LAPTOP YANG DIGUNAKAN UNTUK MEMBUAT NOVEL SEDANG RUSAK. DAN SEMUA MATERI BAHAN NOVEL ADA DILAPTOP ITU. JADI SAYA SELAKU AUTHORNYA MENYATAKAN NOVEL INI TELAH TAMAT :". SAYA JUGA TIDAK PUNYA CUKUP UANG UNTUK MEMBELI LAPTOP BARU. KALAUPUN DISERVIS JUGA PERCUMA
KANG SERVIS : MENDING BELI BARU LAGI AJA MBAK. SAYA SAMPAI HAPAL SAMA NIH LAPTOP LOH MBAK
SAYA : GAK PUNYA UANG MAS. :"
TERIMA KASIH YANG SUDAH MENJADIKAN NOVEL INI "FAVORIT". NOVEL INI HANYA KEISENGAN BELAKA KARENA SAYA SANGAT SUKA BERHALU FANTASI HEHE :".
SAMPAI JUMPA DICERITA HALU FANTASI KERAJAAN SELANJUTNYA. SEMOGA KITA BISA BERTEMU LAGI DENGAN TEMA FANTASI KERAJAAAN YANG LAIN. 😗😚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ka Joe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Hari kedelapan. Masih pagi tapi sudah ada keributan di dalam rumah Odele. Ya, siapa lagi kalau bukan Odele sendiri Si Pembuat Keributan. Walaupun keributannya bukan mengarah ke hal negatif. Tetapi ulahnya bisa membuat seseorang yang sedang bersamanya menjadi kesal dan marah dengan ulahnya.
Felix : Bagaimana bisa orang tuamu meninggalkan anak yang ceroboh dan pembuat ulah sepertimu untuk tinggal sendiri. Aku jadi semakin penasaran dengan orang tuamu. [ Sambil membersihkan pecahan piring ]
Odele : Apa kau ingin bertemu dengan orang tuaku? Kalau begitu tinggallah lebih lama disini.
Felix : Odele, apa kau tidak tahu?
Odele : Tentang apa?
Felix : Pria dewasa dan wanita dewasa tidak boleh bersama dalam waktu yang lama. Apalagi jika berada di satu ruangan yang sama. [ Mulai memerah ]
Odele : Kenapa bisa begitu? Apa itu sebuah peraturan?
Felix : Kau tidak tahu?
Odele : Jelaskan padaku. Apa akan terjadi sesuatu?
Melihat respon Odele yang masih sangat polos, membuat Felix semakin yakin dan percaya akan satu hal.
Felix : Uhm, Odele. Ada yang ingin aku tanyakan.
Odele : Tanyakan saja. Kenapa harus minta izin segala?
Felix : Uhm... Itu...
Odele : Ya? Kenapa wajahmu jadi memerah ?
Felix : Itu.. Apa kau tahu...
Odele : Tahu apa? Kenapa bicaramu jadi gugup begitu?
Sepertinya pertanyaan yang akan dilontarkan Felix akan sedikit mengandung unsur dewasa. Sejak melihat sikap polos Odele. Dia ingin sekali bertanya tentang “sesuatu itu”. Jika jawaban yang diberikan Odele sesuai dengan harapan Felix. Itu artinya perasaan Felix tidak akan pernah tersampaikan atau bahkan akan membutuhkan waktu yang sangat amat lama untuk bisa membuat Odele menyadari perasaan Felix
Felix pun mengambil nafas, lalu mengeluarkannya. Keringatnya mulai muncul dari kepalanya. Pipinya memerah. Dan sepertinya ini akan menjadi pertama kalinya Felix melontarkan pertanyaan yang memalukan.
Felix : Apa kau tahu bagaimana kau terlahir?
Odele : Eh?
Felix : [ Malu ]
Odele : Apa itu pertanyaannya?
Felix : Ya, tentu saja. Jadi bagaimana? Kau tahu?
Odele : Tentu saja. Astaga. Jangan menganggapku seperti anak kecil.
Felix : Hee. Benarkah? Kau tahu?
Mendengar jawaban Odele, entah mengapa membuat Felix senang. Dan terlihat ada wajah lega darinya. Sepertinya jawaban yang diharapkan Felix tidak akan pernah terjadi. Karena jika Odele menjawab “Aku tidak tahu, memangnya bagaimana aku bisa terlahir?” Dalam seharian penuh, Felix harus memberikan mata pelajaran reproduksi untuk Odele agar Odele mengetahuinya. Dan tentu saja itu akan sangat memalukan dalam hidupnya.
Odele : Tentu saja. Aku tahu. Karena Kakak yang menginginkanku.
