Terjebak di antara dua pilihan yg sulit, antara kakak beradik yg dua duanya ada di hatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisha A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 8 Sunyi Sepi
Ku hempaskan tubuhku ke kasur yang dari tadi seakan melambai-lambai memanggilku, pikiranku masih berkelana, perasaanku masih berkecamuk, seperti belum siap dengan apa yang Rendi katakan tadi, benar-benar sangat mendadak.
Seketika terbayang kejadian di mobil tadi, sambil kupegangi bibirku yang sepertinya masih menyisakan rasa bekas gigitan kecil yang dilakukan Rendi dengan cukup lama.
Drrrttt...
"Sudah tidur?" DM IG masuk, yang tak lain ialah dari Juan.
Kuseka cairan bening yang tanpa kusadari ternyata sudah menetes membasahi pipi, sedikit berlebihan bukan? tapi tau kah kalian bagaimana rasanya saat seseorang yang sudah terbiasa hampir setiap hari selalu kita lihat, kini dalam seminggu tak akan menunjukkan batang hidungnya lagi? memang belum kujalani, tapi masih membayangkan nya saja sudah membuat hatiku sunyi.
"Belum, lagi sedih:( " Balasku sambil memberi emoticon sedih di akhir kalimat.
"Kamu kenapa? kamu berantem sama Rendi?"
"Enggak, bukan itu"
"Jadi kamu kenapa? cerita sama aku, aku gak mau denger kamu sedih begitu"
"Emm, sudahlah, usah pikirkan. Aku tidur duluan ya, bye."
Kupaksa untuk memejamkan mata, entah bagaimana yang kurasa kan saat ini, dadaku masih saja terasa sesak.
Drrrttt..
( 1 pesan baru dari Rendi )
"Aku harap kamu tetap bisa tidur pulas malam ini, tak perlu ada yang kamu cemaskan, waktu seminggu sangat lah cepat berlalu. Just let it flow, you know I love you, good night."
Ku pandangi lama pesan teks yang Rendi kirimkan, sepertinya kali ini aku tengah tak bernafsu untuk membalas pesan itu, tapi pesan itu lumayan bisa menenangkan hatiku yang tengah berkecamuk.
Kuhela nafas sambil kembali memejamkan mata berharap tidur ku tidak terganggu malam ini.
Hari ini seperti biasa kulalui dengan pekerjaan yang masih begitu-begitu saja, juga tak ada Rendi yang mengantarku dan tentu saja saat nanti pulang juga tidak ada jemputan darinya. Pagi tadi Rendi sudah berpamitan denganku meski hanya via telpon, dan barusan juga mengabari ku kalau dia sudah sampai di Surabaya dan ingin langsung melanjutkan pekerjaan untuk mensurvey ke beberapa lokasi disana.
Waktu akhirnya menunjukkan pukul 17.00 sore, ku kemasi barang-barang ku dan keluar dari ruangan kerjaku. Kubuka ponselku, aku berniat untuk memesan ojek online dari aplikasi.
Drrrttt...
(DM IG masuk)
"Aku tunggu kamu didepan." Mataku sedikit terbelalak mengetahui Juan sudah menungguku.
"Tau dari mana dia tempatku bekerja? apa Rendi yang sengaja menyuruhnya?" Gumamku dalam hati sambil melanjutkan langkahku.
"Sendirian aja neng? Sini Abang temenin." Terlihat mobil berhenti tepat di depanku dengan posisi kaca yang sudah terbuka dan kulihat Juan lah pengemudinya.
"Kok bisa tau aku kerja disini? Rendi yang nyuruh kamu untuk jemput aku ya?" Tanyaku dengan percaya dirinya.
Aku mengira Rendi lah yang sudah mengaturnya, sambil ku langkah kan kaki ku untuk masuk ke mobilnya.
"Enggak lah, ini inisiatif ku sendiri untuk menjemputmu, aku ingin menghibur kamu yang lagi sedih karena baru LDR" Jawab Juan sembari mulai melajukan mobilnya.
Sedikit rasa kecewa karena bukan Rendi yang menyuruhnya, tapi tetap tak ku nampak kan rasa kecewa ku di hadapan Juan, karena aku mencoba menghargai usahanya.
"Kita jalan-jalan dulu sebentar ya, agar kamu tak terlalu penat."
"Kemana? Aku sedang tak ingin kemana-mana." Jawabku dengan nada yang begitu pelan.
"Ikut saja, ku yakin kamu takkan kecewa saat sudah melihat tempatnya." Juan tersenyum penuh keyakinan.
Dan hanya kubalas dengan anggukan tak bersemangat. Aku seperti sangat malas untuk bicara dengan siapa pun pada saat ini, atau jangan-jangan aku sudah terkontaminasi oleh Rendi yang sangat pelit dengan kata-kata.
"Apakah sesedih itu kamu saat jauh dari Rendi? Sedih mu itu terlihat seperti akan LDR selama setahun saja." Kata Juan lagi.
