Klara baru bangun dari koma setelah tiga tahun, anak yang dulu di kandungnya kini sudah menjadi balita yang bisa melihat hantu.
Di saat Klara ingin dekat dengan putrinya, tiba-tiba anak dari suaminya datang dan hadir di antara mereka. Membuat hubungan yang hendak dibangun menjadi sangat rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ka Umay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Jovan
"Ayo ... " Ajak Kyos.
Dia berjalan terlebih dahulu, Klara menyusul setelah menata kukis tersebut di sebuah piring. Klara membawanya dengan cukup hati-hati.
"Sini, biar aku saja yang bawa." Tanpa aba-aba Kyos mengambil piring berisi kukis itu dari tangan Klara. Lalu berjalan di depan.
Mereka berada di lantai paling atas dan hanya memiliki satu tetangga. Klara menekan bel. Tak lama kemudian pintu terbuka perlahan, menampakkan sesosok pria dengan rambut acak-acakkan seperti baru bangun tidur.
"Siapa sih pagi-pagi ganggu orang tidur?" Tanyanya sembari mengucek mata.
Kyos sangat terkejut melihat tetangga baru, begitu juga si tetangga yang terdiam melihat Kyos. Mereka sudah saling kenal.
Kyos melirik jam tangan, keningnya berkerut. Klara tau apa yang dipikirkan suaminya ini, sekarang sudah sore, hampir makan malam. Tapi tetangga kami baru bangun tidur dan bilang ini masih pagi.
"Ah, sial. Kenapa kau di sini?" tanya Kyos tidak senang dengan tetangga barunya.
"Seharusnya aku yang tanya, kenapa kau ada di sini?"
Kyos memutar bola mata jengah.
Klara tidak tahu bahwa mereka sudah saling kenal sebelumnya. Mata kedua pria itu seperti terpancar halilintar, mereka bermusuhan.
Tapi tunggu, sepertinya Klara kenal pria di depannya ini. Terasa bukan sosok yang asing. Pria itu adalah pembuat onar di masa remajanya, mana mungkin Klara bisa melupakan dia. Jika sampai Klara melupakan dia, maka ia harus menghitung kembali usianya.
"Jovan?" Bibir Klara tak mampu ditahan untuk tak mengucapkan nama itu.
Matanya beralih pada Klara, kening Jovan pun berkerut. Terakhir bertemu dengan Jovan ketika mereka masih SMA, Klara sempat tak mengenali karena Jovan semakin tampan.
"Klara?"
"Kau kenal istriku?" Kyos menengahi keterkejutan teman masa kecil, ia sama bingungnya dengan Klara.
Klara dan Jovan seperti bertemu kawan lama walaupun tidak akrab seperti dulu.
"Klara teman SMA ku, oh ya apa hubungan kalian? Dan kenapa kalian kemari?" Tanyanya, jujur Klara lebih suka jika Jovan menawari mereka masuk sebelum bertanya panjang lebar. Walaupun dulu dia pembuat onar di masa pubertas Klara yang indah, tapi ia sama sekali tidak pernah membencinya.
"Kamu nggak mau nawarin kita masuk?" Tanya Klara kemudian.
"Oh iya ayo masuk, tapi rumahku sangat berantakan." Akhirnya dia membukakan pintu dengan lebar, tanpa malu atau canggung lagi Kyos dan Klara masuk ke dalam rumahnya.
Satu hal yang membuat Klara kagum dan heran, yakni apartemen Jovan. Sangat estetik. Di satu sisi ia ingin kagum dengan berbagai gambar yang ada di kertas HVS. Pasalnya Klara pencinta komik, ia kenal gambar komik apa itu. Tapi di sisi lain, Klara merasa apartemen ini seperti tempat pembuangan sampah, berbagai macam sampah berserakan di sini.
"Sudah kubilang, 'kan? Apartemenku super berantakan."
"Dari dulu memang kamu tidak pernah rapi, melihat ini aku sama sekali tidak heran. Tapi aku yakin istriku berpikiran lain." Kyos membalik kertas yang dia pungut di lantai.
"Hahaha... Aku nggak papa kok, pria tinggal sendirian di apartemen wajar jika nggak bisa rapi."
Jovan terlihat terkejut mendengar Kyos menyebut Klara istri, dulu Jovan sangat menyukai Klara, tapi itu sudah lama sekali, Klara yakin perasaannya Jovan sudah berubah.
"Klara istrimu? Pria kasar sepertimu ternyata bisa memiliki istri? Hahaha... Lucu sekali."
Klara tidak suka tawa Jovan, karena ia yakin setelah bangun tidur Jovan belum sikat gigi.
"Kau meremehkan ku hah?!" Kyos menendang pantat Jovan, tidak keras tapi cukup membuat Klara yakin bahwa mereka sangat akrab.
"Sebenarnya apa hubungan kalian?" Tanya Klara penasaran.
"Kenalkan, dia Jovan. Sepupuku. Sejak SMA dia tinggal di USA, aku tidak tahu kapan dia pulang," jawab Kyos.
