Demian tidak pernah diberi tahu jika tender yang berpeluang untung milyaran itu hanya diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan dengan seorang Direktur yang sudah berkeluarga.
Tanpa pikir panjang, dia pun menarik Sarah, sekretarisnya, ke depan altar Gereja untuk dijadikan sebagai istri sah di detik-detik terakhir tender itu ditutup.
Sarah yang saat itu sedang mumet dengan urusan pekerjaan dan kekasihnya tidak diijinkan untuk protes dan mengelak. Dalam sekejap sebuah cincin berlian sudah melingkar di jari manisnya yang ia takutkan akan merusak semua mimpi-mimpi indahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinner with Amber.
Suasana restoran Prancis tempat Sarah dan klien mereka, Joseph, membuat janji makan malam tidaklah begitu ramai. Dari keseluruhan meja yang ada di ruangan itu, Sarah bisa menghitung meja yang terisi dengan hanya lima jari tangannya saja.
Sudah satu jam sejak dia dan pria paruh baya berumur empat puluh delapan tahun itu memulai acara makan mereka sembari mengobrol, namun Demian tidak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Sarah sangat ketakutan akan kehabisan bahan obrolan, karena pria di hadapannya itu bukan tipe orang yang banyak bicara. Sarah sudah membahasa banyak topik seputar kerjasama mereka dan setelah itu dia pasti kebingungan harus menggunakan amunisi apa lagi.
Demian brengsek! Setidaknya kabari aku jika kau tidak jadi kemari. Aku akan menyudahi acara makan malam tidak jelas ini.
"Selamat malam, Pak Joseph. Maaf membuat anda menunggu lama," tiba-tiba suara bariton yang sangat dikenal Sarah terdengar dari arah belakangnya. Ah, akhirnya! Batin Sarah lega. Dewi Fortuna memberikannya pertolongan tepat pada waktunya.
"Ah, Pak Demian. Amber!" Joseph berdiri untuk menyalami kedua orang yang baru saja dia sebutkan namanya itu, yang juga sukses membuat Sarah sedikit terkejut. Amber? Demian datang bersama Mba Amber? Dan apa Pak Joseph ini mengenal Mba Amber juga? Sungguh sebuah fakta yang sangat kebetulan.
Sarah ikut bangkit berdiri untuk menunjukkan kesan hormatnya kepada Demian - yang dalam hal ini adalah bosnya - juga wanita cantik yang sudah lama tidak dilihat oleh Sarah, Amber. Gadis yang berprofesi sebagai Dokter itu sedang menggandeng Demian dengan mesra sekarang.
"Halo, Om Jos! Long time no see," Amber menghambur memeluk pria yang entah bagaimana caranya ternyata Om-nya. Entah Om kandung, entah Om yang biasa dia panggil jika bertemu dengan pria asing yang usianya terpaut jauh di atasnya.
Sarah menunggu keduanya selesai melepas rindu. Dari pembicaraan singkat mereka, Sarah akhirnya tahu jika Amber adalah keponakan kandung Joseph dan Amber juga berperan besar dalam hubungan bisnis antara Joseph dan Demian.
"Hei, kau Sarah kan? Sekretaris Demian?" kini Sarah pun akhirnya mendapat giliran disapa oleh gadis cantik jelita itu. Sarah menerima uluran tangan Amber dan memberikan senyuman tulusnya.
"Senang bertemu anda kembali, Mba Amber. Sepertinya anda terlihat semakin cantik dari pertemuan terakhir kita," puji Sarah terang-terangan. Faktanya Amber memang semakin cantik, meskipun pekerjaannya di Papua memaksanya untuk sering turun ke lapangan. Kulit sawo matangnya membuat dirinya semakin terlihat seksi di mata seorang Sarah.
"Kau bisa saja, Sar. Kau juga semakin cantik. Aku heran kenapa Demian tidak terpikat pesonamu," canda Amber sambil menyenggol lengan pria yang ada di sebelahnya. Pria itu hanya tersenyum kecil seraya melirik Sarah sebentar.
"Hahaha, mari kita duduk. Sedari tadi saya dan Ibu Sarah sudah banyak mengobrol. Sekarang mari kita bahas tentang project di Surabaya. Oh iya, katanya Amber mau ikut sekalian?"
"Oh, iya Om," jawab Amber seraya duduk di kursi yang baru saja ditarik Demian untuknya, "kebetulan penempatan Amber berikutnya di Surabaya. Rencananya mau survey Rumah Sakit tempat Amber ditugaskan, sekalian menemani Demian. Hitung-hitung untuk menebus LDR kita selama enam bulan ini," lagi-lagi perempuan cantik itu mencondongkan tubuhnya kepada Demian yang kini duduk di sebelahnya.
"Hahaha ... tapi Pak Joseph tidak perlu khawatir. Saya akan tetap mengutamakan pekerjaan saya, baru setelah itu menghabiskan waktu bersama Amber," seakan tidak ingin membuat kliennya salah paham dan menilainya tidak profesional, Demian langsung menambahkan kalimat Amber dengan janji yang tentunya harus dia tepati.
