Kisah cinta Reynaldo Kehliano dengan gadis misterius bernama Jessica Anora, adik dari sahabatnya yang bermarga Kelvin.
Kisah cinta yang unik dan tidak pernah mereka duga sebelumnya. Kisah cinta yang di imbangi dengan hal-hal yang tidak pernah relevan jika orang pikir.
--------------------
"Tidak, cinta itu lucu." Jeje menaikkan alisnya.
"Kita memiliki banyak anak dan dua cucu, apa itu tidak lucu?" Jeje ikut terkekeh.
"Ya, aku kadang merasa sudah menjadi nenek-nenek tua jika bersama Liana juga Marc.".
"Meski kau akan menjadi tua, aku tetap mencintaimu." Jeje mengangguk.
"Jika kau tua, aku akan cari suami baru."
Lalu bagaimanakah perjuangan cinta ke duanya.. ..??
-------------------
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hevitriAe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketemu Lagi
happy reading
Hari ini hujan, sejak satu jam yang lalu dan seorang wanita cantik sedang berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan sepatu sneakers. Persis seperti ke sukaannya, mata coklat bulatnya yang indah dan jernih serta rambut hitam yang panjang. Apalagi senyumnya? Bahkan dari ia berjalan banyak pasang mata yang terasa terhipnotis olehnya.
"Thanks ya Je, sudah bantu mecahin masalah Gue." ucap seorang pria yang seumuran dengannya, Jeje tersenyum pada sahabatnya yang bername tag Taufan pada jas putihnya. Taufan seorang Dokter sama halnya dengan Jeje.
"Gue enggak nyangka Lo bakal pulang! Gue kira Lo bakal betah tinggal sama Kakek Lo." ucap Taufan dengan kekehanya, tadi Taufan minta tolong pada Jeje karena satu masalah yang tidak bisa Ia tangani.
"Hahha rumah Gue itu di sini! Ke napa Gue enggak mau pulang?" tanya Jeje dengan tawanya mendengar pertanyaan yang terdengar aneh di pendengaran Jeje.
"Pasti di sana banyak cowok gebetan Lo ya? Makanya Lo betah." goda Taufan dengan menaik turunkan alisnya yang hanya di tanggapi Jeje dengan tawanya.
"Gue pulang dulu ya?" Taufan dengan cepat menghentikan langkah Jeje.
"Loh ke napa? Gue mau ajak Lo makan siang bareng." Jeje menggeleng.
"Enggak usah, lain kali saja ya? Gue ada perlu." tolak Jeje halus.
"Apa enggak bisa di tunda?" tanya Taufan memastikan, pria berkaca mata itu terlihat memohon pada Jeje. Tapi bukan Jeje kalau dapat di hentikan.
"Enggak bisa Fan, lain kali ya? Ada panggilan mendadak nih." lagi Jeje berusaha membujuk sahabatnya itu, Jeje menampilkan senyum menawannya agar Taufan berhenti mencegahnya pergi. Karena Dia ada panggilan mendadak.
"Oh baiklah." Taufan menyerah untuk membujuk Jeje yang memang keras kepala.
"Bye Fan!".
"Bye Je!".
Setelah melambaikan tangannya Jeje sedikit berlari menuju pintu ke luar rumah sakit, dengan dorongan penuh dan tanpa Dia sangka juga seseorang akan masuk ke dalam rumah sakit hingga tubuh seseorang itu terpelanting.
"Ahh sial!" umpat suara laki-laki yang tadi terdorong oleh pintu.
"Ah sorry A-" ucapan Jeje terhenti mana kala pria yang pantatnya mulus mencium lantai rumah sakit itu mendongakkan kepalanya. Pria itu melotot sempurna dengan mata elang yang siap menusuk orang yang menatapnya.
Jangan tanya Jeje, karena sekarang Jeje malah tertawa keras melihat siapa yang bokongnya menjadi korban dari kerasnya lantai.
"Ck Kamu lagi Kamu lagi! Duniaku sempit sekali." pria itu menggeram saat Jeje malah mendramatisir ucapannya seolah Dia yang paling nelangsa bertemu dengan pria itu lagi.
"Kamu!" pria itu menunjuk Jeje dengan kesal.
"Oh billionare sombong itu eh?" ejek Jeje dengan kekehannya lalu menepis telunjuk pria itu yang mengarah padanya.
"Sial bertemu wanita ini lagi!" umpat Aldo, ya Aldolah yang terpelanting tubuhnya ke belakang saat Dia akan meraih pintu yang sayangnya belum otomatis itu karena Ia akan menjenguk rekan bisnisnya yang di rawat rumah sakit ini.
"Apa Kau bilang?" tanya Jeje mendekati Aldo yang masih terduduk, Aldo mendengus.
"Dahlan." panggil Aldo pada asistennya itu yang baru saja tiba dan menyadari bahwa bosnya sudah terduduk di lantai rumah sakit.
"Ya Tuan." Aldo segera berdiri dari duduknya lalu menatap tajam Jeje yang bersidekap dada angkuh menantang, terlihat dari pandangannya yang terus mengarah pada Aldo.
"Dari pada Kau gunakan untuk ganti rugiku mending Kau sumbangkan saja, misal rumah sakit ini." ucap Jeje saat tangan Aldo menengadah pada Dahlan meminta ceknya.
"Siapa yang akan memberimu ganti rugi Nona ceroboh? Aku yang akan meminta ganti rugi padamu." Jeje di buat melongo atas ucapan pria yang baginya sangat-sangat dan sangat menyebalkan setengah mati yang ada di hadapannya ini.
"Ini!" Aldo menyerahkan kertas cek dan pena pada Jeje, Dahlan tertawa geli di belakang Aldo. Sungguh mereka lucu bagi Dahlan.
Jeje menerima cek itu dengan face kusut sekusut-kusutnya, bukannya menulis nominal angka. Jeje malah menuliskan nomor ponselnya pada kertas cek itu. Karena ide briliant tiba-tiba terlintas di otak cerdasnya.
"Aku tidak butuh nomor ponselmu Nona!" Aldo menatap tidak percaya wanita di hadapannya setelah melihat kertas ceknya.
"Apa ini caramu ingin berkenalan denganku?" Aldo tersenyum mengejek, Jeje menaikkan satu alisnya.
"Oh sungguh Kau bukan hanya sombong tapi juga terlalu percaya diri Tuan billionare!" balas Jeje dengan senyum mengejek yang lebih menusuk dari pada Aldo.
Sungguh Dahlan bahkan sedikit mundur karena perdebatan serta wajah wanita itu yang lebih dominan bagi Dahlan.
"Kau hubungi Aku untuk ganti rugimu, Aku tidak ingin berlama-lama menulis pada cek kunomu itu! Oh sungguh waktuku sangat berharga!" Jeje berlalu dari hadapan Aldo yang tertegun pada gadis berani itu. Aldo mendengus sebal 'sial!' batinnya.
"Kau hubungi Dia lalu minta ganti rugi sebanyak yang Kau minta! Aku akan lihat apa Dia masih mau mengganti rugi?" Dahlan mengangguk sopan.
"Aku akan menculiknya jika Aku bertemu dengannya untuk ke tiga kalinya.".
"Tuan yakin akan menculiknya?" tanya Dahlan tidak percaya atas ucapan majikannya.
"Ya, agar Aku tidak lagi harus bertemu dengannya." Dahlan diam dan tidak bisa protes lagi. Mereka masuk ke dalam rumah sakit dan mereka melakukan apa yang menjadi niatan awal ke datangan mereka.
pasti seru jeje sama aldo bertengkarnya😀😀😀