Ini adalah novel yang menceritakan tentang kehidupan seorang wanita yang mengalami segala jenis permasalahan dalam kehidupan rumah tangganya.
Arinda Rahma adalah wanita beranak satu yang hidup menumpang di rumah orang tuanya karena suaminya hanya memiliki gaji pas-pasan.
Tiada hari tanpa mengeluh tapi ketika dia merasa tak ada yang mendengar keluh kesahnya, Arin memilih diam.
"Mulai saat ini aku akan diam. Semua permasalahan akan kutanggung sendiri. Tak peduli rusak raga dan batinku."
Jangan lupa siapkan tisu karena banyak bawang yang akan othor tabur.
Kalian hanya perlu tabur bunga dan secangkir kopi tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu teman lama
"Hai, Bro," sapa teman Ikbal yang bertemu di acara nikahan temannya.
Ikbal duduk di samping temannya itu. "Kalian udah lama di sini?" tanya Ikbal.
"Baru aja. Apa kabar, Bro?" tanya temannya basa-basi.
"Ya ginilah," jawab Ikbal tak bersemangat. Seolah dia memiliki beban berat di bahunya.
"Bisnis apa Bro sekarang? Oh ya gimana rasanya nikah sama teman sendiri?" ledek temannya.
"Gue masih jadi kuli. Nggak kaya kalian yang udah jadi bos. Hidup gue masih sulit, Bro. Nikah udah punya anak satu tapi hidup masih numpang di rumah mertua," jawab Ikbal.
"Lho bukannya dulu kamu tinggal di rumah orang tuamu ya?"
Ikbal mende*sah. "Istri gue nggak cocok sama nyokap. Tiap hari ada aja yang diributin. Jadi gue ngikut istri ke rumah orang tuanya. Dia sih pengennya ngontrak tapi gaji gue pas-pasan. Mikir kalau nanti kesulitan buat beli susu sama popoknya Flora."
Temannya yang bernama Prima menepuk bahu Ikbal. "Yang sabar nanti juga ada saatnya bisa bikin rumah sendiri."
Mereka berbincang-bincang sampai lupa waktu. Mereka juga berfoto bersama. Kebetulan yang menikah adalah teman sekolah Ikbal jadi mereka layaknya reuni. Entah apa yang mereka obrolkan tapi tak terasa waktu menunjukkan pukul sembilan malam. "Eh, udah malam banget nih. Gue harus pulang," pamit Ikbal.
Dia tidak tahu kalau istrinya sedari tadi mengirim pesan bahkan menelepon dirinya sebab handphone Ikbal ditinggal di laci motor. "Ya ampun untung nomor hp nggak ilang. Masih rejeki gue," gumam Ikbal seraya memeluk hpnya.
Ikbal tiba di rumah pukul setengah sepuluh malam. "Assalamualaikum."
Ikbal mengetuk pintu karena pintu rumah mertuanya sudah terkunci. Arin yang mendengar suara suaminya lalu membukakan pintu. "Dek," panggil Ikbal. Arin tak berekspresi. Dia masuk setelah membukakan pintu.
Bu Nia keluar dari kamar. "Rin, kok suaminya ditinggal ke kamar? Tawari minum kek makan kek kan baru pulang," ujar Bu Nia.
Arin melirik ke arah suaminya dengan tatapan tajam. "Dia sudah makan," jawab Arin dengan ketus. Ikbal tahu kalau istrinya itu sedang ngambek. Dia pun menyusul Arin ke dalam kamar.
"Dek, kamu marah ya?" tanya Ikbal.
"Kamu nanya?" Arin bertanya balik.
"Iya, aku tanya," jawab Ikbal.
"Seharusnya kamu tidak perlu tanya sesuatu yang bisa kamu perkiraan sendiri. Seandainya aku yang pergi lalu aku tidak izin sama kamu. Terus aku foto-foto sama teman-temanku apa kamu ngebolehin?" tanya Arin yang membalikkan keadaan.
"Nggak. Aku minta maaf." Ikbal meraih tangan Arin tapi wanita itu membuang tangan suaminya dengan kasar.
"Mudah sekali kamu minta maaf. Apa kamu tidak menganggap aku ini istrimu Mas? Apa kamu malu kalau aku ikut di acara pernikahan temanmu, hm?"
Ikbal menatap mata istrinya. Arin sedang menahan tangis, matanya berkaca-kaca. "Baru sekali ini kan aku melakukannya? Kenapa kamu seserius itu."
Deg
Arin tak menyangka tanggapan suaminya malah begitu menyakiti hatinya. Ikbal gampang sekali menyerah ketika Arin merajuk. Dia seperti malas untuk membujuk istrinya. Arin tak mau lagi berbicara pada Ikbal.
Dia membiarkan Ikbal merenungi kesalahannya. Arin pun memilih memejamkan mata di samping Flora.
