NovelToon NovelToon
Geminiorum Pendekar Sayap Putih

Geminiorum Pendekar Sayap Putih

Status: tamat
Genre:Action / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:93
Nilai: 5
Nama Author: Vi nhnựg nười Nĩóđs

Langit Elarion tidak pernah benar-benar diam.

Ia bernapas.

Bukan seperti makhluk hidup—tidak dengan paru-paru atau denyut nadi—melainkan dengan ritme kosmik yang tak terlihat, gelombang halus yang mengalir di antara bintang-bintang seperti bisikan yang terlalu tua untuk diingat. Warna ungu kebiruan yang membentang di ufuk fajar bukan sekadar fenomena cahaya, melainkan residu dari hukum-hukum yang terus menulis ulang dirinya sendiri, detik demi detik, tanpa pernah berhenti.

Di dunia manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi nhnựg nười Nĩóđs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: PERTEMPURAN TANPA BENTUK

Ketakutan adalah hal yang wajar, namun para Seraph adalah penjaga. Dan penjaga tidak boleh mundur, tidak peduli seberapa mengerikan musuh yang menghadang.

“Jangan biarkan dia menginjakkan kaki lebih jauh!” raung Kaelthar.

Suaranya memecahkan kebisuan yang mematikan itu. Dengan satu gerakan cepat, sang jenderal melesat keluar dari Aula Cahaya, terbang menembus kubah kristal dan menuju langit terbuka di mana Nihilum bergelayut seperti monster raksasa. Armor biru gelapnya bersinar terang, menjadi satu-satunya titik harapan di tengah lautan kegelapan yang menelan segalanya.

Kaelthar tidak ragu. Ia memutar tubuhnya di udara, mengumpulkan seluruh kekuatan tempurnya ke dalam ujung tombak. Energi murni berwarna biru listrik meledak keluar, membentuk sinar raksasa yang panjangnya berpuluh-puluh meter, tajam dan mematikan.

“Terimalah ini!” teriaknya.

Dengan sekuat tenaga, ia melemparkan serangan itu. Sinar tombak itu membelah angkasa dengan kecepatan cahaya, meninggalkan jejak putih di langit ungu. Serangan itu cukup kuat untuk membelah gunung, menghancurkan bintang, atau mengubah pasukan musuh menjadi abu.

Ledakan dahsyat terjadi saat sinar itu menghantam tubuh Nihilum.

Cahaya menyilaukan memancar ke segala arah, mengguncang ruang dan waktu. Gelombang kejutnya membuat Istana Celestia berguncang hebat seolah diterpa badai terbesar dalam sejarah. Para Seraph di dalam aula memejamkan mata, menahan napas, berharap serangan itu setidaknya mampu menahan laju makhluk itu.

Namun… saat cahaya ledakan meredup dan asap energi menghilang, pemandangan di depan mata mereka membuat darah mereka seolah membeku.

Nihilum masih berdiri di sana.

Tidak tergores. Tidak berkurang ukurannya. Tidak marah.

Tubuh hitam pekat itu tampak sama persis seperti sebelumnya. Bahkan lebih mengerikan, karena di tempat di mana serangan Kaelthar menghantamnya… tidak ada apa-apa.

Serangan itu… hilang.

Tidak terpantul. Tidak dibelokkan. Tidak diserap.

Benar-benar hilang. Seolah-olah energi dahsyat yang baru saja dikeluarkan oleh Kaelthar itu tidak pernah ada sejak awal. Nihilum hanya membiarkannya masuk ke dalam dirinya, lalu… menghapus keberadaannya.

“Tidak mungkin…” bisik Kaelthar, tergantung di udara dengan tubuh kaku. “Itu mustahil…”

“Dia tidak bisa diserang secara langsung!” teriak Kaelthar kembali, kali ini suaranya bercampur keputusasaan. Ia baru saja menyadari hukum fisika yang paling dasar telah dilanggar di hadapannya. Aksi tidak lagi menghasilkan reaksi.

Elyndra tidak tinggal diam. Hatinya hancur melihat kegagalan sahabatnya, namun ia tahu ia harus bertindak. Jika kekuatan kasar tidak mempan, mungkin kelembutan kehidupanlah yang bisa menahannya.

“Aku akan mencoba menstabilkan area di sekitarnya!” seru Elyndra.

Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Cahaya keemasan yang hangat dan memikat memancar deras dari tubuhnya, membentuk perisai energi kehidupan yang luas. Ia berniat membuat sebuah zona aman, sebuah benteng pertahanan yang terbuat dari kekuatan tumbuh dan berkembang, yang seharusnya mampu menolak segala bentuk pembusukan dan kerusakan.

Cahaya itu menyebar, mendekati batas tubuh Nihilum. Semua berharap cahaya itu akan bersinar terang, menolak kegelapan seperti matahari menolak malam.

Namun kenyataan berkata lain.

Saat cahaya kehidupan itu menyentuh pinggiran Nihilum, cahaya itu tidak meledak, tidak juga bertahan. Ia justru meredup. Perlahan namun pasti, intensitasnya menurun, seolah-olah ada selang raksasa yang menyedotnya keluar. Cahaya itu menipis, memudar, dan akhirnya… padam sama sekali sebelum sempat menyentuh inti tubuh musuh mereka.

“Dia… dia memakan konsep itu sendiri…” bisik Elyndra dengan napas tersengal. Wajahnya pucat, kekuatannya terkuras drastis dalam sekejap. “Bukan hanya fisiknya yang dia hancurkan… dia menghapus ide tentang cahaya itu sendiri di area tersebut.”

Ngeri. Itu benar-benar ngeri.

Seraphel melihat celah. Jika serangan fisik dan energi gagal, jika kehidupan tidak bisa tumbuh di sana, maka mungkin memanipulasi waktu bisa memberikan keuntungan.

“Kau pikir kau bisa bergerak seenaknya?” gumam Seraphel. “Aku akan mengembalikan kau ke tempat asalmu sebelum kau sempat menyentuh apa pun!”

Tongkat waktu di tangannya berputar kencang hingga bentuknya kabur. Seraphel memfokuskan seluruh kemampuan kunonya. Ia mencoba memutar waktu mundur. Bukan mundur beberapa jam atau hari, tapi mundur ke detik sebelum Nihilum muncul, mundur ke saat retakan itu belum terbuka lebar.

Waktu di sekitar Nihilum mulai terdistorsi. Bayangan-bayangan masa lalu muncul tumpang tindih. Namun… tidak ada yang berubah.

Nihilum terus bergerak maju. Langkahnya tidak melambat, tidak juga berhenti. Ia terus melangkah, seolah-olah apa yang disebut “waktu” itu tidak berlaku baginya. Bagaimana mungkin sesuatu bisa diputar mundur jika ia tidak memiliki masa lalu? Bagaimana sesuatu bisa dipercepat jika ia tidak memiliki masa depan? Nihilum adalah “sekarang” yang abadi dan menakutkan.

“Gagal!” seru Seraphel, muntah sedikit cahaya keemasan—tanda ia terluka karena memaksakan kekuatannya melebihi batas. “Waktu tidak mempan! Dia ada di luar kronologi!”

Kekacauan semakin menjadi-jadi. Vaelion mencoba melipat ruang di sekitar musuh itu, mencoba mengirimnya ke dimensi lain, namun Nihilum hanya menelan celah dimensi itu dan menjadi lebih besar. Isriel mencoba berkomunikasi atau mencari jiwa di dalamnya, namun yang ia temukan hanyalah kekosongan yang membuat pikirannya nyaris hancur.

Mereka semua menyerang, mencoba segala cara, menggunakan segala kekuatan yang mereka miliki.

Tapi semuanya percuma.

Setiap serangan yang mendarat, lenyap tanpa jejak. Setiap pertahanan yang dibangun, runtuh tanpa perlawanan berarti. Nihilum bergerak maju dengan kecepatan yang tenang namun pasti, seperti air pasang yang tak terelakkan, menelan segala hal yang berani menghalangi jalannya.

Langit Elarion kini hampir seluruhnya tertutup oleh warna hitam pekat. Warna ungu dan biru yang indah tinggal sedikit di pinggiran cakrawala, seolah-olah dunia ini sedang sekarat, kehilangan nafasnya satu per satu.

Mereka adalah para dewa, penguasa alam semesta. Namun hari ini, di hadapan ketiadaan yang murni, mereka merasa begitu kecil, begitu lemah, dan begitu… tidak berdaya.

Pertempuran ini bukan lagi soal menang atau kalah. Ini adalah soal bertahan hidup sedikit lebih lama sebelum akhirnya dihapus dari keberadaan.

Dan Nihilum terus melangkah, semakin dekat, semakin lapar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!