Felix : Apa? Tunggu, apa maksudnya itu?
Odele : Itu karena Ayah dan Ibu selalu meninggalkan Kakak sendirian dirumah. Lalu Kakak meminta seorang adik pada Ayah dan Ibu. Dan setelah selesai liburan, Ayah dan Ibu membawakan adik untuk Kakak. Yaitu aku.
Felix : Tunggu, jadi maksudnya berkat keinginan Kakakmu, jadinya kau lahir.
Odele : Yup. Kau benar.
Felix : Kalau Kakakmu tidak menginginkanmu dan tidak pernah merasa sendirian. Itu artinya kau tidak akan pernah lahir.
Seketika itu Odele langsung termenung. Wajah bengong idiotnya mulai terlihat. Mulutnya yang menganga. Matanya yang terbuka lebar. Dan tidak bernafas...
Felix : Hei, Odele. Bernafaslah!!
Odele : Heup!! Bwaaa...
Felix : Kau tidak apa-apa? Sebentar, aku bawakan minum.
Odele : Felix... Huhuhu..
Ketika Felix mengambil air minum untuk Odele. Odele pun menangis.
Felix : Ada apa? Kau kenapa? Kenapa menangis? Ada yang sakit?
Odele : Kenapa ....
Felix : Iya?
Odele : Kenapa kau berkata seperti itu? Huhuhu.
Felix : Eh?
Odele : Aku saja belum pernah punya pikiran seperti itu. Aku... Aku.. tidak pernah berpikir “Bagaimana jika aku tidak lahir”.
Felix : Ah, maaf. Maafkan aku, Odele.
Odele : Kalau aku tidak lahir. Maka aku tidak akan bertemu dengan Ayah, Ibu dan juga Kakak.. huhuh Huaaaaaaa
Tangisan Odele semakin kencang. Air matanya keluar deras bagaikan air terjun kecil.
Melihat Odele menangis. Felix langsung memeluknya. Menenangkannya, sambil meminta maaf atas ucapan yang dia katakan.
Felix : Maafkan aku, Odele.Aku tidak bermaksud seperti itu.
Odele : Huhuhu
Felix : Iya, aku salah. Jangan menangis lagi. Kau bisa menghukumku. Atau kau mau memukulku juga boleh.
Odele : Huhuhuh Huaaaa
Felix : Astaga, kenapa tangisannya semakin kencang. Sepertinya waktu sarapan kali ini akan jadi terlambat.
Di meja makan yang saat itu Felix memeluk Odele. Entah apa yang dirasakan Felix. Dia merasakan ada sesuatu yang mengawasi mereka.
Felix : Apa itu tadi? Seperti ada bayangin dekat jendela.
Insting Felix sangat kuat jika berurusan dengan pengintaian. Selama delapan hari tinggal disana. Dia sama sekali tidak merasakan adanya hawa keberadaan orang lain yang tinggal di rumah itu selain Odele dan juga Felix.
Bayangan hitam besar. Sesekali menghilang, sesekali muncul. Tidak hanya di jendela dapur. Tetapi di setiap jendela rumah, bayangan hitam selalu muncul.
Felix : Apa itu monster dari Hutan Terlarang? Sial,aku tidak punya pedang disini.
Tangan Felix menepuk-nepuk punggungnya, dan juga mengelus kepala Odele agar bisa tenang. Tetapi pandangan matanya terus tertuju di setiap bayangan hitam yang muncul di tiap jendela.
Felix : Apa kau sudah tenang?
Odele : Iya, Hiks.
Felix mengusap air mata Odele dengan lembut.
Felix : Jangan menangis lagi. Kau terlahir atas rasa cinta dari kedua orang tuamu. Bukan karena dari Kakakmu.
Odele : Benarkah?
Felix : Ya, itu benar. Kalau pun saat itu Kakakmu tidak menginginkan seorang adik. Aku yakin, kau pasti akan tetap lahir.
Odele : Lalu, bagaimana jika Kakak tidak menyukaiku ketika dia tidak membutuhkan seorang adik.
Felix : Odele, dengan wajah polos dan cantik seperti ini. Orang mana yang tidak mau menganggapmu sebagai adiknya.
Odele : Heeeh... Apa kau juga menganggapku seorang adik.
Felix : Tidak.
Odele : Kenapa cepat sekali jawabnya!!
Felix : Setiap orang punya cara pandang dan cara memperlakukan seseorang dengan berbeda.
Odele : Lalu, Kau anggap aku apa?
Felix : Teman?
Odele : Teman?
