Penculikan yang salah berujung pada malam panas. Lalu, wanita menghilang. Obsesi sang pembunuh bayaran dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pergi
Keesokan paginya, sinar matahari musim semi London mulai menyelinap melalui sela-sela tirai sutra yang terbuka sedikit di kamar tidur Rex.
Cahaya emas itu menyinari wajahnya yang masih tertutup rapat, membuatnya terbangun dengan perlahan setelah jam-jam panjang yang dihabiskan bersama Maple.
Ia membuka kedua matanya dengan gerakan yang lambat, napasnya masih sedikit dalam akibat kelelahan semalam.
Tanpa berpikir dua kali, tangannya secara naluriah menjangkau sisi kanan ranjang—tempat di mana Maple telah berbaring bersamanya sepanjang malam.
Namun, yang ia rasakan hanya seprai sutra yang sudah dingin dan kosong.
Rex langsung beranjak duduk, rambut hitamnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya yang mulai menunjukkan ekspresi cemas. Ia melihat sekeliling kamar yang luas—tidak ada tanda-tanda Maple di mana pun.
Seprai yang kusut di lantai menunjukkan jejak pergerakan mereka semalam, namun sosok wanita itu sudah tidak ada di sana lagi.
"Maple..." panggilnya dengan suara yang masih serak, namun hanya suara gema dari dinding kamar yang menjawabnya.
Tanpa berlama-lama, ia turun dari ranjang dan mengecek kamar mandi yang terletak di pojok kamar—lantainya yang terbuat dari marmer masih basah, namun tidak ada tanda-tanda Maple di sana.
Hanya tersisa sedikit jejak aroma wewangian chamomile yang masih mengambang di udara, menjadi satu-satunya bukti bahwa wanita itu pernah berada di sana.
Ia bergegas mengambil pakaiannya yang tergeletak di kursi berlengan dekat tempat tidur—jas kulit hitam dan kemeja putih yang selalu ia kenakan.
Setelah berpakaian dengan cepat dan menata rambutnya sebentar di depan cermin, ia keluar dari kamar dan mulai mencari di setiap sudut penthouse mewahnya.
Dari ruang tamu yang luas hingga dapur yang dilengkapi dengan peralatan terbaik, dari teras pribadi yang menghadap ke pemandangan kota hingga ruang baca yang penuh buku tua—tak satupun sudut yang ia lewatkan, namun tak ada jejak Maple yang bisa ditemukannya.
Pada saat itu, ia menyadari bahwa wanita itu telah pergi tanpa pamit setelah malam yang penuh gairah.
Rex menutup kedua matanya dan memijit pelipisnya dengan kuat, rasa tidak nyaman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya menyelimuti dirinya.
Baginya yang selama ini bisa mengendalikan segala sesuatu dengan mudah, kehilangan jejak seseorang—terutama seorang wanita yang telah menyentuh hidupnya dengan cara yang tak terduga—membuatnya merasa terganggu jauh dari yang ia sangka mungkin.
*
Rex membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan setelan hitam yang lebih rapi, Rex segera meninggalkan penthouse-nya.
Ia masuk ke dalam mobil sport hitam mewahnya, mesinnya menyala dengan suara yang rendah namun kuat sebelum ia melaju dengan kecepatan tinggi melalui jalan-jalan London yang mulai ramai dengan aktivitas pagi hari.
Rasa cemas yang tumbuh di dalam dirinya membuatnya tidak sabar untuk menemukan keberadaan Maple.
Beberapa jam kemudian, mobilnya berhenti di depan sebuah gudang pabrik tua yang terletak di daerah terpencil di pinggiran kota London.
Gedung bertulang baja tinggi itu terlihat suram dan terpencil dari aktivitas kota, dengan gerbang baja kokoh yang menjulang tinggi ke atas langit yang mulai mendung kembali.
Saat mobilnya mendekat, gerbang tersebut terbuka secara otomatis dengan suara berdecit logam, dan Rex melaju masuk ke dalam area yang di kelilingi pagar tinggi besi.
Ia memarkirkan mobilnya di depan pintu utama gudang yang besar, lalu keluar dengan langkah yang mantap dan penuh kekuasaan.
Tak butuh waktu lama, seorang pria berbadan besar dengan wajah yang sungguh-sungguh menghampirinya, lalu menunduk sebagai tanda hormat.
"Tuan," sapanya dengan suara rendah.
"Apakah Orion sudah datang?" tanya Rex dengan nada yang tegas dan penuh kepemimpinan—sisi yang jarang ia tunjukkan kecuali di tempat ini.
