MOHON UNTUK TIDAK LONCAT-LONCAT KETIKA MEMBACA KARENA BERPENGARUH TERHADAP RETENSI!
Demi membiayai pengobatan sang mama, Eleanor (23 tahun) rela menjual keperawanannya pada seorang pria kaya raya bernama Andrew Kingston (30 tahun). Akan tetapi, pengorbanannya sia-sia, mama tercinta meninggal usai menjalani operasi transplantasi jantung.
Hidup sebatang kara membuat Eleanor pergi meninggalkan tanah kelahirannya dengan harapan dapat membuka lembaran hidup baru. Namun, siapa sangka dia dipertemukan kembali dengan Andrew yang tak lain adalah CEO di perusahaan tempatnya bekerja.
Akibat sering bertemu, tumbuh benih cinta di antara keduanya. Namun, akankah cinta itu berlanjut ke pelaminan sedangkan status sosial antara mereka terbentang luas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja_90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Budak Ranjang Tuan Kingston
Tepat pukul dua belas malam, dua pebisnis sukses di bidang telekomunikasi berjalan beriringan keluar gedung bangunan tiga lantai. Tercium aroma pekat alkohol di mulut masing-masing, baik Andrew maupun Preed tengah dalam kondisi mabuk. Beruntungnya ada asisten kepercayaan masing-masing yang begitu sigap menuntun para atasan mereka agar tidak tersungkur atau menabrak tembokan saat berjalan.
"Tuan Andrew, malam ini saya sangat puas sekali. Pesta kecil-kecilan yang kamu siapkan benar-benar membuat saya puas. Terima kasih," tutur Preed bersungguh-sungguh. Kendati dalam keadaan setengah sadar, tetapi mulutnya begitu lancar mengucap terima kasih pada rekan kerjanya itu.
Terkekeh pelan Andrew menjawab, "Sudah sepantasnya saya menyiapkan pesta khusus untuk merayakan kerja sama kita berdua, Tuan. Saya pun turut mengucap terima kasih karena Anda bersedia bekerja sama dengan perusahaan saya."
Lantas Andrew melepas rangkulan tangan Alfred di tubuhnya kemudian membungkukan badan di hadapan Preed, sebagai tanda penghormatannya kepada salah satu kliennya tersebut.
Tangan Preed melambai-lambai ke udara. Masih dalam keadaan setengah mabuk dia menjawab, "Berdirilah, tidak perlu membungkukkan badanmu begitu. Kita sama-sama diuntungkan dalam kerja sama ini, jadi tak perlu mengucap ribuan kali kata terima kasih kepadaku."
"Terpenting, tunjukan kerja kerasmu dan buat saya tak menyesal telah bersedia menerima tawaran kerja sama darimu. Mengerti?"
"Mengerti, Tuan."
Preed melirik pada gadis cantik di sebelahnya. Kabut gairah yang sedari tadi terpancar semakin menjadi-jadi dan kini dia tak lagi dapat menahan diri untuk tidak menyentuh bidadari tersebut.
"Sudah larut, saya permisi dulu. Masih ada hal penting yang harus saya kerjakan," katanya seraya mengedipkan sebelah mata.
Andrew mengerti akan bahasa isyarat yang diberikan Preed, lantas menganggukan kepala. Mempersilakan kliennya itu pulang duluan dengan membawa Rein--wanita penghibur yang malam ini menjadi teman ranjangnya.
"Alfred, apa kamu sudah minta sopir datang ke sini?"
"Sudah, Tuan, sebentar lagi Pak Jun datang ke sini," sahut Alfred. Tangan pria itu terus memegangi badan Andrew sementara Eleanor hanya memperhatikan tingkah laku kliennya dari jarak tidak terlalu jauh.
Tak lama berselang, sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka. Jun, sopir pribadi Andrew selama berada di Jepang segera turun kemudian membuka pintu kursi penumpang.
