Kisah seorang mahasiswi, berasal dari keluarga berada dan di jodohkan paksa dengan seorang pengusaha muda tampan dan berbakat. Namun sayangnya mereka tidak saling mencintai, hingga akhirnya beberapa peristiwa membuat hubungan keduanya berubah setelah kehadiran orang ketiga...
Akan kah keduanya saling mencintai, atau semakin membenci...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom mimu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08.
Selama di perjalanan, kedua anak adam tersebut sama-sama bergeming. Tak seorang pun dari mereka yang berniat memulai percakapan. Hingga tak terasa, mobil yang di kendarai Devin berhenti di sebuah basemen apartemen.
"Kenapa berhenti di sini? kamu mau menjemput dulu kekasihmu itu, ya?" Tanya Lulu buka suara.
Devin menggelengkan kepalanya, pria itu malah mengacuhkan pertanyaan Lulu dan bergegas turun dari mobilnya.
"Ayo turun!" Seru Devin.
"Sebenarnya kita mau kemana, sih? bukannya kamu bilang mau dinner, ya?" Tutur Lulu yang tak urung keluar juga dari mobil Devin.
"Jangan cerewet, cepat ikut aku! kau jangan banyak bertanya terus!" Ketus Devin seraya berjalan mendahului Lulu.
Keduanya berjalan menuju sebuah lift. Setelah menekan angka untuk menuju lantai tujuannya, Devin memainkan ponselnya tanpa menghiraukan kehadiran Lulu di sampingnya.
"Dasar pria aneh! mau apa, sih dia bawa aku ke sini?" Batin Lulu bermonolog.
Sampai di depan sebuah pintu, Devin menekan tombol yang Lulu yakini sebagai kata sandi pintu apartemen tersebut.
Click...
"Sebaiknya kamu istirahat di kamarku saja! jangan sampai saat kekasihku kemari nanti, dia melihat kamu dan curiga padaku!" Ucap Devin seraya menunjuk kamarnya dan menggulung lengan kemejanya hingga ke sikut.
"Cih! siapa juga yang mau ganggu orang aneh macam kamu! dasar, GR!" Sahut Lulu seraya melenggang masuk ke arah kamar yang Devin tunjuk.
Brak...
"Astaga, dia bisa merusak pintunya jika seperti itu!" Gerutu Devin.
Tak berselang lama, ponsel Devin berdering dan menunjukkan sebuah nama yang dia tunggu-tunggu. Setelah mengakhiri sambungan teleponnya, Devin memutuskan membuat makanan untuknya dinner bersama sang kekasih.
"Hai, sayang! apa aku membuatmu menunggu lama?" Ucap seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam apartemen Devin.
"Tentu saja tidak, aku juga baru selesai membuat makanan untuk kita! ayo kita cicipi bersama!" Seru Devin menggiring sang kekasih ke arah balkon apartemennya.
"Ya Tuhan, romantis sekali! apa kamu mempersiapkannya untukku, Vin?" Ucap wanita tersebut yang tak lain Thalita, sang kekasih masa kecil Devin, yang baru saja kembali dari luar Negeri.
"Tentu, apa kamu menyukainya?" Tanya Devin seraya menggeser kursi untuk Thalita duduk.
"Aku sangat menyukainya, Vin! terimakasih, ya!" Ucap Thalita seraya menyentuh tangan Devin yang memegangi pundaknya.
"Kalau begitu kita makan sekarang, ya!" Seru Devin memulai dinner mereka.
Di dalam kamar.
"Ya Tuhan, ternyata pria aneh itu membawa ku ke sini hanya untuk mengurungku, ya? hu... untung di sini masih ada jendela yang memperlihatkan pemandangan Kota, aku jadi sedikit terhibur!" Gumam Lulu seraya memandangi pemandangan Kota kecilnya yang terlihat cantik dengan gemerlap lampu-lampu yang menyala.
