Apa jadinya, jika seorang gadis kecil harus menyaksikan kematian kedua orang tua dan kedua saudaranya dengan cara mengenaskan.
Alaska Tania tumbuh menjadi gadis yang penuh dendam dan mengalami trauma yang mempengaruhi psikisnya.
Bisakah Alaska keluar dan lepas dari belenggu dendam masa lalu dan traumanya?
Dendam, air mata, masa lalu dan cinta menghiasai novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isma ismawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Pembalasan
Bab 8
Alaska berjalan dengan tatapan nyalang. Dia memasuki ruang tempat istirahat para OB di kampus itu. Tepat di depan pintu, beberapa OB yang berada di dalam terkesiap melihat kehadiran Alaska. Mereka mengetahui jika Alaska bukanlah salah satu Mahasiswi di Kampus ini, karena mereka baru pertama kali melihat Alaska.
Para OB tidak bisa mengedipkan matanya, melihat kecantikan Alaska. Jakun mereka naik turun menatap lekat wajah dan body Alaska, benar-benar kecantikan yang sangat sempurna.
"Maaf, saya mau cari OB yang bernama Pak Martin," Alaska menatap mereka satu persatu, dengan tatapan setajam elang.
"Pak Martin?" ucap salah satu OB, menatap heran Alaska.
Mereka saling tatap, tidak mempercayai jika Martin, kepala OB yang sudah berusia sepuh yang belum juga di berhentikan atau pensiun, di cari oleh wanita cantik dan elegan seperti Alaska.
"Pak Martin sedang berada di ruang Dekan" jawab seorang OB yang baru saja datang menghampiri mereka.
"Bisa antarkan saya ke sana?" pinta Alaska, dengan tatapan yang bisa menghipnotis siapa saja yang menatapnya.
"Oo tentu saja Non, dengan senang hati, ayo Non," OB itu langsung tersenyum sumringah, dan segera mengajak Alaska.
Tanpa ekspresi Alaska mengikuti langkah OB itu. Sedangkan para OB yang lain, hanya saling tatap.
"Wah, cantiknya banget! ada perlu apa ya wanita secantik itu mencari Pak Martin?" tanya OB yang terus menatap punggung Alaska, walaupun sudah menghilang dari pandangan mereka.
"Mungkin salah satu keluarga Pak Martin" jawab OB satunya.
"Tidak mungkin Pak Martin, mempunyai saudara secantik itu" jawab OB itu, dengan ekspresi wajah mengejek.
"Sudah, tidak perlu berdebat, nanti kita tanyakan langsung ke Pak Martin. Ayo sekarang kita terus kerja lagi"
Para OB itu pun membubarkan diri, dengan segudang rasa penasaran dengan sosok Alaska.
Alaska berjalan beriringan dengan OB yang sesekali mencuri pandang kepadanya, di sepanjang perjalanan ke ruang Dekan, semua mata laki-laki menatap kagum ke arahnya, ada rasa bangga pada diri OB itu, bisa berjalan bersama Alaska.
Sesampainya di depan ruang Dekan, bertepatan dengan keluarnya Martin dari ruangan sang Dekan.
Alaska menatap tajam Martin, sekuat mungkin dia menahan gejolak amarah di dadanya. Bayangan kakak lelakinya yang meronta dan menjerit karena di seret paksa oleh Martin, tergambar jelas di pelupuk matanya. Kemarahan dan dendam menguasai jiwanya.
"Pagi Pak Martin, Nona cantik ini mencari Bapak" ucap OB itu, sambil melirik ke arah Alaska.
Martin terpukau menatap Alaska dari atas sampai bawah. Untuk beberapa saat dia mematung, menatap kagum wanita di hadapannya.
Seulas senyum miring terlihat di bibir tipis Alaska.
"Dasar Pria mesum, bajing*n!" umpat Alaska dalam hati, dengan perasaan jijik.
"Hallo Pak Martin, perkenalkan saya Tania" Alaska mengulurkan tangannya.
Suara Alaska yang lembut, membuat Martin tersentak, dengan gugup dan hati berdebar dia membalas uluran tangan Tania.
"Martin Non, ada perlu apa ya mencari saya?" tanya Martin, yang enggan melepaskan jabatan tangannya terhadap Alaska.
Alaska tidak menjawab, dia hanya melirik ke arah OB yang sedang menatap mereka. Martin pun mengerti dan memberikan kode kepada OB itu untuk pergi meninggalkan mereka. Dengan perasaan dongkol OB itu pun berlalu meninggalkan mereka.
Martin tersenyum, dengan terus menatap wajah Alaska, tentu saja membuat Alaska semakin muak. Ingin sekali dia menarik tangan Pria tua itu yang tidak mau melepaskan tangannya, lalu membanting keras tubuhnya dan menginj*k batang lehernya.
