Arsenio Gerald sudah menunggu status janda wanita yang di cintainya selama beberapa taun ini, namun bukannya menjanda wanita itu justru malah hamil lagi.
Rupanya tampan dan kaya tidak bisa menjamin kebahagiannya dia kembali sial setelah putus cinta karena menunggu jandanya, Arsenio harus dihadapkan dengan masalah yang dibuatnya sendiri.
Arsenio tidak sengaja meniduri calon tunangan adiknya sendiri, hingga akhirnya mereka pun harus menikah.
Bagaimana Arsenio menjalankan statusnya sebagai seorang suami di saat hatinya masih milik orang lain.
Dan alangkah sialnya Arsenio setelah tau sifat asli istrinya yang sangat susah di atur dan sering membuat ulah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitryas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiss Me 8
Dengan wajah panik Arsen segera mencari obat di laci setelah berusaha mengompres Anya, dia tidak mungkin membawa Anya ke dokter malam-malam begini. Bisa mati dirinya jika kedua orang tuannya tau kalau Anya tidur di lantai karena dirinya yang memaksa gadis itu.
Ia lalu mengambil segelas air mineral lalu duduk di samping istrinya, Arsen menatap obat yang ada di tangannya dengan penuh harap. Arsen berharap dengan meminum obat penurun demam Anya bisa sembuh agar tidak membuat kegaduhan.
“Ayo bangun, minum dulu obatnya.” Ucap Arsen sambil menarik tengkuk leher Anya, Anya hanya mengikuti apa yang Arsen katakan tanpa sadar apa yang terjadi saat ini.
Arsen pun memberi minum ketika Anya menelan pil pahit itu, lalu kembali merebahkan tubuh Anya kembali.
“Dingin.” Gumam Anya.
“Dingin?” Dengan segera Arsen mencari remot Ac dan mematikan Ac itu, ia lalu menempelkan telapak tanganya di kening Anya. “Tapi kamu demam, kenapa dingin?” Gumam Arsen dengan kaki yang terus bergerak gelisah.
Bagaimana pun Arsen adalah orang yang akan di salahkan jika istrinya sampai sakit parah, baru sehari menikah tidak mungkin kan ada kasus seorang istri meninggal karena di paksa tidur di lantai pikirnya.
Namun melihat tubuh Anya yang bergetar karena menggigil, dengan segera Arsen masuk ke dalam selimut dan memeluk gadis itu guna menghangatkan tubuh istrinya walau gadis itu tengah berkeringat.
Keesokan paginya, Anya terbangun lalu menarik handuk kecil yang ada di keningnya. Ia ingat jika semalam Arsen merawat dirinya saat sakit. Anya pun menatap kaki dan tanganya yang lain yang melingkar di tubuh kekar Arsen.
Dengan perlahan Anya mencoba menarik tangannya dan menjauhkan kakinya yang melingkar di kedua kaki suaminya.
Namun Arsen terusik, pria itu perlahan membuka kedua matanya, dan melihat wajah cantik Anya yang kini tersenyum menatap ke arahnya.
“Good morning, suamiku.” Sapa Anya dengan senyum manis itu, Anya hendak berpura-pura mencium bibir Arsen namun Arsen lebih dulu mendorong wajah Anya dengan telapak tanganya.
“Jangan mendekat, sudah cukup semalaman kamu memelukku.” Gerutu Arsen buru-buru berdiri dan menjauh dari gadis itu, Anya hanya terkekeh karena sudah pasti Arsen tidak akan suka jika dirinya bersikap seperti ini tentu saja karena pria itu tidak normal.
“Makasih suami, udah rawat istrimu ini.” Ucap Anya sambil memeluk guling dan merubah posisi tidurnya agar bisa melihat pergerakan suaminya.
Arsen berdiri di depan cermin lalu, mengambil pencukur jenggotnya.
“Mulai sekarang gak usah tidur di lantai.”
“Jadi Kakak yang akan tidur di lantai?” Tanya Anya dengan gembira, gadis itu bahkan sampai merubah posisinya jadi duduk dan menatap Arsen yang memunggunginya.
“Enak saja, kita tidur di ranjang yang sama. Aku tidak akan menyentuhmu, dan kamu tidak boleh menyentuhku atau memelukku seperti semalam.” Ujarnya sambil mencukur bulu-bulu halus di rahangnya.
“Ck! Ya aku percaya kalau kamu tidak akan menyentuhku.” Gumamnya sambil mengulum senyum, yang Anya tidak percaya adalah dirinya sendiri dia tidak berjanji tidak akan menyentuh tubuh Arsen.
