NovelToon NovelToon
Kawin Gantung

Kawin Gantung

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Pengantin Pengganti / Tamat
Popularitas:51.6k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Asviana

Leon dan Valeri bertemu saat gadis kecil itu baru terlahir ke dunia. Ibu mereka yang bersahabat sejak remaja, membuat kedua orang tua itu sepakat untuk menjodohkan Leon Orlando dengan Valeri Elmira.

Rentang usia empat tahun, seolah tak jadi soal bagi kedua sahabat itu untuk menjodohkan anak-anak mereka.

Dan, di sinilah Leon dan Valeri berada.

Leon yang kini berusia tujuh tahun, tengah memangku seorang gadi kecil berusia tiga tahun. Mereka tengah duduk di pelaminan dengan memakai baju pengantin.

Ya, kedua anak kecil itu akan segera melangsungkan pernikahan mereka. Kawin gantung. Itulah istilah yang orang-orang gunakan untuk menamai pernikahan kedua anak di bawah umur itu.

Setelah dewasa, akankah kedua anak itu menerima takdir yang sudah digariskan oleh kedua orang tua mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KG08

Langit yang tadinya berwarna jingga kini berubah gelap. Valerie terus merasa gelisah. Ke mana suami gantungnya itu? Bukan kah pria itu sudah berjanji akan cepat menghampiri?

Berulangkali Valerie mengedarkan pandangan. Matanya mengitari kerumunan. Tapi, sang pujaan hati tak kunjung menampakkan diri.

Berulangkali juga Valerie mengambil ponsel pintarnya. Mengetikkan satu-dua baris kalimat. Menanyakan keberadaan pria itu. Tapi, bukan jawaban yang didapatkan. Valerie hanya bisa menyaksikan layar ponselnya yang menampakkan sebuah contreng di setiap pesan yang dikirimkan olehnya.

“Ponselnya Bang Leon gak aktif,” gumam Valerie.

Nico dan Suci saling menyenggol lengan dan bertukar pandang. Mereka tentu saja tau keresahan yang dirasakan oleh Valerie. Pria yang dicintai mengingkari janji, tentu saja membuat gelisah di hati.

“Kita naik wahana komedi putar saja, yuk,” ajak Nico. Valerie berdecak kesal mendengarnya. Padahal wahana itu adalah wahana terakhir yang disimpannya. Valerie ingin menaikinya bersama dengan Leon.

Dan Nico tau akan hal itu.

Menaiki komedi putar bersama sang pujaan hati dan ditemani oleh kelap kelip lampu warna warni.

“Nanti, kalau suami gak bertanggung jawab lu itu datang, lu bisa naik lagi tuh komedi putar sama dia. Sekarang, baik bareng kita berdua aja dulu,” cebik Nico.

“Berhenti lu bilang Bang Leon gak bertanggung jawab!”

“Loh?! Memang kenyataannya begitu kan? Dia gak bertanggung jawab!” balas Nico. “Iya kan, Ci?”

Suci yang tak mau melihat Valerie mengeluarkan tanduk di kepalanya, hanya berani mengangkat kedua pundaknya bersamaan. Seolah dia tak tau menahu dengan maksud pembicaraan Nico.

“Janji mau menyusul. Sampai Dufan mau tutup begini, dia gak muncul-muncul juga! Bertanggung jawab dari mananya?!” sinis Nico sekali lagi.

“Setidaknya dia yang membelikan kalian tiket masuk ke Dufan. Lu pikir murah tiket masuk ke sini. Kita bahkan diberikan uang saku!” balas Valerie.

“Yang memberikan uang saku kan Tante Rani, bukan dia! Coba lu bayangin Ri, kalau mertua Lu tidak memberikan kita uang saku. Kita pasti kelaparan tadi siang. Dan mungkin kita juga akan kelaparan malam ini, karena uangnya sudah kalian habiskan untuk membeli oleh-oleh!”

“Sudahlah, jangan bertengkar,” ungkap Suci menengahi. “Yang dikatakan Nico ada benarnya juga, Ri. Gue juga takut kalau Bang Leon mu itu tidak menjemput kita.”

“Dia janji akan datang kok,” lirih Valerie.

