Menjadi istri pengganti istri pertama, begitulah yang Deandra alami. Ketika dirinya terpaksa harus menikah dengan Majikan di rumahnya ini, hanya karena dia membutuhkan sosok seorang istri pengganti di saat istri pertamanya masih dalam keadaan koma.
"Jadi istri pengganti untukku, selama istri pertamaku belum sadar"
Sebuah kalimat yang membuat Deandra sangat terkejut. Namun sebuah pilihan yang akhirnya dia ambil. Entah bagaimana pernikahan ini berlanjut, mungkin akan tetap bersama dengan saling mencintai? Atau bahkan saling melepaskan dengan rasa sakit?
Saksikan kisahnya di PENGGANTI ISTRI PERTAMA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir Mencekik!
Deandra menendang kaki meja, lalu dia elus kembali kakinya yang terasa sakit. Padahal tendannya juga masih termasuk pelan. "Kaki meja sialan, kenapa kau menyakiti kakiku. Ah sial, semuanya membuat aku kesal"
Deandra sudah berdiri dan bersiap keluar dari kamar itu. Namun Afkha yang sudah keburu keluar dari ruang ganti.
"Mau kemana kau? Belum selesai dengan tugasmu, sudah mau pergi saja. Dasar tidak bertanggung jawba" ucapnya dingin
Deandra memejamkan matanya dengan tangan yang mengepal erat di kedua sisi tubuhnya. Kesal dengan suaminya, tapi lebih kesal karena dirinya juga tidak bisa melakukan apa-apa dan tidak berani melawan juga. Membuat Deandra menghembuskan nafas kasar, dia berbalik dan tetap menampilkan senyum manisnya meski hatinya sangat kesal dan ingin sekali memukul wajah tampan suaminya itu.
Menatap Afkha yang belum memakai dasi, membuat Deandra sadar apa yang di inginkan oleh suaminya kali ini. Tidak bisa apa pasang dasi sendiri, dasar manja!
"Sayang mau aku bantu pasangkan dasi ya"ucap Deandra dengan senyuman seindah bunga mekar di taman. Meski hatinya sedang menahan kesal yang luar biasa.
"Sudah tahu, masih saja nanya" jawab Anston santai.
Sabar Dean, sabar. Pikirannya terus mengingatkan dia untuk tetap bersabar dan tidak sampai membunuh laki-laki di depannya ini. Karena dia juga tidak akan berani untuk itu. Dengan senyuman seindah bunga mekar di taman itu, Deandra memasang dasi di leher suaminya.
Apa aku cekik saja lehernya dengan dasi ini ya? Pikirannya yang sedang menyuruhnya untuk bertindak jahat. Tapi nanti kalau dia mati, kamu juga yang akan di tangkap polisi. Jangan, jangan. Kamu harus sabar Dean. Lagi-lagi hati nurani dan pikirannya sedang berperang sendiri.
"Kau mau membunuhku!"
Deg
Tidak sadar jika apa yang dia pikirkan, malah dia lakukan juga. Tangannya yang tanpa sadar mengikat dasi dengan kencang hingga hampir mencekik suaminya. Menyesal karena tidak sampai membuat Afkha kehabisan nafas dan meninggal. Ya ampun Dean, berdosa sekali karena kamu malah mendo'akan suamimu itu meninggal. Tapi masalahnya karena Afkha yang tidak jadi kehabisan nafas dan meninggal seperti yang ada di dalam pikirannya. Kini Deandra harus menerima kemarahan suaminya itu.
"Sayang maaf ya, aku tidak sengaja. Lagian kamu si pake suruh aku pasangkan dasi segala, tahu aku tidak bisa melakukan itu" alasannya ketika suaminya menatapnya dengan begitu tajam.
Biar saja dia tidak lagi meminta aku untuk memasangkan dasi padanya. Lagian ada-ada aja deh, kan aku jadi bernaf*su untuk mencekiknya. Haha. Tertawa jahat dalam hati. Tapi wajahnya masih menampilkan senyum yang begitu ceria. Mencoba untuk membuat Afkha luluh dan tidak marah lagi padanya.
"Kau benar-benar ya, ulangi yang benar. Awas kalau sampai mencekik lagi!" ucap Afkha kesal.
Deandra tersenyum, dia membuka kembali ikatan dasi dan memulai semuanya dari awal. Kali ini dia tidak memikirkan untuk mencekik suaminya lagi. Supaya semuanya berjalan dengan lancar. Agar Deandra bisa melakukan tugasnya ini dengan benar. Dan akhirnya drama memasang dasi selesai juga. Deandra menatap puas hasil kerja kerasnya yang hampir saja mengirim suaminya ke alam yang berbeda. Ya ampun Deandra.