"Nona Eleanor, silakan masuk. Duduklah di belakang bersama Tuan Andrew."
"Eh, iya. Baik, Tuan." Masuklah Eleanor ke dalam mobil, duduk di kursi sebelah Andrew.
Duduk bersebelahan di dalam Maybach menuju apartemen tempat Andrew menginap, Eleanor tak banyak berbicara. Dia memilih memandangi pemandangan indah kota Tokyo pada malam hari. Gemerlap lampu serta hilir mudik penduduk setempat menjadi hiburan tersendiri bagi Eleanor ketika rasa gugup mulai merasuki jiwa.
'Akankah malam ini kulepas kesucian yang kujaga selama ini? Oh Tuhan, bagaimana ini? Aku belum siap untuk menyerahkan mahkotaku pada pria asing yang baru saja kukenal.' Eleanor meremas telapak tangannya dengan gugup. Dadanya berdebar kencang. Paras Andrew memang tampan, dia tak menampik itu. Namun, untuk bercinta dengannya tidak ada dalam kamus hidupnya sama sekali.
"Siapa namamu?"
Suara magnetis berhasil mengalihkan perhatian Eleanor dari pemandangan indah di sebelahnya.
Tanpa menoleh ke arah Andrew, Eleanor menjawab, "Eleanor Ishikawa, Tuan."
"Usia? Dan sudah berapa lama kamu bekerja dengan Shizuka? Sebelumnya apa kamu pernah bekerja di bidang yang sama?" cecar Andrew mengintrogasi partner ranjangnya malam ini.
Eleanor semakin kencang meremas telapak tangannya. Jantung gadis itu memompa jutaan kali lipat ketika tatapan mata Andrew tajam mengarah kepadanya. Meskipun pencahayaan minim, hanya bersumber dari cahaya lampu di luar saja, ia dapat merasa jika sepasang mata elang tengah menatap tajam ke arahnya.
"Dua puluh tiga tahun. Saya baru malam ini bekerja di tempat Mommy Shizuka. Sebelumnya saya bekerja sebagai pelayan di salah satu restoran di kota sebelah."
Andrew yang tengah dalam pengaruh alkohol refleks menoleh ke arah Eleanor. Kedua alis pria itu naik ke atas seraya menatap penuh tanda tanya.
"Jadi ini pertama kalinya kamu melayani seseorang, begitu?"
"I-itu ... s-saya .... Benar, Tuan. Tuan adalah pelanggan pertama saya," jawab Eleanor lirih, tetapi dapat didengar Andrew bahkan Alfred dan Jun sekalipun.
Andrew tertawa terbahak mendengar kenyataan yang baru saja Eleanor katakan. Seumur hidup baru kali ini mendengar seseorang mengatakan jika dirinya masih perawan sementara mereka tinggal di negara yang mempunyai pemikiran terbuka.
"Omong kosong. Mana ada gadis yang masih perawan di zaman modern begini. Nona Eleanor, kalau mau bergurau lihat lawan yang kamu ajak bercanda, jangan orang berpangkat tinggi dan berwawasan luas seperti saya, kamu bohongi." Kepala Andrew menggeleng, tak percaya jika partner ranjangnya kali ini masih perawan.
Refleks Eleanor mengangkat kepala hingga matanya yang sipit beradu pandang dengan sepasang mata biru milik Andrew. "Demi Tuhan, saya tidak sedang berbohong, Tuan. Saya benar-benar belum pernah bercinta dengan siapa pun. Baru kali ini saya melakukannya dan itu dengan Anda."
"Are you kidding me? Come on, katakan saja yang sebenarnya, saya tidak akan marah hanya karena kamu pernah melakukan hubungan badan sebelumnya. Saya tidak masalah jika dirimu sering gonta ganti pasangan, selama tubuhmu sehat, tidak berpenyakitan maka saya bisa menerimanya."