“Masih saja percaya sama dia!” ketus Nico.

“Sudah lah, Nic. Coba lu liat si Erie. Dia sudah cukup sedih karena Bang Leon tidak datang-datang. Lu jangan buat dia tambah sedih dong!”

Nico mengembuskan napas kasar. Pria itu kemudian menggenggam pergelangan tangan Valerie dan menarik paksa gadis itu hingga mengikuti langkah kakinya.

“Gue tau dia sedih, Ci. Justru itu, gue ingin ajak dia naik komedi putar. Dari kecil, dia paling bahagia kalau sudah naik komedi putar,” ungkap Nico sambil terus berjalan dan menarik lengan Valerie.

Suci pun tersenyum melihat adegan itu. Akhirnya kedua sahabatnya tak lagi bertikai.

“Lu beruntung, Ri. Lu punya Nico yang selalu ada di sisi lu,” lirihnya sembari mengekori kedua sahabatnya dari belakang.

Ketiga sahabat baik itu, akhirnya menaiki komedi putar sembari memakan kembang gula yang sengaja di beli oleh Nico untuk kedua sahabatnya itu.

“Lu harus ingat, Ri. Saat seisi dunia mengabaikan lu, kita berdua tidak akan berpaling dan menjauh dari lu. Gue dan Suci akan selalu ada buat lu,” ucap Nico, sesaat sebelum komedi putar itu beroperasi.

Valerie pun tersenyum. Gadis itu memeluk tiang kuda yang ada di hadapannya dan memejamkan matanya. Ucapan Nico membuat perasaannya sedikit membaik. Setidaknya dia tau, kalau dirinya juga berharga.

Tiupan angin malam yang menyentuh wajah Valerie ketika menaiki komedi putar, berhasil mengikis sedikit demi sedikit rasa kecewa di dadanya. Bukan sekali dua kali rasa kecewa hadir di hatinya. Leon sudah sering mengecewakannya.

Bukankah seharusnya dia sudah kebal?

Ya, Valerie memutuskan untuk menepis setiap rasa kecewa yang hadir. Walau dia sadar kalau Leon tak mencintai dirinya, tapi Valerie yakin, suatu saat nanti Leon akan luluh dan jatuh cinta padanya.

Valerie selalu ingat ucapan gurunya, sekeras apapun batu tetesan air yang terus menerus dapat membuatnya berlubang.

“Pokoknya gue tidak boleh menyerah,” gumamnya.

“Kenapa Ri?” tanya Suci.

“Gue tidak akan menyerah!” pekiknya. Nico dan Suci menatap sang sahabat dengan heran.

Valerie tertawa. Gadis itu menatap sahabatnya satu per satu.

“Gue akan terus mengejar cinta Bang Leon secara ugal-ugalan!” teriaknya. “Pokoknya gue tidak akan menyeraaahhh! Gue akan mencintai Bang Leon secara ugal-ugalaaaan!” teriak gadis itu lagi.

“Teman Lu, setres, Ci. Gue cabut dulu,” gumam Nico. Pria itu memilih untuk menjauh dari Valerie yang terus berteriak heboh. Sementara Suci, gadis itu berusaha untuk menghentikan tingkah Valerie.

Namun, karena Valerie malah semakin menjadi, Suci pun mengekori Nico dan menjauhi Valerie yang masih berteriak dan tertawa heboh seorang diri.

Dan saat wahana yang bernama Turangga-rangga itu berhenti, Valerie baru mengakhiri tawanya.

Gadis itu kelelahan.

“Hati gue rasanya lega banget!” pekiknya. Namun, sesaat, wajah Valerie terlihat kebingungan. Tak ada siapapun di sampingnya.

“Pergi ke mana orang-orang? ke mana Nico dan Suci?” tanyanya heran.

Kepala gadis itu berputar ke kiri dan ke kanan. Matanya menyapu seluruh isi wahana. Kedua sahabatnya masih tak tampak.

“Ke mana sih mereka?!” ucapnya kesal.

Dan Valerie baru bertemu dengan Nico dan Suci kembali di depan pintu masuk Wahana Turangga-rangga itu.

“Dari mana kalian?!”

“Habis naik komedi putar. Masa lu lupa?” ucap Suci.

