Reina Wulandari,seorang gadis yang terpaksa harus menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sang nenek. Dia anak yang pintar namun sayang kepintarannya tidak dia manfaatkan dengan baik dan justru harus terjerumus ke dalam hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Bagaimana kisahnya mari ikuti ceritanya.
( Hanya cerita fiktif belaka jadi tolong jangan hina karyaku ya 🙏 tolong komentar dengan bijak dan ambil hal yang baik saja ).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KheyraPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Jodohkan
Sesudah meluapkan perasaan bersalahnya Reina pun mengusap air matanya dan keluar untuk membersihkan diri. Tidak butuh waktu lama Reina pun selesai membersihkan dirinya lalu ke ruang makan dengan masih menggunakan handuk di kepalanya.
" Nenek tadi masak apa ? Maaf ya Reina telat pulang jadi nggak bisa masakin buat nenek" Ucap Reina merasa bersalah karena seharusnya dia yang memasakkan makanan untuk neneknya.
" Nggak papa nduk,lagian selama ini kan kamu yang selalu masakin buat nenek...ayo makan" Ajak nenek Sri mengajak Reina makan,nenek Sri mengambilkan tumis kangkung ke piring Reina saat Reina mengambil nasi.
" Makasih nek..." Ucap Reina tersenyum.
" Hari ini nggak ada lauk ya nduk,nenek belum punya uang buat beli " Ucap nenek Sri dengan sedih menatap Reina yang lahap makan meskipun hanya dengan tumis kangkung.
" Ini sudah lebih dari cukup nek,di syukuri aja. Karena di luar sana banyak yang susah untuk makan sesuap nasi" Ucap Reian tersenyum sambil mengusap tangan neneknya.
Nenek Sri tersenyum karena cucunya begitu baik,dan sangat lembut. Namun siapa yang sangka di balik kebaikannya sebenarnya Reina menutupi sebuah rahasia besar yang mungkin akan membuat neneknya sangat kecewa dan terluka jika mengetahuinya.
Mereka pun makan dengan rasa bersyukur dan begitu menikmati makanan mereka meskipun hanya dengan tumis kangkung dan lauk tempe goreng. Setidaknya tidak perlu mengorek-ngorek di tempat sampah.
Selesai makan Reina pun membereskan meja makan dan mencuci piringnya. Saat Reina masih mencuci piring nenek Sri mengajaknya bicara.
" Oh iya nduk sebentar lagi kamu ulangan ya nduk ?" Tanya nenek Sri.
" Iya nek,kenapa ?" Tanya Reina bingung.
" Sebaiknya kamu fokus belajar saja nduk jangan sambil kerja" ucap nenek Sri menasehati.
" Kan cuma bentar nek nggak lama,lagian nggak capek dan nggak akan bikin aku lupa belajar kok nenek tenang aja" ya Reina berkata seperti itu karena Reina masih bingung ingin berhenti atau melanjutkan pekerjaannya. Kalau berhenti nanti dia mau makan apa dengan neneknya. Kalau cuma mengandalkan jualan gado-gado neneknya tidak seberapa.
" Ya sudah kalau memang begitu,nenek hanya takut kamu nggak bisa fokus belajar saja. Nenek hanya ingin kamu belajar dengan benar nduk jangan sampai terkena pergaulan bebas di luar sana" ucap nenek Sri mengucapkan itu lagi.
Deg
" Apakah nenek mengetahui pekerjaanku. " batin Reina khawatir.
" Sudah kamu ke kamar saja biar nenek yang terusin,nanti kamu ngantuk lagi mau belajar" Ucap nenek Sri mengambil alih mencuci piring.
" Iya nek,nenek jangan malem-malem ya tidurnya nanti" Ucap Reina lalu pergi,namun sebelum pergi dia mencium pipi neneknya terlebih dahulu.
" Dasar bocah" Ucap nenek Sri tersenyum melihat kepergian Reina. Dia pun menyelesaikan mencuci piringnya.
Reina sampai di kamar dan duduk di meja belajarnya. Dia pun menatap kosong buku yang ada di depannya. Andaikan masih ada ibu untuk bercerita dan berkeluh kesah. Andaikan masih ada ayah yang bekerja memenuhi biaya sehari-hari. Hanya itu setiap kali yang dia fikirkan.
Namun dia tersadar tidak ada untungnya dia berandai-andai karena yang hidup di dunia semua akan kembali ke sang pencipta.
" Ya aku nggak boleh terus menerus lemah seperti ini,aku harus belajar dengan giat agar bisa bekerja di perusahaan yang besar dan mengubah kehidupanku dan nenekku. Ya aku harus membahagiakan nenek karena dia satu-satunya yang aku punya di dunia ini" Reina menguatkan diri sendiri sambil mengepalkan tangannya penuh tekad.
