Ryana menikah dengan Dipta Narendra karena dijodohkan. Cinta tumbuh seiring berjalannya waktu.
Sampai pada suatu malam, Ryana merasakan seseorang naik ke atas tempat tidurnya. Ia mengira sosok tersebut adalah Dipta, suaminya. Mereka menghabiskan malam yang panas.
Malam telah berlalu, Ryana terbangun dari tidurnya dan mendapati lelaki yang tidur di sampingnya bukan lah suaminya, melainkan Barra Kakak iparnya.
Karena kesalahan yang telah mereka perbuat, Ryana dan Barra sepakat untuk melupakan malam itu.
Tidak mudah bagi Barra untuk melupakan malam panasnya dengan Ryana. Ia selalu teringat oleh Adik iparnya itu.
Barra selalu mendekati Ryana, tapi wanita itu selalu menghindar dan menjaga jarak dengan Barra.
Ryana menghormati Dipta sebagai suaminya, walaupun ia selalu mendapatkan perlakuan kasar dari Dipta dan Barra lah yang selalu membela Ryana.
Sampai pada akhirnya Ryana mengetahui perselingkuhan antara Suaminya dan wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faustina Maretta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Ryana, Barra dan Gea sudah kembali ke mansion pada siang hari. Kakek Narendra menyambut mereka bertiga, dibelakangnya juga ada suami Ryana. Dipta membantu membawakan koper Ryana.
"Jam tangan kamu baru ya?" ucap Ryana sambil memegang tangan suaminya.
"E-eh iya, hadiah dari klien," jawab Dipta.
"Wow, ini mahal loh, jangan kecewakan klienmu," ucap Ryana.
"Iya Ry, pergilah ke kamar dan beristirahat aku akan kembali ke kantor," perintah Dipta kepada istrinya.
Gea berpamitan kepada keluarga Narendra untuk pulang ke apartment, tapi Kakek menahannya dan menyuruhnya untuk istirahat di mansion. Salah seorang pelayan mengantarkan Gea ke kamar tamu.
Saat Ryana menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, ia mendengar suara ketukan pintu. Ia bangkit berdiri dan membuka pintu. Wajah Gea muncul dari balik pintu.
"Ayo makan siang di luar," ajak Gea.
Sebenarnya Ryana agak malas untuk keluar rumah, tapi ia tidak ingin mengecewakan Gea. Akhirnya mereka pergi ke salah satu restoran mewah di pusat kota. Ryana memarkirkan mobilnya di lahan parkir. Matanya menangkap sebuah mobil yang ia kenal.
"Seperti mobil Febby," gumannya sendiri.
Gea yang mendengar ucapan Ryana langsung menolehkan kepalanya pada sebuah mobil sedan berwarna putih.
"Temanmu?" tanya Gea sembari mengaca membenahi rasanya.
"Iya, sekretarisnya Dipta," ucap Ryana.
Ryana mempercepat langkahnya masuk ke dalam restoran. Ia melihat kanan kiri untuk mencari keberadaan sahabatnya. Gea heran melihat Ryana yang seperti sedang mencari sesuatu.
"Hai, sedang apa kalian di sini?" tanya Ryana saat sesudah menemukan Febby yang ternyata sedang duduk makan bersama dengan suaminya.
Ryana melihat suaminya dan Febby memakai jam tangan yang sama. Ia hanya menganganggukkan kepala saat berkata bahwa mereka baru saja bertemu dengan klien. Gadis itu merasa ada sesuatu yang aneh.
"Mau gabung?" ucap Febby menawarkan agar Ryana dan Gea duduk bersama mereka.
"Kenal Feb, ini Gea calon tunangannya Mas Barra," ucap Dipta. Febby dan Gea saling bersalaman.
"Kita duduk di sana aja, yuk Ry. Selamat bekerja ya," ucap Gea sembari menarik tangan Ryana.
Gea menyadari bahwa gadis di hadapannya sekarang sedang memikirkan hal lain. Sejak tadi Ryana hanya mengaduk-aduk minumannya saja dan tidak semangat untuk mengobrol. Pikiran Ryana penuh dengan pertanyaan., mengapa suami dan sahabatnya memakai jam tangan yang sama? Mana mungkin itu hadiah dari klien, sedangkan jam tangan itu seharga ratusan juta.
