NovelToon NovelToon
Annanta

Annanta

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:325k
Nilai: 4.5
Nama Author: Aquilaliza

Setelah menerima 300 juta dari seorang wanita, saat itulah Anta tahu, dia bukan milik dirinya lagi. Untuk melakukan transplantasi ginjal, Anta membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Anta harus mengorbankan diri juga masa depannya agar bisa membiayai rumah sakit adiknya.

Dia harus menikahi sorang lelaki yang tidak pernah ia kenal sama sekali. Lelaki yang terkenal arogan dan begitu dingin pada wanita. Dia seorang CEO terkenal, Elvano Prasetya.

Gadis dengan nama Annanta Ayudia itu harus menjadi Ibu sambung dari anak sang CEO.

Bagaimana kehidupan Anta bersama Elvano?

Ayo, ikuti kisah mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquilaliza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan Anta

Sore hari setelah membersihkan tubuh Evan, Anta bersama putra sambungnya itu berjalan santai di taman belakang. Evan yang berada dalam gendongan Anta bergerak-gerak ingin turun.

"Iya, nak. Mama turunin."

Anta menurunkannya. Dengan dibantu pegangan tangan Anta, Evan berjalan cepat dengan senyum yang terus mengembang. Anak itu terlihat bahagia bisa berjalan kesana kemari di luar rumah.

Getaran handphone membuat Anta menghentikan langkahnya, yang otomatis membuat Evan juga berhenti. Ia meraih Evan ke gendongannya, lalu menjawab panggilan telpon itu.

"Hallo Kak Anta,"

"Tiara. Hallo, sayang."

"Kak, Ricky kangen Kakak." Suara Ricky terdengar. Tanpa sadar, air mata Anta menggenang. Suara kedua adiknya terdengar ceria. Anta merasa bahagia mendengarnya.

"Kemarin kan udah telponan. Masa secepat itu kangen nya?"

"Benaran, Kak. Kita kangen sama Kakak."

"Iya, Kak. Ricky yang paling kangen sama Kakak."

"Maa... Ma... Ma..."

"Itu suara Evan, ya?"

"Iya."

"Kak, ganti vidio call, kak. Aku sama Ricky mau lihat Evan."

"Ya udah."

Panggilan telpon pun diubah menjadi panggilan vidio. Ricky dan Tiara tersenyum senang saat melihat wajah Evan. Mata Anta kembali berkaca-kaca. Ia bersyukur, Bu Devita memberi yang terbaik untuk kedua adiknya. Ia juga bersyukur Bu Devita memfasilitasinya dan kedua adiknya dengan benda elektronik ini. Ia bisa tetap melihat kedua adiknya meski tak saling bertemu.

Dulu, jika ingin menelpon atau menerima telpon, ia harus ke rumah tetangga atau tetangga yang akan mengantarkan padanya. Terkadang ia merasa tidak enak dengan tetangga pemilik handphone. Tapi, tidak dengan sekarang. Ia tidak perlu merasa tidak enak lagi.

Membayangkan itu semua, tanpa terasa air mata Anta menetes. Ia dengan cepat mengusapnya.

"Kak Anta menangis?" Tiara dan Ricky bertanya bersamaan.

"E-enggak."

"Ricky lihat kok, Kakak nangis."

Anta tersenyum. Ia tidak bisa berbohong sekarang. "Kakak kangen banget sama kalian. Pengen ketemu."

"Kapan-kapan, datang ya? Kalau suami Kakak izinin, bawa Evan sekalian."

Anta tersenyum dan mengangguk ragu. Ia tidak yakin Elvano akan mengizinkan Evan ikut dengannya.

Setelah pembicaraan selesai, Anta mengajak Evan masuk rumah. Bel rumah yang berbunyi membuat Anta yang hendak ke kamar Evan berbalik arah.

"Biar Anta saja, Bi."

Bi Ijah yang hendak membuka pintu, kembali ke dapur setelah mendengar ucapan Anta.

"Hai! Hallo, ponakan om Dika." Senyum manis Dika menyambut Anta yang membuka pintu. Melihatnya, Anta ikut tersenyum.

"Kak Dika." Walaupun dia adalah Kakak Ipar Dika, usia Dika lebih tua dua tahun darinya. "Kakak sama siapa?"

"Sendiri." Dika mengusap pelan puncak kepala Evan.

Anta menghembuskan nafas kecewa. Dika tahu, apa yang Anta harapkan. "Kak Dinda nggak datang. Mertua Kak Dinda lagi berkunjung ke rumahnya." Anta mengangguk. "Aku nggak disuruh masuk, nih?"

"Eh, i-iya. Ayo, masuk Kak!"

Evan yang berada dalam gendongan Anta hanya tersenyum pada om nya itu.

