Menceritakan tentang kehidupan rumah tangga Djorghi dan Rara. Djorghi yang pernah disakiti tunangannya dan Rara menyimpan sebuah rahasia besar yang ia sembunyikan termasuk ke para sahabatnya.
Bagaimana mereka menyikapi dan memecahkan segala masalah dalam rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wurikart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Survey Dballroom Bali
Pagi ini aku bangun dengan keadaan segar. Aku merasa memiliki semangat baru. Aneka percakapanku dengan Rara kemarin terngiang satu - satu tadi malam sampai akhirnya aku tertidur.
Sebelum mandi aku menyalakan kettle untuk memasak air panas, jadi saat aku selesai mandi aku tinggal menuangnya ke gelas yang telah aku isi cokelat bubuk.
Tadi malam sebelum kami berpisah di depan pintu kamar, kami sepakat untuk memulai kerja jam 9 pagi. Kami janjian bertemu di restoran saat sarapan.
Jadi aku putuskan kebawah jam 8, sebelumnya aku bisa bersantai dulu menikmati cokelat hangat.
Jam 8 tepat, aku keluar kamarku menuju lantai bawah. Saat masuk restoran, aku sudah melihat Rara dengan penampilannya yang kasual tapi tetap sopan.
Ia mengenakan kemeja pink, celana jins, dan kulihat di meja ada tas ransel Tumi-nya yang sangat kuhafal. Rambutnya, di kucir satu dan dia sisakan beberapa helai dibeberapa bagian. Hhmm terlihat menarik dimataku.
Saat aku menghampiri mejanya, aku disambut senyuman hangatnya. "Pagi Bang. Semoga tidurnya nyenyak ya. Saya seperti orang tewas tidurnya, baru bangun setengah tujuh," katanya.
"Woow, kamu capek banget rupanya ya. Saya bangun jam setengah enam. Tapi ya begitu, males - malesan dulu. Selagi sedikit santai saat ini. Jarang - jarang, saya bisa begini."
"Wah, jadi sekarang kerja sekaligus refreshing ya Bang."
"Iya. Makanya ini kalau bisa kita selesaikan semua hari ini, malam ini dan besok bisa santai. Kamu mau pulang kapan? Besok atau lusa?"
"Hah? Asyik banget boleh milih gitu Bang."
"Iya, karena sampai Jakarta kamu akan kerja bagaikan kuda, Ra."
"Waduh! Tapi saya kerjanya seperti kuda poni loh Bang."
"Hahahahaha. Dasar kamu! Ya sudah, saya ambil sarapan dulu ya."
Setelah sarapan, kami langsung menuju ballroom dan gudang ballroom tempat penyimpanan barang investasi ballroom. Seperti saat di Jogja, Rara merinci kebutuhan yang belum dimiliki ballroom dan mencatatnya.
Disini ada sedikit perbedaan pendapat antara aku dengan Rara, namun dia dengan lihai menjelaskan secara rinci maksud dan tujuan dari pendapatnya. Aku pun akhirnya mengerti dan menerimanya.
Selesai dengan Dballroom Denpasar, kita menuju ke Dballroom Jimbaran. Kami disana menghabiskan waktu sekitar 45 menit. Tidak lama memang, karena Rara sudah memiliki gambaran dari denah yang ku kirim saat di Jogja tempo hari. Begitu sampai, dia langsung mengungkapkan aneka ide yang sudah ia siapkan. Bagiku, ide - ide itu sangat matang. Tambah lagi nilai plus ke sosok staf baruku ini.
Dari pagi sampai siang kami bekerja membahas ballroom yang ada di dua lokasi di Bali. Akhirnya keduanya selesai. Rara siap menyiapkan aneka desain dan konsep untuk klien yang akan menyewa ballroom.
Inilah saatnya refreshing, agar sampai Jakarta aku fresh dan memiliki ide baru untuk kedepannya.
"Ra, kamu mau ke Bali Safari gak?"
"Yang night ya Bang? Yuk! Saya belum pernah Bang," jawabnya jujur.
"Kita ke hotel dulu, terus kita jalan kesana tanpa supir, kita jalan berdua saja, jadi enggak kepikiran orang lain. Gimana menurutmu Ra?"
"Iya boleh Bang. Malah lebih bebas Bang, enggak seperti di mata - matai."
"Hahaha bahasa kamu Ra! Jaga - jaga bawa baju ganti ya sama baju tidur."
"Kita mau nginep Bang disana?"
"Kan Abang bilang jaga - jaga Rara. Kita kan enggak tahu situasinya. Kalau ternyata kita tertarik, ya bisa langsung nginap."
