Gadis pengidap Skizofrenia yang berusaha menemukan seseorang yang ada dalam mimpinya.
Clesia, selalu mengada-ada hal yang tidak nyata. Ia ingin mencari seseorang yang ada dalam mimpinya karena itu membuatnya bahagia.
Ayah nya semakin khawatir dengan kondisi anaknya, karena kian hari makin memburuk. Keputusan Ayah nya akan melakukan terapi ECT (Elektrokonvulsif) menjadi jalan satu-satunya demi kesehatan mental Clesia.
Akankah Clesia bisa menemukan seseorang tersebut? Atau keinginannya justru terbantahkan karena terapi ECT tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUSHI_BIRARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ILUSI ITU NYATA
♡♡♡
“Kamu ngapain disini? Sama cewe lagi!”
Akhirnya, Aksa pasrah harus bertemu dengannya ..
Aksa menghela nafas dengan berat
“Kok lama?” tanya Aksa pada cewe itu.
“Ya habisnya kamu muter-muterin saya!”
“Tunggu dulu .. kamu kenal sama cewe ini?”
Aksa mengangguk "Iyah.."
“Kenalin, nama saya Naisa, calonnya Aksa” sambil menyodorkan tangannya pada Clesia.
“Hah? Ca.. Calon tunangan? Suami gitu maksudnya?” jawab Clesia dengan terbata-bata dan polos.
“Iyalah .. Kamu siapa?” tanya Naisa dengan nada tinggi.
“Apasih, Nay .. ! Belum tentu saya mau sama kamu !" sangkal Aksa.
“Aku .. temen, temennya Aksa”
“Ohh .. temen, yaudah saya mau ngajak pergi Aksa, awas sana minggir!” lontar Naisa dengan merendahkan.
Clesia pun tak bisa melawan cewe itu, karena memang benar Clesia hanya lah teman bukan siapa-siapa nya Aksa.
Naisa menarik tangan Aksa dan meninggalkan Clesia di sana.
Clesia tak tahu harus bagaimana, ketika cewe itu memberitahu bahwa Aksa adalah calon suaminya ia hanya bisa merasakan betapa sakit hatinya.
Padahal, Aksa bukan siapa-siapa nya Clesia. Baru bertemu dan berkenalan kemaren, tapi apa yang dirasakan Clesia? Sangat sakit begitu mendengar ucapan cewe itu.
“Oke Cel,, itu bukan Tio .. Bukan!!”
“Tapi kenapa kamu jadi lemah gini sih?”
“Nyerah yaa !!”
“Gak akan!! Aku gak akan nyerah, aku akan dapetin Tio, aku yakin dia itu Tio!!”
Clesia sedari tadi bergumam dengan nada yang meyakinkan.
Aksa adalah Tio.
Yups, begitulah yang ada dalam pikiran Clesia. Sangat keras kepala, tapi bisa saja Aksa memanglah Tio.
♡♡♡
“Mau kemana sih, Nay?” tanya Aksa.
Naisa menghentikan langkahnya.
"Kamu tuh ih .. gak bisa jaga perasaan saya aja sedikit!”
“Ya terus” balas Aksa dengan jutek.
"Kamu tuh calon suami saya! Ngerti gak sih?”
“Gak!” jawab Aksa dengan jutek dan malas.
Tatapan Aksa sangat dingin dan jawaban Aksa pun sangat judes. Benar-benar Aksa adalah pria berhati dingin.
“Kamu tahu kenapa mamah nitipin saya padamu?" tanya Naisa.
“Gak tahu, dan gak mau tahu!” jawaban Aksa sangat ketus.
Aksa pun meninggalkan Naisa sendirian. Tak peduli dengan cewe yang sudah berkunjung jauh-jauh dari tempat tinggalnya.
Naisa hanya menghela nafas sambil memandangi Aksa yang pergi bergitu saja.
Aksa pergi meninggalkan cewe itu dan menuju ke depan ruangan Dr.Ady untuk menunggu giliran terapi.
Sudah sekitar 15 menit Aksa menunggu giliran, tapi pasien yang di dalam tak kunjung keluar juga. Jadwal terapi Aksa saat itu sudah seharusnya giliran Aksa untuk melakukan terapi.
