NovelToon NovelToon
Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Arya Satria, pemimpin organisasi bayangan terkuat di Semarang yang dikenal dingin, kejam, dan tak kenal ampun. Dunianya hanya tentang kekuasaan, balas dendam, dan menjaga rahasia kelam yang tak boleh terkuak. Hingga ia bertemu Nayara Adiswara, gadis polos yang tak sengaja menyaksikan kejadian yang seharusnya tak pernah ia lihat. Demi menjaga rahasia organisasinya, Arya memaksa Nayara tetap tinggal di sisinya. Namun perlahan, di balik pelukan yang awalnya hanya cara untuk mengawasi, tumbuh rasa yang tak pernah ia bayangkan. Dan di saat yang sama, Nayara mulai menyadari bahwa ada banyak hal tersembunyi di balik sosok Arya—rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya, atau menghancurkan mereka berdua selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Bayangan Masa Lalu

Sinar matahari pagi menyelinap pelan lewat celah tirai, menyentuh wajah Nayara yang baru saja terbangun dengan perasaan yang jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Penjelasan Arya semalam seolah mengangkat beban berat dari dadanya—ia tak lagi merasa hanya sebagai tawanan semata, melainkan seseorang yang dijaga dengan cara yang paling keras dan penuh ketakutan.

Saat melangkah keluar menuju ruang makan, ia melihat Arya sudah duduk di sana, namun ia tak sedang membaca berkas atau berbicara lewat telepon seperti biasanya. Pria itu menatap kosong ke arah jendela yang menghadap ke lembah, secangkir kopi di tangannya sudah dingin tak tersentuh.

"Selamat pagi," sapa Nayara pelan, menarik perhatian Arya.

Pria itu menoleh sejenak, mengangguk singkat, namun tatapannya masih terlihat jauh melayang. "Selamat pagi. Silakan duduk."

Sepanjang sarapan, keheningan masih menyelimuti mereka, namun bukan lagi keheningan yang menakutkan. Hanya ada suasana yang penuh perenungan. Hingga akhirnya Arya berbicara dengan suara rendah.

"Hari ini aku harus pergi ke pemakaman. Ulang tahun kematian Kirana," ucapnya tanpa menatap. "Biasanya aku pergi sendirian. Tapi... jika kau mau ikut, kau boleh. Tapi kau harus tetap diam, dan tidak boleh bertanya pada siapa pun di sana."

Nayara tertegun sejenak, lalu mengangguk mantap. "Saya ikut. Saya ingin ikut mendoakannya."

Perjalanan menuju pemakaman di kawasan pegunungan Semarang itu berjalan hening. Mobil melaju pelan membelah jalan berkelok yang diapit pepohonan rindang. Sesampainya di sana, pemakaman itu sepi. Di hadapan batu nisan yang tertulis nama Kirana, Arya berlutut perlahan, meletakkan seikat bunga melati putih—bunga yang sama dengan yang sering tumbuh di taman belakang rumahnya.

Nayara berdiri tak jauh di belakangnya, membiarkan pria itu berbicara dalam hati tanpa gangguan. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, seolah membawa pesan dari masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi.

"Maafkan aku, Ran," bisik Arya pelan, namun cukup terdengar oleh Nayara. "Aku berjanji tak akan membiarkan orang lain menderita sepertimu. Tapi hari ini... aku membawa seseorang yang memiliki matamu. Seseorang yang tanpa sadar mengingatkanku bahwa hidup belum sepenuhnya berakhir dengan kesedihan."

Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar mendekat. Seorang wanita paruh baya berpakaian sederhana namun rapi berdiri di sana, menatap Arya dengan tatapan yang bercampur rasa sedih dan kecewa. Itu adalah Ibu Kirana, bibi kandung Arya.

"Kau masih datang ke sini setelah semua yang terjadi?" suaranya bergetar. "Kau membawa wanita lain? Setelah kau yang menjadi penyebab kematian putriku?"

Arya bangkit berdiri perlahan, menunduk hormat namun tak menjawab. Ia menerima semua tuduhan itu tanpa pembelaan, seolah itu adalah hukuman yang pantas ia terima seumur hidup.

"Bukan begitu, Bu," potong Nayara dengan berani, melangkah maju. "Beliau tidak melupakan Nona Kirana. Beliau datang ke sini setiap tahun, beliau merindukannya lebih dari siapa pun. Beliau hanya... tak pernah berhenti menyalahkan dirinya sendiri."

Wanita itu menatap Nayara lekat-lekat, lalu matanya melebar melihat wajah gadis itu. "Kau... kau mirip sekali dengannya..." air mata menetes dari sudut matanya. "Jadi itulah alasanmu menjaganya, Arya? Kau ingin memperbaiki kesalahanmu lewat gadis ini?"

"Aku tidak tahu," jawab Arya jujur, suaranya pecah untuk pertama kalinya. "Aku hanya tahu aku tak ingin kehilangan dia juga. Bahkan jika itu berarti aku harus melawan seluruh dunia."

Ibu Kirana menghela napas panjang, mendekat lalu menyentuh lengan Arya dengan lembut. "Kirana dulu selalu bilang, kau bukan orang jahat. Kau hanya tersesat di jalan yang salah. Jangan biarkan rasa bersalah itu mematikan hatimu sepenuhnya. Jika gadis ini yang membuatmu kembali hidup... jangan biarkan dia pergi."

Pertemuan singkat itu menyisakan perasaan yang mendalam bagi mereka bertiga. Dalam perjalanan pulang, Arya tidak lagi menutupi perasaannya. Ia menggenggam tangan Nayara erat di dalam mobil, genggaman yang penuh rasa syukur dan ketakutan yang perlahan berubah menjadi harapan.

Masa lalu tak akan pernah benar-benar hilang, tapi hari ini Nayara sadar: bayangan itu tak lagi sepenuhnya menutupi sinar yang mulai menyelinap masuk ke dalam hati pria yang ia cintai.

 

Lanjut ke Bab 10: Saat Kesunyian Menjadi Sahabat? 😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!