NovelToon NovelToon
Caramel

Caramel

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Tamat
Popularitas:68.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: srizqya

Aku tidak suka jalan cerita cintaku di samakan oleh fiksi-fiksi romantis atau film-film yang berujung bahagia. Nyatanya dalam kehidupan nyata tidak semua kisah cinta akan berujung bahagia. Kehidupan cintaku tidak seseru yang kalian bayangkan. Benci menjadi Cinta adalah hal lazim yang biasanya mencumbui hati manusia. Tapi bagaimana denganku? Aku juga tidak tahu. Karena aku masih dalam proses menuju ujung dari sebuah cerita. Sedih senangnya akhir dari sebuah cerita adalah hal yang selalu di nantikan, aku pun juga sedang menantikan bagaimana akhir ceritaku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon srizqya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Rafa mengantarku tepat sampai ke dalam rumah. Selama perjalanan dalam benakku masih bertanya-tanya tentang hoodie tersebut. Di dunia ini kan yang mempunyai hoodie berwarna abu-abu banyak. Tapi aku yakin dengan tulisan yang ada di belakang hoodie tersebut. Sebuah lambang yang aku juga tidak tahu apa artinya. Yang jelas, aku yakin bahwa waktu itu aku melihat Rafa dengan seorang wanita.

Tapi siapa wanita itu?

 Aku keluar dari mobilnya bersamaan dengan dia keluar mobil. Hujan telah benar-benar berhenti menyisakan hawa dingin dan bau nya yang khas. Kukira Rafa akan langsung pulang begitu selesai mengantarkanku, tapi nyatanya ia juga ikut turun.

“Biar gue aja yang jawab kalo lo di tanyain macem-macem sama nyokap bokap lo.” Tanpa menunggu pertanyaan dariku ia memberi penjelasan.

“Gausah, lo pulang aja sana.” Aku baru saja membalikkan badanku ketika aku baru ingat sesuatu. “Eh iya uhm--makasih ya udah di anterin plus minjemin hoodie—nanti gue cuci.” Dan sekarang aku benar-benar membalikkan badanku untuk masuk ke dalam rumah.

Aku baru membuka pintu dan kedua orangtuaku telah berdiri disana, wajahnya terlihat khawatir.

“Kamu darimana saja sayang?” Mama memegang pipiku memastikan dan wajahnya benar-benar khawatir. Aku melirik ke arah yang lain dan bersyukur pecahan-pecahan yang tadi di timbulkan akibat pertengkaran sudah tidak ada.

“Papa dan Mama sangat mengkhawatirkanmu.” Papa menambahkan.

“Maaf om, tante, tadi kita sibuk ngerjain PR sekalian belajar buat ulangan besok. Terus waktu nganterin pulang mobil saya mogok—jadi kita nunggu montir dulu buat benerin mobil saya dan saya gatau kalo bakal hujan jadi ya begini.” Entah darimana Rafa datangnya tiba-tiba mengatakan alasan yang tentu saja bohong besar.

Aku mengisyaratkan kepadanya dalam tatapan mataku seakan-akan berkata. Bukannya tadi lo udah gue suruh pulang? Tapi ia hanya mengabaikanku dan tetap memandang kedua orangtuaku.

“Oh begitu, yasudah kamu mandi sana Mel, nanti keburu masuk angin.” Mama menyuruhku. “Oh iya kamu Rafa ya? Yang di mentorin Caramel?”

“Iya tante.”

“Yaudah ya ma, pa, aku keatas dulu mau mandi.” Aku izin pamit dan menoleh pada Rafa. “Lo pulang juga sana, mandi juga.” Tak menunggu jawaban Rafa aku langsung naik keatas. Terdengar perbincangan singkat lagi antara orangtuaku dan Rafa.

Sampai kamar aku mulai bersin-bersin tidak jelas. Aku menaruh tasku dan menatap ke cermin, sekali lagi kupandangi hoodie tersebut.

Iya kok bener, ini hoodie yang gue liat waktu itu.

Aku melepas hoodie tersebut dan menaruhnya di keranjang baju kotor. Masih menyisakan bau Rafa di sekitar tubuhku karena aku baru memakainya. Kuakui kalau bau dirinya wangi seperti sebuah obat yang membuat orang terlena.

Shit, ini gue lebay banget.

Setelah itu aku mengambil pakaian bersih di dalam lemari dan berjalan ke kamar mandi. Seketika itu pula aku langsung tehenyak oleh air hangat yang memancar dari shower.

------------------------------------------------------------------------------------------

Karena malam-malam nya aku benar-benar bersin terus menerus. Aku terbangun di pagi harinya dengan rasa pening yang luar biasa di kepalaku. Ditambah lagi badanku yang menghangat. Karena mungkin aku tidak turun untuk sarapan seperti biasa, Mama mengetuk pintu kamarku dan masuk kedalam.

“Kamu kenapa?”