Gudang tua yang tampak kumuh ini sebenarnya merupakan markas besar organisasi mafia yang dipimpinnya, sebuah identitas yang ia sembunyikan dengan cermat di balik wajahnya sebagai pengusaha kaya raya dan pembunuh bayaran di Inggris.
"Sudah, Tuan. Dia sudah berada di ruang bawah tanah dan sedang menunggu Anda," jawab anak buahnya sambil tetap menunduk.
Rex masuk ke dalam gedung melalui pintu belakang yang tersembunyi, lalu menuruni tangga besi yang panjang menuju ruang bawah tanah.
Udara di sana menjadi semakin lembab dan terasa berat, dengan bau tanah basah dan besi yang mulai berkarat memenuhi hidungnya.
"Bughh... Bughh..."
Suara pukulan yang keras dan jelas terdengar dari kejauhan saat Rex melangkah masuk ke dalam ruang bawah tanah.
Ruangan yang minim pencahayaan hanya diterangi oleh beberapa lampu gantung yang berkedip-kedip, membuat bayangan panjang melintas di dinding bata yang kotor.
Di setiap sudut ruangan terlihat alat-alat penyiksaan yang mengerikan—rantai besi, palu karet, dan beberapa alat yang tidak bisa dikenali bentuknya—dan bau darah yang kuat dan menusuk menghinggapi setiap inci udara di sana.
"Kenapa kau bersemangat sekali pagi ini, Orion?" ucap Rex dengan nada yang santai, seolah suara pukulan dan bau darah itu adalah hal yang biasa baginya.
"Kau sudah datang?" suara Orion terdengar dari pojok ruangan, kemudian sosok pria tinggi dengan rambut pirang bergelombang itu berbalik menghadapnya.
Orion Gordon—sahabat masa kecil Rex yang juga merupakan anggota mafia berpengaruh dan pengusaha kaya di Inggris—tengah berdiri di depan seorang pria yang terjerat rantai di tangan dan kakinya, tubuhnya sudah babak belur dengan bekas memar dan luka yang mengeluarkan darah.
"Apa dia sudah mengatakan identitas siapa klien terakhirku?" tanya Rex sambil berjalan mendekat, matanya tetap dingin melihat kondisi pria yang terikat itu.
"Haaaahh... Belum juga. Dia masih terlalu keras kepala, jadi aku berpikir sebaiknya menikmati setiap pukulan yang bisa kubagikan dulu," jawab Orion dengan senyum sinis, lalu ia berjalan menuju wastafel di sudut ruangan untuk mencuci tangan yang berlumuran darah dengan air dingin, kemudian mengelapnya dengan handuk bersih yang di berikan oleh salah satu anak buah mereka.
"Aku bersumpah... aku tak tahu siapa orang itu! Kami hanya berbicara melalui telepon tanpa bertemu langsung atau menanyakan nama sama sekali!" teriak pria yang terikat itu dengan suara pelan dan tak bertenaga, wajahnya penuh rasa takut saat melihat Rex yang semakin dekat.
"Kau sudah melacak nomor teleponnya?" tanya Rex sambil tetap memandangi Orion, tidak memberikan perhatian lebih pada pria yang sedang merengek itu.
"Sudah coba. Namun itu nomor palsu yang dibuat khusus untuk panggilan itu—tidak ada jejak yang bisa ditemukan," jawab Orion sambil menepuk bahu Rex dengan tangan yang sudah bersih.
Rex hanya mengangguk perlahan, kemudian mengisyaratkan kepada anak buahnya yang berdiri di dekat pintu untuk melanjutkan penyiksaan.
"Lanjutkan sampai dia memberikan petunjuk yang berguna tentang pria yang mencoba membunuhku. Jangan biarkan dia mati sebelum kita dapatkan informasi yang kita butuhkan," ucapnya dengan nada yang dingin dan tak ada rasa belas kasihan, sebelum berbalik dan keluar dari ruangan bawah tanah itu bersama Orion.
*
Keduanya naik ke atas dan menuju ke ruangan kerja Rex yang terletak di lantai pertama gudang—ruangan yang jauh lebih nyaman dengan perabotan mewah dan jendela besar yang memberikan cahaya alami.
Setelah mereka duduk di sofa kulit hitam yang nyaman, Rex membuka mulutnya dengan suara yang sedikit lebih lembut dari biasanya.
"Bantu aku cari seseorang, Rion," ucapnya.
"Siapa?" tanya Orion dengan nada santai, sedang menikmati segelas whiskey yang ia tuangkan sendiri dari lemari minuman di sudut ruangan.