“Udah jam 10 kok belum di panggil juga yaa, biasanya selalu tepat waktu” gumam Aksa sambil melihat jam tangannya.
Kemudian Aksa kembali menunggu dan bersabar, mungkin pasien yang di dalam sebentar lagi akan keluar.
10.45 WIB belum juga keluar, Aksa cukup kesal karena telah menunggu lama.
Aksa akhirnya mengetuk pintu, sambil membuka pintu tersebut, ternyata yang di lihat Aksa adalah cewe gila sedang mengobrol dengan Dr.Ady.
"Kamu ngapain disini?” tanya Aksa pada Clesia.
“Terapi lah .. kamu sendiri ngapain masuk-masuk?” tanya Aksa kembali.
“Saya udah nunggu lama nih, jadwal saya seharusnya jam 10.00, ini udah mau jam 11”
“Yaudah tunggu nyampe jam 11, sebentar lagi! Udah sana keluar, gak konsen nih !" pungkas Clesia padanya.
Aksa pun akhirnya mengalah dan memasang muka malas, kemudian menutup pintu dengan kasar.
“Kelihatannya, kalian udah deket” ucap Dokter Ady.
“Kelihatan doang kan, mas? Aslinya mah enggak, dia kaya bukan Tio di mimpinya aku” balas Clesia.
Dr.Ady hanya tertawa kecil mendengar itu, kemudian Dr.Ady melanjutkan terapinya pada Clesia.
Clesia memiliki kelainan Skizofrenia (keadaan mood yang cepat berubah), hampir sama dengan Bipolar, namun ini perubahannya sangat cepat kepada penderita.
“Masih mimpi?” tanya Dokter Ady.
“Kadang-kadang, mas”
“Terakhir kamu mimpi lagi tentang Tio kapan?”
“Ehm .. kayanya udah semingguan deh, mas gatau 4 hari yang lalu”
“Sama di datangi juga sama Tio?”
“Iyah mas masih sama, aku pun makin bingung”
“Yasudah, kalo gitu kita lanjut besok lagi yah ..” balas Dokter Ady yang menyudahi sesi konsultasi.
Clesia pun mengangguk dan keluar dari ruangan Dr.Ady.
Ketika membuka pintu tepat di depan pintu itu Aksa tengah berdiri, entah maksudnya apa menunggu hingga depan pintu seperti itu.
Aksa sangat tinggi, sehingga jika Clesia berdiri saat itu dengan Aksa berarti tinggi Clesia hanya sepundak dari perawakan Aksa.
Namun kedua tubuh itu berhadapan, maka kepala Clesia sedang menghadap tepat di rahang leher Aksa.
“Mampus .. kenapa jantungku cepat sekali, aduh gimana ini?” ucap Clesia dalam hati hingga mengeluarkan keringat.
Aroma dari perawakan Aksa sungguh manis dan wangi, rahang leher yang begitu mempesona, perempuan mana yang tak tergoyah karena melihat rahang dari Aksa?
*Glek ..
Clesia menelan ludah. Keringat Clesia makin menjadi-jadi.
“Woy, sakit? Pucet tuh, keringetan lagi!” tanya Aksa.
“Ahh sial, tinggi kamu berapa sih? Harus yah saya ngomong sampe nundukin kepala gini?” tanya Aksa hingga menundukkan kepalanya untuk menatap Clesia.
Namun, Clesia tak berani menatap tatapan Aksa, tak sanggup rasanya.
“Cel, liat sini!" perintah Aksa untuk melihat dirinya.
Clesia pun sedikit ragu untuk mendongakkan kepalanya pada Aksa. Akhirnya, sedikit demi sedikit Clesia menatap Aksa, dan ... Pas, kurang dari 30 cm bibir mereka akan bertemu.
Aksa dan Clesia saling menatap satu sama lain.
“Inikah yang aku rasain saat itu? Ini persis rasanya seperti Tio ketika di gang sempit itu” pikir Clesia.
“Aku yakin ini pasti Tio!” pikir Clesia lagi.
“Cel, selesai saya terapi .. saya mau nanya sesuatu sama kamu, di taman!”