“Gatau, kayanya demam nih.” Jawabku sambil tetap meringkuk di balik selimut.

Mama langsung memegang dahiku. “Iya nih anget kamu sih tadi malem ujan-ujan an. Yaudah nanti mama telpon wali kelas kamu buat izin.”

Aku hanya mengangguk.

“Nanti bibi nganterin sarapan kesini sekalian bawain obat, Mama mau jenguk Bu Doni dirumah sakit abis lahiran soalnya.”

Lagi-lagi aku hanya mengangguk, Mama keluar dari kamar. Aku kembali melanjutkan tidurku dan berharap semoga saat bangun tidak merasa pening lagi. Baru aku akan memejamkan mataku, bibi datang membawa nampan berisi sarapan dan obat. Jadilah aku menghabiskan sarapanku dulu lalu minum obat kemudian barulah aku tidur lagi.

Jam menunjukkan pukul 4 sore di jam wekerku. Itu artinya anak-anak sudah pada pulang sekolah. Aku mengambil ponsel di samping jam weker, sudah ada beberapa bbm masuk.

Kika Emeralda: Beib, tau gak sih? Gak ada kamu gak rame :( #korbanlagubaruashilla

Arga Pangestu: Mel? Kenapa ga masuk?

Dan pertanyaan serupa  seperti Arga di lontarkan dari orang-orang yang bukan anak kelasku. Kalau anak kelasku paling hanya kalimat-kalimat ucapan cepat sembuh dan sebagainya. Ah, punya teman memang anugrah paling indah yang pernah tuhan berikan.

Yang membuatku sport jantung adalah ketika kudapati sebuah one missed call dari Rafa. Kenapa dia menelponku? Ada urusan apa? Memangnya dia tau kalau aku sakit? Atau apa? Atau apa? Jawab aku! Oke, lebih baik aku bertanya langsung pada orangnya.

Aku mengetik sebuah bbm untuknya.

Me: Knp missed call?

1 menit..

5 menit..

20 menit..

Azrafa Arzier: Emang gue missed call?

Buru-buru aku membalasnya.

Me: Iya

Azrafa Arzier: Oh, kepencet kali

Kenapa sih lo Raf???????!!!! Gue lagi sakit nih! Gabisa liat gue seneng apa?! Eh tunggu, terus kenapa kalo Rafa kaya gitu? Terus apa hubungannya sama sakitnya gue? Parah banget si otak korslet gara-gara demam.

Me: Oh ok

Hanya itu jawaban yang kuberikan, dan hanya di read. Oke peduli apa.

Rafa Calling..

DEMI TUHAAANN?! INI APA LAYAR HP GUE ADA TULISAN RAFA CALLING?! INI KENAPA?? RAFA NELPON GUE?! Ok lebay, tenagkan dirimu, Mel. Tenangkan. Tarik napas, buang pelan-pelan.

“Halo?” Jawabku cepat dan kurasa itu menjadi terdengar sangat ketus.

Tidak ada suara di sebrang sana.

“Halo? Kalo gapenting gue matiin nih.” Ancamku.

“Lo sakit?”

Demi tuhan kali ini aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Terserah dunia ingin men-judge ku apa tapi ini—ini Rafa yatuhan. Tau darimana kalau aku sakit? Ini bukan hari selasa atau kamis jadwal kami untuk belajar. Darimana dia tahu? Darimana?

“Tau—darimana?” Kali ini suaraku hanya sebuah decitan kecil seperti tikus kejepit karena aku bertanya sambil menahan nafas, nervous menunggu jawabannya.

“Dari anak-anak.” Jawabnya santai.

Setenar itukah aku? Dari anak-anak katanya? Oh oke, tenangkan dirimu.

“O-oh.”

“Lagian kemarin ngapan si ujan-ujan an.”

“Ngapain aja kek.”

“Terserah deh, yaudah cepet sembuh ya.”

Udah gitu doang?

Dua hari aku tidak masuk sekolah dan selama itu pula aku hanya tidur-tiduran di kasur dan sesekali mainan ponsel untuk sekedar bbm-an sama Kika di kala waktu istirahat. Dan hari ini aku sudah kembali masuk.

“Asik Caramel udah masuk bisa nanya-nanya nih pas ulangan MTK nanti.” Kata Dio salah satu murid dikelas.

“Anjir lo kata gua apaan. Eh eh eh tapi emang hari ini ulangan? Demi apa? Lah kurang ajar nih gaada yang ngasih tau gua.”

“Lah kita aja baru tau tadi pagi banget pas kelas XII IPA 3 kemarin ulangan dadakan.”

“Parah banget.”

“Mel liat ya Mel ntar plis plis plis.” Kika sudah memasang wajah memelas seperti biasa jika ingin bertanya padaku saat ulangan.

“Berani bayar gua berapa?”

“Elah abis sakit aja lu masih aja nyolot.” Ia mulai sewot.

“Heh yang nyolot duluan siapa si lagian nanya-nanya pas ulangan, dosa tau.”

