"Mas, kamu harus tau. Mantan suamiku dulu, dia sempat menyesal karena mengambil keputusan terlalu cepat dan dalam keadaan emosi."
Menghirup nafas lebih dalam, Rey menyadari kesalahannya. "Dan itu sama dengan yang Mas lakukan ke kamu?"
"Iya,"
Rey menyesali ucapan talaknya yang diucapkan satu kali. Lantas apa yang membuat Fitri hampir dicerai lagi oleh suami keduanya?
Kesalahan apa yang dilakukannya dimasa lalu yang menyebabkan hidupnya di penuhi sejuta luka?
(adult romance)
Jangan lupa siapin tisu sebelum membaca dari bab awal 😢
@ana_miauw
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantap berhijrah
"Sebenarnya mau kemana Mbak?" tanya driver, baru aku terfikirkan, sejak satu jam yang lalu aku terus meminta driver untuk terus berjalan. Lalu aku harus kemana?
"Pak lurus saja dulu, nanti kalau saya sampai saya bilang berhenti."
"Eh Mbak saya jadi bingung, maksudnya biar saya nggak nyasar-nyasar." driver taksi itu bertanya lagi.
"Ja-jalan aja dulu saja pak, terserah anda mau bawa saya kemana hiks... " Sebenarnya aku merasa malu, dari tadi aku terus saja menangis.
"Lah, piye to mbak?"
"Huu huuu.... Hiks... " tangis semakin pecah sejadi-jadinya, aku ngga bisa menahannya lagi.
Mungkin driver taksi itu semakin bingung dan merasa apes. Kenapa bisa dapat penumpang sepertiku. Dia langsung diam tanpa sepatah kata apapun.
Beberapa menit kemudian dia menepikan mobilnya ke sebuah bangunan yang kurasa mirip sebuah pesantren.
Mungkin dia mau istirahat, pikirku.
Namun justru bukan mau beristirahat, tapi dia malah membuka pintu belakang. "Mbak, Mbak lagi ada masalah ya sama suaminya?" tanyanya, raut wajahnya menggambarkan kekhawatiran. Berarti tadi skydriver ini melihat adegan pemberontakan dipelukan Mas Ibnu saat berada di parkiran rumah mewah itu. Maksudnya rumah Ibnu.
Aku dengan mata sembab merasa malu dan menganggukkan kepalaku dengan gerakan pelan. "Bapak mau beristirahat?" tanyaku.
"Mbak yang akan beristirahat disini, kalau mau mbak? Disini aman kok Mbak. Saya juga mau bekerja lagi, lagian saya nggak tega nurunin mbak di jalan. Besok lusa mungkin bisa nyari kos atau kontrakan sendiri kalau masih belum mau pulang kerumah."
Ha? Apa katanya, aku mencoba mencerna perkataan driver itu dan kutanyakan ulang. "Istirahat disini?"
"Iya kalau Mbak mau menenangkan diri disini silahkan, nanti saya bisa bicarakan dengan pak kyai dan Ummi Salwa. Kalau ditanya apa hubunganku dengan beliau, Ibu saya menjadi tukang masak di pesantren ini. Jadi, saya dan Pak kyai lumayan dekat." Jelas sidriver. Aku mencoba pikirkan tawaran itu.
"Insyaallah pak kiai dan Umbi pasti mengizinkan. Beliau orang yang sangat baik." tambahnya lagi.
"Ma-maaf pak, saya jadi merepotkan."
"Tidak apa-apa, kita harus saling tolong menolong. Saya benar-benar nggak tega kalo nurunin wanita secantik mbak di jalanan. Apalagi keadaannya mbak lagi kalut begitu. Bahaya!"
"Ehmm, i-iya pak makasih..."
Entah apa yang harus aku katakan dengan driver ini. Aku menunggu skenario Allah yang sangat indah, yang mempertemukanku dengan driver baik ini.
