NovelToon NovelToon
Jarak Antara Kita

Jarak Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: ilham Basri

Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Jejak Darah Di Hutan Pinus

​Kegelapan di hutan pinus pinggiran Praha terasa seperti cairan hitam yang kental, menyelimuti Arga dan Nadia dalam kesunyian yang menekan. Udara musim dingin yang tadinya hanya menusuk kulit, kini terasa seperti pisau-pisau kecil yang menyayat paru-paru Arga setiap kali dia menarik napas. Aroma tanah basah, lumut, dan getah pinus yang tajam bercampur dengan bau anyir darah dari luka di bahu Nadia yang mulai merembes ke jaket taktisnya.

​Arga melangkah dengan kaki yang terasa seperti balok timah. Sepatu pantofel mahalnya—sisa terakhir dari identitasnya sebagai "Tuan Muda Arga"—kini hancur, solnya nyaris lepas dan dipenuhi lumpur hitam yang membeku. Dia berkali-kali tersandung akar pohon yang menonjol seperti tulang-tulang tua yang bangkit dari tanah, namun Nadia selalu mencengkeram lengannya, memaksanya untuk terus bergerak.

​"Jangan berhenti, Arga. Jika kamu duduk sekarang, jantungmu akan melambat, dan kamu tidak akan pernah bangun lagi," bisik Nadia, suaranya parau namun penuh otoritas.

​Di belakang mereka, sekitar satu kilometer jauhnya, cahaya senter unit pembersihan Dani menyisir pepohonan seperti mata iblis yang lapar. Salakan anjing pelacak Doberman terdengar semakin melengking, memecah keheningan hutan dan mengirimkan getaran ketakutan ke sumsum tulang Arga.

​"Nadia... kode itu," Arga terengah-engah, berhenti sejenak sambil bersandar pada pohon pinus yang kulitnya kasar. "Angka 74291. Kakek mencuci otakku saat aku masih tujuh tahun. Dia membacakan angka itu setiap malam sebelum aku tidur, seperti sebuah dongeng. Aku pikir itu hanya permainan memori, tapi... kenapa angka itu sekarang menjadi identitas Elina?"

​Nadia berhenti, menatap Arga dengan tatapan yang sangat dalam di balik kegelapan. Dia mengatur napasnya, mencoba menahan nyeri di bahunya. "Pak Broto tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan, Arga. Jika Elina adalah 'perangkat keras' yang menyimpan data berharga itu, maka kamu adalah 'perangkat lunak' yang memegang kuncinya. Hendrawan pikir dia bisa membuka data itu dengan membedah otak Elina secara digital. Dia tidak tahu bahwa data itu terenkripsi secara emosional. Hanya orang yang memiliki frekuensi memori yang sama—yaitu kamu—yang bisa mengaksesnya tanpa menghancurkan kesadaran Elina."

​Arga mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Rasa muak menjalar di perutnya. "Jadi sejak kecil, aku sudah dipersiapkan untuk menjadi pelayan bagi eksperimen ini? Kakekku... dia tidak pernah mencintaiku sebagai cucu? Aku hanya bagian dari asuransi hartanya?"

​"Aku tidak tahu apa yang ada di hati Pak Broto, Arga," Nadia mendekat, suaranya melunak sedikit. "Tapi satu hal yang pasti: dia menyembunyikanmu di Jakarta, membiarkanmu dihina oleh keluarga Winata, dan hidup sebagai orang biasa... itu adalah cara terbaik untuk melindungimu dari jangkauan The Iron Circle. Jika mereka tahu siapa kamu sejak dulu, kamu sudah mati di dalam tabung laboratorium sebelum sempat mengenal cinta."

​Tiba-tiba, suara dahan patah terdengar dari arah jam dua. Nadia seketika mematikan senter kecilnya. Mereka membeku di balik bayangan pohon besar.

​Sesosok bayangan muncul dari balik kabut. Itu bukan Dani, melainkan salah satu anjing pelacak yang berhasil lepas dari pawangnya. Anjing Doberman itu berdiri tegak, taringnya menyeringai, dan matanya merah memantulkan sisa cahaya bulan. Anjing itu tidak menggonggong; dia telah dilatih untuk membunuh dalam diam.

​Anjing itu menerjang.