“Kan gue ga nyontek, gue nanya. Makanya gue ijin dulu ke lo biar lo sukarela jadi gue ga dosa yee.”

“Dih bikin pernyataan sendiri aja lu, kelaut aja lo sono.”

“Serah lo dah—bete.”

“Emang serah gua.”

“Rese lu.”

“Bodo.”

“Mel,”

“Paan.”

“LIAAAATTTTTT!”

Suara riuh terdengar di seantaro Nusa Bangsa. Anak kelas ku yang habis stres karena ulangan MTK tadi menjadi tidak menghiraukan suasana diluar. Pak Joko benar-benar killer tidak seperti biasanya, bahkan untuk melirik pun tidak akan bisa. Jadilah rencana anak kelas yang ingin bertanya padaku pada gagal semua.

Suara di luar sana semakin ramai seiring berjalannya waktu. Apalagi terdengar suara cewek-cewek histeris entah karena apa. Aku yang mulai penasaran melihat ke jendela dan tepat pada saat itu ada seorang adik kelas yang lewat.

“Eh ada apaan si?” Karena kelasku terletak dilantai 2 aku jadi tidak bisa melihat langsung dari jendela. Dan karena aku malas untuk keluar kelas dan melihat ke balkon aku lebih memilih untuk bertanya.

“Itu kak ada pertandingan basket, kelas XII IPA 2 sama XI IPS 1.”

Aku langsung berpaling kearah Kika yang sedang tidur-tiduran, kepalanya di telungkupkan diatas meja. XII IPA 2 kan kelas nya Rafa sekarang.

“Ada pertandingan basket di lapangan.”

“Males ah turun ke bawah gue lagi penat ceritanya.”

Aku tidak tega untuk memaksanya karena Kika terlihat memang benar-benar sedang penat. Ku pandangi sekitar kelasku, dan posisinya semua sama. Menelungkupkan kepala diatas meja. Mungkin akibat ulangan MTK tadi yang soalnya minta ampun ribetnya.

Kurasakan perutku berbunyi karena lapar. Dengan sangat terpaksa aku berjalan keluar kelas untuk pergi ke kantin sendirian. Aku sama sekali tidak minat untuk menonton basket. Karena penonton yang banyak juga udara yang semakin panas.

Aku meminta di antarkan semangkuk bakso dan es teh ke kelasku. Jadi tidak sampai 5 menit aku sudah balik berjalan untuk kembali ke kelas. Kulirik sebentar kearah lapangan dan kulihat Rafa sedang di hadang oleh beberapa orang dari kelas XI yang berusaha untuk merebut bola.

Ia berhasil menguasai bola dan menggiring bola kearah ring sebelum ia sempat men-shoot bola tersebut saat itulah ia melihatku berdiri di ujung kantin. Entah dia sedang ada pikiran atau tidak fokus, salah satu anak kelas XI ingin merebut bola nya dan tidak sengaja menyelengkat Rafa sampai ia terjengkang ke depan, tepat tangannya duluan yang jatuh untuk menyangga.

Setelah itu aku tidak tahu lagi karena banyak sekali orang yang menghampirinya.

*

 

 

1
It's Pingyaa
Bagus bangett
🌸Ar_Vi🌸
bahasanya enak.. ceritanya simple.. ga bertele..
Rasyidiah Anggreni
download mangatoon biar bisa baca ulang lagi 😭
AuAra27
Kangen banget baca ceritanya Kakak. Download Mangatoon biar bisa baca cerita ini lagi😭
thaiteatae
kak aku slalu nunggu cerita kaka yang 4word letter. cerita kaka bnr2 bagus
Arwidia Yanti
so sweet😍😍
(`⌒´メ) HONEY BEAR ✧ 🦕
Gamy? Cewe apa cowo tuh thoor?
(`⌒´メ) HONEY BEAR ✧ 🦕
Teknik baru ngode pke angka👉🏻👈🏻😂😂 patutu di tiru
(`⌒´メ) HONEY BEAR ✧ 🦕
Cemburu garis keras! 😂
(`⌒´メ) HONEY BEAR ✧ 🦕
Sumpah ketauan itu gk enak😂😂
(`⌒´メ) HONEY BEAR ✧ 🦕
Curhat ke temen tpi tiba tiba dia off real life bat ini mah😐😒
xk_ekga
ahaha bucin rafa
xk_ekga
no, i love happy ending
xk_ekga
gini ya bagus g perlu pacaran lama2, yg pntg nyatu 😊
xk_ekga
iya kah
xk_ekga
naaaah knp g blg kalo sepupu, tp lebih seru gini
xk_ekga
naaah keduluan jangan2
xk_ekga
ciyee mulai ada rasa
xk_ekga
senyum2 dw 😆
xk_ekga
galfok si rafa
(`⌒´メ) HONEY BEAR ✧ 🦕: Butuh aqu* wkwkwkw
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!