Di lorong-lorong megah Université Paris-Sorbonne, Xienna Elizabeth Mapelli Mozzi dikenal karena dua hal, kecantikannya yang ningrat dan cintanya yang mencekik terhadap Brandon Alton Everett.
Namun, ketika cinta itu hancur secara publik, Xienna justru terperangkap dalam radar pria paling berbahaya di Paris, Denzzel Lambert Riccardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase Dan Skandal
Brandon, yang ego dan harga dirinya hancur berkeping-keping setelah melihat Xienna berdansa dengan Denzzel, tidak bisa tinggal diam.
Baginya, Audrey hanyalah pelarian, namun kehilangan kendali atas Xienna adalah penghinaan yang tak termaafkan. Di sebuah apartemen mewah yang berantakan, Brandon duduk bersama beberapa orang kepercayaannya, merencanakan sesuatu yang licik.
Brandon tahu bahwa Denzzel Riccardo adalah sosok yang nyaris tanpa celah. Namun, dia juga tahu bahwa keluarga Riccardo sangat menjaga reputasi bisnis mereka di Paris.
Brandon mulai mengumpulkan informasi melalui mata-mata bayaran untuk menjebak Denzzel dalam skandal transaksi ilegal atau penggunaan dana universitas untuk kepentingan pribadi.
"Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada orang lain yang boleh, terutama seorang Riccardo," desis Brandon sambil menatap foto Denzzel di layar tabletnya.
Keesokan harinya, rumor mulai beredar. Beberapa dokumen palsu yang menyudutkan Denzzel sengaja disebar di kalangan senat mahasiswa dan dewan direksi kampus. Brandon ingin Denzzel dideportasi atau setidaknya dikeluarkan dari Sorbonne dengan tidak hormat.
Namun, Brandon meremehkan satu hal, Xienna.
Xienna, yang meski membenci Denzzel, memiliki intuisi yang sangat tajam. Saat Christine menunjukkan dokumen "bukti" kejahatan Denzzel yang tersebar di grup obrolan kampus, Xienna langsung mengenali polanya.
Itu adalah gaya manipulasi murahan yang sering dilakukan Brandon saat mereka masih bersama.
"Ini terlalu rapi untuk menjadi sebuah kebetulan," ujar Xienna pada Christine dan Amber di kantin.
"Brandon sedang bermain api, dan dia tidak sadar bahwa Denzzel adalah api itu sendiri."
Xienna memutuskan untuk menemui Denzzel di sudut perpustakaan tua yang jarang dikunjungi mahasiswa. Ia menemukan pria itu sedang membaca buku sejarah kuno seolah-olah tidak ada badai yang sedang mengintainya.
"Kau tahu tentang dokumen itu?" tanya Xienna tanpa basa-basi, melemparkan ponselnya ke meja Denzzel yang menampilkan rumor tersebut.
Denzzel hanya melirik ponsel itu, lalu kembali menatap Xienna dengan ketenangan yang mengerikan. "Kau datang ke sini karena khawatir padaku, Cara?"
"Jangan konyol. Aku datang karena aku benci melihat Brandon merasa dia menang," jawab Xienna tajam.
"Dia ingin menghancurkanmu. Dia ingin kau diusir dari Paris agar aku kembali merangkak padanya."
Denzzel perlahan menutup bukunya dan berdiri.
Ia melangkah mendekati Xienna, membuat gadis itu terpojok di antara rak-rak buku tua yang tinggi.
"Brandon adalah tikus kecil yang mencoba menggigit singa," bisik Denzzel. "Aku sudah tahu tentang rencananya bahkan sebelum dia menyewa orang untuk memalsukan dokumen itu.
Aku hanya ingin melihat, seberapa jauh kau akan bertindak untuk melindungiku."
"Aku tidak melindungi mu!" seru Xienna, wajahnya memerah.
"Benarkah?" Denzzel menyentuh sehelai rambut Xienna. "Lalu kenapa kau ada di sini? Kau bisa saja diam dan membiarkanku hancur. Tapi kau di sini, memperingatkan ku. Kau peduli, Xienna. Dan itu membuat Brandon semakin gila."
Di balik bayang-bayang rak buku, tanpa mereka sadari, seseorang sedang memotret pertemuan mereka. Itu adalah orang suruhan Brandon. Brandon berencana menggunakan foto "pertemuan rahasia" ini untuk menghancurkan reputasi Xienna di depan orang tuanya, membuktikan bahwa Xienna telah mengkhianati larangan keluarga Mapelli Mozzi.
Ponsel di atas meja kerja Vittorio Mapelli Mozzi bergetar dengan suara yang memekakkan telinga di tengah keheningan ruang kerjanya yang luas. Sebuah pesan tanpa nama masuk, berisi beberapa lembar foto digital dengan resolusi tinggi.
Dalam foto itu, di antara rak-rak buku tua perpustakaan Sorbonne yang remang-remang, putrinya sang Queen tampak sedang terpojok di dinding, sementara tangan Denzzel Riccardo menyentuh rambutnya dengan keintiman yang tidak bisa dibantah.