Aksa pun sempat memegang kening Clesia, tampaknya Clesia sudah tak beres, sangat pucat.
“Jidatmu terlalu lebar, make poni bagus kali, haha” Aksa tersenyum kecil.
“Ya .. yaudah .. i .. iya di taman .. oke” jawab Clesia dengan terbata-bata dan segera mendorong tubuh Aksa ke samping.
Lalu, Clesia pun segera pergi.
Aksa hanya memandangnya heran, kenapa dia? Tumben gak cerewet.
♡♡♡
(Di ruang terapi)
“Gimana? Ada perkembangan dengan ingatanmu itu?” tanya Dokter Ady untuk memulai konseling.
“Sedikit, tapi .. anehnya, baru-baru ini saya seperti ingat sesuatu Dok”
“Ceritakan saja”
“Kejadian yang saya alami baru-baru ini buat saya makin ingat seseorang, tapi saya masih belum bisa sepenuhnya ingat orang itu” jawab Aksa.
“Masih ada lagi?”
“Anehnya, saya asing dengan nama saya sendiri, pikiran saya selalu menunjukkan bahwa saya adalah Aksa, tapi kadang saya bukan seperti Aksa” tambah Aksa lagi.
“Oke, saya akan jelaskan!”
“Sugesti seseorang bisa saja tak singkron dengan hati dan pikiranmu, kalo kamu terus berpikir bahwa kamu bukanlah Aksa, itu akan menyulitkanmu sendiri, jadi masukkan sugesti “saya itu Aksa!” ke depannya kamu akan termakan dengan sugesti itu dan berpikir bahwa kamu memang Aksa” jawab Dokter Ady.
Aksa hanya menggangguk paham, kemudian melanjutkan terapinya.
♡♡♡
Sudah sekitar 30 menit, Clesia menunggu Aksa di taman.
Rasanya Clesia tak percaya dengan dirinya sendiri, kenapa tadi saat berhadapan dengan Aksa jantungnya terus berdebar?
Kenapa juga keluar keringat begitu banyak?
“Ahhhh ... kenapa sih Cel??” sambil mengacak-acak rambutnya.
Tiba-tiba dari kejauhan, terdengar suara yang memanggil Clesia dan itu adalah Aksa.
Aksa menghampiri Clesia kemudian duduk di samping Clesia.
"Kamu mau nanya apa?” tanya Clesia untuk memulai pembicaraan.
"Saya mau nanya, Tio”
Clesia pun kaget dan bola matanya membelalak menghadap Aksa.
“Hah? Kenapa emang?” tanya Clesia dengan terkejut.
“Tio mirip yah sama saya? Coba lihat saya sini!”
Clesia terus di hantam dengan adegan seperti ini lagi, Aksa sangat polos, membuat Clesia seperti ingin ketawa.
Lagi-lagi jantung Clesia berdebar kencang, sepertinya alat pompa jantung untuk Clesia adalah adegan seperti ini.
Clesia pun tersentak kaget dan mengatakan
“Eng .. enggak .. Tio lebih ganteng!”
“Tapi emang beneran mirip sama saya?”
Jika saja Clesia tak bisa menahannya, mungkin Clesia akan berteriak, kalo Aksa bukan hanya sekedar mirip tapi Aksa adalah copy an dari Tio. Yang berarti bahwa Aksa adalah Tio.
“Ya gitu .. mangkannya aku selalu ngira kamu itu Tio”
“Kalo saya beneran Tio, kamu mau apa? Peluk?” tanya Aksa dengan santai.
“Hah?”
Clesia melongo dan terdiam mendengar itu dari Aksa, apa-apaan dia? Kenapa dia bertanya seolah-olah dirinya adalah Tio.
Jadi, maksud Aksa itu bagaimana? Apakah dia Tio? Atau dia hanya berpura-pura jadi Aksa, terus bersekongkol dengan mas Dokter agar tak memberitahukan pada Clesia?
Senyum mas Dokter tak bisa di tebak kala itu.
BERSAMBUNG ...
juga ceritanya informatif😊
tapi serah deh...yg penting ceritanya seru.
jgn lupa mampir di karyaku😊