​Nadia bereaksi dengan kecepatan yang luar biasa, namun karena bahunya yang terluka, gerakannya sedikit terlambat. Anjing itu berhasil menggigit lengan kirinya. Nadia mengerang kesakitan, mencoba menusukkan pisaunya ke leher hewan buas itu.

​Melihat Nadia dalam bahaya, sesuatu di dalam diri Arga seolah meledak. Dia tidak lagi merasa kedinginan atau lelah. Insting bertahan hidup yang selama ini tertidur lebat di bawah lapisan jas mahalnya mendadak bangkit. Arga menerjang maju, mengambil sebuah batu tajam yang cukup besar dari tanah, dan menghantamkannya ke kepala anjing itu dengan kekuatan yang muncul dari kemarahan murni.

​Krak!

​Anjing itu terkapar, namun Arga tidak berhenti. Dia menghantamkan batu itu sekali lagi, dan sekali lagi, sampai napasnya memburu dan tangannya berlumuran darah hewan itu. Dia berdiri dengan tubuh gemetar, menatap bangkai anjing di bawah kakinya.

​Nadia menatap Arga dengan keterkejutan yang nyata. "Arga... cukup."

​Arga menjatuhkan batu itu. Dia menatap tangannya yang merah. "Jarak antara manusia dan monster ternyata hanya butuh satu dorongan kecil, kan?" bisiknya ngeri.

​Nadia segera membebat lengannya dengan sisa kain bajunya. "Simpan filosofimu untuk nanti. Anjing ini punya pemancar GPS di kalungnya. Mereka akan tahu di mana posisi kita dalam hitungan menit. Kita harus mendaki tebing di depan sana. Itu satu-satunya jalan menuju perbatasan yang tidak bisa dilewati kendaraan berat."

​Mereka mulai mendaki lereng yang curam dan berbatu. Tangan Arga perih terkena gesekan batu tajam, namun dia tidak lagi mengeluh. Pikirannya terfokus pada angka 74291. Jika angka itu adalah kunci, maka dia harus tetap hidup untuk mengucapkannya langsung di depan Elina. Dia harus menyeberangi jarak fisik yang tersisa dan jarak mental yang telah dibangun oleh Hendrawan.

​Saat mereka mencapai puncak lereng, pemandangan di depan mereka sungguh luar biasa sekaligus mengerikan. Di kejauhan, di balik lembah yang diselimuti salju, sebuah bangunan beton raksasa berdiri di puncak tebing yang paling tinggi. Bangunan itu dikelilingi oleh pagar kawat berduri dan menara pengawas dengan lampu sorot yang terus berputar.

​"Itu dia," bisik Nadia. "Fasilitas Tatra. Penjara bagi Elina, dan target bagi kita."

​Namun, di bawah kaki mereka, sebuah jalan setapak terlihat dipenuhi oleh puluhan lampu senter yang bergerak cepat ke arah mereka. Dani tidak lagi jauh di belakang. Dia sudah sangat dekat.

​"Arga," Nadia menyerahkan sebuah granat terakhirnya ke tangan Arga. "Jika terjadi sesuatu padaku saat kita mencoba masuk, jangan pernah menoleh ke belakang. Ingat, kamu adalah kuncinya. Tanpamu, Elina hanyalah senjata kosong yang akan menghancurkan dunia. Kamu harus masuk ke sana, apa pun risikonya."

​Arga menggenggam granat itu erat-erat. Dia menatap ke arah fasilitas itu, lalu ke arah lampu-lampu yang mendekat di bawah.

​"Aku tidak akan membiarkanmu mati, Nadia. Kita sudah menempuh jarak sejauh ini bukan untuk menyerah di kaki gunung ini," tegas Arga.

​Tepat saat itu, sebuah peluru melesat melewati telinga Arga, menghantam batang pohon di sampingnya. Suara Dani terdengar berteriak dari bawah lereng.

​"Arga! Berhenti! Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu tuju! Jika kamu masuk ke sana, kamu hanya akan mempercepat kehancuran Elina!"

​Arga tidak menjawab. Dia menarik napas panjang, menatap Nadia, dan mereka berdua melompat turun ke arah lereng salju yang menuju lembah, memulai pelarian gila menuju benteng terakhir Hendrawan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!