“Naik di mana? Kok tadi tidak ada?!”

“Ada kok. Cuma agak jauh dari tempat lu,” jawab Nico.

“Kenapa agak jauh? Bukannya lu berdua tadi naik kuda yang di belakang kuda gue?”

“Malu kita, Ri,” jawab Suci.

“Malu? Kenapa malu? Biasanya naik komedi putar di pasar malam di kampung kita, lu gak ada malu-malunya tuh.”

“Kita tuh malu karena kelakuan lu. Teriak-teriak gak jelas. Ketawa-ketawa seperti orang kesurupan. Siapa juga yang mau dekat-dekat. Malu kita, Ri, malu! Lebih baik kita menjauh deh daripada menahan malu dilihat orang-orang!” cebik Nico.

Valerie menatap sini kepada kedua sahabatnya itu. Ditatapnya satu per satu wajah sahabatnya sembari tersenyum sinis.

“Lu berdua malu punya sahabat seperti gue? Iya?”

Nico dan Suci memilih untuk diam. Mereka malas meladeni gadis tak mau kalah seperti Valerie.

“Lu harus ingat, Ri. Saat seisi dunia mengabaikan lu, kita berdua tidak akan berpaling dan menjauh dari lu. Gue dan suci akan selalu ada buat lu. Ucapan siapa tuh?!”

“Itu ada lanjutannya, Ri. Hal itu gak berlaku kalau lu mulai sakit jiwa,” balas Nico sembari terkekeh-kekeh.

“Kalau lu sakit jiwa, kita berdua yang lebih dulu menjauh,” lanjut Suci.

Nico dan Suci kompak berlari menjauhi Valerie karena mereka tau, Valerie pasti akan memukul mereka habis-habisan.

“Kaliaaannn!” pekik Valerie kesal. Gadis itu pun ikut berlari mengejar kedua sahabatnya. Kini, ketiga sahabat itu bahkan berlari sampai keluar area taman bermain.

Mereka terus berkejar-kejaran sambil terkekeh-kekeh tanpa rasa lelah, hingga beberapa saat kemudian, Leon hadir di tengah-tengah mereka.

“Kirain lupa dengan istri lu!” cebik Nico.

1
RieNda EvZie
/Good//Good//Good//Good//Good/
Niè
keren si Nico iihhh....drpd leon..
Niè
gedeg yaa....eman2 valerie....
Namika
bacaan bagus..
Namika
perjuangan cinta valerie yg ugal2an ahirnya hepi ending..
Namika
keluarga besarrr
syumkia
lah Mak..
lalu lanjut d mana Mak
Namika
gws mamak
Namika
😂😂😂
Rita Riau
kebaikan tak akan pernah sia sia permata tak akan kalah walaupun ditimbun kaca,,,
Rita Riau
cuekin aja Rei suami rese mu itu biar dia tau rasa 🤔🤭
Rita Riau
nah ini dia yg ku tunggu" si Leon ketangkep basah terus nyebur ke air comberan,,, tinggalin pergi aja Rei
Rita Riau
nah bener kan Leon nemuin si Alexa,,
kasihan bgt Erie yg di bohongi Leon
awas Leon kamu bakalan nyesel 🤔🤭
Rita Riau
apa mgkin Leon pergi nemuin Alexa
awas ntar ada penyesalan 🤔🤭
Rita Riau
kayak nya ada rencana tersembunyi si Leon ,,, 🤔🤭
Rita Riau
yah,,,, kasihan Erie dgn cinta tulus nya,,,, selagi Erie belum capek ngejar Leon,,,ntar kalo Erie udah diem baru Leon sadar 🤔🤭
Rita Riau
sekarang Leon nolak tapi nanti Leon posesif,,, biasa lah di awal cerita 👍🏻🥰🥰
Rita Riau
nunggu waktu lama tuch baru bisa unboxing 🤔🤭😁🥰
@sulha faqih aysha💞
sebelumnya Valerie di nyatakan hamil 12 Minggu kok ini hamil 9 Minggu yang bener yg mana 🤔
Rita Riau
seru,,, persahabatan jadi besan,,,
perjodohan,,, awal ngelak ujung bucin. diri ku mampir Thor 🙏🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!