Rex mengambil ponselnya dan dengan cepat mengirimkan sebuah foto serta data identitas yang telah dikumpulkan sebelumnya kepada Orion. Layar ponsel Orion menampilkan wajah Maple yang lembut, dengan informasi singkat tentang nama dan tempat tinggal terakhirnya.
"Wanita?" ucap Orion dengan sedikit terkejut, kemudian memandangi Rex dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu.
Ini adalah hal yang baru baginya—Rex yang selama ini tidak pernah menunjukkan minat pada wanita selain untuk bersenang-senang.
"Ya," jawab Rex dengan singkat, matanya tetap fokus pada cangkir whiskey yang ada di tangannya.
"Siapa wanita ini? Bukankah kamu biasanya hanya bermain-main lalu melupakan mereka begitu saja?" tanya Orion dengan rasa penasaran yang semakin besar, duduk lebih tegak untuk memperhatikan sahabatnya.
Rex menatap mata sahabatnya dengan pandangan yang serius. "Dia yang akan menjadi istriku. Temukan dia dalam keadaan hidup dan tanpa sedikitpun luka di tubuhnya," ucapnya dengan tegas, tanpa sedikit pun keraguan dalam suaranya.
"What? Wife? Aku tidak salah dengar kan?" teriak Orion dengan mata yang melebar lebar, hampir menyemprotkan whiskey yang ada di mulutnya. "Kau benar-benar serius sekarang?"
"Aku ingin kau menemukannya sesegera mungkin. Dia menghilang begitu saja padahal semalaman aku telah membuatnya merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia bahkan terus mendesah dengan suara merdu dan menggoyangkan pinggulnya setiap kali aku menyentuh bagian terdalam dari dirinya," ucap Rex dengan suara yang rendah namun penuh keyakinan, seolah tidak percaya bahwa wanita itu bisa pergi begitu saja setelah apa yang mereka alami bersama.
"Hahahaha... Wah wah wah! Mungkin saja permainan ranjangmu yang terkenal hebat itu tidak sesuai dengan seleranya, jadi ia memilih kabur darimu saja," ucap Orion sambil tertawa terbahak-bahak, mengejek sahabatnya yang selama ini dikenal sebagai pria yang tak pernah terikat pada wanita apapun.
Rex memang sering menghabiskan malam dengan wanita-wanita cantik, namun setelah itu ia tidak akan pernah mencari mereka lagi atau memberikan perhatian lebih sedikit pun.
"Aku ingin kau segera menemukannya, Rion," ucap Rex lagi dengan nada yang lebih tegas, tidak menghiraukan ejekan sahabatnya.
"Apa yang terjadi denganmu, dude? Ini benar-benar bukan dirimu yang aku kenal selama ini," ucap Orion dengan wajah yang mulai serius, menyadari bahwa Rex benar-benar tidak bercanda kali ini.
Rex menghela nafas panjang, kemudian bersandar di sofa dengan mata yang sedikit menutup. "Aku pun tidak tahu dengan pasti. Wanita itu selalu membuatku merasa seperti seseorang yang berbeda—selalu ingin berada di dekatnya, bahkan hanya sekadar memikirkan wajahnya saja sudah bisa membuatku merasa terangsang," ucapnya dengan suara yang penuh kejujuran, sesuatu yang jarang ia tunjukkan kepada siapapun.
"Ooh God! Apa yang sudah wanita ini lakukan pada sahabatku yang selalu dingin dan terkendali ini? Sungguh menarik sekali—aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan calon istrimu itu," ucap Orion dengan senyum yang kembali muncul di wajahnya, lalu ia mengangguk dengan tegas. "Jadi tenang saja, Rex. Aku akan menggunakan semua sumber daya yang aku punya untuk menemukannya. Jaminan sahabat, dia akan ditemukan dalam waktu singkat."
Rex hanya terdiam dan menutup mata, bayangan wajah Maple yang penuh gairah semalam terlintas jelas di pikirannya—mulutnya yang terbuka saat mendesah, kulitnya yang putih bersinar di bawah cahaya lampu, dan cara dia menyambut setiap sentuhan dirinya. Ia mengerutkan kening dengan iri hati yang tak ia sangka bisa merasakan.
"Shit... Kau tidak bisa kabur dariku begitu saja, Maple. Kau sudah menjadi milikku, dan aku akan memastikan kau tahu itu," bisiknya dalam hati, matanya yang terbuka kembali menunjukkan pandangan yang penuh tekad untuk menemukan wanita itu kapan pun dan di mana pun ia berada.