Aurora Monique Ragnhild Nicandro, gadis berusia dua puluh delapan tahun yang ingin mempunyai anak, tapi dia tidak mau menikah.
Apakah yang akan dilakukan oleh Aurora.??
Apa dia akan mengadopsi seorang anak, atau memilih akan melakukan donor sp3rma.??
Ide gila tiba-tiba muncul dari dalam otaknya, ketika takdir mempertemukannya dengan seorang laki-laki yang bernama Enzo.
Mau tahu, apa yang akan di lakukan Aurora kepada Enzo.??
Dan bagaimana reaksi dari Enzo, ketika tahu jika Aurora hanya memanfaatkannya saja demi mendapatkan anak darinya.
Yuk, simak kisah mereka berdua di novel saya yang ke sekian, maaf jika nanti banyak typo🤗😉.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maria_azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMBALI KE DESA
Kembali ke Aurora lagi, setelah sarapan tadi dengan makanan yang sudah dibeli oleh Linnea, Aurora memilih merebahkan badannya di atas ranjang yang ada di dalam kamarnya.
Aurora melamun sambil membayangkan kegiatan indahnya dengan Enzo semalam, dan tanpa sadar membuatnya tersenyum sendiri.
" Semoga kamu cepat tumbuh di dalam perut Mama ya sayang, Mama sudah tidak sabar menantikanmu hadir di dalam perut Mama ," kata Aurora berbicara sendiri sambil mengusap perutnya.
Di saat wanita lain tidak mau dan malu jika hamil di luar nikah, justru Aurora berbeda, dia malah memilih hamil tanpa di dampingi seorang suami.
" Aku tidak tahu siapa nama kamu Tuan, tapi wajah kamu akan selalu aku ingat di dalam hati dan ingatanku ," kata Aurora lagi sambil berganti posisi tidur dengan miring.
" Semoga kita tidak bertemu lagi, apalagi sampai kamu mengambil anak yang sedang aku kandung jika aku hamil ," kata Aurora lagi.
Setelahnya, Aurora mencoba mengistirahatkan tubuhnya, yang rasanya benar-benar sangat capek sekali.
Singkat cerita, satu minggu sudah Aurora berada di kota, selama satu minggu setelah kejadian malam panas dengan Enzo, waktu yang Aurora habiskan hanya di dalam rumah kontrakan Linnea saja, dan saat ini dia sedang bersiap-siap untuk kembali ke desa tempat tinggalnya bersama Linnea.
" Ra, Aurora, apa kamu sudah siap?? ," tanya Linnea kepada Aurora.
" Iya sebentar lagi ," jawab Aurora kepada Linnea.
Dan tidak lama, Aurora pun ke luar juga dari dalam kamar untuk menemui Linnea.
" Yuk, aku sudah siap ," jawab Aurora kepada Linnea.
" Kenapa kamu berpakaian seperti itu, ini tidak musim dingin Aurora?? ," tanya Linnea kepada Aurora.
" Tidak apa-apa, aku takut jika sewaktu-waktu bertemu dengan laki-laki itu lagi di jalan, baju ini akan aku lepas nanti jika sudah sampai di perbatasan desa ," jawab Aurora kepada Linnea.
" Terserah kamu saja, ayo kita segera pergi ," kata Linnea kepada Aurora.
" Ayo ," jawab Aurora.
Aurora tidak peduli jika banyak orang yang melihat aneh ke arahnya yang berpenampilan musim dingin, yang terpenting Aurora tidak bertemu dengan Enzo.
" Linnea, kita mampir ke toko oleh-oleh sebentar ya, aku ingin membelikan oleh-oleh untuk Ayah dan Mama ," kata Aurora kepada Linnea.
" Memangnya kamu masih mempunyai uang Aurora?? ," tanya Linnea.
Karena uang milik Aurora sudah dia habiskan untuk membeli dress yang kemarin, untuk masuk ke dalam diskotik milik Enzo, dan yang terakhir uangnya dia berikan kepada Enzo.
" Jika cuma beli oleh-oleh aku masih ada sedikit, antarkan aku ya ," jawab Aurora.
" Iya ayo, nanti di sana ada pusat oleh-oleh, dan harganya sedikit lebih murah di bandingkan yang lain ," kata Linnea kepada Aurora.
Aurora hanya mengangguk saja kepada Linnea, dan setelah berjalan kaki sekitar dua puluh menit lamanya, akhirnya Linnea dan Aurora sampai juga di salah satu pusat oleh-oleh yang dikasih tahu oleh Linnea tadi.
Aurora dan Linnea memilih makanan yang ingin mereka beli dan bawa pulang ke desa, dan setelah membeli makanan tersebut, Linnea beserta Aurora langsung melangkahkan kakinya ke luar dari dalam toko tersebut.
Ketika baru saja ke luar dari dalam toko oleh-oleh itu, Aurora tiba-tiba bersembunyi dibalik punggung sang sahabat, dan hal itu membuat Linnea merasa kebingungan sendiri dengan sikapnya Aurora.
" Kamu kenapa Aurora?? ," tanya Linnea kepada Aurora.
