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗂𝗌𝗍𝖺𝗇𝖺. 𝗄𝖾𝗍𝗂𝗄𝖺 𝗄𝖾𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋𝖺𝗇 𝖺𝖽𝖺𝗅𝖺𝗁 𝗄𝖾𝗄𝗎𝖺𝗌𝖺𝖺𝗇, 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝖺𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎, 𝗍𝗎𝗆𝖻𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖾𝗎𝗌𝗄𝗎𝗉𝖺𝗇, 𝗁𝗂𝗅𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖾𝗒𝖺𝗄𝗂𝗇𝖺𝗇 𝖺𝖻𝗌𝗈𝗅𝗎𝗍.
Endang Sulistia
keren
Memyr 67
𝗈𝗐 𝗍𝖺𝗆𝖺𝗍. 𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗇𝗈𝗏𝖾𝗅𝗇𝗒𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝗎𝖺𝗋 𝖻𝗂𝖺𝗌𝖺 𝗂𝗇𝗂
Yue Li MZy
Manarik juga~
Putri Amalia
kak author ini serius kan gak Hiatus? please smpe end
Memyr 67
𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍. 𝖺𝗊 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎
Memyr 67
𝖽𝗂𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗎𝗉 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍
Memyr 67
𝖻𝖺𝗀𝖺𝗂𝗆𝖺𝗇𝖺 𝗋𝖺𝗌𝖺𝗇𝗒𝖺, 𝗍𝗎𝖻𝗎𝗁 𝗒𝗀 𝗉𝖾𝗇𝗎𝗁 𝗋𝖺𝖼𝗎𝗇 𝖺𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋?
Memyr 67
𝖺𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋 𝗍𝖾𝗅𝖺𝗁 𝗆𝖾𝗆𝖻𝖾𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗇𝖽𝗂𝗋𝗂
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗎𝗉. 𝖽𝗂𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗎𝗉 𝖻𝖾𝗋𝗂𝗄𝗎𝗍𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗉𝖺𝖽𝖺 𝗉𝖺𝗍𝖺𝗁 𝗉𝖺𝗍𝖺𝗁 𝗍𝗎 𝗍𝗎𝗅𝖺𝗇𝗀. 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗒𝖺? 𝗍𝗎𝗅𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗉𝖺𝗍𝖺𝗁.
Memyr 67
𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍. 𝖺𝗄𝗎 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎
Memyr 67
𝗆𝖺𝗐𝖺𝗋 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗈𝗆𝖺 𝖻𝗎𝗌𝗎𝗄. 𝗆𝖺𝗐𝖺𝗋 𝖻𝖺𝗇𝗀𝗄𝖾 𝗒𝖺?
Memyr 67
𝗉𝗂𝗇𝗍𝖾𝗋 𝖻𝖺𝗇𝗀𝖾𝖽 𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖾𝗌𝗄𝗋𝗂𝗉𝗌𝗂𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖾𝗇𝗀𝖾𝗋𝗂𝖺𝗇 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖺𝗅𝖺𝗆𝗂 𝗌𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗎𝗄𝖾 𝖺𝗋𝗈𝗀𝖺𝗇 𝖺𝗅𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁. 𝖽𝗂𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗄𝖾𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗎𝗉 𝗉𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗄𝖾𝖻𝖺𝗒𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖾𝗇𝖽𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝖺𝗇 𝗂𝗍𝗎 𝖽𝗎𝗄𝖾 𝖺𝗋𝗈𝗀𝖺𝗇 𝖺𝗅𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋
Endang Sulistia
nahan nafas bacanya ...
Memyr 67
𝖽𝖾𝗇𝖽𝖺𝗆 𝗌𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖾𝗇𝗀𝗎𝖺𝗌𝖺 𝗄𝖾𝗀𝖾𝗅𝖺𝗉𝖺𝗇 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗃𝗎𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗁𝗂𝗍𝖺𝗆 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗆𝗎𝗄𝖺𝗇 𝗃𝖺𝗅𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!