•Disarankan untuk membaca setidaknya sampai ch.6 sebelum pindah ke novel lain!
Dua orang putri dari Kekaisaran Elgion telah lama terkenal karena mereka tidak pernah mendapatkan tunangan.
Untuk itu, tepat setelah hari kelulusan kedua nya, seorang Ksatria yang menyandang gelar terkuat dan tak terkalahkan - Zone Kursdizt - pun di beri tugas untuk mendidik keduanya agar dapat menemukan pasangan yang layak bagi keduanya oleh sang Permaisuri.
Sementara dirinya masih harus menjaga kondisi perang yang memanas di perbatasan Kekaisaran, Zone harus mengawasi kedua putri yang eksentrik.
Bagaimanakah kisah Zone sang Kesatria terkuat dalam menangani semua masalah yang datang mengancam kedamaian Kekaisaran? Yuk, ikutin terus novel ini!
#Karya orisinil ku sendiri. NO COPY DAN PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aze07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08. Bebal atau jenius, mana yang lebih baik?(2)
"Jadi, itu alasan mu datang kepada ku?"
"Benar, Nyonya."
Di dalam ruang kerja Amertha yang ada di Emperor's Harem mansion, Zone menghadap dengan sang Permaisuri atas permasalahan dari kedua putri nya yang saat ini tengah ada di bawah pengawasan Zone.
"Sementara saya tidak mengerti apa yang sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh Nona Lizzebeth, sepertinya Nona Lumina berpikir bahwa dia sudah tak memerlukan didikan tambahan lagi."
Sejak awal, itu bahkan dipertanyakan mengapa Permaisuri memilihku untuk mengajar kedua putri ini, mengingat mereka secara teknis sudah terpelajar, pikir Zone ketika dia menunggu jawaban dari Amertha.
Karena Amertha menutupi sebagian besar wajahnya dibalik kipas, Zone tidak dapat membaca ekspresi wajah nya. Namun, alih-alih memberikan jawaban yang Zone inginkan, Amertha malah mengajukan pertanyaan nya sendiri. "Kebetulan, bagaimana kedua putriku menurut dirimu?"
Zone sempat bingung karena pertanyaan sang Permaisuri, tetapi Zone langsung meminta penjelasan lebih lanjut untuk pertanyaan ini. "Untuk lebih spesifik, apakah saya harus menjawab dari sudut pribadi, atau..."
Mengerti maksud Zone, Amertha berkata, "Tentunya, secara pribadi. Dari karakter, serta bakat keseluruhan keduanya. Tidak perlu ragu, katakan saja secara sejujur-jujurnya tentang kesan mu atas si kembar."
Cara Amertha yang lembut dalam mengatakan nya sangat membantu Zone untuk merilekskan dirinya. Mengingat-ingat kembali tentang kedua putri yang menjadi anak didik nya selama satu bulan belakang ini, Zone menjawab dengan sejujur-jujurnya sesuai dengan apa yang Amertha pinta.
"Untuk Nona Lizzebeth, saya pikir dia adalah seorang gadis cantik yang anggun dan tenang seperti halnya anda, Nyonya. Namun..." Kata-kata Zone menarik minat Amertha, tetapi diakhir, Zone cukup kesulitan untuk melanjutkan kata-katanya. "Bagaimana aku harus mengatakan nya... Unik? Ya, saya kira Nona Lizzebeth cukup unik. Alih-alih tenang atau anggun, saya rasa Nona Lizzebeth lebih ke tidak memikirkan apapun menurut saya. Terkadang, dia bahkan hanya terdiam dengan wajah kosong seolah jiwanya telah pergi dari tubuhnya. Namun meski begitu, untuk beberapa alasan, nilai Nona Lizzebeth sebenarnya cukup tinggi terlepas dari semua keunikan nya. Walau jarang, dia bahkan dapat melampaui nilai Nona Lumina dalam hal akademis. Dengan kata lain... Dia adalah gadis yang aneh."
Zone ragu-ragu untuk mengucapkan kata-kata terakhirnya, tetapi karena sang Permaisuri itu sendiri yang menyuruhnya, Zone pun mengatakan kesan jujurnya atas Lizzebeth.
Amertha tidak mengatakan apapun secara khusus untuk itu. Amertha entah kenapa hanya menatap Zone dengan tatapan hangat, lalu menyuruh nya untuk melanjutkan ke kesannya pada Lumina.
"Dia jenius. Saya sangat yakin untuk itu. Dalam semua mata pelajaran, baik sihir ataupun bela diri, Nona Lumina sangatlah berbakat. Dia terkadang memberi ku citra misterius yang seolah meyakinkan diriku bahwa dia dapat melakukan apapun yang ia inginkan." Setelah jeda sesaat, Zone melanjutkan."Namun, mungkin karena betapa berbakat nya dirinya, Nona Lumina menjadi memiliki kebiasaan untuk menggunakan kata-kata yang seolah merendahkan orang lain. Dan karena dia memanglah seberbakat itu, itu memperburuk efek dari kata-kata nya. Dari pengamatan saya sendiri, Nona Lumina sepertinya tidak pernah melakukan kontak dengan satupun teman - atau dia bahkan tidak pernah memiliki nya sejak awal. Juga, Nona Lumina sepertinya menyukai buku dan membaca. Dia bahkan sepertinya sudah mulai tertarik untuk menulis buku seperti novel dengan sendirinya."