Keesokan harinya masih dalam rangka saling diam, Ikbal tak membangunkan Arin yang masih tidur. Hari ini dia berangkat lebih pagi dari biasanya. Arin yang sudah bangun subuh tadi memilih tidur lagi karena Flora meminta ditemani ibunya. Akhirnya Arin kesiangan.
Ada rasa bersalah pada diri Arin tapi dia ingin suaminya menyadari kesalahannya. Ikbal bukan tipe orang yang suka disalahkan jadi baru diingatkan Arin dia langsung tersinggung.
Siang ini Arin ada janji bertemu dengan orang yang memesan barang. Dia janjian di depan mini market terdekat. "Terima kasih banyak, Bu," ucap Arin ketika pembeli itu memberikan uang setelah barang diterima.
Flora yang melihat banner es krim tergiur untuk membeli. "Ibu, ibu." Flora menunjuk gambar es krim yang tertempel di kaca mini market tersebut.
"Flora ingin es krim ya? Ayo kita beli." Arin mengajak Flora masuk.
Kebetulan di dalam sana dia bertemu dengan teman sekolahnya. "Hai Rin, apa kabar?"
"Dina, apa kabar? Wah kamu makin cantik ya sekarang," puji Arin. Dina terlihat lima tahun lebih muda dari pada Arin. Dina juga satu sekolah dengannya tapi berbeda jurusan. Hanya saja setiap pulang sekolah mereka selalu bareng.
"Iya, aku perawatan," jawab Dina.
"Eh aku bayar es krim dulu ya, takut mencair," sela Arin.
"Sekalian aja Rin. Biar aku yang bayarin," kata Dina. Arin tersenyum.
Dina mengeluarkan kartu kredit miliknya. "Berapa semuanya, mbak?" tanya Dina pada kasir itu.
"Empat ratus ribu, Bu," jawab kasir tersebut. Dina memberikan kartu kredit miliknya pada kasir.
"Din, makasih banyak ya." Arin merasa tidak enak.
"Kamu berlebihan, Rin. Es krimnya hanya seharga lima ribu doang. Eh ngobrol di depan bentar yuk!" ajak Dina. Arin mengangguk setuju.
"Udah lama aku nggak dengar kabar kamu setelah menikah," kata Dina.
"Iya, sibuk ngurus rumah sama ngasuh Flora," jawab Arin.
"Kamu tinggal di mana?"
"Masih numpang sama orang tuamu," jawab Arin dengan wajah tak bersemangat.
"Kamu sih dulu nggak mau nikah sama Billy. Dia sekarang jadi bos besar tahu," ucap Dina memberi tahu.
"Hah? Aku mana tahu kalau dia suka sama aku," jawab Arin.
"Memang tuh cowok kelewat pendiam. Dia tuh suka sama kamu dari lama. Tapi kamunya keburu jadi incaran Ikbal. Jadi dia mundur teratur."
Arin mengerutkan kening. "Masa sih?"
"Apa kamu menyesal dengan pernikahanmu yang sekarang? Kamu bisa berpisah dengan suami kamu, Rin."
Arin lebih tidak percaya temannya itu malah ingin menjerumuskan dia. "Astaghfirullah, aku baru aja menikah tiga tahun Din. Masih perlu banyak belajar dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Bukankah setiap pernikahan itu ada ujiannya masing-masing? Kalau kita baru nemu kesulitan sedikit terus pengen pisah, maka rumah tangga itu tidak akan bertahan lama. Kamu mau aku nikah berapa kali?" ledek Arin.
"Kamu benar juga, Rin. Tapi misalnya kamu ada masalah kamu bisa hubungi aku. Aku boleh minta nomor telepon kamu?" tanya Dina.
"Tentu saja boleh. Siapa tahu aja kamu minat jualan aku," jawab Arin sambil terkekeh.
Dina mencatat nomor telepon yang diberikan Arin. "Makasih ya. Aku senang bisa ketemu kamu lagi," kata Dina.
"Aku yang harusnya makasih udah bayarin es krimnya Flora. Sejujurnya aku minder ketemu kamu dalam keadaan begini. Tolong jangan cerita pada siapa pun jika kamu lagi sama teman-teman." Arin merasa nasibnya berbeda jauh dengan Dina.
"Iya, jangan khawatir."
Setelah itu Dina memasuki mobil. Dia melambaikan tangan ke arah Arin.
...♥️♥️♥️...
Makasih buat pembaca yang udah ngingetin kesalahan aku sudah revisi ya
tokoh Iqbal blm seberapa toxic,,msh mau ada untuk istrinya..tp pa negaraku 10 taun LDR hidup terus d rmh ortuku tanpa berpikir untuk berpindah kerja agar bisa ngontrak satu kota dengan ku nyatanya hanya ilusi oasis d tengah Padang gurun..
masyaallah related bgt sama kehidupan nyata ku ,, punya ortu kandung yg toxic tp bedanya rumah tangga ku LDR selama 10 taun..Ntah apa rencana Tuhan sampai lelah utk mempertahankan semuanya...