Reina lalu belajar karena 3 hari lagi dia akan ulangan kenaikan kelas. Sebenarnya belajar atau tidak Reina tetap bisa mengerjakan karena dia pintar,namun meskipun dia pintar belajar akan menambah wawasannya agar menjadi lebih pintar lagi.
***
Di lain tempat Bramasta pun baru pulang dari kantor. Dia lebih memilih pulang ke apartemennya dari pada pulang ke rumahnya yang sekarang bisa di sebut bukan rumah karena kurang kenyamanannya di rumah.
Bramasta pun meletakkan tas kerjanya di meja ruang tamu. Dia mendudukkan bokongnya di sofa dan menyandarkan kepalanya. Begitu lelah bekerja, harusnya sepulang bekerja ada yang menyambutnya dan memijit badannya saat lelah seperti ini.
Ya sebenarnya ibu dan ayah Bramasta sudah berulang kali meminta Bramasta untuk segera menikah karena usianya yang sudah memasuki 29 tahun. Ya sebentar lagi dia berkepala 3 namun dia belum mendapatkan wanita yang menurutnya cocok. Banyak wanita yang mendekatinya namun hanya mengincar kekayaannya saja.
Bramasta beranjak dari sofa dan memilih membersihkan dirinya terlebih dahulu. 15 menit Bramasta telah selesai dengan ritual mandinya dan memakai celana kolor pendek dan kaos oblong. Bramasta menuju dapur untuk membuat kopi,dia perlu menenangkan pikirannya dengan secangkir kopi. Dia bukan tipe lelaki yang suka dengan minum-minuman keras.
Bramasta lalu menuju balkon kamarnya dan menatap langit-langit malam yang mendung, sepertinya malam nanti akan turun hujan karena tidak ada bintang sama sekali. Hembusan angin malam yang dingin menambah kesan Bramasta karena sendirian saat cuaca dingin.
Bramasta menyeruput kopi dia menerawang jauh mengingat kejadian tadi siang saat melihat Reina. Ia pun tersenyum melihat Reina yang begitu penyayang dan lembut kepada siapapun. Namun senyuman Bramasta luntur saat ponselnya berbunyi dan tertera nama ibunya.
Mau tidak mau Bramasta pun mengangkat panggilan dari ibunya.
' Iya ma ?' Ucap Bramasta setelah menjawab panggilannya.
' Kamu pulang ke rumah kan sayang,ada temen mama yang mau kenalan sama kamu' ucap ibu Bramasta di seberang telepon.
' nggak ma, Bramasta capek ingin istirahat di apartemen' ucap Bramasta.
' pulang ya nak, sebentar saja. Nanti kamu kan bisa tidur rumah' ucap Rita memohon agar Bramasta mau pulang.
' iya aku pulang ' ucap Bramasta lalu mematikan panggilan teleponnya. Dia tidak bisa menolak permintaan mamanya karena mau bagaimanapun dia yang telah melahirkannya.
Bramasta menghembuskan nafasnya kasar lalu masuk ke kamarnya dan berganti pakaiannya mungkin dia akan menginap di rumah saja, karena kalau harus balik lagi ke sini menguras waktu dan tenaga. Dia sangat capek.
Setelah berganti pakaian Bramasta menyambar tas kerjanya yang masih ada di meja ruang tamu lalu keluar dari apartemen.
Perjalanan hampir 30 menit karena macet di jalan. Bramasta akhirnya sampai di depan gerbang dan pak satpam pun membukakan pintu gerbang sambil membungkuk hormat.
Bramasta masuk ke halaman rumahnya dan turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah. Saat sampai di ruang tamu di mendengar suara sangat ramai dari meja makan.
" Bramasta sini nak makan malam bersama dulu" Ajak Rita berteriak saat melihat kedatangan Bramasta di mana memang jarak antara ruang tamu dan ruang makan tidak terlalu jauh.
Mau tidak mau Bramasta pun menyusul ibunya ke meja makan dan terlihat ada 2 perempuan lain di sana.
" Kenal kan nak ini Zoya teman masa kecil kamu,masih ingat nggak ? Dan ini mamanya Tante Weni" Rita memperkenalkan perempuan yang di lihat Bramasta saat sampai di meja makan.
" Bramasta" hanya itu saja yang keluar dari mulut Bramasta. Dia tidak mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan keduanya. Ekspresinya cuek dan dingin.
" Hai Bram,kamu masih ingat aku ?" Tanya Zoya mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis.
-->>>