Arsen menatap sekilas dari pantulan kaca, dia lalu masuk ke dalam kamar mandi. Ketika keluar ia terkejut karena Anya sudah berpakaian rapi, entah di mana gadis itu mandi Arsen pun tidak ingin ambil pusing dan berusaha mengacuhkannya.
Namun Anya justru mengikuti dirinya dengan senyum yang menurut Arsen itu adalah senyuman menggelikan. “Ngaoain kamu?” Tanya Arsen sambil menatap Anya yang tengah sibuk memilihkan pakaian untuk dirinya.
“Aku istrimu, kadi aku akan melakukan kewajibanku dengan baik.” Jawabnya sambil memberikan sepasang kemeja dan celana kerja untuk pria itu.
Kedua alis Arsen rangkat. “Ada angin apa? Bukannya kemarin kamu nangis-nangis gak mau nikah denganku?” Tanya Arsen pada gadis dua puluh tahan itu. “Keluarlah, aku mau ganti baju.” Lanjutnya karena Anya tak kunjung menjawab dan terus menatapnya dengan tatapan mencurigakan.
Kita kan suami istri, aku akan melihatmu berpakaian. Kadi gak usah malu-malu.” Ujar Anya, dia bersiap memasang matanya agar tidak berkedip dna menyaksikan jika burung itu tidak bisa terbang.
“Anya, keluar!” Titahnya, namun Anya yang tak sabaran langsung mengambil kemeja di tangan Arsen dan segera memasangkannya di tubuh Arsen yang hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Arsen hanya diam dan melihat Anya yang serius mengaitkan kancing kemejanya, Arsen langsung terkejut saat Anya menyodorkan celana ke arahnya.
“Ayo pakai, buka handuknya.” Pinta Anya buru-buru, namun Arsen yang kesal langsung menarik celana itu, tapi sialnya Anya menahan kuat celana itu agar tidak jatuh ketangan suaminya.
“Cepat masuk atau aku akan memaksamu, jangan buat aku berdosa karena tidak melakukan kewajibanku dengan baik.” Ucap Anya dengan mata melototnya.
Arsen pun menelan salivanya susah, dan segera memasukan kakinya ke dalam celana yang ada di tangan Anya.
“Sial, kenapa dia tidak buka dulu handuknya.” Gumam Anya kesal. Anya lupa kalau Arsen bisa memakai celana tanpa harus mebuka handuknya, tau begitu sejak awal Anya langsung menatik handuk itu.
Anya pun kembali tegak dan menatap Arsen saat pria itu tengah mengancingkan celananya, ia laku menjulurkan kedua tanganya. “Sekarang aku minta kewajibanku. Tolong nafkahin aku.” Ucap Anya sambil tersenyum bahkan Anya mengedipkan sebelah matanya dan membuat Arsen bergidik ngeri.
“Ck, sudah ku duga kalau kamu berbuat baik pasti ada maunya.” Gerutu Arsen, pria itu segera berjalan ke arah meja kaca di mana ponsel dan dompetnya berada. “Berapa?”
“Setiap harinya aku di kasih uang 100 ribu buat jajan di kampus aja, belum kalo sabtu dan minggu sehari di kasih 200 ribu buat jalan. Kalau buat belanja bulanan seperti beli baju, make up dan—“
“Segini cukup?” Tanya Arsen saat melihat nominal yang di kirimkan ke nomor rekening atas nama dirinya. Anya terkejut karena Arsen mengetahui nomor rekening pribadinya, namun yang membuatnya tercengang adalah nominal yang di kirimkan pria itu.
“Sebentar nol nya ada berapa.” Tanya Anya sambil menahan tangan Arsen yang hendak menarik ponselnya dari pandangan Anya. Anya menghitung satu persatu nominal nol yang tertera di sana, dia takut salah lihat.
Entah mengapa jantung Arsen berdebar begitu cepat saat memperhatikan wajah Anya dari dekat. Bahkan aroma Vanila dari tubuh gadis itu tercium jelas, bulu mata lentik dengan hidung mancungnya. Mata bulat, bibir bawah yang tebal dangan kedua lesung pipi Anya membuat gadis itu semakin terlihat cantik dan imut bersamaan.
Arsen tanpa sadar tersenyum tipis, ia lalu memalingkan wajahnya saat Anya menatap ke arahnya.
“Huaaa!! Tau gini kita nikah dari dulu.” Teriak Anya sambil meloncat dan melingkarkan tanganya di tengkuk leher suaminya lalu bergelantung manja di tubuh itu.
.
To be continued…
*Jangan lupa komentarnya, biar aku semangat**😭*