Hampir semua anggota keluarga Grizelle dibantai dan seluruh hartanya lenyap tidak tersisa. Hanya tersisa Laquitta Grizelle saja yang kebetulan tidak ada di tempat saat kejadian pembantaian itu.
Namun, kini ia terpaksa tinggal bersama pria yang mengekang, memenjara, dan merampas kebebasannya.
Dia adalah Adyan Abercio, sang mafia yang menganggap sebuah nyawa tidak bernilai. Pria yang dibenci Itta sekaligus pria yang berhasil mencuri seluruh isi hatinya.
Penasaran? Yuk, ikuti kisah mereka sekarang juga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini_S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERTANGKAP
"Mereka ... telah mengetahui keberadaan kita."
Bertepatan dengan kalimat Oldia, bunyi sirine terdengar kencang sebagai tanda peringatan.
"A—apa?!" Otak Isni tidak cepat merespon maksudnya.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kita harus segera pergi sebelum mereka datang ke sini!"
Oldia bergegas menuju pintu dari ruangan yang sekarang mereka tinggali. Ia sedikit membuka pintu, menciptakan celah agar dirinya dapat melihat ke luar.
Setelah memastikan belum ada siapa pun yang datang, ia memberi isyarat kepada rekan seruangannya untuk meninggalkan ruangan ini segera.
Satu persatu dari mereka keluar dengan hati-hati. Meski sebenarnya takut, meski sebenarnya cemas, namun semuanya sudah terlanjur terjadi. Mereka tidak bisa kembali ke ruangan itu lagi.
Riana memegang tangan Itta. Dia melemparkan senyuman penenang.
"Jangan khawatir, semuanya pasti akan baik-baik saja. Kita pasti bisa terbebas dari tempat ini," bisik Riana.
Itta tidak merespon ucapannya. Tidak juga merasa cemas atau takut seperti yang dikatakan Riana.
Sebab di matanya, kejadian ini hanya sebatas mimpi. Itta masih beranggapan bahwa dia akan bangun suatu saat nanti.
"Tunggu sebentar!" Oldia mengangkat tangannya, memberi isyarat agar orang di belakangnya berhenti berjalan. "Ada orang! Cepat sembunyi!"
"Apa?! Sembunyi?! Sembunyi di mana?!" tanya Lesya panik.
Di tengah kepanikan itu Hela menarik tangan Lesya, membawanya bersembunyi di dalam lemari kayu kosong.
Di sisi lain, Riana dan Itta bersembunyi di bawah meja yang tertutup taplak meja panjang.
Elia, Oldia dan Isni bersembunyi di belakang tembok. Zora, Killa dan Izume bersembunyi di belakang sofa panjang.
Mereka berpencar untuk sementara.
Suara derap langkah yang semakin mendekat membuat mereka bersikap siaga.
Enam pria membawa senjata api muncul dari balik pintu. Mereka berlari cepat. Tiba-tiba saja salah satu dari mereka berhenti, sementara yang lainnya tetap berlalu pergi.
Dahinya sedikit bergelombang mengamati lemari yang terasa ganjil. Ia mulai berjalan pelan, pistol di tangannya terangkat mengarah ke objek berbahan kayu tersebut.
Pria itu berdiri di depan lemari kayu, memegang kenop pintu, lalu memutarnya hingga terbukalah benda persegi panjang itu.
Dugaannya benar!
Terdapat dua orang di dalamnya. Pria itu segera menarik pelatuknya.
DOR!!
Suara tembakan terdengar keras. Cairan merah muncrat ke mana-mana, mengotori lantai, baju serta wajah Hela dan Lesya. Tubuhnya terjatuh ke lantai yang dingin dengan darah yang mengucur deras.
"Hampir saja," ucap Isni.
Lutut Lesya dan Hela lemas seketika. Keduanya tak dapat berkata-kata, sebab kaget dan takut terlalu mendominasi. Air mata menetes begitu saja.
Jika saja Isni telat menembak walau hanya satu detik, salah satu dari mereka mungkin telah meregang nyawa.
"Aku selamat. Aku benar-benar selamat," ucap Lesya lirih. Jantungnya terasa copot saat melihat pria tadi berdiri di depannya sembari menodongkan pistol.
Sama hal nya seperti Lesya, Hela pun merasakan kelegaan yang luar biasa.
"Terima kasih, Isni," ujar Hela tulus. Ia benar-benar bersyukur dapat selamat.
"Tidak usah sungkan." Isni membusungkan dadanya bangga.
"Bodoh!" Oldia menempeleng kepala Isni keras membuat Isni menoleh geram.
"Kau ini kenapa, sih? Iri?" tanya remaja itu, tidak terima dengan perlakuan Oldia padanya.
"Untuk apa aku iri pada manusia bodoh sepertimu?! Tidak seharusnya kau menembaknya! Bagaimana jika ada yang mendengar suara tembakan tadi?!"