Felix : Ah, tidak. Tunggu. Kenapa aku jadi yang sakit hati ketika menyebut teman?
Odele : Kau benar. Teman. Kau adalah teman pertamaku. Dan aku adalah teman pertamamu disini. Bukankah itu cocok?
Felix : Tunggu, Odele. Jangan mempertegas seperti itu. Entah kenapa hatiku terluka.
Odele : Kalau begitu bagaimana kalau..
Felix : Bagaimana kalau...
Odele : Kalau sahabat? Bukankah level sahabat lebih tinggi dibanding teman?
Felix : Aduh. Kau sudah merusak harapanku.
Odele : Eh? Ada apa? Kau tidak suka?
Felix : Sudahlah. Aku mau bikin sarapan dulu.
Felix pun berdiri dari kursi meja makan, dan pergi menuju dapur untuk membuat sarapan.
Odele : Kalau begitu bagaimana kalau Sahabat Saudara?
Felix : Apa lagi itu sahabat saudara?!
Odele : Kita bersahabat dan kita juga bersaudara. Aku bisa memanggilmu Kakak. Atau adik, ya? Tunggu, aku belum tahu usiamu.
Felix : Hentikan. Aku mau masak dulu.
Odele : Jawab saja. Kau bisa menjawabnya dengan memasak.
Felix : [ Tidak mendengarkan sama sekali ]
Odele : Dasar. Dia itu seorang pria, tapi kalau sudah berada di dapur dia seperti seorang Ibu. Ibu dan Hebi juga begitu kalau di dapur. Pasti langsung fokus. Matanya langsung begini.
Ketika Felix memasak. Odele mulai mengoceh sendiri. Dengan memperagakan tingkat kefokusan Felix, Hebi dan Ibunya ketika sedang memasak. Odele membuka matanya cukup lebar seperti melotot yang dibantu dengan tangannya. Lalu sorot matanya juga diatur olehnya. Kemudian tangannya seolah memperagakan sedang memegang alat penggoreng dan sedang menggoreng.
Felix : Sedang apa kau ?
Odele : Eh? Tidak. Aku tidak melakukan apa-apa.
Felix : Jangan meledekku, ya.
Odele : Aku... Aku tidak meledekmu..
Felix : Lalu itu apa? Kenapa tanganmu seperti itu?
Odele :Aku.. Aku hanya.. olahraga kok.
Felix : Olahraga seperti itu tidak ada. Jangan mengada-ada.
Odele : Menyebalkan.
Felix : Apa kau bilang?
Odele : Tidak. Aku tidak bilang apa-apa.
Felix : Kau mengumpat?
Odele : Tidak. Aku tidak mengumpat, Felix.!!
Felix : Tapi aku melihatmu bibirmu seperti ini. [ Menirukan Odele ]
Odele : Hentikan, Felix!. [ Kesal ]
Felix : Hahaha. Baiklah baik-.. lah..
Lagi-lagi. Felix melihat ada sebuah pergerakan dari sudut jendela dapur. Bayangan hitam yang cukup besar. Dia berusaha bersikap tenang agar Odele tidak ketakutan.
Odele : Akan aku ambilkan piringnya.
Felix : Tidak perlu! [ Dengan nada keras ]
Odele : Eh?
Felix : Ah, aku tidak bermaksud seperti itu. Maksudku, biar aku saja yang melakukannya. Kau hanya perlu duduk diam saja.
Odele : Uhm, baiklah. Dari tadi dia kenapa sih, tingkahnya aneh. Cepat tua baru tahu rasa kau.
Felix melarang Odele yang berniat untuk mengambil piring. Karena lemari peralatan makan itu berada dekat sekali dengan jendela tadi memunculkan bayangan hitam.
Felix : Nih, sarapannya sudah jadi.
Odele : Woooaaa....a.a.a.. Sudah kubilang aku tidak mau sayuran hijau.
Felix : Sayuran hijau bagus untuk pertumbuhan anak perempuan.
Odele : Tapi aku tidak suka, Felix.
Felix : Harus tetap dimakan. Aku sudah memberimu dua telor mata sapi, sosis dan juga daging.
Odele : Tapi...
Felix : Kalau kau masih kurang, aku bisa menggorengkan telor dan sosi lagi untukumu tapi sayuran hijaunya tetap harus dimakan.
Odele : Hiks, dasar pria jahat. Pria kejam.
Felix : Apa selama ini para pelayanmu tidak memberimu sayuran hijau?
Odele : Mereka semua juga sama liciknya sepertimu.
Felix : Apa? Kenapa aku dan para pelayanmu bisa menjadi licik?
