Aku hanya diminta untuk mengandung anaknya.
Tidak untuk dicintai, tidak untuk dipertahankan.
Setelah melahirkan, aku harus pergi… membawa hati yang hancur, dan meninggalkan bayi yang kukandung dengan air mata.
Namaku Naira.
Aku bukan siapa-siapa — hanya wanita yang dijodohkan demi rahimku, agar keluarga besar Arga punya pewaris.
Pernikahan ini semu, cinta ini tidak pernah diminta.
Tapi di setiap detik aku merasakan kehidupan tumbuh di dalam perutku, aku juga mulai merasakan sesuatu yang tak seharusnya: aku jatuh cinta pada suamiku sendiri.
Namun di rumah itu, ada satu nama yang tak pernah bisa kulewati — Raisa, istri pertamanya.
Wanita sempurna yang tak bisa mengandung, tapi memiliki seluruh hatinya.
Aku hanyalah bayangan, tapi bagaimana jika bayangan ini mulai memiliki cahaya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiw1tt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUSUH
Pagi itu rumah terasa lebih ramai dari biasanya.
Bukan karena banyak orang, Tapi karena suara bel depan berbunyi berkali-kali. Cepat danTidak sabar.
Naira yang sedang merapikan ruang tamu langsung berlari kecil ke arah pintu.
Saat pintu dibuka...
"Naira... " Suara itu membuat tubuh Naira langsung kaku.
"R-Raja??"
Raja berdiri tepat di depan pintu. Napasnya sedikit terengah, Wajahnya terlihat tegang. Seolah dia menahan sesuatu sejak lama.
"Kamu....kamu ngapain di sini?" bisiknya pelan.
"Aku mau ketemu kamu Naira, kamu... " Naira menelan ludah. Matanya langsung melirik ke belakang dan ke arah tangga.
Takut.
Sangat takut.
"Raja, kamu pulang saja dulu. Ini bukan tempat..."
"Aku sudah tahu semuanya Naira!Kamu jangan takut, aku selalu ada disini" Ucap Raja sambil memegang kedua lengan Naira. Dengan cepat Naira langsung menepis tangan Raja dan perlahan berjalan mundur.
Kalimat itu membuat darah Naira seperti berhenti mengalir.
"Apa maksud kamu Raja"
"Aku tahu kamu menikah cuma karena hutang" Suara Raja tidak keras, tapi cukup untuk membuat Naira gemetar.
"Raja, tolong...jangan sekarang..." Suara Naira mulai bergetar. Tapi Raja justru melangkah masuk. Matanya menelusuri ruangan besar itu. Rahangnya mengeras.
"Mereka memperlakukan kamu seperti apa di sini?"
"Nggak Raja... itu nggak seperti yang kamu pikir..."
"Naira, kamu bahkan tidak bisa berbohong kalau kamu takut, Cerita sama aku Naira!" Naira menggigit bibirnya, Matanya mulai berkaca-kaca.
"Raja, aku mohon...!" Suara mereka mulai meninggi tanpa sadar
🌻🌻🌻
Dari lantai atas langkah kaki terdengar. Arga dan Raisa turun bersamaan. Arga langsung menangkap situasi hanya dalam satu tatapan.
Seorang pria asing.
Naira pucat.
Suasana tegang.
"Siapa dia?" tanya Arga dingin dengan langkah kaki normal dan satu tangan dimasukkan ke dalam saku sedangkan satu tangan lainnya sedang digandeng oleh Raisa.
Naira langsung menoleh.
"Tuan...ini... "
"Saya Raja"
Raja melangkah maju. Berdiri tepat di depan Arga. Tatapannya lurus tidak ada rasa takut sama sekali di matanya.
"Saya orang yang seharusnya ada di samping Naira sampai saat ini"
Udara di ruangan itu langsung terasa berat.
Raisa diam, tapi matanya tajam memperhatikan.
Sedangkan Naira langsung menarik lengan Raja.
"Raja, cukup!" Tapi Raja tidak peduli.
"Saya datang buat lunasi semua hutang Naira!"
Hening.
Beberapa detik terasa seperti menit. Arga menatap Raja lama, Sangat lama.
Lalu berkata pelan,
"Tidak perlu."
Nada suaranya masih halus, Masih terkendali.
Raja menggeleng.
"Saya serius! Berapa pun akan Saya bayar." Naira langsung menggeleng panik.
"Raja, jangan..."
"Aku ngga akan biarin kamu terjebak dalam pernikahan ini Ara!"
Kalimat itu seperti menampar udara. Arga tersenyum tipis. Tapi senyum yang tidak hangat sama sekali.
"Anda pikir ini transaksi biasa?"
"Apa pun itu! Saya akan menanggung resikonya" Nada Raja tegas, dan keras kepala.
Dan itu membuat sesuatu di dalam Arga mulai retak.