"Ry, are you oke?" tanya Gea cemas.
"Ah, it's oke," jawab Ryana datar.
"Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Kamu mau Aku menyelidiki mereka?" tanya Gea.
"Tidak perlu, Aku baik-baik saja," ucap Ryana.
Sebenarnya Ryana ingin Gea menyelidiki suaminya, tapi dia merasa bisa mengatasinya sendiri.
***
Barra sedang sibuk dengan kertas-kertas yang membuatnya pusing. Ia menegakkan punggungnya lalu bersandar pada kursinya. Ia meraih ponselnya lalu menelepon Ryana. Danu yang sedang berada di ruangan melihat bos nya tersenyum saat sedang mengobrol dengan Adik iparnya ditelepon.
"Sepertinya ada cerita yang belum diceritakan nih," sindir Danu pada bosnya saat sudah mengakhiri teleponnya.
"Tidak perlu Aku ceritakan, pasti kau sudah bisa menebaknya," sahut Barra sambil terkekeh.
Mereka berdua kembali fokus pada pekerjaan. Barra ingin cepat menyelesaikan semua pekerjaannya agar bisa pulang kerumah dan melihat wajah Ryana. Memandang wajah Ryana membuat hatinya tenang.
Jam menunjukkan pukul enam sore, Barra meregangkan otot tubuhnya. Dia berpamitan kepada Danu dan juga Dara. Sahabatnya itu merasa senang sekaligus bingung dengan kondisi percintaannya. Bagaimanapun juga Barra jatuh cinta pada orang yang salah.
Sesampainya Barra di rumah, ia mencari keberadaan Ryana. Barra memutuskan untuk meneleponnya saja.
"Kamu dimana Ry? Kalau bisa datang ke kamarku ya. Aku rindu," ucap Barra tersenyum.
Tidak butuh waktu lama, seseorang mengetuk pintu kamar Barra.
"Kenapa mas?" tanya Ryana saat Barra membuka pintu kamar.
Barra menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang di sekitarnya, setelah itu dia menarik tangan Ryana untuk masuk ke dalam kamar. Barra menutup pintu kamar dan menguncinya. Dia memeluk tubuh mungil Ryana.
Barra mulai menciumi bibir Ryana, tangannya bergerak menyentuh tubuh Ryana.
"Mas, aku belum siap," ucap Ryana saat Barra hendak melucuti pakaiannya.
"Ry, nanggung. Kita udah tau sama-sama salah, apa lagi?" tanya Barra. "Baiklah aku akan menunggumu sampai siap," sambung Barra.
"Maaf mas," lirih Ryana. Barra hanya memeluk Ryana dengan penuh kehangatan.
****
Ryana kembali ke kamarnya, ia mendengar suara keran air menyala. Pertanda bahwa suaminya sedang mandi. Gadis itu merasa ini adalah kesempatannya untuk mencari tahu. Ia mencari ponsel suaminya.
Ponsel Dipta menggunakan password. Ryana mencoba mengkombinasikan beberapa angka, tetapi tidak, berhasil. Tanggal ulang tahunnya pun tidak bisa, bahkan tanggal pernikahan mereka juga tidak bisa. Ryana merasa kesal dan semakin penasaran.
Tiba-tiba ia terpikirkan sebuah angka, dengan ragu ia memasukkan angka-angka itu dan ponselnya berhasil ia buka.
"Sial," gimana Ryana sendiri.
Angka yang ia masukkan adalah tanggal lahir Febby. Dengan cepat jemari Ryana membuka pesan, sepintas ia membaca semua pesan yang ada di ponsel suaminya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat setelah mengetahui isi pesan antara suami dan sahabatnya.
kenapa sih barra lemah banget jadi laki udah tau dipta jahat banget kenapa ngak tegas gitu harusnya dia cari bukti semua kejahatanya dipta dan febby
lagian kenapa barra bisa semudah itu sih memaafkan dipta yg sudah mencelakai ryana
gea penuh misteri