Odele : Tentu saja. Kalian bersekutu. Mereka melakukan berbagai macam cara untuk menyelundupkan sayuran hijau itu kedalam makananku.
Felix : Wah, aku harus mengingat cara mereka. Menyelundupkan. Aku belum berpikir sama kesana. Hahaha.[ Tertawa ]
Odele : Awas saja kalau sampai kau benar-benar menggunakan cara itu.
Odele sangat benci dengan sayuran hijau. Sebenarnya dia bisa saja makan sayuran hijau jika itu dalam jumlah yang wajar menurut dia. Tetapi semua orang apalagi para pelayannya selalu menaruh sayuran hijau kedalam piringnya dalam jumlah cukup banyak.
Odele : Tapi kenapa sayuran hijaumu tidak begitu banyak sepertiku?
Felix : Astaga, kenapa kau sinis begitu? Aku sudah menaruh porsi dan jumlah sayuran yang sama dipiring kita masing-masing. Aku sudah memakannya dari tadi. Kau saja yang terlalu lama mengunyah makanannya.
Odele : Uuh... [ Terpaksa mengunyah ]
Felix : Jika kau bisa menghabiskan semua sayuran yang ada di piringmu. Aku akan membuatkanmu sesuatu yang sangat enak.
Odele : Benarkah? Baiklah. Kau tidak boleh menarik ucapanmu.
Felix : Dasar, sebenarnya berapa usiamu? Kau benar-benar seperti anak kecil.
Odele : Usia? Uhmm.. entahlah. Aku tidak menghitungnya. Kalau kau, berapa usiamu?
Felix : Usiaku 23.
Odele : Oh, 23? Wah kau seumuran dengan Kakak.
Felix : Usia Kakakmu juga 23?
Odele : Yup, benar.
Felix : Apa Kakakmu sudah menikah?
Odele : Tidak. Kakak tidak menikah dan tidak akan menikah.
Felix : Kenapa begitu?
Odele : Entahlah. Jika Kakak menikah, dia akan bisa menghabiskan waktunya denganku lagi. Itu yang Kakak katakan.
Akhirnya Odele pun berhasil menyelesaikan misi yang diberikan oleh Felix. “Misi Melenyapkan Sayuran Hijau” selesai.
Odele : Huaa.. aku berhasil, Felix.
Felix : Hebat. Kau sudah berusaha keras.
Odele : Hehehe. Cuman segini, tidak ada apa-apanya untukku.
Felix : Hee. Kau yakin? Aku bisa-..
Odele : TIDAK. JANGAN DIKATAKAN!! Aku cuman bercanda, Felix.
Felix : Dasar.
Odele : Aku akan membantumu membereskan piring-piringnya.
Felix : Tidak usah. Kau tidak perlu melakukannya.
Odele : Tidak apa. Cuman menata dan mengumpulkan piring kotor di meja makan bukan pekerjaan sulit.
Ketika tangan Odele ingin mengambil piring kotor Felix. Tangan Felix langsung menghadang tangan Odele.
Felix : Kubilang tidak perlu. Biar aku saja yang melakukannya.
Odele : Kau yakin?
Felix : Iya, sangat yakin. Duduklah kembali.
Odele : Tapi dari tadi aku sudah duduk.
Felix : Tidak apa. Duduk saja.
Odele : Masa pekerjaanku cuman duduk-duduk saja?
Felix : Tentu saja. Itu juga termasuk pekerjaan.
Odele : Baiklah.
Odele pun menuruti perintah Felix. Di duduk kembali dengan manis sambil melihat Felix merapikan dan menumpuk piring-piring kotor.
Felix : Berhentilah melihatku, Odele. [ Wajah memerah ]
Odele : [ Menatap ]
Felix yang merasa tidak nyaman ketika Odele melihatnya. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Wajahnya berubah menjadi merah. Matanya jadi tidak begitu fokus. Tangannya mulai gemetar setiap kali dia mengambil piring dan cangkir kotor.
Felix : Ode-..
Odele : Apa kau seorang pelayan?
Felix : Apa?
Odele : Aku tanya. Apa di kota kau seorang pelayan?
Felix : Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?
Odele : Karena kau sangat terampil dalam melakukan pekerjaan rumah tangga.
Felix : Ah.. Itu...
Felix mulai kebingungan harus menjawab apa. Akankah dia berkata jujur dengan pekerjaan yang sebenarnya dia lakukan di kota atau dia lebih memilih untuk berbohong kepada Odele. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, itu pasti akan membuat Odele menjadi tidak nyaman dan akan ada perubahan dalam hubungan mereka saat ini.