"Bukan begitu, aku hanya sudah sangat terbiasa dengan melihatnya hampir di setiap hari-hariku, jadi seperti ada yang aneh kalau harus tidak melihatnya untuk hari ini sampai seminggu kedepan." Jelasku ke Juan berharap dia mengerti dan tidak berfikir aku ini lebay.
"Oh jadi masalahnya hanya karena keterbiasaan mu yang selalu melihatnya ya?"
Aku hanya mengangguk lesu sambil menyenderkan kepalaku di sandaran kursi dan melihat ke arah luar kaca jendela mobil.
"Lantas, bagaimana kalau aku saja yang mengisi kekosongan mu selama Rendi pergi?"
"Maksud mu?" Aku sontak melirik Juan sembari mengerutkan dahi.
"Ya selama Rendi pergi, aku yang akan selalu ada untuk menghibur mu. Bagaimana?"
"Hahaha, berhenti membuang waktumu adik kecil, apa kamu tidak punya pacar untuk selalu kamu temani ha?" Aku sontak tertawa sembari menggelengkan kepalaku saat mendengar ucapan Juan.
"Hahaha, jangan lupakan kalau usiaku lebih tua darimu 2 tahun, bagaimana bisa kamu menganggapku adik? Lagi pula aku tak punya pacar." Tegas Juan.
"Tak punya pacar, gebetan pasti punya dong?" Tanyaku sedikit menyelidik ke arahnya.
"Gak ada sama sekali" Jawab Juan santai.
"Ha, masa sih? Tapi kalau orang yang kamu suka pasti ada kan ya? jangan bilang gak ada juga, atau jangan-jangan kamu...?" Aku mulai memicingkan mataku.
"Dih apaan sih? Hahaha aku masih normal ya," Juan langsung menjawab dan memberi penegasan bahkan sebelum aku menyelesaikan dugaan ku tadi padanya.
"Oh berarti saat ini ada perempuan yang kamu suka? Yang mana mana orangnya? Kenalin dong ke calon kakak ipar hahaha" godaku lagi sembari tersenyum meledek
Dan tanpa ku sadari sedihku yang sejak semalam ku rasakan, seperti seolah hilang pergi entah kemana. Bukan kah terlihat aneh jika Juan bisa dengan cepat mengganti suasana hatiku?
"Yang jelas saat ini aku sedang berusaha untuk menghibur perempuan yang tengah aku sukai, karena dia sedang bersedih." jawaban Juan terdengar sangat santai.
Aku masih diam mematung, berusaha mencerna kembali apa yang dikatakan Juan barusan.
"Maksudnya?" Tanyaku lagi memastikan apa maksud dari ucapannya barusan.
"Ah ternyata benar ya perempuan itu adalah makhluk yang paling tidak peka di dunia ini"
Juan terlihat mengacak-ngacak rambutnya.
"Hahaha apa sih gak jelas" Jawabku singkat karena mulai tak bisa mikir hahaha.
Juan tiba-tiba menghentikan mobilnya di tepi jalan yang bisa kulihat itu sudah tidak lagi berada dijalan raya.
"Apa kita udah sampai di tempat tujuan?" Tanyaku bingung karena kulihat tidak ada yang menarik di tempat kami berhenti.
Juan masih tidak menyahut, kulihat tangan nya memperkecil volume musik yang ada di mobilnya hingga nyaris tak terdengar lagi.
"Apa kamu percaya kalo orang yang aku suka itu adalah kamu?" Juan memposisikan badannya menghadap ke arahku, sepasang matanya terlihat lembut menatap mataku.
"ha? a.. apa maksudmu?" Tanyaku terbata-bata dengan masih mencerna kembali ucapannya,
Aku benar-benar terkejut, hal itu sontak membuatku jadi gelagapan sendiri. Bukan kah aneh kalo adik dari pacar kita menyukai kita?
"Ya, aku menyukaimu Cha, bahkan dari pertama kali melihatmu. Apa itu salah ?" Juan berkata sangat lirih.
"I.. itu tidak salah, perasaanmu tidak salah, ta, tapi kurasa kamu menyukai orang yang salah Juan. Aku ini pacar abang mu, apa kamu lupa?"
Aku benar-benar kikuk saat ini, tidak tau harus bagaimana, kulihat Juan masih memandangku dengan lekat
Seperti ada ketulusan dimata nya namun tetap masih sulit kuterima pernyataannya.
"Ya sudah, kita lanjutin dulu perjalanannya, sedikit lagi sampai, takut gak keburu." Juan kembali menancap gas nya, seakan mengalihkan perbincangan kami yang menurutku perbincangan ini mendadak menjadi agak berat.
Sepanjang sisa perjalanan aku hanya terdiam, begitu juga Juan yang kulihat fokus mengemudi dengan tatapan lurus ke depan. Seketika mobil terasa hening, tak ada lagi suaraku, tak ada suara Juan, bahkan tak ada lagu-lagu yang mengiringi, terasa sangat sunyi, sunyi senyap.
Bersambung...
sukses
semangat
mksh
tp bnr ada yahh crita gni d dunia nyata
iyaa Smngtt trs y KK👍👍👍👏👏