"Aku pulang ke Indo sekitar dua bulan, belum sempet mampir ke rumahmu. Tapi kalau aku tau istrimu Klara, pasti aku akan mampir." Jovan tersenyum lebar, sementara Kyos hanya tersenyum canggung. Sepertinya Kyos mulai ingat dengan ceritaku tentang Jovan.
"Mas, aku pulang duluan ya. Tadi masih manggang kukis, takutnya gosong."
"Iya ... Nanti Mas nyusul."
"Aku pulang dulu ya Jovan, kapan-kapan mampir ke tempatku ya ...."
Klara melambaikan tangan sebelum keluar dari rumah Jovan yang super berantakan. Sementara Jovan memandang Klara sembari terus tersenyum.
Dalam hati Klara terus meyakinkan diri sendiri bahwa Jovan sudah berubah, dia tidak sama seperti dulu. Semoga itu benar.
Di saat Klara meninggalkan Kyos bersama Jovan, mata Kyos menyelidik ke arah Jovan. Tak pernah terbayangkan olehnya bahwa akan bertetangga dengan sepupu paling menyebalkan yang dia punya. Tidak! Bukan hanya menyebalkan tapi perselisihan keluarga mereka hampir terbawa oleh anak-anaknya.
"Hey tukang komik!" panggil Kyos mengejek. Sejurus kemudian mata Jovan memicing, tak terima dengan panggilan itu.
"Komikus, bukan tukang komik." Jovan memutar bola matanya, mencari hal lain selain wajah sepupu yang menurutnya brengsek.
"Ya ... Terserahlah. Tapi aku pernah mendengar cerita tentangmu dari Klra, dan aku tau dari dulu bahwa kau itu brengsek. Kuharap kau tidak akan membuat istriku tidak nyaman." Kyos bicara langsung ke intinya, tak ingin basa-basi dengan orang yang kini tepat berada di hadapannya.
"Kenapa? Kau takut aku membalas perbuatanmu dulu? Dasar pecundang!" Jovan menyeringai dengan tatapan mengejek. Dengan sekuat tenaga Kyos menahan tangannya untuk tidak melayangkan tinju pada wajah Jovan.
Mereka baru bertemu setelah sekian lama, Kyos pikir masalah ketika mereka masih kanak-kanak telah berlalu. Tapi Kyos salah, dia merasa sangat salah jika berpikir Jovan akan berpikir dewasa dan melupakan kejadian dulu.
"Dengar! Kita bukan anak-anak lagi, dan berapa kali kujelaskan bahwa kejadian itu bukan aku menyebabnya."
"Cih, tentu saja kau tidak bersalah, kau adalah cucu kesayangan nenek. Jika kau mendengar tentangku dari Klara, pasti kau juga tau bahwa aku dulu sangat menyukai Klara, asal kau tau hal itu masih berlaku sampai sekarang. Jadi kuperingatkan jaga baik-baik istrimu sebelum dia berlari ke arahku."
Terlihat keseriusan di mata Jovan, tanda peringatan bahwa ia akan melakukan sesuatu untuk mendapatkan keinginannya juga terpancar di sana.
Geram, marah, semua emosi ingin Kyos luapkan. Tapi selama bertahun-tahun Kyos belajar mengontrol emosinya. Ia tak akan lepas kendali untuk orang semacam Jovan, itu tekadnya.
"Terima kasih atas peringatannya, tapi kupastikan kau akan kalah." Ungakapan itu mengakhiri perbincangan panas mereka. Dengan langkah pasti Kyos keluar dari apartemen Jovan tanpa memperdulikan kertas yang ia injak.
Napasnya memburu menahan emosi, ia tak tahu bahwa kemarahan Jovan masih sama seperti delapan tahun yang lalu. Berkali-kali Kyos menjelaskan bahwa kejadian itu bukan perbuatannya, bahwa dia tidak bersalah dan mencoba memperbaiki hubungan mereka seperti sedia kala. Tapi nyatanya semakin dia menjelaskan Jovan malah semakin membencinya.
Kyos mengeluarkan napas berat sebelum masuk ke dalam apartemennya. Dilihatnya Klara yang sedang asik menata kukis untuk dikirim ke Chika.
"Udah pulang Mas? Aku pikir bakal lama karena kalian udah nggak ketemu." Klara hanya memandang Kyos dari kejauhan.
Kyos berjalan cepat dan segera memeluk Klara, mencoba menenangkan hatinya yang kini tengah gelisah. Sementara Klara yang tak tahu apa-apa hanya berdiam diri kebingungan.
"Ada apa mas? Kok tiba-tiba meluk?"
"Nggak papa, cuma kangen." Kyos mempererat pelukannya.
"Yaelah Mas, baru juga pisah bentar."
"Tapi aku sudah kangen, tanggung jawab, ayo kita ke kamar."
"Eh... Ngapain?" Klara terkejut.
"Bakar sate," jawab Kyos
"Buat apa bakar sate di kamar?"
Tanpa menjawab pertanyaan dari istrinya yang lemot, Kyos membopong tubuh Klara menuju kamar.
"Ayo bikin adek untuk Chika," ucap Kyos membuat Klara terkejut.
"Kita belum makan malam, Mas,"
Kyos tak memperdulikan ucapan Klara, ia malah tambah bersemangat.
nyimak aah