Felix : Ya, seperti itulah. Aku bekerja serabutan. Aku tidak punya pekerjaan tetap.
Odele : Pantas saja. Kau sangat ahli dalam pekerjaan rumah tangga.
Felix : Heheh, terima kasih untuk pujiannya.
Odele : Tapi kenapa pekerjaan itu terlihat tidak cocok untukmu?
Felix : Eh? Apa ?
Felix pun menjawabnya dengan berbohong. Dia lebih memilih berbohong. Felix tidak ingin hubungannya dengan Odele menjadi canggung dan renggang jika Odele mengetahui pekerjaan yang sebenarnya dia lakukan.
Tapi kenapa Odele berkata seperti itu. “Terlihat tidak cocok untukmu?” Apakah jawaban Felix tidak bisa membuat Odele percaya?
Felix : Kenapa kau berkata seperti itu?
Odele : Hmmm. [ Menatap]
Odele mulai menatap Felix dari atas hingga bawah. Seakan sedang memindai barang, apakah barang itu bernilai bagus atau memiliki cacat.
Felix : Jangan menatapku seperti itu. [ Malu]
Odele : Itu karena...
Felix : Jadi kau tidak percaya denganku?
Odele : Itu karena kau terlalu TAMPAN untuk pekerjaan seperti itu.
Felix : Tampan? Tampan kau bilang...
Tampan. Tampan. Tampan. Tampan. Tampan, Tampan. Tampan. Tampan. Tampan. Tampan, Tampan. Tampan. Tampan. Tampan. Tampan, Tampan. Tampan. Tampan. Tampan. Tampan
Mendengar kata “Tampan” dan dikatakan “Tampan” oleh Odele membuat gunung berapi yang ada di wajah Felix menjadi meletus. Boom. Wajahnya benar-benar memerah seakan larva panas merapi keluar.
Odele : Felix. Wajahmu merah sekali. Apa kau demam?
Felix : Berhentilah... Berhentilah merayuku, Odele. [ Sambil menutup wajahnya dengan tangannya ]
Odele : Apa? Aku tidak merayumu. Ah, apa karena aku bilang Tampan tadi?
Felix : Iya, berhentilah mengatakan itu di hadapanku.
Odele : Hahaha. Tampan. Si Tampan. Atau “Tampanku”?
Felix : “Tampanku”...
Odele : Iya, Tampanku. Hehehe
Felix : [ Wajahnya memerah ]
Odele : Hahaha~
Felix. Pria muda yang sangat tampan. Berambut hitam gelap, badan tinggi dan kulit putih bersih. Tidak hanya satu atau dua orang saja yang mengatakan bahwa pria muda ini adalah pria tampan. Tetapi hampir seluruh orang yang dia temui selalu mengatakan “Anda benar-benar sangat tampan”.
Karena terlalu sering dikatakan tampan oleh semua orang membuat Felix menjadi biasa saja. Dia bahkan hampir bosan mendengar pujian itu. Apalagi jika dikelilingi oleh para wanita cantik. Felix menjadi jijik dan bahkan akan menghindari mereka sebisa mungkin.
Tetapi kali ini berbeda. Seorang gadis muda nan cantik bernama Odele terus menerus memuji wajahnya yang Tampan. Dimulai dari hari pertama pertemuan mereka hingga saat ini. Dan nampaknya Odele juga mengagumi wajah tampan Felix. Karena dia adalah pria ketiga yang tampan setelah Kakak dan Ayahnya.
Odele : Apa kau tidak suka jika aku memujimu tampan?
Felix : Tidak, bukan begitu.
Odele : Atau jangan-jangan...
Felix : Apa? Jangan mengatakan hal aneh lagi.
Odele : Kau tidak sadar kalau kau tampan?
Wajah Felix masih memerah dan hanya menatap Odele yang sedang tertawa manis mengejeknya.
Felix : Kau juga sangat cantik, Odele.
Odele : Benarkah?
Dan tanpa sadar mulut Felix memuji wajah cantik Odele. Seakan mulutnya sudah sangat menahan untuk tidak mengatakan hal itu.
Felix : Eh? Aku tadi bilang apa?
Odele : Kau bilang aku cantik.
Felix : Ah sudahlah. Aku harus menaruh piring kotor ini di dapur.
Felix terlihat sangat malu dengan ucapannya sendiri. Dan langsung pergi begitu saja menuju dapur.
Felix : Sial. Kenapa mulut ini tidak bisa diam saja?! Tapi Odele benar-benar cantik. Bahkan sangat cantik seakan sebuah lukisan. Wanita bangsawan di Kekaisaran pasti kalah dengan kecantikannya
Odele : Felix. Apa ini?
