Arini harus merelakan masa mudanya dengan menikah. Terpaksa dia menerima tawaran menjadi istri ke dua demi mendapatkan biaya untuk operasi neneknya. Namun pengorbanannya sia-sia. Neneknya meninggal pasca operasi. Namun pernikahan yang sudah terjadi tidak bisa di sudahi. Karena Arini masih harus mengandung benih dari lelaki yang sudah menjadi suaminya. Jika dia sudah melahirkan, baru boleh pergi dari kehidupan Alex dan Mila sang istri pertamanya. Karena itu syarat yang Mila berikan kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode.8
Alex tak mungkin menyalahkan istrinya yang tak pernah memberikan uang darinya kepada Arini. Karena Alex tak mau ada keributan. Apalagi Mila sedang hamil dan mood-nya pasti berubah-ubah. Alex tak mau jika dia menanyakan hal itu, akan membuat istrinya marah.
Alex sedang memasukkan beberapa pakaian miliknya ke dalam koper. Pagi ini Alex akan pergi ke luar kota mengurus bisnisnya disana.
''Mas, apa kamu yakin akan pergi? Tidak bisakah asistenmu saja yang pergi?'' Mila merasa enggan untuk berpisah dengan suaminya.
''Mas harus tetap pergi, sayang. Tapi maaf, Mas harus pergi dua minggu.''
''Yah bakalan kangen deh. Mas janji ya nanti setelah sampai disana, Mas harus sering-sering kabari aku.''
''Iya, sayang. Kamu tenang saja. Mas juga sudah transfer sejumlah uang ke rekeningmu. Kamu pergunakan untuk kebutuhanmu sehari-hari ya,'' ucap Alex.
''Baik, Mas. Terima kasih ya, makin cinta deh sama kamu,'' Mila menghampiri suaminya. Dia mencium singkat bibir suaminya.
''Sama-sama, sayang. Itu sudah menjadi tugas Mas untuk menafkahi kamu.''
''Sayang, Mas mau menemui Arini sebentar ya. Mas juga harus berpamitan kepadanya.''
''Sejak kapan Mas mulai dekat dengannya? Ngapain pakai pamitan sama dia segala?'' Mila menatap suaminya penuh selidik. Dia tak suka dengan suaminya yang tiba-tiba peduli dengan Arini.
''Mas tidak dekat dengan dia kok. Tapi hanya kasihan saja. Kamu jangan cemburu begitu dong, cinta Mas itu hanya untuk kamu saja kok,'' Alex meyakinkan istrinya jika perasannya tidak berubah dan tidak akan berubah.
''Janji ya, sampai kapan pun mas Alex hanya mencintaiku saja,'' Mila meminta suaminya untuk saling menautkan jari kelingkingnya.
''Kamu tidak usah risau, sayang. Cinta Mas hanya untukmu,'' Alex tampak meyakinkan istrinya.
Entah kenapa perasaan Mila masih tak tenang. Ada ketakutan di dalam hatinya jika saja Alex meninggalkannya dan lebih memilih Arini.
Mila membiarkan suaminya menemui Arini. Namun tanpa sepengetahuan suaminya, dia mengikutinya. Mila penasaran dengan apa yang akan di bicarakan oleh suaminya kepada Arni.
Dari arah tangga, Mila melihat suaminya memberikan amplop coklat kepada Arini. Kebetulan suaminya dan Arini berbicara di depan pintu kamar yang di tempati oleh Arini.
''Rin, untuk dua minggu ke depan saya akan pergi ke luar kota. Kamu pergunakan uang itu untuk kebutuhan sehari-hari kamu ya,'' ucap Alex setelah memberikan amplop coklat kepada Arini.
''Baik, Kak. Terima kasih ya,'' Arini terlihat senang, karena Alex yang dia kenal cuek ternyata perhatian juga kepadanya.
''Sama-sama, saya permisi dulu harus segera berangkat.''
Arini memasuki kamar setelah melihat Alex pergi dari sana.
Mila yang tadi mengikuti suaminya, kini dia sudah kembali ke kamar. Untung saja suaminya tak curiga kepadanya.
''Sayang, Mas mau berangkat sekarang ya,'' Alex meraih jaket jas miliknya yang tergeletak di pinggir ranjang dan mulai mengenakannya.
''Biar aku antar sampai ke depan, Mas.'' Mila beranjak dari duduknya, bersiap diri untuk mengantar suaminya ke depan.
Mila melambaikan tangannya kepada suaminya yang berada di dalam mobil. Alex membalas lambaian tangan itu lalu bergegas mengemudikan mobilnya meninggalkan halaman rumah.
Mila menutup pintu rumahnya. Dia menghampiri Aini yang baru keluar dari kamar.
''Hei, serahkan uang itu!'' Mila berucap sambil membuka satu telapak tangannya.
''Uang apa ya?'' tanya Arini yang tak mengerti.
''Tidak usah pura-pura tidak tahu deh. Aku tahu kok kalau kamu itu baru saja mendapatkan uang dari Mas Alex.''
''Tapi uang itu untuk kebutuhanku. Aku juga harus membeli susu karena stok persediaan susu milikku sudah habis.''