"Sampai kapan aku harus menunggu dia di sini? hoam... aku jadi ngantuk, sebaiknya aku tidur dulu saja, deh! pria itu tidak akan berani macam-macam, kan?" Gumam Lulu seraya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Tak berselang lama, alam mimpi pun menyapa Lulu. Tanpa Lulu sadari seseorang memasuki kamar tersebut. Dan tanpa ragu juga, seseorang itu menjatuhkan raganya di atas tempat tidur yang sama. Sebelumnya, Lulu memang mengganti lampu kamar tersebut menjadi lampu temaram. Sehingga keadaan kamar tersebut menjadi remang-remang dan tak begitu jelas memperlihatkan isi kamar tersebut. Tujuannya hanya satu, jika kekasih Devin suatu saat memasuki kamar tersebut, Lulu tidak akan mudah di ketahui dengan pencahayaan yang minim.
"Kenapa kasurnya sedikit berbeda? apa Devin tidak merawatnya dengan benar, ya? dasar bujang lapuk!" Gumam seseorang tersebut seraya menyalakan lampu terang di dalam kamar tersebut.
Trek...
"Astaga! kenapa Devin bisa menyembunyikan gadis... seimut ini!" Ucap Luis, sahabat Devin.
Di tatapnya wajah polos Lulu yang tengah pulas memejamkan mata. Entah mengapa, hati Luis menjadi bergetar saat melihat wajah Lulu yang begitu imutnya itu.
"Aih! gadis ini benar-benar menggoda, aku jadi ingin menciumnya!" Gumam Luis seraya mendekatkan wajahnya ke arah wajah Lulu.
Belum sempat Luis mendaratkan ciumannya, Lulu ternyata tengah terbangun dan begitu terkejut dengan wajah asing yang mendekati ceri merahnya. Tanpa ambil pusing, Lulu pun membekap mulutnya sendiri serta berteriak dan memberontak.
"Aaaaaa!" Jerit Lulu di balik bekapan mulutnya sendiri. Untungnya kamar tersebut juga kedap suara, sehingga tak dapat terdengar ke luar ruangan.
"Hei, tenang-tenang! aku hanya ingin... emm... aduh, dasar bibir kurang ajar! kenapa aku bisa nekad seperti ini, sih?" Rutuk Luis memukul bibirnya sendiri.
"Ka...kamu, kenapa kamu masuk ke kamarku?" Cecar Lulu yang belum sepenuhnya sadar jika dirinya tengah tertidur di kamar Devin.
"Haist! kamu pikir, aku tau kamu tidur di sini? oh iya, dari pada kita berantem gak jelas, lebih baik kita berkenalan saja! namaku Luis, aku sahabatnya Devin. Pemilik kamar apartemen ini!" Luis menekankan ucapan terakhirnya, yang ternyata bisa membuat Lulu langsung tersadar sepenuhnya.
"De...Devin? astaga, benar juga! sepertinya aku tertidur cukup lama, ya?" Gumam Lulu yang masih bisa di dengar oleh Luis.
"Kamu sudah menyadarinya, ya? sekarang giliran kamu yang memperkenalkan diri! siapa namamu?" Tutur Luis.
"A...aku Lulu, emm... apa kekasih Devin sudah pulang?" Tanya Lulu.
"Kenapa kamu bisa tau kalau Devin membawa kekasihnya? jangan-jangan kamu selingkuhan Devin, ya?" Sarkas Luis yang langsung mendapat cubitan menyakitkan di lengannya.
"Adududuh! sakit, tau! haduh, kamu ini tampang saja yang imut, tapi ternyata kelakuannya amit-amit!" Rutuk Luis.
"Masa bodo! suruh siapa menuduh orang sembarangan! heh, asal kamu tau ya! aku ini gadis baik-baik, tidak seperti wanita yang Devin anggap kekasihnya itu, mau-maunya dia di bawa ke apartemen seorang pria yang belum jadi suaminya!" Gerutu Lulu seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Hei Nona terhormat, jika Thalita bukan wanita baik-baik, lantas wanita seperti apa dirimu ini! kamu bahkan sudah tidur di atas kasur Devin," Ucap Luis tak habis pikir.
"Aku, aku sih beda! aku kan cuma di paksa dia untuk menunggu di sini! lagi pula aku dan Devin hanya sedang berkompromi! iya benar, kami berdua hanya sedang berkompromi." Gugup Lulu.