Felix : Aku sudah menyiapkan kue-kue ini untukmu.
Odele : Semuanya untukku?
Felix : Ya, tentu saja. Semuanya untukmu. Memangnya ada siapa lagi disini selain kita berdua.
Odele : Bukankah ini terlalu banyak jika untuk porsi dua orang?
Felix : Bukankah porsi makanmu lebih dari ini?
Odele : Feliiiiix!! Kau mengejekku lagi!
Felix : Hahaha~ Tapi kau kan memang doyan makan.
Odele : Sudah kubilang jangan bicara seperti itu padaku.
Odele yang kesal dengan candaan Felix. Dia pun memukul Felix. Dan Felix pun hanya bisa tertawa melihat tingkah konyol Odele.
Felix : Aduh sakit. Hehe. Baiklah, aku minta maaf.
Odele : Aku akan memukulmu lebih keras lagi kalau kau masih mengejekku.
Felix : Baiklah. Aku tidak mengejekmu. Maaf ya. Aku benar-benar gemas kepadamu.
Odele : Tapi kau benar juga. Porsi makanku jadi dua kali lebih banyak berkat makananmu. Apa kau menambahkan sihir kedalam makanannya?
Felix : Tentu saja tidak. Tapi aku senang karena kau menyukai semua masakanku. Oh ya, berhubung kau mengatakan sihir. Ada yang ingin aku tanyakan.
Odele : Tanyakan saja. Hmm enaknya aku makan kue yang mana ya?
Felix : Tidak perlu dipilih. Makan saja semuanya.
Odele : Oh, apa tidak minumannya? Dimana – mana jika ada makanan tentu harus ada minuman.
Felix : Baiklah baiklah. Dasar ...
Odele : Apa? Sekali lagi bilang kayak gitu. Sendok ini akan melayang ke kepalamu.
Felix : Ampun, Nona Odele.
Odele : Woaaaaaah...
Felix : Bagaimana penampilannya?
Odele : Felix. Apa kau benar-benar bukan seorang Koki?
Felix : Sudah kubilang, aku ini pelayan. Pekerja serabutan.
Odele : Bagaimana bisa seorang pelayan dan pekerja serabutan bisa membuat mahakarya seindah ini.
Felix : Semua orang bisa belajar untuk membuatnya. Kau pun juga bisa melakukannya.
Odele : Tidak. Aku adalah tim pencicip makanan. Heheh. Enaknya warna biru atau coklat dulu?
Felix : Terserah kau saja.
Odele : Baiklah. Akan aku makan kalian semua. Oh ya, tadi kau ingin bertanya apa?
Felix : Mengenai tanaman obat yang kau berikan saat aku terluka di hari pertama. Apa itu juga obat sihir?
Odele : Uhhh dingin. Ya, itu adalah obat sihir. Berasal dari tanaman sihir lalu diracik dan diubah menjadi sebuah obat.
Felix : Apa tanaman itu ada disini? Atau kau beli di kota?
Odele : Tanaman herbal itu ada disini. Di dekat Greenhouse. Tanaman itu harus berada disana. Apa kau ingin melihatnya?
Felix : Ya, aku ingin melihatnya. Lalu darimana kau mendapatkan benihnya?
Odele : Aku tidak tahu. Jika Ayah adalah Kepala Rumah Tangga dikeluarga kami. Maka Hebi adalah Kepala Pelayan dan Penanggung Jawabku di rumah ini. Dia yang mengurus semua kebutuhan rumah ini.
Felix : Apa kalian sudah bersama sejak kecil?
Odele : Ya, kami sudah bersama sejak kecil. Dan bahkan Hebi adalah Kepala Pelayan yang khususkan untuk menjagaku.
Felix : Jadi hanya Hebi yang tahu mengenai benih tanaman herbal itu?
Odele : Ya, kau benar. Lalu Hebi membagi tugasnya kepada Cia, Eri dan Hana.
Felix : Itu berarti ada empat pelayan dirumah ini.
Odele : Kau benar. Ada empat orang dirumah ini saja sudah membuat rumah ini ramai. Itulah mengapa aku tidak pernah merasa kesepian.
Felix : Lalu Hebi yang bertugas pergi ke kota untuk membeli kebutuhan yang sudah habis disni? Dia juga melewati Hutan Terlarang?
Odele : Ya, dia melewati Hutan itu juga.
Felix : Dan dia tidak terluka sama sekali. Atau bahkan tersesat?