"Sungguh, saya berkata jujur, Tuan. Mommy saya berpikiran terbuka dan modern, tapi dia masih sangat konvensional. Saya tidak diperbolehkan berhubungan dengan seseorang yang bukan merupakan pasangan. Katanya, bercinta akan lebih nikmat dirasa jika dilakukan dengan pasangan yang mencintai dan dicintai kita. Oleh sebab itu, hingga seusia ini saya berpegang teguh dengan pendirian itu. Saya ingin melakukannya dengan seseorang yang saya cintai."
Tertegun, Andrew kehabisan kata-kata. Masih tidak percaya jika pemuas napsunya malam ini masih bersegel.
'What the fucck! Mimpi apa aku semalam bisa mendapat partner ranjang masih perawan. Biasanya wanita yang disodorkan Shizuka sudah tak bersegel, tapi kenapa kali ini berbeda? Pantas saja harga yang disodorkan Shizuka cukup tinggi, rupanya dia belum pernah terjamah oleh siapa pun.' Andrew bermonolong.
Berdehem sebentar kemudian berkata, "Lantas, kenapa kamu mau menggadaikan kehormatanmu sementara kamu ingin melakukannya dengan pasanganmu. Apa karena kamu terlilit utang hingga rela menjadi anak buah Shizuka?"
Eleanor mengulum bibir karena ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah menceritakan semua permasalahannya pada pria asing yang baru dikenalnya ini? Sungguh, ia dalam kebingungan saat ini.
"Jawab! Kenapa hanya diam, apa kamu sariawan?" seru Andrew tidak sabaran.
Ingin rasanya Eleanor menangis setiap kali teringat akan masalah yang tengah menghampirinya sekarang. Namun, ia tak mau dianggap lemah oleh orang sekitarnya.
"Itu semua karena saya membutuhkan uang banyak, Tuan. Mommy dirawat di rumah sakit dan harus dioperasi sementara saya tidak punya banyak uang untuk melakukannya. Karena itulah saya terpaksa menjajakkan tubuh ini dengan harapan bisa mendapat uang sebanyak-banyaknya."
Kepala tertunduk ke bawah. Dada Eleanor benar-benar sesak hingga membuatnya tak dapat bernapas dengan baik. Satu per satu lelehan air mata berjatuhan, membasahi kedua pipi.
Sementara itu, Andrew membeku di tempat. Pria itu cukup terkejut akan alasan yang melatarbelakangi Eleanor sampai mau menjadi wanita penghibur.
'Cukup tragis kisah hidupnya. Bagaimana bisa gadis semuda ini memikul beban berat di pundaknya.'
Terjadi keheningan beberapa saat. Baik Eleanor maupun Andrew sama-sama terdiam. Demikian dengan Alfred dan Jun, dua pria itu mengunci rapat mulut mereka dan menulikan telinga, seakan tak mendengar percakapan apa yang terjadi di kursi penumpang sana.
"Nona Elea?"
Dengan bibir gemetar Eleanor menjawab, "Ya, Tuan."
"Saya bisa membantumu menanggung semua biaya rumah sakit dan persiapan operasi Mommy-mu sampai dia benar-benar sembuh, tapi saya akan mengajukan satu syarat sebagai kesepakatan kita. Bagaimana, apakah bersedia menerima tawaran saya?"
Entah mendapat ide dari mana, tiba-tiba saja bibir Andrew mengatakan hal demikian. Mendengar kemalangan menimpa gadis di sebelahnya, membuat hatinya terketuk untuk membantunya. Meskipun ada syarat yang ia ajukan, setidaknya ia dapat meringankan sedikit beban hidup Eleanor.
"Syarat apa, Tuan?" tanya Eleanor penasaran.
"Jadilah budak ranjangku, jangan pernah biarkan ada pria lain menyentuh tubuhmu. Saya janji akan memberi imbalan berkali-kali lipat dari upah yang diberi Shizuka asalkan kamu mau jadi satu-satunya teman tidur saya ," kata Andrew dengan penuh kesungguhan.
...***...