Setelah Zone selesai dengan penjelasannya, Amertha menggulung kipas miliknya. "Aku mengerti. Selain kemampuan mu sebagai Ksatria yang mengesankan, sepertinya kemampuan pengamatan mu juga tak kalah, ya."
Mengira itu adalah pujian, Zone menundukkan kepalanya. "Terimakasih banyak."
Setelah itu, Amertha mengalihkan pandangannya kearah jendela ruangan dan tidak mengatakan apapun untuk sementara waktu hingga akhirnya, dia kembali menoleh kearah Zone. "Kuberi kau hari libur selama seminggu. Selama itu, ajaklah kedua putri ku untuk berjalan-jalan di sekitar kota dan menikmati musim dingin di perkotaan alih-alih hanya mengurung diri mereka di dalam istana."
Itu adalah, solusi yang diberikan oleh Amertha untuk masalahnya. Entah ini akan efektif atau tidak, Zone masih bertanya-tanya. Namun, itu juga bukan berarti bahwa dia bisa melawan perintah dari seorang Permaisuri.
"Kalau begitu, pada besok lusa, saya akan mengajak kedua nya untuk berkeliling Ibukota."
"Bukan besok?"
"Saya butuh beberapa istirahat."
"Masuk akal."
Dengan itu, Zone pun membungkuk sebentar kearah Amertha, lalu mulai berjalan keluar ruangan. Namun, Amertha menghentikan Zone sebelum itu. "Tolong jaga Putri-putri ku yang manis, Zone Kursdizt," pinta sang Permaisuri sebelum Zone akhirnya benar-benar pergi dari ruangan itu.
***
Setelah menghabiskan satu hari penuh dengan hanya bermalas-malasan di mansionnya dan dilayani oleh Marie si pelayan, Zone sekarang sedang berjalan-jalan di Ibukota dengan pakaian kasual dan pedangnya.
"Ibukota sangat menarik."
"Hmph, apa? Jadi kau pun seperti itu? Apakah kau berniat untuk mengincar kami sejak awal?"
Seperti yang terlihat, putri kembar: Lizzebeth dan Lumina, juga bersama dengan Zone hari ini.
Zone menoleh ke arah kedua gadis itu, "Ibu kalianlah yang menyuruhku untuk membawa kalian mengelilingi kota hari ini."
"Tunggu, kenapa kau seenaknya berbicara informal kepada kam-" Sebelum Lumina dapat memprotes cara Zone berbicara kepada mereka yang berbeda dari biasanya, Zone langsung menutup mulut Lumina.
"Nona - Lumina, kita saat ini sedang menyamar agar tidak ada yang menyadari keberadaan seorang putri yang berkeliaran dengan minim pengawal hari ini. Jadi, sebaiknya kamu juga mengikuti sandiwara ini jika tidak ingin beberapa bajingan menculik dan mencari masalah pada mu." Setelah mengatakan itu dengan nada serius pada Lumina, Zone pun melepaskan tangan yang dia gunakan untuk menutup bibir Lumina.
Wajah Lumina sedikit memerah karena Zone terlalu mendekatkan wajahnya selama memperingatkannya, tetapi dia menyembunyikan rasa malunya dengan batuk palsu. "A-aku mengerti."
"Kau tidak perlu mendekatkan wajahmu sampai seperti itu juga kan... Kukira aku akan di..." Mengalihkan pandangannya, Lumina mulai bergumam sambil melihat ke bawah.
Disisi lain, putri yang satunya sepertinya cukup menikmati jalan-jalan ini. Ketika Zone menemukannya, Lizzebeth sudah berbicara dengan akrab dengan seorang gadis kota dan mereka mulai berjalan ke suatu tempat.
Karena khawatir akan kehilangan jejak mereka, Zone menggenggam tangan Lumina, lalu menariknya untuk mengikuti Lizzebeth dan teman gadis nya ini.
"S-siapa gadis itu?" Ketika Zone dan Lumina bersembunyi dibalik bangunan dan mengamati Lizzebeth dan teman nya yang sedang berbicara dengan cerianya, Lumina yang tak dapat menahan rasa penasaran nya menjulurkan lehernya untuk mendapatkan visi lebih baik. Dia bahkan mendorong wajah Zone menjauh untuk itu.
Zone juga penasaran dengan hubungan keduanya, jadi Zone mendorong kepala Lumina kebawah dan memaksa Lumina untuk berjongkok agar dia juga dapat melihat.