Odele : Kami sudah tinggal disini lebih dari 10 tahun. Mana mungkin dia tersesat. Wah kue ini rasa apa? Seperti ada rasa buah asam di dalamnya. Enak sekali~
Felix : Kalau begitu, apakah Hebi adalah manusia?
Odele : ....
Felix : Odele, kenapa diam? Apa aku tidak boleh bertanya hal itu?
Odele : [ Tersenyum ]
Felix : Kenapa kau tersenyum?
Odele tersenyum mendengar pertanyaan Felix. Seakan dia sudah menantikan pertanyaan ini dari pertama kali mereka bertemu.
Odele : Di dalam rumah ini, yang disebut manusia itu hanya aku dan kau saja, Felix.
Felix : Apa?
Odele : Nyam~ Uhh dingin dan manis.
Felix : Tunggu, jadi Hebi bukan manusia?
Odele : Apa kau mengerti ucapanku yang tadi? Manusia dalam rumah ini hanya aku dan kau.
Felix : Lalu, Hebi? Apa dia bukan manusia ?
Odele : Bukan. Hebi, Cia, Eri, dan Hana bukanlah manusia. Mereka bukan manusia tetapi mereka dalam wujud manusia.
Felix : Kalau begitu mereka apa-..
Odele : Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu yang itu. Pokoknya mereka bukan manusia. Dan tenang saja, mereka tidak berbahaya.
Felix : Apa kau yakin mereka tidak berbahaya?
Odele : Tentu saja. Jika mereka berbahaya, sudah pasti aku tidak akan ada disini.
Felix : Jadi sihir itu berasal dari mereka. Karena mereka bukan manusia. Apa mereka monster? Atau penyihir?
Odele : Apa kau ingin melihat tanaman herbalnya?
Felix : Ya, aku ingin lihat. Tapi apa kau yakin tidak mau menghabiskan makan-...
Odele : Oh, sudah habis kok. Kau tidak perlu khawatir.
Felix : Ah.. Dasar tukang makan. Bagaimana bisa dia menghabiskan semua makanannya dalam sekejap.
Odele : Ayo, kita ke berangkat.
Felix : Jadi ada dimana tanamannya?
Odele : Sabar dong. Tidak perlu buru-buru. Kalau tidak salah ada disebalah sini.
Felix terlihat tidak sabaran sama sekali. Sedangkan Odele sedikit lupa dengan letak tanaman sihir itu.
Felix : Bentuknya seperti apa?
Odele : Bentuknya? Seperti ini.
Felix : Seperti ini? Seperti apa? Selama ini aku tidak pernah menemukan ada tanaman sihir disini. Apa tanaman itu bercahaya?
Odele : Ya, dia bercahaya. Berwarna Violet dan bercahaya ungu. Sangat cantik. Pokoknya kau harus melihatnya.
Felix : Tapi dari tadi disini semua hanya tanaman berwarna hijau. Tida ada yang berwarna violet bahkan yang bercahaya.
Odele : Sebentar. Aku harus mengingat-ingat nama tanamannya.
Felix : Memangnya dengan kau mengingat dan mengucap namanya. Tanaman itu akan muncul begitu saja.
Odele : Namanya juga tanaman sihir. Siapa tahu mereka akan muncul hehe
Felix yang mulai ragu dengan perkataan Odele tentang keberadaan tanaman sihir itu. Padahal saat di meja makan, Odele begitu yakin dan percaya diri dengan tanaman sihir itu. Tetapi setelah berada di Greenhouse, dia seakan lupa dan hampir tidak ingat letak tanaman itu berada.
Odele : “PurpleKiss Flower” Ah, itu dia.
Felix : ...
Odele : Sudah kubilang, dia akan muncul ketika kita menyebut namanya.
Felix : ...
Odele : Apa kau terkejut? Hohoho. Entah kenapa aku jadi sedikit bangga dan sombong nih hehe
Felix : Apa ini benar-benar tanaman sihir?
Odele : Tentu saja. Cantik, bukan?
Felix : Kau benar. Berwarna violet dan bercahaya ungu.
PurpleKiss Flower. Sebuah tanaman sihir berbentuk bunga berwarna violet dan memiliki cahaya neon berwarna ungu. Jika pada umumnya tanaman biasa akan tumbuh di tanah dan akarnya akan menancap di tanah. Tetapi berbeda dengan tanaman ini. Dia tumbuh dari sebuah permata ungu.
Felix : Apa hanya ini tanaman herbalnya ?
Odele : Ya, hanya ini tanamannya. Kau tidak perlu takut. Tanaman ini bisa menyembuhkan segala penyakit.
Felix : Bagaimana cara bekerjanya ?
Odele : Cara kerjanya ? tinggal katakan saja penyakit apa yang dialami pasien.