" Lihatlah barisan mobil mewah yang ada di sana, dan orang yang sedang memakai setelan jas mahal dan paling tampan sendiri, laki-laki itulah yang kemarin sudah menghabiskan malamnya denganku ," bisik Aurora sambil menunjuk Enzo yang sedang berdiri di samping mobilnya bersama para anak buahnya.
Linnea langsung saja mengalihkan pandangannya ke arah yang di tunjuk oleh Aurora, dan betapa terkejutnya Linnea, ketika sudah melihat siapakah laki-laki yang di maksud oleh Aurora.
" Astaga Aurora!! ," pekik Linnea.
" Kamu berurusan dengan orang yang berkuasa, dia adalah anak sulung Keluarga Diedrich, Keluarga terkaya yang ada di Negara ini ," kata Linnea kepada Aurora.
" Apa!! ," teriak Aurora, dan Linnea langsung saja membekap mulut Aurora.
" Kamu mau ketangkap sama mereka huh, teriak-teriak seperti tadi!! ," kata Linnea kepada Aurora.
" Aku tidak mau bertanggung jawab Aurora, jika kamu sampai ketangkap sama mereka, sungguh nyawa kamu saat ini sedang terancam, dan lebih baik ayo segera pergi dari sini ," kata Linnea kepada Aurora.
Linnea langsung saja menyetop taksi yang kebetulan lewat di depan mereka, dan sekilas Enzo seperti melihat Aurora, tapi dia tidak mempedulikannya, karena pikir Enzo, dia hanya terbayang-bayang saja.
Padahal memang benar, apa yang dilihat oleh Enzo tadi adalah Aurora, dan selama satu minggu ini, Enzo belum menemukan siapa itu Aurora dan di mana dia tinggal.
Wajar saja jika Aurora sulit di temukan, dia orang biasa, tinggalnya pun juga di desa dan jarang bersosialisasi di lingkungan, tentu saja nama dia tidak terlalu menonjol di manapun dia berada.
Aurora dan Linnea yang sudah berada di dalam taksi, mereka berdua langsung merasa sedikit lega, karena akhirnya bisa menjauh dari Enzo.
" Bagaimana kamu bisa tahu siapa laki-laki itu Linnea?? ," tanya Aurora kepada Linnea.
" Keluarga dia sudah sangat terkenal sekali, hampir pusat bisnis yang ada di ibu kota, milik Keluarga mereka semua, bahkan mereka juga mempunyai beberapa cabang Perusahaan raksasa di sini maupun di Luar Negeri, kamu sih berkutiknya dengan domba dan domba saja, jadi tidak tahu berita terkini ," jawab Linnea kepada Aurora.
" Biarlah siapa dia, yang terpenting aku sudah dapat benih darinya, sekarang aku hanya berdoa, semoga dia tumbuh di sini dan akan aku besarkan dia sendirian tanpa mau meminta uang dari Ayahnya yang kaya raya itu ," kata Aurora sambil mengusap perutnya.
Linnea yang mendengar jawaban dari Aurora, dia hanya menggelengkan kepalanya saja, sebab Linnea sudah kehabisan kata-kata untuk berbicara dengan Aurora.
Setelah cukup lama menempuh perjalanan menuju ke desa, akhirnya Linnea dan Aurora sampai juga di desa tempat tinggal mereka berdua.
Kedatangan Linnea dan Aurora di sambut senang oleh Mama Paulita dan Ayah Bogy.
" Ayah, Mama, ini Aurora belikan oleh-oleh untuk kalian berdua ," kata Aurora kepada Ayah Bogy dan Mama Paulita.
" Terimakasih Aurora, kamu kenapa repot-repot Nak ," kata Mama Paulita kepada Aurora.
" Tidak repot ko Ma, kalau begitu Aurora pulang dulu ya Ma, Yah, mau istirahat, capek sekali badanku ini ," jawab Aurora kepada Mama Paulita.
" Eh tunggu Aurora ," cegah Ayah Bogy kepada Aurora.
" Iya Ayah ," jawab Aurora.
" Itu hasil dari kebun kamu, bawalah pulang juga, rencananya besok akan Ayah jual ke pasar, tapi kamu sudah pulang ," kata Ayah Bogy kepada Aurora.
" Untuk Ayah sama Mama saja ," kata Aurora.
" Tidak Nak, ambillah, dan bawa pulang, besok jual ke pasar untuk memenuhi kebutuhan kamu, kami sebagai orang tua, tidak akan tega meminta sesuatu kepada anaknya ," kata Ayah Bogy kepada Aurora.
" Baiklah Ayah, mana hasil kebunnya, besok biar Aurora jual ke pasar ," kata Aurora kepada Ayah Bogy.
Ayah Bogy langsung saja masuk ke dalam rumah untuk mengambil hasil kebun milik Aurora, dan Aurora yang sudah membawa hasil kebun miliknya, dia pun langsung mengucapkan terimakasih dan langsung pulang ke rumahnya yang ada di sebelah rumah Linnea.
Aurora gadis yang lugu, cantik dan juga pekerja keras. tanpa tahu masalah apa yang akan dia hadapi nanti di kemudian hari, karena sudah berhubungan dengan Keluarga Diedrich.
Yang Aurora tahu, dia hanya ingin mempunyai anak, untuk mendampinginya setiap hari, dikala merasa bersedih, sepi dan juga senang.
...✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️...
...***TBC***...