Setelah memberitahu panjang lebar, akhirnya dia membawaku masuk kedalam rumah. Bertemu dengan yang dia sebut tadi, ummi Salwa dan pak kiyai. Sempat tegur sapa dengan Ummi dan Pak kiyai. Menceritakan bagaimana aku bisa pergi dari rumah. Benar kata driver, Ummi Salwa dan pak kiyai begitu baik.
Driver itu juga menceritakan kronologinya bertemu denganku. Hingga mereka menerimaku dengan tangan terbuka, mempersilahkan untuk tinggal disini sementara.
Tak beberapa lama kemudian, mereka mempersilahkanku beristirahat di kamar yang disediakan.
Kikuk, canggung, itu yang kurasakan ditempat yang baru ini. Untuk rasa ketenangan, aku tidak bisa banyak berharap. Tapi yang pasti, aku ingin benar-benar lepas dulu dengan mas Ibnu dan pernikahan sialan ini. Masih terasa di hati, menyayat jika aku mengingatnya, sangat menyakitkan.
"Tok tok tok." Terdengar suara ketukan dari balik pintu.
"Ya?" Sahutku, segera kubuka pintu kamar ini.
Ternyata driver itu, setelah kulihat jelas perkiraan umur laki-laki ini berkisar usia diatas tiga puluh tahun. "Mbak, ini kartu nama saya. Nama saya Doni, mbak namanya siapa?" menyodorkan kartu namanya.
Ehm, aku tersadar dari monolog, "namaku Fitri humairah." Aku menerima kartu nama itu.
"Oh iya Mbak Fitri, saya tinggal dulu ya Mbak, saya harus kembali narik. Kalau ada apa-apa bisa hubungi saya. Saya siap membantu. Permisi mbak," dia buru-buru pergi dari tempat ini.
"Eh tunggu Don," Doni menghentikan langkahnya. "Makasih bantuannya Doni, jazakallah khair, fii amanillah."
"Oh iya sama-sama Mbak. Semoga betah disini ya Mbak."
Aku kembali mengucapkan rasa terimakasih kepada Doni sebelum Doni benar-benar pergi meninggalkanku ditempat ini. Sejenak ku renungkan, Allah masih menyayangiku dengan memberiku pertolongan lewat perantara Doni. Kembali aku bersujud mengucapkan rasa syukur.
***
"Jadi sudah ditalak ya Nak?" Tanya Pak kyai, kami sedang berada diruang tengah menceritakan duduk permasalahanku.
Tujuanku menceritakan semua adalah untuk mencari solusi, bukan pembelaan maupun hal lainnya. Karena hal tersebut boleh dilakukan jika yang diberi tahu adalah orang yang tepat yang bisa membantu menyelesaikan masalah itu sendiri. Aku tidak sebodoh itu untuk urusan menceritakan masalah pribadiku. Demi Tuhan, hidupku kenapa jadi sepelik ini. Tidak pernah terbayangkan dan tak pernah terpikir dalam benakku sekalipun. Menjadi seorang istri hanya dalam hitungan jam.
"Iya pak kiyai, Ummi... Pada malam itu langsung ditalak dan diusir dari rumahnya. Sekarang saya sudah tidak punya kepercayaan diri lagi untuk hidup berumah tangga. Saya malu Pak kyai, Ummi, sa-saya-- Huu.. Huu.. Hiks..."
Kulihat Ummi berkaca-kaca, melihatku dengan rasa iba. Lalu tiba-tiba Ummi Salwa memelukku erat.
"Sabar Nak, kamu anak baik, tidak boleh berputus asa. Kamu memang pernah berbuat dosa besar, dan Umi mencuba membayangkan berada diposisimu dulu. Tapi Umbi yakin sekarang kamu adalah wanita solehah yang selalu dirindukan Allah. Allah lebih mencintai tangisan taubat seorang pendosa daripada tasbihnya manusia yang sombong. Ikhlaskanlah apa yang terjadi Nak..."