Felix : Maksudnya bagaimana? Mengatakannya kepada siapa ?
Odele : Tentu saja kepada bunganya.
Felix : Hah? Kau gila, ya. Untuk apa mengajak bicara sebuah bunga.
Odele : Hm hm. Lagi-lagi, kau meragukan kekuatan tanaman sihir. Kalau begitu cobalah. Kau buktikan saja sendiri.
Felix : Aku? Bagaimana caranya?
Odele : Katakan saja kau ingin obat seperti apa. Contohnya obat pusing. Bunga itu akan mengeluarkan sebuah obat
Felix : Kau bercanda...?
Odele : ...
Felix : Baiklah. Berikan aku obat pusing.
Odele : Bagus, seperti itu.
Felix : Eh, Odele lihat. Bunganya bergerak.
PurpleKiss Flower itu terlihat bergerak setelah mendengar permintaan obat dari Felix. Dia bergerak, bergoyang kanan-kiri. Dan keluarlah sebuah obat dari tiap kuncup bunga itu.
Odele : Tara!~ Obat pusingnya sudah ada dan siap diminum.
Felix :Hebat! Odele, tanaman ini sangat hebat.
Odele : Hehehe.
Felix : Kau dapat darimana tanaman ini?
Odele : Hebi yang mendapatkannya. Aku tidak tahu bagaimana dia mendapatkan tanaman ini. Selama aku sakit, obat yang aku minum selalu berasal dari bunga ini.
Felix : Apa bunga ini bisa disentuh?
Felix : Eh? Odele, Bunganya mengeluarkan serbuk
Odele : Indah, bukan?
Felix : Ya, sangat indah.
Odele : Jika bunga ini disentuh, dia akan mengeluarkan serbuk dan aroma lavender. Sangat cocok untuk mereka yang mengalami sulit tidur.
Felix : ...
Odele : Syukurlah kau terlihat senang melihat bunga ini.
Pertama kalinya Felix melihat dan menemukan sebuah tanaman berwarna violet selain bunga pada umumnya. Terlebih itu adalah sebuah tanaman sihir, tanaman herbal. Dan Felix terlihat puas dan juga senang melihat bunga itu. Apalagi bunga itu mengeluarkan aroma terapi lavender yang sangat menenangkan.
Ketika Odele dan Felix sedang fokus melihat bunga PurpleKiss. Tiba-tiba dari arah belakang mereka, terdengar suara seseorang yang memanggil nama Odele. Suara laki-laki, suara yang cukup berat.
North : Nona Odele!
Odele : Oh, North.
Badan Felix bergerak cepat untuk melindungi Odele. Tangannya menarik tangan Odele dan menempatkannya dibelakang badannya.
Felix : Mundur. Sembunyi dibelakangku, Odele.
Odele : Felix, Kau tidak perlu begitu.
Felix : Siapa kau?
Odele : Felix, aku bisa jelaskan.
North : Nona, sudah saatnya pria asing itu kembali ke asalnya.
Felix : Apa? Apa maksudmu? Telinga...
Odele : Felix, Dengarkanlah dulu ucapanku.
Felix : Siluman? Kau siluman, benar?
North : Ya, aku siluman.
Odele : North, beri aku waktu sedikit lagi.
Felix : Tunggu, kalian saling kenal?
Odele : Felix, dengarkan aku dulu.
Felix : Siapa dia, Odele ?
Odele : Dia...
North : ...
Odele : Dia North. Siluman Serigala
Felix : Siluman serigala, kau bilang?
Odele : Benar.
Felix : Tidak. Sebentar. Ini terlalu tiba-tiba untukku. Aku akan masuk kerumah dulu, Odele.
Odele : Tunggu, Felix. Felix.
North : Nona, delapan hari adalah waktu yang sangat lama. Saya tidak bisa membiarkan pria asing itu berada dirumah anda lagi.
Odele : Tidak, North. Sudah kubilang jangan muncul dulu sebelum aku mengatakan semuanya kepada Felix. Felix, tunggu aku.
North : Haa... Aku ditinggal sendiri.
Kedatangan seorang siluman serigala yang tiba-tiba membuat Felix terlihat kesal. Tidak. Sepertinya bukan kesal lagi. Tetapi sudah terlihat sangat marah. Seperti sedang dibohongi oleh seorang gadis cantik. Gadis itu berpura-pura bertingkah bodoh, dan terlihat lemah. Entah mengapa ada perasaan sakit di hati Felix.
mampir juga yuk ke Broken Angel
dialur cerita yg semestinya cerita nya yg serius
semangat ya