"Kau pikir ada cara lain?"
"Kau bisa menusuknya menggunakan pisau yang kau pungut!"
Isni lupa bahwa ia juga sempat mengumut pisau. Lantas, ia pun menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. "Maaf, aku lupa soal itu."
"Dasar bodoh!" maki Oldia lagi.
"Berhenti memanggilku bodoh!" protes Isni.
"Kau, kan, memang bodoh!"
Di tengah perdebatan Isni dan Oldia, Itta melirik darah yang mengucur dari kepala pria tadi, lalu kembali menatap Isni.
Tatapan Itta beralih pada Izume yang masih menahan mual akibat membunuh seseorang beberapa menit lalu.
Reaksi mereka berdua sungguh berbeda.
"Hentikan! Bisakah kalian diam?!" ujar Elia sedikit keras. Sungguh, Elia muak dengan perdebatan keduanya.
"Itu bukan salahku Elia, melainkan salah orang ini!" Isni menunjuk Oldia sinis. "Dia duluan yang—"
Elia tidak bisa lagi mendengar lanjutan kalimat Isni dengan jelas. Semuanya terjadi karena fokus Elia tercuri pada sebuah benda yang mengarah menuju punggung Isni.
Benda itu terbang dengan sangat cepat, namun Elia tahu pasti, bahwa benda itu adalah sebuah peluru.
"ISNI AWAS!!!"
Elia bergerak cepat mendorong tubuh Isni hingga terpental untuk menghindari peluru itu. Na'asnya peluru itu justru mengenai perut Elia.
"ELIA!!!" Isni menjerit histeris.
Ia langsung menghampiri Elia dengan terburu-buru. Isni menelan ludahnya saat melihat darah yang mengalir deras dari perut Elia.
"Apa yang kau lakukan, Elia?! Kau bisa mati jika peluru itu mengenai titik vitalmu!" bentak Isni.
Sejujurnya Isni panik. Jantungnya memompa keras karena ketakutan dan khawatir berlebihan.
Elia tersenyum sembari merintih kecil. "Nggak apa-apa, ini hanya luka kecil. Pelurunya tidak mengenai jantung, hanya mengenai perut sampingku."
"Seharusnya kau tidak usah menolongku." Tanpa sadar air mata Isni mengalir melewati pipi. Ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang bahkan rela mengorbankan dirinya untuk Isni.
"Jatuhkan semua senjata kalian atau aku akan membunuh wanita ini!"
Atensi mereka yang semula mengarah pada luka Elia beralih menatap seorang pria yang datang mengancam.
Tangan pria itu terangkat menyodorkan pistol ke arah kepala Itta entah sejak kapan. Sontak mata mereka melebar menyaksikannya.
"Aku bertanya-tanya kenapa ada suara tembakan, ternyata inilah penyebabnya. Kalian berencana kabur? Kalian pikir semudah itu? Lihat saja, para penjaga yang lain pasti akan sampai ke sini sebentar lagi," lanjut pria itu berbicara.
Sudah Oldia duga, tembakan Isni pasti akan mengundang para pria bejat itu. Oldia sekali lagi menatap Isni dengan tatapan benci dan sinis.
Gigi Elia bergemelatuk. Sorot matanya menajam. Dia berdiri dengan susah payah sembari memegang perutnya yang masih mengeluarkan cairan merah kental. Isni yang melihatnya langsung berinisiatif memapah.
"Lepaskan dia!" ucap Elia tegas.
"Akan aku lepaskan jika kalian semua menjatuhkan senjata kalian!" balas pria itu.
"Bagaimana kami bisa mempercayaimu? Bisa saja kau tidak melepaskannya meski kami telah menjatuhkan senjata kami."
"Ya, itu memang benar. Aku tidak akan melepaskannya ataupun kalian. Aku akan membawa kalian ke tempat itu lagi dan mendapatkan pujian dari Tuan Eric." Pria itu tertawa senang.
Sementara itu, Elia dan yang lainnya memandangnya benci. Amarah berkobar dari mata mereka dan ekspresi mereka mengeras.
"Kau hanya sendirian. Meski kau adalah seorang pria dan kami adalah wanita, memangnya kau bisa melawan kami semua?" tanya Elia.
"Siapa yang bilang? Selagi kita berbicara, para penjaga lainnya sedang menuju kemari. Apa kalian tidak mendengar langkah kaki mereka?"
Karena kalimat pria itu, mereka mulai menyadari langkah kaki yang kian mendekati.
"Si*lan!" umpat Elia.
...—————•••—————...
Daftar wanita yang berasal dari ruangan 110 :
Laquitta Grizelle / Itta
Isni
Elia
Hela
Zora
Killa
Lesya
Oldia
Riana
Izume
Yilse (DIJUAL)
Tasha (DIJUAL)
Shia (DIJUAL)
Devia (DIJUAL)
Avira (DIJUAL)