"Haist! sudahlah, sebaiknya aku keluar saja! apa kamu mau ikut! atau kamu mau menunggu Devin yang datang kemari!" Goda Luis.
"Mana ada? aku ikut kamu keluar, deh! lagi pula, aku juga harus cepat-cepat pulang, sekarang!" Ucap Lulu seraya beranjak.
"Hm, benar-benar gadis yang unik!" Batin Luis.
"Hei, kenapa kamu menatapku seperti itu? kamu jangan berpikir yang macam-macam, ya!" Tegur Lulu seraya menudingkan jari telunjuknya ke arah wajah Luis.
"Hm... sudahlah! ayo kita keluar!" Seru Luis tak mau berdebat dan menarik pergelangan tangan Lulu.
"Hei! lepas! jangan menarik ku sembarangan, ya!" Ucap Lulu seraya berusaha melepaskan tangan Luis yang menggenggam tangannya.
"Di luar masih ada Thalita! kamu pikir aku tidak tau kalau kamu dan Devin sudah di jodohkan?" Ucap Luis tiba-tiba.
"Da...darimana kamu tau?" Tanya Lulu terbata.
"Aku ini sahabatnya, Devin! cerita mana lagi yang belum aku tau tentang dia?" Sahut Luis.
Keduanya masih berdiri di dekat pintu kamar Devin dan saling bergeming sesaat.
Flash back start.
📞 "Vin, gue mau mampir ke apartemen elo, ya! gue baru aja pulang dari..." Ucap Luis tercekat lewat sambungan telepon.
📞 "Gak bisa! gue lagi dinner sama Thalita sekarang! elo lain kali aja mampirnya!" Tolak Devin.
📞 "Thalita? dia udah balik, Vin?" Tanya Luis.
📞 "Iya, dia baru aja datang seminggu yang lalu, jadi Elo jangan ganggu gue sama dia, ya!" Tutur Devin seraya memutuskan sepihak sambungan teleponnya.
"Thalita balik kampung? terus perjodohannya? astaga, apa Devin berniat poligami, ya? ini gak bisa gue biarkan!" Gumam Luis seraya melajukan kendaraannya lebih cepat menuju apartemen sang sahabat.
Tiba di apartemen Devin, Luis segera menghampiri pasangan kekasih yang tengah melepas rindu tersebut. Awalnya Luis hendak bertanya langsung pada Devin. Namun niatnya itu harus dia tahan hingga Thalita pergi sesuai permintaan Devin.
"Vin, gue numpang istirahat di kamar elo, ya!" Ucap Luis seraya bergegas ke kamar Devin
"Jangan? elo pakai kamar sebelahnya aja!" Cegah Devin.
"Kenapa? gue gak terbiasa pakai kamar yang jarang di isi, Vin! Elo tau sendiri, kan kalau gue alergi debu!" Sahut Luis.
"Sudahlah, Vin! biarkan saja Luis beristirahat di kamar kamu! dia pasti sangat lelah sekarang!" Ucap Thalita.
"Ha... baiklah! tapi elo gak boleh macam-macam di kamar gue, ya!" Seru Devin mengalah.
"Sialan! semoga aja gadis bar-bar itu gak buat masalah dengan Luis!" Batin Devin.
"Ok!" Sahut Luis seraya melanjutkan melangkah menuju kamar Devin.
Flash back done.
"Apa kalian sedekat itu? jika benar, apa Devin benar-benar mencintai kekasihnya?" Cecar Lulu.
"Mereka sudah bersama-sama sejak kecil. Jadi, aku rasa Devin pasti sangat sulit untuk melupakan Thalita, meski beberapa bulan ini Thalita meninggalkannya ke luar Negeri, tapi Devin selalu menunggunya dengan setia dan tak pernah berpaling!" Tutur Luis.
"Kalau dia begitu mencintai kekasihnya, kenapa dia mau di jodohkan denganku?" Tanya Lulu, entah mengapa hatinya sedikit sakit setelah mendengar cerita Luis yang memberitahukan kisah Devin dan kekasihnya.
.
.
.
.
.
Like, komen, gift, dan votenya jangan lupa ya guys, see you next bab... 😘
3 like mendarat buatmu thor. semangat ya.