Tahun 9.999 Dunia hancur akibat peperangan yang di sebabkan oleh manusia, dengan berbagai alat tempur canggih, seperti Robot dan sebagainya.
Di dunia yang sudah hancur tersebut terdapat penyintas yang masih bertahan hidup di dunia yang baru.
Arian Smeltz Pria berumur 22 tahun, salah satu penyintas yang bertahan hidup di Dunia baru, dia menemukan sosok Robot saat sedang melakukan penjelajahan demi menemukan tanah yang subur.
Robot tersebut merupakan sebuah Sistem yang akan membantu Arian membuat kehidupan barunya di dunia yang sudah rata dengan tanah tersebut.
Arian membangun sebuah peradaban baru, hingga lama kelamaan tanah yang tadinya di huni oleh dia dan keluarganya saja, mulai di datangi penyintas lainnya.
Sosok dua Wanita cantik kakak beradik yang pandai bela diri dan menggunakan senjata tertarik kepada Arian.
Mereka pun membangun keluarga bersamaan dengan membangun sebuah peradaban baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alveandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Arian menyuruh X-Ray perlahan masuk ke dalam wilayah hijau sungai Zeuz, di sana terlihat kelompok pengangkut air kota Hole sedang menyedot air menggunakan pesawat yang memang kusus untuk mengambil Air. Tentu dengan pengawalan yang sangat ketat agar kaum Vebal tidak menyerang mereka.
"Berebut saja air terus, sementara aku sudah tidak kehabisan air sama sekali," gumam Arian lirih sambil melihat ke arah mereka.
Tidak jauh dari sana, terlihat kaum Vebal yang sedang mengawasi mereka semua dari kejauhan. Tampaknya mereka juga bersiap untuk menyergap kelompok tersebut. Karena kaum Vebal tahu hanya saat-saat seperti itu saja mereka bisa mendapatkan daging manusia.
Arian menghela napas. "Cih, kaum ini harusnya musnah saja dari sini, mereka sungguh kaum bodoh."
"Tuan, apakah saya perlu membunuh mereka semua?" tanya X-Ray memastikan.
"Jangan! lebih baik kita tidak berurusan dengan mereka dan fokus mencari tunas pohon!" perintah Arian lirih.
"Baik tuan," jawab X-Ray.
Mereka berdua mencari tunas pohon yang akan mereka tanam di wilayah rumah mereka. X-Ray sangat bersemangat saat melihat sebuah tunas pohon. Ia langsung menyuruh X-Ray untuk mencabutnya dan menaruhnya di tempat yang sudah mereka siapkan.
Tunas-tunas pohon yang di cari Arian hanya setinggi lutut orang dewasa, menurut X-Ray tunas pohon yang seukuran itu yang cukup cepat beradaptasi dengan tempat baru.
Ketika mereka berdua sedang mencabut tunas pohon yang ke lima. Tiba-tiba terdengar suara tembakan saling bersahutan-sahutan.
Arian tahu kalau kaum Vebal sudah memulai serangannya. Kelompok Kota Hole, mereka menyuruh pesawat pengangkut air agar terbang terlebih dahulu.
Sementara prajurit melawan para Kaum Vebal, Arian melihat dua kelompok tersebut saling beradu tembak satu sama lain.
Arian ingin membantu, tapi ia takut malah akan menjadi korban kebengisan kaum Vebal, terlebih lagi ia cuma berdua dengan X-Ray.
"Tuan, apakah anda tidak mau membantu mereka?" tanya X-Ray yang sudah siap jika di berikan perintah.
Arian menggeleng. "Tidak, kita tidak perlu ikut campur."
"Baik tuan!" jawab X-Ray tegas.
Kaum Vebal perlahan mulai unggul, prajurit kelompok kota Hole mereka tertekan, sehingga langsung naik pesawat dan pergi dari sana.
Terlihat ada dua orang yang tertinggal, mereka berteriak-teriak minta tolong, tapi pesawat sudah terbang menjauh dari sana.
Dua prajurit itu ketakutan, mereka yakin kalau tubuh mereka akan menjadi santapan kaum Vebal, sehingga mereka menembak membabi buta.
Kaum Vebal yang tahu kalau mereka berdua sudah kalut, mereka bersembunyi dulu agar peluru keduanya habis.
Benar saja saat peluru mereka berdua habis, kaum Vebal bermunculan sambil tersenyum senang, karena mereka akan mendapatkan buruan.
Kedua orang itu sangat ketakutan, tubuh mereka berdua bergetar hebat dan menangis sejadi-jadinya.
Arian yang melihat kejadian itu, nuraninya tersentak, ia menggertakkan giginya antara mau menolong mereka berdua atau tidak.
"X-Ray! Tolong mereka berdua, tapi hindari pertempuran sebisa mungkin!" perintah Arian yang sudah tidak tahan lagi melihat kaumnya akan menjadi makanan kaum Vebal.
"Baik tuan! Mengaktifkan kecepatan turbo," jawab X-Ray.
Arian bingung apa yang akan di lakukan X-Ray, tapi sedetik kemudian X-Ray melesat dengan kecepatan Ekstrim, sehingga membuat Arian terkejut.
Swuzzz
X-Ray melesat dengan cepat sambil mencekal kedua kerah orang itu dan melesat meninggalkan tempat tersebut.
Kedua orang itu hanya bisa pasrah, dengan tubuh mereka yang menahan kencangnya angin yang menerpa mereka berdua.
Kaum Vebal hanya bisa tertegun, mereka tidak tahu apa yang terjadi barusan, karena kecepatannya di luar nalar.
"Apa itu tadi?"
"Monster Erhaz?"
"Bukan mungkin itu monster Frogy terbang?"
"Mana ada monster Frogy terbang, bodoh!"
"Gawat, buruan kita hilang!"
Kaum Vebal baru menyadari kalau buruan mereka hilang bersamaan dengan angin kencang yang melesat di atas kepala mereka barusan.
Kaum Vebal saling menyalahkan satu sama lain, mirip dengan SDM salah satu negara yang penghuninya senang sekali rusuh karena masalah sepele.
klo awal2 cerita jgan mnculin heroine dlu klo bsa fokus ke inti cerita dlu nnti pertengahan bru mnculin heroin
awal2 muncul gni ujung2nya beban nnti.
saran aja broo