Indira Necelia Mahatma seorang gadis yang baik, periang dan pemberani yang bisa meluluhkan hati Andris sang ketua dan pendiri gangster Hellboy. Gangster Hellboy yang suka bertarung dan balap dengan geng lainnya termasuk dengan Logitacht yang notebenya dalah musuh terbesarnya.
Andris Matteo ketua gangster Hellboy yang disegani dan ditakuti. Dia adalah lelaki tampan yang digilai para siswi disekolah. Andris yang susah didekati dan susah meluluhkan hatinya kini menjadi kekasih Indira yang lembut terhadapnya saja.
Apa yang terjadi dalam cerita cinta mereka nantinya?
Ketika rahasia yang menyakitkan akan terungkap berlahan dan akan mengores sedikit demi sedikit hati keduanya. Tetapkah mereka akan bersama atau malah memutuskan cerita cinta mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RuangTilyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Bersama Delvin
Biarpun bang Andro dingin dia memiliki hati yang hangat dan peduli dengan sekitarnya. Dia tidak menjadi seorang cowok yang anti sosial ataupun menjadi cowok yang ego dengan kehidupannya sendiri.
"Bang seandainya aku membuka hati lagi apakah akan terluka lagi? Dan cowok yang mendekatiku hanya melihat apa yang dimiliki orangtua bukan melihat diriku bang?" Tanya Indira
"Membuka hati itu memiliki akibatnya dek, kita harus siap dengan itu semua. Kalau takut disakiti kita tidak akan tahu apa itu namanya cinta sesungguhnya. Hati terluka itulah yang membuat kita menjadi orang tegar. Dan jangan terlalu mencintai berlebihan sehingga melukai tubuhku bukan hati saja. Tahukan melukai tubuh itu apa dek?" Jawab Bang Andro bijak.
"Tahu bang. Apa itu juga yang abang rasakan?" Tanya Indira lagi.
"Emang abang kenapa dek?" Elak bang Andro dengan senyum palsunya.
"Abang belum siap membuka hati dan terluka lagikan karena luka yang ditinggalkan kak sani begitu besar kan bang?" Tanya Indira dengan berani.
Indira ingin tahu alasan kenapa sampai sekarang abangnya masih jomblo.
"Kak Sani bukan meninggalkan luka tapi dia meninggalkan namanya yang begitu indah dek. Sudah turun sana, kita sudah sampai." Sahut bang Andro dengan senyum palsunya lagi.
Indira tahu dibalik senyum palsunya ada sesuatu yang disembunyikannya dan hatinya pasti terluka mendengar perkataanku. "Bang aku minta maaf ya, buk..."
"Tidak perlu minta maaf dek, kayak sama siapa saja. Gih turun nanti kelihatan kamu turun dari mobil ini." Usir bang Andro dengan mengelus rambut Indira.
"Makasi abang gantengku. Bye." Sahut Indira dan mencium pipi abangnya.
Indira pelan-pelan keluar dari mobil abangnya yang berhenti agak jauh dari halte setelah aman Indira keluar dan berjalan kearah halte. Indira menghampiri seseorang yang sedang menunggu dihalte dengan earphone ditelinga dan kaki bermain dilantai halte.
Indira masih berdiri didepan seseorang itu yang masih asik dengan kedua mata tertutup. Tanpa sadar Indira tersenyum melihat seseorang itu, Dialah Delvin Jaasir sang ketua osis yang dari semalam semakin dekat dengan dirinya.
Delvin merasa ada yang menghalang sinar pagi dan membuka matanya, melihat seorang bidaadari didepannya. Delvin tersenyum manis "Bidadari" Ucap Delvin tanpa sadar dengan suara pelan masih terdengar Indira.
"Mana bidadari?" Tanya Indira dan melihat disekelilingnya.
"Oh itu bidadari yang kamu masuk ya Vin. Ajak kenalan saja tuh lagi sendirian." Goda Indira yang melihat reaksi Delvin murung.
"Ngapain lihat yang lain kalau bidadarinya ada didepan mataku ini sekarang." Jawab Delvin sambil tersenyum.
Tuhan ini apa seseorang yang kamu kirim untuk menyembuhkan luka ini.
"Masih pagi sudah main rayu saja, sudah lama nunggu ya Vin." Tanya Indira dan duduk disebelah.
"Aku tidak pandai meerayu, aku hanya berkata yang sebenarnya Ra."Kata Delvin dan melihat kearah Indira.
"Nunggu kamu aku nggak merasa lama kok Ra." Sambung Delvin yang masih merayu dirinya.
"Seandainya satu sekolah tahu sang ketua osis pandai merayu pasti kamu yang bakalan menjadi cowok terpopuler dibandingkan dengan Andris." Kata Indira cegegasan.
"Aku tidak pandai merayu orang lain Ra cuma kamu saja. Lagian aku nggak mau jadi pusat perhatian yang disukai para cewek-cewek disekolah maunya disukai satu cewek saja yaitu kamu." Sahut Delvin sambil menatap Indira.
"Sudah ayo gerak nanti kita telat." Elak Indira.
Indira langsung berdiri menuju motor Delvin.Delvin yang melihat Indira bertingkah seperti itu hanya tersenyum.
"Silahkan naik bidadari." Ucap Delvin dengan tangan membantu ku menaiki motornya.