Perbincangan mereka kembali berlanjut dengan topik yang beragam. Demian dan Amber hanya memesan minuman karena katanya masih kenyang setelah menghadiri pesta pernikahan yang disebutkan Demian tadi pagi. Sarah sendiri kini lebih banyak mendengar obrolan ketiga orang itu. Dia tidak berniat untuk terlibat meskipun dia cukup paham apa yang mereka bicarakan.
Saat Sarah sedang menikmati tegukan terakhir di gelasnya, tanpa sengaja dia melihat tangan kanan Demian yang kebetulan sejak tadi duduk di hadapannya. Pria itu memakai cincin pernikahan mereka sekarang! Sarah sangat terkejut dan hampir saja tersedak karena minumannya. Kenapa Sarah baru sadar? Apa Demian sudah memakainya sejak bersama Amber di pesta pernikahan tadi? Kenapa pria itu melakukannya?
Sarah memilih untuk tidak peduli. Kalau pun cincin itu akan mengundang pertanyaan Amber dan Joseph, Sarah yakin Demian sudah mempersiapkan jawabannya. Kalau tidak tamatlah riwayatnya.
*****
Pukul sembilan malam, acara makan yang didominasi obrolan panjang itu pun akhirnya selesai. Sarah kembali mengulang jadwal keberangkatan mereka besok lusa ke Surabaya. Amber yang baru dia ketahui akan ikut serta terlihat begitu antusias mendengar penjelasan itu, seakan tidak ingin ketinggalan hal penting sedikit pun.
Setelah itu, Demian tiba-tiba pamit terlebih dahulu dari Amber dan Joseph. Membuat Sarah menaikkan alisnya keheranan.
"Saya dan Sarah harus membereskan beberapa keperluan kantor sebelum kita tinggal dinas ke luar kota. Saya titip Amber ke Pak Joseph, tidak apa-apa kan, Pak?"
Menurut Sarah, seharusnya Amber menolak dengan cepat, begitu pun dengan Pak Joseph. Rasanya Demian sangat tidak sopan menyuruh orangtua itu untuk mengantar kekasihnya pulang. Lagian, apa katanya? Membereskan keperluan? Keperluan apa lagi memangnya?
"Oh tidak apa-apa, lagian istri saya juga sudah sangat ingin bertemu dengan Amber," jawab Joseph pertanda tidak keberatan sama sekali.
"Kamu yang semangat ya sayang," Amber mengecup pipi Demian dengan santai, "Sar, aku titip Demian ya, ingetin supaya lemburnya nggak kemalaman," kini dia malah menitipkan kekasihnya itu kepada Sarah.
Apa-apaan kedua orang ini? Kenapa mereka begitu gampangnya menitipkan pasangannya kepada orang lain?
"Siap, Mba. Saya akan selalu mengingatkan beliau," namun Sarah tetap memamerkan senyum terbaiknya, pertanda dia akan melaksanakan perintah itu sebaik mungkin. Padahal Demian jelas bukan tipe pria yang bisa diperintah.
Demian dan Sarah mengantarkan Amber dan Joseph terlebih dahulu ke mobil Joseph. Mengucapkan kata basa-basi sebentar lalu memperhatikan mobil itu sampai hilang dari hadapan mereka.
"Ayo," Demian bergerak duluan meninggalkan tempatnya. Mengajak Sarah untuk mengikuti langkahnya berjalan menuju mobilnya.
"Bapak benaran mau ke kantor jam segini? Apa tidak bisa dikerjakan besok?" akhirnya Sarah meluncurkan protes yang dia tahan sejak tadi. Sejak pria itu membuatnya kesal karena datang terlalu lama.
"Besok aku punya urusan sendiri, jadi takutnya tidak sempat membereskan semua pekerjaan," jawab Demian santai.
"Bisakah Bapak pergi sendiri? Saya ada janji dengan Grasian," Sarah berbohong. Tapi dia lebih tidak suka nanti lembur bersama Demian dengan tujuan yang tidak jelas. Belum lagi dia masih memakai dress dan heels seperti sekarang ini.
"Oya? Biar aku yang menelepon Grasian untuk memundurkan kencan kalian," tahu-tahu Demian berhenti dan hendak merogoh handphone dalam saku jasnya. Melihatnya Sarah cepat-cepat menahan tangan pria itu sehingga mengurungkan niatnya.
"Kau mencoba membohongiku, Sar? Kenapa kau pegang-pegang? Tidak malu dilihat orang, hm?"
Sadar tangannya masih menggenggam tangan Demian, Sarah cepat-cepat menarik tangannya kembali. Setelah itu dia mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
"Saya ... saya sudah mengantuk, Pak. Sepertinya tidak akan efektif bila memaksakan diri untuk lembur," kali ini Sarah mencoba peruntungannya dengan alasan lain. Namun tiba-tiba satu gerakan Demian membuat jantungnya rasa ingin copot. Membuat kedua matanya melotot dan napasnya tercekat.
Demian mengigit pipinya! Bukan gigitan kasar, namun gigitan lembut yang menunjukkan kegemasan Demian padanya.