"Tante suruh aku anterin ini." Anta meraih paper bag yang Dika berikan. Didalam ada beberapa toples kue kering. "Bang Vano suka sama kue kering buatan tante."

"Aku simpan ini dulu." Dika mengangguk. "Evan sama om Dika dulu, ya? Mama anterin ini dulu ke dapur." Anta memindahkan Evan ke pangkuan Dika, lalu bergegas ke dapur.

"Mama kamu, cantik, ya? Tapi sayang, Papa kamu nggak suka. Buat om aja, ya?" Lirih Dika pada Evan. Anak itu hanya tersenyum senang, berpikir jika Dika sedang mengajak bicara dirinya.

***

Elvano bergerak cepat menyelesaikan dua dokumen yang tersisa. Entahlah, tiba-tiba hatinya panas saat melihat Dika menyambangi rumahnya melalui cctv halaman depan yang ia hubungkan dengan handphonenya. Kejadiannya tepat sejam yang lalu.

"Tuan, ada dokumen yang..."

"Besok saja, Risma. Saya harus kembali sekarang."

Risma hanya bisa mengangguk. Jika Elvano mengatakan itu, dia tidak bisa apa-apa.

Elvano melajukan mobilnya cepat menuju rumah. Tangannya mencengkram stir mobil dengan erat. Dia teringat kembali ucapan Dika saat menemuinya di kantor dua hari lalu.

"Aku tahu, abang nggak suka sama Anta."

Elvano masih terdiam. Namun, tatapan matanya kini menatap tajam pada Dika. Dia tidak suka orang lain mengurusi hidupnya.

"Dari pada abang terus bersikap nggak baik sama Anta, lebih baik abang lepaskan saja Anta."

Elvano tersenyum remeh. "Masih ada hutang yang belum gadis itu lunasi."

"Aku akan membayar hutangnya."

"Kamu nggak ada hubungannya dengan Anta."

"Aku tertarik pada Anta. Sepertinya aku menyukainya."

Elvano mengepal erat tangannya. Berani sekali Dika mengatakan dia menyukai Anta di depan suami sah nya. Dimana otak sepupunya ini.

"Pulanglah Dika! Jangan berharap lebih pada istri orang." Elvano berusaha menahan emosi.

"Abang nggak sepenuhnya menganggapnya istri."

"Itu bukan urusan kamu!"

"Bagaimana jika kita bersaing secara sehat saja? Biarkan Anta yang memilih."

Suara Dika terus terngiang di telinganya. Elvano lagi-lagi mencengkram erat stir mobilnya. Ia lalu memukulnya. "Arrgghhh..." Teriaknya keras.

Elvano berjalan cepat menuju rumah setelah memarkir asal mobilnya. Pintu rumahnya tertutup rapat membuatnya semakin kesal. Entah apa yang terlintas di otaknya.

Tok... Tok... Tok...

Elvano mengetuk pintu dengan keras. Ia juga memencet bel. Sekarang, dirinya seperti orang yang terburu-buru hendak menyelamatkan diri.

Ceklek...

Pintu terbuka, menampakkan wajah cantik Anta. Elvano menatapnya, lalu menatap sekeliling rumah. Tidak ada Dika. Berarti lekaki itu sudah pulang.

"Dimana Evan?" Elvano berjalan menuju tangga.

"Evan sudah tertidur di kamarnya."

Elvano menyempatkan melihat Evan, lalu beranjak ke kamarnya. Anta terus mengikutinya dengan jantung yang berdetak kencang. Akhir-akhir ini, jantungnya berdegup kencang setiap bersama Elvano. Bahkan hanya dengan memikirkan lelaki itu, jantungnya pun berdegup kencang. Ia juga merasa bahagia melihat lelaki itu.

"Apa Dika kemari?"

Langkah Anta yang hendak ke kamar mandi terhenti. Ia berbalik menatap Elvano yang kini sudah menanggalkan jas nya. Tersisa kemeja dan celana bahan yang menempel di tubuh lelaki itu.

"Mas El, tahu?"

"Saya bertanya. Kenapa kamu balik bertanya?"

"Ma-maaf, Mas. Tadi Kak Dika datang. Dia disuruh Mama antar kue kering kesukaan Mas El."

Elvano terdiam. Namun, hatinya begitu kesal mendengar alasan Dika datang ke rumahnya.

Cih! Pasti dia yang maksa Mama. Biasanya Mama yang akan antar sendiri.

Merasa tidak ada lagi yang Elvano tanyakan, Anta berlalu ke kamar mandi, menyiapkan air hangat untuk Elvano.

Selesai menyiapkan air hangat, Anta keluar dari kamar mandi. Ia cukup terkejut melihat Elvano yang berdiri di depan pintu kamar mandi.