''Ah banyak bicara,'' Mila yang tak sabar, dia menerobos masuk ke dalam kamar Mila. Dia membuka laci meja dan mengacak-acak isi yang ada di dalamnya mencari amplop coklat berisi uang.
Arini tak menyangka jika Mila akan berubah seperti sekarang ini. Kecemburuan mengubah segalanya. Jika saja dia tidak hamil, mungkin sikap Mila kepadanya tidak akan seperti ini.
Akhirnya Mila menemukan uang yang dia cari ada di laci meja rias.
''Uang ini milikku, apa yang menjadi milik suamiku adalah milikku. Jadi aku berhak untuk mengambil kembali uang ini darimu,'' setelah mengatakan itu Mila berlalu pergi dari kamar itu.
Arini sedih karena uang miliknya di ambil oleh Mila. Sedangkan dia tak berani melarangnya. Karena Mila pasti akan berbuat yang tidak-tidak kepadanya jika saja berani menentang.
Arini yakin jika selama ini Mila memang yang suka mengambil hak miliknya. Sekarang Mila percaya jika Alex selalu memberikan uang untuknya, walaupun uang itu tak pernah sampai di tangannya.
'Nak, sepertinya mamah harus lebih giat bekerja lagi,' batin Arini sedih, sambil mengusap perutnya yang masih datar.
Arini mencoba untuk bersabar. Di rumah ini dia tidak mempunyai hak untuk seenaknya. Karena Mila dan Bu Susan pasti tak akan tinggal diam jika dia berani menentang mereka.
....
....
Devan yang sedang duduk bersantai di teras rumah, dia melihat Arini yang baru pulang.
Terlihat sekali raut wajah lelahnya.
''Rin, baru pulang?'' Devan menyapa Arini.
''Iya, Ka. Arin masuk dulu ya,'' Arini memaksakan diri untuk tersenyum kepada Devan.
Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba Arini jatuh pingsan. Tentu Devan kaget, dia langsung menggendong Arini.
Mila dan Bu Susan yang sedang duduk berdua, mereka melihat Devan masuk ke dalam rumah dengan menggendong Arini.
''Dev, kenapa dengan Arini?'' Bu Susan terlihat panik, namun ini hanya sandiwaranya saja yang seolah khawatir kepada Arini.
''Tadi Arini pingsan di depan, Mah.'' jawabnya.
''Kamu bawa saja ke kamarnya,'' ucap Bu Susan.
Bu Susan mengikuti Devan masuk ke kamar Arini. Begitu juga dengan Mila yang mengikutinya.
Devan menepuk-nepuk pipi Arini, namun Arini belum juga membuka matanya.
''Rin, bangun!'' terlihat sekali kekhawatiran di wajah Devan. Entah kenapa setiap melihat Arini, Devan merasa kasihan.
Bu Susan mendekat dengan membawa minyak angin di tangannya. Lalu mengoleskan minyak itu ke hidung Arini.
''Mah, sebentar ya, Devan mau menghubungi dokter keluarga kita untuk datang,'' Devan berlalu pergi keluar dari kamar itu.
Bu Susan dan Mila saling tatap.
''Dasar merepotkan,'' gumam Mila.
''Benar, Nak. Anak tak tahu diri ini bisanya cuma caper saja,'' sahut Bu Susan yang juga tak suka kepada Arini.
Tak lama, Devan kembali ke kamar setelah selesai menghubungi dokter keluarganya.
Arini mengerjapkan ke dua matanya sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.
''Em kepalaku pusing sekali,'' ringis Arini.
''Rin, syukurlah kamu sudah sadar,'' Devan mendudukkan diri di pinggir ranjang. Menatap wajah Arini yang terlihat begitu pucat.
''Kak Devan, aku kenapa?''
''Tadi kamu pingsan, Rin. Wajah kamu pucat sekali, sepertinya kamu kelelahan. Tapi tenang saja, tadi aku sudah menghubungi dokter untuk datang kesini.''
''Terima kasih, Kak.'' ucap Arini dengan suaranya yang sedikit lemah.
''Sama-sama, Rin. Aku ke depan dulu ya, kamu istirahat saja.''
''Iya, Kak.''
Melihat Devan yang sudah pergi, Bu Susan mendekati Arini.
''Hei, kamu bisa-bisanya cuma menyusahkan saja di rumah ini. Kamu sudah berani mencari perhatian Devan. Awas saja kalau nanti kamu juga mencari perhatian dari Alex. Saya tidak akan membiarkan kamu hidup tenang,'' tatapan mata itu terlihat tajam memancarkan kebencian .
Arini hanya menjawab seperlunya saja. Dia tak berani melawan Bu Susan.
Setelah menunggu selama tiga puluh menit, akhirnya dokter yang akan memeriksa Arini datang. Kebetulan dokter itu cukup dekat dengan Bu Susan. Bu Susan membisikan sesuatu kepada dokter itu. Bu Susan sengaja memberitahukan jika saat ini Arini sedang hamil, dan melarang dokter itu untuk memberitahu Devan.