"Sudah rapi, sekarang berangkat kerja ya Sayang" ucap Deandra sambil mengusap pelan bagian dada Afkha, seolah sedang merapikan kemeja yang di pakai suaminya. Cepatlah pergi, aku bisa gila beneran kalau kau terus berada di rumah seperti ini. Meski bibirnya tersenyum begitu manis, hatinya tetap saja memaki suaminya ini.
"Kau buta atau bagaimana? Masa aku kerja dengan pakaian yang seperti ini" ucap Afkha dengan tatapannya yang begitu dingin.
Ya Tuhan, apalagi si nih orang. Selalu saja membuat orang kesal dan bingung dengan apa yang dia inginkan saat ini.
Deandra menatap penampilan Afkha, sampai dia sadar jika belum ada jas yang di pakai oleh suaminya itu. Bergegas mengambil jas dan segera memakaikannya di tubuh tegap suaminya itu. Dia tidak banyak bicara karena takut salah lagi, mengambilkan tas kerja juga agar Afkha tidak marah-marah lagi.
Aku benar-benar menjalankan tugas sebagai pengganti istri pertama dengan baik saat ini. Gumamnya. "Sudah tampan, sekarang kamu sudah bisa berangkat bekerja Sayang"
"Ya, memang aku tampan. Apa kau buta selama ini sampai baru menyadarinya"
Ya Tuhan.. Deandra tersenyum dengan lembut, mencoba menyabarkan dirinya yang sudah sangat kesal dengan suaminya ini. "Iya Sayang, aku bodoh sekali ya. Padahal kamu memang selalu tampan"
Afkha menarik tubuh Deandra hingga jatuh dalam pelukannya. Dia memeluk dan mengecup puncak kepala istri keduanya ini. Entahlah, tapi aku hanya senang saja melihat wajahnya yang tersenyum, tapi sedang menahan kesal padaku. Sangat menggemaskan.
Deandra hanya diam, dia sedikit heran dengan sikap suaminya ini. Perubahan ekspresinya yang bisa secepat kilat. Baru saja dia marah-marah pada Deandra, sekarang malah memeluknya dan menciumnya seperti ini. Apa dia keturunan bunglon ya? Cepat sekali berubah-ubah. Gumamnya dalam hati.
Deandra mendongakan wajahnya dan seketika mendapatkan ciuman dari Afkha di bibirnya. Matanya terbelalak, tangannya ingin memukul dada Afkha, namun suaminya itu sudah lebih dulu menahan pergelangan tangannya.Membuat Deandra tidak bisa melakukan apapun.
Beberapa saat ciuman itu berlangsung, sampai Deandra mulai tersengal, barulah Afkha melepaskan ciumannya. Dia terkekeh lucu melihat istrinya yang sedang menghirup udara banyak-banyak karena hampir kehabisan nafas karena ciuman itu.
"Ra, kenapa sampai lupa bernafas? Apa kau terlalu menikmatinya?" ucap Afkha sambil terkekeh pelan.
Sumpah, saat ini Deandra sangat ingin memukul kepala suaminya itu. Tapi dia hanya bisa menatap kepalan tangannya di sisi tubuhnya karena tidak mungkin juga dia melakukan itu. Tapi Deandra sangat kesal dengan suaminya ini.
Kenapa aku selalu terlihat bodoh si ketika berada di depannya. Kenapa juga malah menikmati ciumannya. Gila! Deandra benar-benar merasa sangat dikhianati oleh tubuhnya sendiri. Padahal dia sudah memberi kompromi untuk menolak, tapi nyatanya malah menikmatinya juga.
Selesai dengan perdebatan pagi ini, akhirnya Deandra bisa menghela nafas lega setelah suaminya pergi bekerja sekarang. Dia bisa lebih tenang dan tidak akan lagi merasakan kekesalannya yang tertahan pada suaminya yang suka seenaknya itu.
Deandra segera ke kamar Sandra, bahkan dia terlambat mengecek keadaan istri pertama dari suaminya itu karena dia yang malah terus menjahili Deandra dengan segala cara.
Sekarang Deandra segera mengecek perkembangannya. Membersihkan tubuh Sandra juga dan mengganti bajunya. Dia sudah terbiasa dengan semua ini dan sudah tidak sulit lagi. Selesai dengan semua tugasnya, Deandra naik ke atas tempat tidur, duduk di samping Sandra yang terbaring lemah.
Bersambung