"Huuu... Makasih Ummi... Huuu... "
"Suamimu itu terlalu gampang mengucapkan talak nak." Lirik pak kiai yang kulihat juga turut bersedih, beliau melepas kacamatanya dan mengusap pipinya yang sudah basah berurai air mata. Beliau punya cucu perempuan juga, mungkin membayangkan bagaimana jika hal buruk itu menimpa cucu perempuannya.
***
Aku memejamkan mataku dan menghirup nafas dalam-dalam. Hal seperti ini sangat menyenangkan, terasa sejuk saat memasok udara segar di dekat pepohonan rindang. Baru beberapa detik, lalu kurasakan sedikit tersentak kala ada orang yang menyentuh bahuku.
"Rani !" Pekikku seraya mencubiti perutnya.
Rani adalah cucu Pak kyai. dia masih seumuran denganku. Namun Rani adalah seorang wanita bercadar. Jika kulihat Rani, aku begitu iri dengannya. Meskipun kedua orang tuanya telah tiada. Tapi bimbingan dan didikan pak kyai menuntunnya sampai saat ini, hingga dia tumbuh menjadi wanita yang sholehah. Disayangi banyak orang, dan lebih beruntung daripada aku mestinya. Huft baru kusadari, aku terlalu banyak mengeluh. Padahal setiap hidup manusia memang Allah takdirkan jalan yang berbeda-beda.
"Aaaww sakit mbak, aww !! Hihihi geli-geli geli geli, haha haha...." Keluhnya dan aku terus mencubit dan menggelitikinya hingga Rani menyerah.
"Rasain, siapa suruh ngagetin."
"Mbak, Mbak. Jangan banyak melamun disini. Nanti kesurupan buto ijo." Candanya.
"Hahaha, temen kamu ya si buto ijo itu."
"Ahh mbak, ada-ada saja. Aku kan cantik masa temannya buto ijo.." Aku menatapnya dengan tawa lepas.
Terimakasih telah membuatku tertawa lepas Rani.. beban yang dipanggil sedikit aku lupakan.
***
Hari-hari selanjutnya aku isi dengan banyak mengaji, aku diberi buku fiqih wanita oleh Rani. Dia juga mengajariku banyak hal, mulai dari memperbaiki bacaan quranku, memperbaiki cara shalatku, macam-macam ibadah yang memberiku banyak pahala dan masih banyak lagi. Disini juga aku lebih sering shalat malam. Kami seperti adik kakak yang selalu bersama disetiap kesempatan. Terkadang jika aku bosan, Rani mengajakku berkeliling ke pondok putri.
.....
To be continued.
pemeran utama pria selalu salah, dia dibohongi ujung2 dia juga yang salah, dia pergi kerja lama dia juga salah, dua ujuga yang dibuat menyesal, mengemis2 maaf, pemeran utama pria di novel selalu dibuat karakter bodoh yang Terima saja diperlakukan apapun dan pada lahir dia dibuat mengemis2 pada istrinya
pemeran utama wanita selalu akan dibenarkan, dia membohongi suami dengan kebohongan yang sangat menyakitkan tapi ujung2 pemeran utama pria juga yang salah dan mengemus maaf, pemeran utama wanita pergi dari rumah dan buat suami kayak pengemis dan menderita novel anggap biasa saja bukan kesalahan yang perlu dibesar2kan dan tidak perlu minta maaf tapi pemeran utama pria pergi karena kerja yang sangat penting udah dibuat jadi kesalahan fatal dan dapat hukuman dan diremehkan pria lain
vano lelaki lain yang suka pada pemeran utama pria terlalu diistimewakan dan tidak pernah dianggap salah dan bisa merasakan tubuh pemeran utama wanita dan bebas memprovokasi pemeran utama pria, kesalahan sangat banyak, meleceh wanita, memaki jalang pada peran utama wanita, menghancurkan rumah tangga adiknya tapi karena tidak dianggap salah dana tidak perlu dapat balasan