"Hahaha, kamu ada-ada saja Vin." Sahut Indira tertawa dibalas dengan senyuman lagi sama Delvin
Seandainya kamu tahu Ra kalau kamu benar-benar sosok bidadari yang menghampiri hidupku.
Delvin melajukan motornya meninggalkan halte yang meninggalkan cerita paginya bersama bidadarinya. Setiap kejadian dan tempat bersama Indira merupakan jalan cerita hidup Delvin yang akan menjadi memorinya nanti.
Semilir angin yang berhembus sungguh agak sejuk dirasakan, sudah lama sekali Indira tidak pergian menaiki motor merasakan angin yang menemaninya. Terdengar dengan jelas suara klakson dari berbagai kendaraan dijalan raya.
Waktu semakin cepat berlalu. motor yang dikendarai Delvin sudah tiba diparkiran sekolah. Siswa/i yang berada disekitar parkiran menatap kami berdua seakan kami berdua menjadi pemeran utama lagi setelah kejadian dikantin. Ada mata yang berkagum-kagum, ada mata yang bergosip sana-sini. Entahlah apa yang mereka pikiri biarlah mereka berpikir dengan pikirannya.
"Makasi ya Vin atas tebengannya. Aku duluan ke kelas Vin" Kata Indira turun dari motor dan memberi helmnya.
"Sama-sama Ra. Tunggu Ra, kamu sudah sarapan? Kalau belum ke kantin dulu yok, aku belum sarapn nih. Temani aku sarapan ya." Ajak Delvin memasang wajah kasihannya.
"Aku sudah makan Vin, kam..."
"Pleasss Ra, kekantin dulu ya. Nemani juga boleh dengan secangkir minuman." Kata Delvin sambil membujuk Indira.
"Ok deh."
Mereka berdua berjalan menyusuri sekolah yang menjadi pusat perhatian dipagi hari.Semua mata menatap iri dengan Indira yang mampu berjalan disamping Delvin yang tidak pernah terlihat berjalan berdua dengan cewek lain selain sekretaris osis. Lagi-lagi Indira kekantin berdua dengan delvin dengan canda tawa mereka sepanjang koridor sekolah.
Delvin memesan makanan dan Indira menunju meja ujung tempat kemarin mereka tempati. Mungkin meja itu menjadi meja favorit Indira saat kekantin. Suasana kantin kali ini masih sepi, cuma beberapa orang saja yang berada dikantin. Indira melihat meja pojok sebelahkan tempat khusus Andris dan geng Hellboy masih kosong. Tidak ada yang berani siapapun yang menempati meja tersebut biarpun Geng tersebut tidak ada.
Indira menyenderkan tubuhnya kedinding sambil menunggu kedatangan Delvin.
Merasa bosan menunggu dengan keadaan seperti ini Indira membuka novel yang belum ia selesai baca. Setelah beberapa saat akhirnya Delvin datang dengan nampan yang berisi makanan.
"Lama nunggu ya Ra. Maaf ya Ibunya masih masak tadi. Ini minuman buatmu" Kata Delvin sambil duduk dihadapan Indira.
"Tidak masalah dan makasi ya vin."Jawab Indira dan mengambil minuman yang diberikan.
"Aturan aku yang bilang makasi samamu Ra. Kamu mau aku jemput dan mau nemani aku sarapan dikantin." Kata Delvin dan memasuki makanan kemulutnya.
"Makan dulu, jangan ngomong saat makan nanti tersedak baru tahu rasa." Nasihat Indira.
"Siap Bu!" Jawab Delvin.
Ditengah keheningan kami, tiba-tiba seseorang datang kemeja kami dan memukul meja. Dia tersenyum sinis padaku, "Boleh aku duduk disini?"
"Nggak lihat kami lagi makan dan masih banyak meja yang kosong di sana. Silahkan cari meja yang lain." Usir Delvin yang agak tidak suka dengan kehadiran cewek tersebut.
"Karena kosog aku mau duduk disini biar ada teman." Katanya dan duduk disamping Delvin.
"Junior kau kan tidak makan, pergilah kesana dan pesan makan buat aku." Sambungnya lagi dan memberi uang sepuluh ribu itu.
Indira yang melihat Delvin ingin melawan, memberi kode untuk tetap diam. Indira bergegas dan memesan makanan yang cukup dengan uang yang diberi. Indira tiak ingin membuat paginya rusak akibat tidak menurut senior yang terbilang songgong itu. Indira melihat dari kejauhan senior cewek tersebut mengoda Delvin dengan centilnya.
"Ini kak." Kata Indira dan memberi makanan yang dipesan.
Selesai memberi pesanan cewek tersebut Delvin langsung menyelesaikan makannya.
"Ra, ayo pergi. Aku sudah selesai makannya." Delvin menarik tangan Indira lalu pergi meninggalkan cewek itu sendiri.
Bukan bilang terimakasih senior wanita itu membuang muka dan memilih senyum pada Delvin.
"Vin, tunggu aku makan ya baru pergi kekelas bareng." Bujuk senior cewek itu pada Delvin yang diam saja.
Awas saja kau yang junior culun!!!
- - -
Bagi pembaca yang baik hati tolong beri dukungan buat author ini dengan cara :
Like
Komen
Favorit
Vote
Bintang Lima
Terimakasih, Salam hangat dari The Gengster Boy❣️❣️
next kk semngt💪💪
Next kk,,,semangat kk buat nulisnya