"Saya bilang...tidak perlu", Kali ini ucapan lebih dingin. Tapi Raja tidak mundur. ia tetap kekeh dengan pendiriannya.
" Saya...tidak peduli Anda siapa. Saya cuma mau Naira bebas." Mendengar ucapan Raja membuat Naira langsung menangis.
"Rajaa pleaseee STOP!! tolong... " Ucap Naira dengan air mata yang sudah mengalir. Tapi dua pria itu sudah terlalu fokus satu sama lain.
Arga melangkah mendekat, Auranya berubah, lebih gelap dan lebih menekan.
"Anda datang ke rumah saya, Mengatur hidup istri Saya Dan kamu pikir saya akan diam?" Nada suaranya rendah.Berbahaya.
Raja tetap berdiri tegak.
"Saya cuma melakukan apa yang seharusnya dari awal... "
Arga mencengkeram kerah baju Raja dalam satu gerakan cepat.
"Naira bukan barang yang bisa kamu tebus!" Naira langsung memegang tangan Arga.
"Tuan, jangan!" ucap Naira sambil menarik lengan Arga. Tapi Arga bahkan tidak melihat Naira.
"Dengar baik-baik. Hutang itu sudah selesai. Dan urusan Naira...bukan lagi urusan anda!"
Raja mengepalkan tangan.
"Kalau Naira sengsara di sini, itu tetap urusan Saya!"
Itu kalimat terakhir yang membuat Arga benar-benar emosi. Tatapannya berubah
"Keluar dari rumah saya. Sekarang."
Sunyi.
Naira menangis tanpa suara.
Raisa hanya menonton.
Dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Raja menatap Naira lama.
"Saya tidak akan berhenti." Ucap Raja lalu dia pergi. Pintu tertutup keras.
Ruangan langsung terasa kosong. Arga melepaskan napas kasar, Rahangnya masih mengeras sementara Naira berdiri gemetar dengan muka yang menunduk.
"Tuan aku bisa jelaskan... " Arga menatapnya.
Tatapan yang membuat Naira berhenti bicara.
Bukan marah sepenuhnya. Tapi...sesuatu yang jauh lebih rumit dari itu.
"Masuk kamar," kata Arga pelan, Tidak teriak, tidak membentak. Tapi justru itu...lebih menakutkan.Dan untuk pertama kalinya
Naira sadar.
🌻🌻🌻
Pintu kamar tertutup pelan di belakang Naira. Tangannya masih gemetar, napasnya belum stabil. Ia bersandar di pintu beberapa detik.
Berusaha menenangkan detak jantungnya sendiri.
Belum sempat pikirannya tenang, Pintu kamarnya sudah diketuk dari luar.
Tok. Tok. Tok.
Naira langsung menegang.
"Siapa?"
"Raisa"
Naira langsung menegakkan badan. Cepat menghapus sisa air matanya. Ia membuka pintu perlahan. Raisa berdiri di sana.
Rapi. Tenang dengan Senyum tipis di bibirnya.
Raisa langsung masuk tanpa meminta izin, ia langsung memutarkan matanya melihat seluruh detail di kamar Naira.
Matanya menyapu kamar lalu berhenti di wajah Naira.
"Kamu terlihat pucat" Ucap raisa.
"Aku...tidak apa-apa."
Raisa duduk di tepi kursi. Gerakannya elegan dan santai. Seolah tidak ada apa-apa tadi.
"Siapa?" Pertanyaan itu keluar ringan, seperti sekadar basa-basi. Naira langsung menggenggam ujung bajunya.
"Teman lama." Jawab Naira. Raisa tersenyum kecil.
"Teman lama yang mau melunasi hutang?"
Naira langsung terdiam. Raisa memperhatikan reaksinya, dan di dalam hatinya ia tahu.
Ia sudah menemukan titik lemah Naira.
Raisa menyilangkan kaki.
"Kamu tau, aku bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain" Nada suaranya lembut. Hampir seperti kakak yang peduli.
"Tapi... kamu tinggal di rumahku, jadi aku berhak tahu kalau ada masalah yang bisa merusak keadaan rumah"
Naira menunduk.
"Aku tidak bermaksud membuat masalah"
"Aku tahu." Jawaban Raisa terlalu cepat.
Terlalu halus.
"Tapi kamu harus jujur sekarang, Kamu menikah dengan Arga karena hutang, betul?"
Naira menelan ludah, tangannya makin erat meremas kain bajunya. Beberapa detik ia tidak menjawab.
Dan keheningan itu sudah jadi jawaban.
Raisa tersenyum tipis.
"Oke kalau begitu" Raisa bangkit dan langsung keluar dari kamar Naira tanpa sepatah katapun.
Naira langsung terduduk lemas dan kembali mengeluarkan air matanya.