"Apa yang Bapak lakukan?!"
"Aku gemas padamu, Sarah. Sudah, jangan banyak alasan. Ayo masuk!"
Sarah masih terbelalak. Lagi-lagi dia berdebar, padahal ini hanya gigitan di pipi. Kemarin Grasian menciumnya begitu panas, namun tidak menimbulkan getaran apa pun dalam hatinya. Sarah kebingungan.
"Sarah? Mau sampai kapan kau berdiri di sana? Mau digigit lagi?" ancam Demian yang entah sejak kapan sudah ada di dalam mobilnya.
"Tapi saya juga bawa mobil, Pak! Saya naik mobil sendiri saja."
"Tidak, mobilmu nanti biar dijemput supir pribadi Om Martin. Kita tinggal kasih tahu petugas vallet saja."
"Terus besok saya ke kantor bagaimana?"
"Aku jemput! Cepat naik!"
Sarah memutar bola matanya kesal. Sudah playboy, pemaksa lagi! Umpat Sarah dalam hati. Namun mau tidak mau dia membuka pintu mobil di sebelahnya lalu meletakkan bokongnya dengan kasar di jok. Menarik seatbelt dengan paksa lalu menyandarkan tubuhnya dengan kesal.
"Kau cantik kalau sedang kesal," seperti biasa, Demian tidak pernah mempedulikan Sarah jika sedang jengkel. Dia menghidupkan mesin mobilnya lalu mulai melajukan mobilnya dengan pelan.
"Dasar buaya!"
"Aku? Buaya? Kok bisa?" Demian masih belum puas menggoda.
"Jelas Bapak buaya. Sudah ada pacar, malah menikah sama orang lain, cium-cium orang lain. Pulang sama orang lain, bukannya sama pacar."
"Loh, saya nggak punya pacar, Sar. Tapi punya istri. Lagian yang saya cium istri saya, yang saya ajak pulang juga istri saja.
Sarah melirik Demian dengan tatapan sinis. Sekarang malah tidak mengakui punya pacar. Benar-benar buaya.
"By the way kau sudah mengakui pernikahan kita?" senyum manis terkembang di bibir Demian, sambil dia melirik ke arah Sarah yang masih memasang wajah dingin.
"Jangan harap. Eh, itu cincin Bapak kenapa nggak dilepas? Memangnya Mba Amber nggak tanya?" tanya Sarah dengan cuek namun sangat jelas dia pensaran.
"Aku komitmen dengan janjiku pada Tuhan. Kenapa harus kulepas?"
"Cihh. Terserah lah."
Demian lagi-lagi hanya mengulum senyumnya. Dia memutuskan untuk berhenti menggoda Sarah dan fokus dengan setir mobilnya.
Sarah pun demikian. Dia jadi terdiam memikirkan kata-kata Demian. Apakah pria itu serius ingin berkomitmen dengan pernikahan bohongan itu? Kenapa dia sampai se berani itu memakai cincinnya di depan Amber? Apakah Amber sudah mengetahuinya? Tapi mengapa tadi mereka kelihatan baik-baik saja? Masak Amber tidak marah?
"Pak!" Sarah tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Lucunya, gengsi yang ia miliki membuat nada suaranya jadi seakan membentak pria itu.
"Kau mengangetkanku, Sarah! Kenapa memanggilku seperti kesetanan begitu?"
"Mba Amber sudah tahu?"
"Apanya?"
"Ya pernikahan Bapak lah. Apa lagi?"
"Pernikahan kita maksudmu?
"Ya anggaplah begitu." jawab Sarah asal, masih memelihara gengsinya. Membuat Demian tergelak.
"Sudah. Kenapa?"
Sarah membesarkan matanya. Sudah? Lalu sedari tadi Amber masih melihatnya sebagai sekretaris Demian, kenapa? Apa yang ada di pikirannya tentang pernikahan itu?
"Terus Mba Amber gimana reaksinya? Marah nggak?"
"Enggak. Aku memberitahunya kalau kita menikah demi proyek," jawab Demian lagi.
"Baguslah. Saya kira dia akan marah. Karena kalau dia marah saya nggak mau tanggungjawab."
"Memangnya kau? Marah-marah terus? Hm?" Demian menggoda lagi sambil mengulurkan tangannya untuk mencubit pipi Sarah yang chubby.
Eh! Kenapa lagi deh ini? Kenapa dia harus mencubit pipiku segala sih? Trus kenapa aku nggak bisa menghindar? Malah deg-degan begini?
"Kenapa sih marah-marah terus? Nggak capek?" Demian menarik tangannya dari pipi Sarah dan kembali fokus ke jalan di hadapannya. Pipi Sarah kini sukses bersemu merah.
"Kenapa? Bapak menyesal nikah sama saya??"
"Hahahaha ... jadi sekarang kau sudah mengakui pernikahan kita, Sar?"
"Ah, tau ah! Ini kapan nyampeknya? Eh perasaan ini bukan jalan menuju kantor deh, Pak!"
*****