Namun, Alaska tidak mau gegabah. Dia akan memainkan perannya dengan cantik, sehingga tidak ada satu jejak pun yang akan menyeretnya ke ranah hukum.
"Maaf Pak Martin" ucap Alaska lembut sambil melirik ke arah tangan mereka.
"Maaf Nona, tangan Nona Tania halus sekali" Martin menelan salivanya, jakunnya terlihat naik turun.
"Apa Nona Mahasiswi baru di sini?" tanya Martin, yang terus menatap wajah Alaska.
"Iya, baru saja mendaftar hari ini" jawab Alaska, sambil melangkah dengan gaya yang anggun, akan tetapi, bagi Martin cara berjalan Alaska sungguh menggodanya.
"Sebenarnya ada perlu apa Nona mencari saya?" tanya Martin mensejajarkan langkahnya dengan Alaska.
"Apa kita bisa berbicara di tempat yang lebih nyaman?" Alaska menghentikan langkahnya, menatap Martin yang membuat Martin ingin memeluknya.
Alaska tertawa di dalam hati, sang mangsa telah masuk ke dalam perangkapnya.
"Bahagialah dulu Pria tua mesum, karena kematian akan segera menghampirimu" Batin Alaska.
"Saya akan membawamu ke tempat yang nyaman" bisik Martin, tepat di telinga Alaska.
Alaska tersenyum manis, walaupun di dalam hatinya sudah merasa sangat muak. Tanpa sungkan Martin langsung memeluk pinggang Alaska dan membawa Alaska menuju parkiran di mana mobilnya berada.
"Ini..?" tanya Alaska pura-pura, sambil menunjuk mobil yang akan di taiki Martin.
"Saya sudah sangat lama bekerja di sini, walaupun hanya sebagai kepala OB kampus, tapi uang dan kekayaan saya, sama dengan Richard Dekan sekaligus pemilik kampus ini" bisik Martin lagi, bahkan lebih dekat hampir menyentuh pipi Alaska.
"Bisa kita pergi sekarang?" dengan gerakan pelan, Alaska menahan dada Martin.
Martin tersenyum dan membukakan pintu untuk Alaska. Dia pun segera melajukan mobilnya keluar dari kampus.
Di tengah perjalanan, tangan nakal Martin menggenggam tangan Alaska.
"Ini saatnya kematianmu tua bangka" Alaska berkata dalam hati. Sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya. sebuah benda kecil seperti sebuah suntikan.
Sambil tersenyum, secara perlahan, Alaska langsung menyuntikkan cairan itu tepat di pembuluh vena punggung tangan Martin.
Martin tercekat, dia seperti merasakan di gigit semut, dengan segera dia melepaskan genggaman tangannya, belum sempat dia mengeluarkan suara, tiba-tiba dadanya terasa sesak, tenggorokannya begitu sakit dan panas, matanya mulai berkunang-kunang, sehingga menyebabkan hilang kendali.
Alaska segera melompat keluar, sebelum mobil itu menghantam keras bahu jalan. suara dentuman sangat kencang terdengar memekakkan telinga. Karena kencangnya benturan menimbulkan percik api di bagian mesin mobil, dan tak terelakan lagi mobil pun hangus terbakar bersama dengan tubuh Martin di dalamnya.
Alaska menatap mobil yang terbakar itu, dengan senyum penuh kepuasan, dia pun mengambil kertas di tas yang berisi beberapa gambar orang. Kembali tersenyum puas, dia memberi tanda silang di wajah Martin dan tak lama menulis angka satu di atasnya.
Alaska segera meninggalkan TKP ( Tempat Kejadian Perkara ), sebelum orang-orang menyadari kecelakaan tersebut.
**************
Sementara di Kampus, Tiara tampak panik mencari keberadaan Alaska, hatinya tidak tenang, dia takut jika Alaska sudah memulai aksinya.
Di tengah kepanikannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Hallo Bi Sumi"
"Apa? Alaska sudah di rumah?"
"Baiklah, aku segera pulang"
Tiara menatap ponselnya, sambil menarik napas. Dia berdo'a semoga Alaska tidak melakukan kebodoh*n.
*************
Apakah aksi pertama balas dendam Alaska akan aman, mengingat adanya beberapa saksi yang mengetahui jika dia mencari dan bersama Martin?
Bagaimana dengan Cctv di sekitar Alaska melakukan aksinya?
Semua segera terjawab, di bab selanjutnya 🤗🥰
Jangan lewatkan novel yang masih up "Penyesalan Zaidan", di jamin semakin seru ceritanya 😁👇
semangat karya barunya kak