"Tapi saya besok mau berenang deh Bang, boleh enggak?" tanyanya sedikit takut - takut.
"Boleh kok. Kita pulang lusa saja ya. Kan Abang bilang, bayar liburan kamu yang Abang ganggu."
"Bang, makasih banyak ya. Abang baik banget sama Rara. Udah seperti kakak sendiri yang lagi manjain adiknya."
Aku menatap Rara setelah ia mengatakan kalimat itu dan dibalasnya tanpa kedipan. Lalu aku tersenyum tanpa menjawabnya.
Kalimat yang dilontarkan Rara membuatku melambung dan berfikir. Apa iya, sikapku sudah beda sekarang? Biasanya aku adalah sosok yang disegani oleh anak buahku, tapi dimata Rara aku berubah menjadi sosok seorang kakak?
"Yuk, kita ke mobil. Kita ke hotel, terus makan dulu ya di restoran, baru kita ke kamar, siap - siap," kataku.
"Xixixixi biasanya saya yang mengatur segala jadwal dan lainnya, sekarang saya menerima perintah. Sedikit aneh ini."
"Ya, hidup berputar Ra," kataku. Kami pun masuk ke mobil.
"Bisa - bisa saya jadi manja ini kalau diperlakukan seperti ini terus. Bisa kacau dan hancur kredibilitas saya di mata masyarakat dan orang banyak."
"Hahahahaha emangnya kamu siapa Ra? Masyarakat mana nih yang akan melihat kamu?"
"Masyarakat apartemen lantai 7 Bang. Alias tetangga saya. Hahahaha padahal ketemunya juga sesekali doang Bang." Kami melanjutkan dengan saling melempar kata - kata yang gak penting. Tapi membuat kami tertawa.
Bercanda dengan Rara tuh enak, mengalir tanpa takut dia tersinggung. Selalu dia lempar lagi omongannya. Sambil ngobrol, dia angkat kedua kakinya bersila dibangku mobil kabin tengah. Sungguh cuek staf satu ini.
Aku tidak berfikiran soal sopan santun kalau berdua begini. Biar sama - sama nyaman. Toh kami juga sedang tidak dalam keadaan formal.
Mobil kami pun sampai Dballroom Denpasar. Kami langsung menuju restoran, dan makan sepuasnya.
"Bang, diotak Abang itu isinya apa sih, bikin hotel dan gedung pertemuan langsung lima? Capek kan Bang ngurusinnya?"
"Makanya saya ngotot rekrut kamu, biar capek saya berkurang, Ra."
"Dih saya nanya serius Bapak."
"Lah, ini juga jawab serius. Buat apa saya ngotot memperkerjakan kamu? Ya, biar saya enggak stres mikirin ballroom."
Setelah aku menjawab pertanyaannya, Rara tidak bertanya lagi denganku. Diam sampai makannya selesai. Aku enggak tahu apa yang salah dari omonganku, yang pasti setelah itu sikapnya berubah.
"Pak, saya keatas dulu ya," katanya.
Hhmm dia kembali bicara secara formal. Jujur, aku enggak suka situasi seperti ini. Jadi kaku, aku seperti sedang jalan dengan Naima ini.
"Yuk, bareng. Saya juga sudah mau keatas." Aku pun berdiri dan kami berjalan ke lift bersama tanpa ada percakapan.
Inilah yang namanya wanita tidak bisa ditebak, tahu - tahu berubah sikap. Kalau begini aku harus konsultasi ke adik - adikku ini. Tapii, nanti mereka curiga. Aah Rara, Abang harus bagaimana ini?
"Ra, kita jalan jam lima ya. Nanti saya ketuk pintu kamar kamu, oke?"
"Iya Pak."
Begitu masuk kamar, aku menghubungi Hendra untuk mengurus pesawat kepulanganku dan Rara lusa. Aku minta yang siang menjelang sore, pokoknya kalau bisa sampai Jakarta tidak terlalu malam.
Setelahnya, aku menyiapkan semua perlengkapan yang akan aku bawa. Sebenarnya hanya baju ganti sih. Jujur, akupun sama dengan Rara belum pernah kesana.
Oke, sip. Semua sudah siap, tinggal nunggu jam 5 sore, waktu yang telah kami sepakati. Aku bersantai dulu menonton berita internasional dari channel televisi, lumayan empat puluh menit bersantai.
***
.
.
.
.
.
suka karyamu..
makasih thor... banyak dapat manfaat dari karyamu.
indah dan nyaman jika bertemu org yg bisa kitapun ngobrol apa adanya