Dari sudut pengambilan gambar, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berbagi rahasia terlarang.
Wajah Vittorio memerah padam. Urat di pelipisnya menegang. "Xienna..." desisnya dengan suara yang bergetar karena amarah murni.
Malam itu, Xienna pulang ke rumah disambut oleh atmosfer yang lebih dingin dari musim dingin di Siberia. Ia baru saja melangkah di aula utama ketika sebuah tablet dilemparkan ke atas meja marmer di depannya, menampilkan foto-foto dirinya bersama Denzzel.
"Jelaskan ini, Xienna Elizabeth!" suara Vittorio menggelegar hingga pelayan di dapur pun gemetar. "Setelah semua peringatanku? Setelah semua sejarah darah antara kita dan Riccardo, kau pergi menemuinya di tempat tersembunyi seperti pelacur murahan?"
Xienna tersentak, rasa sakit hati karena kata-kata ayahnya bercampur dengan amarah. "Papa, itu tidak seperti yang terlihat! Aku menemuinya untuk..."
"Untuk apa? Untuk mengkhianati keluargamu?" potong ibunya, kali ini dengan suara yang penuh kekecewaan mendalam.
"Kau tahu ayahmu sedang dalam negosiasi besar. Jika foto ini sampai ke tangan pemegang saham, mereka akan berpikir kita sedang melakukan kesepakatan rahasia dengan Riccardo. Kau menghancurkan reputasi kita!"
"Ini rencana Brandon!" teriak Xienna, air mata kemarahan mulai menggenang.
"Dia yang menjebakku agar terlihat seperti ini! Aku menemuinya untuk memperingatkannya agar tidak melibatkan keluarga kita dalam urusan konyol ini!"
"Cukup!" Vittorio memukul meja. "Mulai besok, kau tidak akan pergi ke kampus tanpa pengawalan ketat. Dan paspormu... aku yang akan memegangnya. Kau dilarang keluar rumah selain untuk urusan kuliah sampai aku memutuskan apa yang harus dilakukan denganmu."
Xienna merasa dunianya runtuh. Ia dikurung seperti tahanan di rumahnya sendiri, dan itu semua karena ulah Brandon yang pengecut.
Di apartemennya, Brandon menyesap wiski dengan perasaan puas. Audrey duduk di sampingnya, tertawa melihat foto-foto yang kini sudah tersebar di beberapa akun gosip kampus secara anonim.
"Sekarang dia tahu rasanya kehilangan segalanya," gumam Brandon. "Xienna akan dibenci keluarganya, dan Denzzel akan dianggap sebagai pengganggu. Aku ingin melihat bagaimana sang Heiress mempertahankan tahtanya sekarang."
Namun, kebahagiaan Brandon hanya bertahan beberapa menit.
Tiba-tiba, lampu di apartemennya padam. Sunyi. Pintu depannya terbuka perlahan tanpa suara dobrakan, seolah-olah sang tamu memiliki kunci cadangan. Brandon berdiri, jantungnya berdegup kencang.
"Siapa di sana?" teriak Brandon.
Sebuah senter kecil menyala, menyorot tepat ke wajah Brandon.
Di balik cahaya itu, berdiri dua pria berbadan tegap dengan setelan hitam, dan di tengah-tengah mereka, muncul Denzzel Lambert Riccardo.
Denzzel berjalan masuk dengan ketenangan seorang eksekutor. Ia tidak membawa senjata, hanya sebuah amplop cokelat. Ia melemparkan amplop itu ke dada Brandon.
"Kau pikir kau pintar, Brandon?" suara Denzzel terdengar seperti gesekan pisau di atas batu. "Kau menyentuh milikku. Kau menyebarkan foto itu untuk menghancurkannya."
"Dia bukan milikmu! Dia membencimu!" balas Brandon, meski suaranya bergetar.
Denzzel melangkah maju, mencengkeram leher Brandon dan menekannya ke dinding dengan kekuatan yang luar biasa. Audrey menjerit di sudut ruangan.
"Dengar baik-baik, tikus kecil," bisik Denzzel tepat di depan telinga Brandon. "Di dalam amplop itu ada bukti penggelapan pajak perusahaan ayahmu dan transaksi gelap yang ia lakukan di Panama. Besok pagi, jika foto-foto Xienna tidak hilang dari internet dan jika kau tidak mengirimkan permintaan maaf anonim kepada ayahnya, aku akan memastikan ayahmu menghabiskan sisa hidupnya di penjara bawah tanah."
Denzzel melepaskan cengkeramannya, membuat Brandon jatuh terduduk sambil terbatuk-batuk.
"Dan satu hal lagi," Denzzel merapikan kerah baju Brandon yang kusut dengan gerakan menghina. "Xienna mungkin membenciku, tapi setidaknya dia merasakannya. Sedangkan untukmu... dia bahkan tidak menganggap mu ada. Jangan pernah muncul di depannya lagi, atau kau akan menghilang dari Paris secara permanen."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading 🥰
simple tapi penuh makna