"Evan menangis." Ujar Elvano datar, yang diangguki Anta. Gadis itu menuju kamar Evan sambil menyentuh dada kirinya. Lagi-lagi jantungnya berdegup kencang.

"Ada apa ini? Kenapa jantungku selalu berdengup kencang seperti ini? Jangan-jangan, aku punya penyakit jantung?"

Gadis itu menerka-nerka apa yang terjadi padanya. Saat mendengar tangis Evan, semua yang ia pikirkan hilang. Dia dengan cepat memasuki kamar Evan dan menggendongnya.

"Sayang, anak Mama."

"Cup... Cup... Cup... Tidur ya, sayang." Anta mengelus-elus kepala Evan. Dan beberapa detik kemudian, anak itu kembali tertidur.

"Sudah tidur?" Suara Elvano yang tiba-tiba ada di kamar Evan membuat Anta terkejut. Gadis itu berbalik menatap Elvano dengan Evan yang masih dalam gendongannya.

"I-iya, Mas."

Elvano mengangguk lalu keluar dari kamar tersebut. Anta membaringkan Evan.

"Mas El kayak hantu saja, tiba-tiba muncul." Gumam Anta, sambil menyentuh dada kirinya.

1
Sandisalbiah
𝚠𝚊𝚑.. 𝙳𝚒𝚗𝚍𝚊.. 𝚒𝚝𝚞 𝚖𝚊𝚑 𝚎𝚗𝚊𝚔 𝚍𝚒 𝚅𝚊𝚗𝚘 𝚝𝚙 𝚋𝚞𝚊𝚝 𝙰𝚗𝚝𝚊 𝚒𝚝𝚞 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚒𝚔𝚜𝚊
Sandisalbiah
𝚜𝚞𝚜𝚊𝚑 𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚎𝚛𝚑𝚊𝚍𝚊𝚙𝚊𝚗 𝚍𝚐𝚗 𝚖𝚊𝚗𝚞𝚜𝚒𝚊 𝚕𝙰𝚋𝚒𝚕 𝚢𝚐 𝚙𝚞𝚗𝚢𝚊 𝚙𝚛𝚒𝚕𝚊𝚔𝚞 𝚙𝚕𝚒𝚗 𝚙𝚕𝚊𝚗...
Sandisalbiah
𝚌𝚎𝚖𝚋𝚞𝚛𝚞 𝚋𝚒𝚕𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚘𝚜... 𝚐𝚎𝚗𝚐𝚜𝚒 𝚊𝚓𝚊 𝚍𝚒 𝚐𝚎𝚍𝚎'𝚒𝚗
Sandisalbiah
𝙰𝚗𝚝𝚊 𝚝𝚎𝚛𝚕𝚊𝚕𝚞 𝚕𝚎𝚖𝚊𝚑..
Sandisalbiah
𝚍𝚊𝚜𝚊𝚛 𝚖𝚊𝚗𝚞𝚜𝚒𝚊 𝚖𝚞𝚗𝚊𝚏𝚒𝚔 𝚔𝚊𝚞 𝙴𝚕𝚟𝚊𝚗𝚘... 𝚔𝚊𝚜𝚊𝚛 𝚍𝚊𝚗 𝚝𝚍𝚔 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚑𝚊𝚛𝚐𝚊𝚒 𝚒𝚜𝚝𝚛𝚒𝚖𝚞 𝚝𝚙 𝚎𝚖𝚘𝚜𝚒 𝚜𝚊𝚊𝚝 𝚘𝚛𝚐 𝚕𝚊𝚒𝚗 𝚖𝚎𝚖𝚙𝚎𝚛𝚕𝚊𝚔𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚒𝚜𝚝𝚛𝚒𝚖𝚞 𝚍𝚐𝚗 𝚋𝚊𝚒𝚔...
Maria Mahdalena Manalu
Luar biasa
Aquilaliza: makasih udah mampir ☺🙏
total 1 replies
Susi Akbarini
😀😀😀😀❤❤❤❤❤
Aquilaliza: Makasih ya udah mampir. Jangan lupa baca novelku yang lainnya juga.
total 1 replies
Susi Akbarini
😀😀😀😀❤❤❤❤
Rieka Mawon
Biasa
Kartini
cerita dika sm tiara berjodoh thor
unknown
Biasa
My atee
Luar biasa
Sativa Kyu
👍👍👍
Catcold
gk ada crita dika gt kak
Anita Danun
cuekk tp butuhh
pisces
gak bikin cerita dika gitu thor
mksh suguhan ceritanya thor, ttp semangat berkarya jaga kesehatan jgn lupa minum vitamin dan istirahat yg banyak
Ummi Maya
bani jangan terlalu benci nanti bucin🫢😁
Ummi Maya
pengorbanan tulus seorang kakak,
moga annta sentiasa bahagia 🥹
Aquilaliza
Luar biasa
Aquilaliza
Lumayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!