"T-tunggu - akh!?"
"Aku tidak tau. Tapi... Mereka sepertinya sudah saling kenal." Melihat keduanya, Zone menyimpulkan seperti itu.
"Guh!" Lumina menyingkirkan tangan Zone dari kepalanya. Wajahnya berkerut kesal, dan dia juga benar-benar ingin segera mengeluh dan menghukum ksatria yang kurang ajar ini. Namun, dia mengesampingkan masalah itu karena hubungan antara saudari nya dan gadis ini lebih penting bagi dirinya yang... Yah, cukup suka sendiri.
"Kenalan? Sebagai seorang putri, kami seharusnya tidak pernah memiliki kesempatan untuk bahkan pergi ke kota tanpa pengawal..." gumam Lumina, tidak mempercayai hipotesis Zone.
Ngomong-ngomong, dengan suatu alat sihir, rambut kedua putri telah diubah menjadi warna hitam untuk Lizzebeth dan coklat gelap untuk Lumina. Ini untuk tambahan penyamaran selain pakaian gadis kota yang saat ini sedang mereka berdua kenakan.
"Mareka pergi ke sebuah toko."
"Ah! T-tunggu...!"
Melihat sosok Lizzebeth dan teman nya yang berjalan diantara kerumunan lalu berhenti di depan sebuah toko yang sepertinya adalah toko pakaian, Zone pun menarik Lumina untuk mendekat.
"Hmm. Mereka secara normal berbelanja..." Zone mengintip dari balik jendela, mengamati apa yang Lizzebeth dan teman nya lakukan di dalam.
"Apa yang kalian lakukan?"
"Uweh?!" Sementara itu, Lumina yang diseret oleh Zone ditanyai oleh salah seorang pejalan kaki. Pejalan kaki itu memberikan pandangan curiga pada Lumina dan Zone karena bertindak aneh di depan sebuah toko.
"E-Em... K-kami berdua... Anu... Eh..." Bahkan sang jenius Lumina pun tidak dapat menemukan satu kata pun untuk menghindari situasi tersebut.
"Jangan-jangan kalian..." Pejalan kaki yang satu ini benar-benar mulai mencurigai keduanya. Hal ini menular dan mulai membuat pejalan kaki yang lain juga memberikan tatapan curiga pada Lumina dan Zone.
"Kuh...! O-oi, kita harus pergi..." Karena tidak dapat menahan tatapan para pejalan kaki yang menusuk hati penyendiri nya, Lumina berusaha mencari bantuan dari Zone. Namun, ketika tangan nya meraba-raba mencari keberadaan Zone di belakang nya, dia hanya menemukan udara kosong. "EH?!"
"Tidak mungkin..." Lumina melihat kesekeliling, namun dia tidak dapat menemukan sosok Zone dimanapun.
Aku ditinggalkan? Dalam hati, Lumina benar-benar putus asa.
"Kamu." Pejalan kaki yang sebelumnya memegang bahu Lumina. "Bisakah kamu ikut dengan kami sebentar? Prajurit patroli disana sepertinya punya urusan dengan mu."
Ditempat pejalan kaki itu menunjuk kebelakang, Lumina dapat melihat dua orang prajurit ber armor ringan yang sedang berlari kearahnya. Pada titik ini, kerumunan bahkan sudah terbentuk di sekitar Lumina.
"T-tapi... Aku... A-aku tidak..." Diseret beberapa pejalan kaki, Lumina berlinang air mata sementara sosok prajurit semakin mendekat.
"Apakah ini gadis mencurigakan yang dilaporkan? Terimakasih atas kerja samanya."
"T-tidak, kami hanya melakukan hal yang sewajarnya bagi rakyat seperti kami-"
Lumina benar-benar ketakutan pada saat itu. Namun, setelah Lumina bertemu dengan wajah dari prajurit lain selain prajurit yang berbicara dengan pejalan kaki yang menangkapnya, dia benar-benar terkejut. Lumina ingin membuka bibirnya, tetapi prajurit itu - Zone yang mengenakan armor prajurit patroli - mengisyaratkan pada Lumina untuk menutup mulutnya dengan mengangkat satu jari nya didepan bibirnya.
Mengambil Lumina dari para pejalan kaki yang menangkapnya, Zone berbisik ke dekat telinga Lumina. "Sepertinya kita harus lebih berhati-hati dalam mengikuti saudari mu ya, Tuan putri."
"A-ah... Ya..." Karena semua pergantian peristiwa tak terduga berturut-turut, Lumina bahkan lupa untuk bertingkah sombong dan hanya memberikan tanggapan lemah dengan anggukkan.
Seperti itu, Lumina pun dibawa oleh Zone yang menyamar sebagai prajurit patroli dan prajurit kenalan Zone ke pos prajurit. Tentunya, tak lama kemudian, mereka berdua pun kembali lagi untuk mengikuti Lizzebeth. Hanya saja, dengan tambahan kewaspadaan.