" Aku mencintaimu, tapi aku mendiamkanmu hanya karna sebuah angka 17: 32."
Skala, pemuda tampan kaya raya itu jatuh cinta pada pandangan pertama dengan sosok gadis yang tak sengaja ditemuinya.
Pertemuannya memang singkat, tapi siapa sangka akan begitu melekat.
Mereka tak pernah bertemu lagi, untuk mencari tahu pun Skala memilih hanya bertanya pada Sang pemilik Jodoh lewat doanya di Sepertiga malam.
Lalu, apa arti dari angka 17:32 ?
Yuk, ikuti kisahnya Si Cicit Gajah 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenengsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Hey, kamu kenapa?" tanya Skala pada gadis berseragam putih Abu-Abu di bawah pohon.
Ia menangis lirih sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Neng, kenapa? nangisin apa?"
Hiks.. hiks.. hiks...
"Ya ampun, sedih banget nangisnya, bisa saya bantu?" Skala pun akhirnya menawarkan bantuan karna entah kenapa ia ikut sedih saat mendengar isak tangis gadis itu.
"Aku nyasar, gak tau arah pulang," jawabnya sambil terisak.
"Hah? kok bisa gede-gede nyasar?" tanya Skala aneh.
"Huaaaaaaaa, ibuuuuuuuu!"
"Alah, kenapa makin kejer?" Skala semakin panik dan bingung karna takut di fitnah oleh orang kampung yang mungkin saja melintas dan melihat keduanya di bawah pohon.
Skala pun akhirnya menghampiri, ia yang tak pernah berdekatan dengan lawan jenis sekalipun Nara yang paling akrab dengannya, tapi entah kenapa kali ini malah menarik tangan si gadis itu untuk ia peluk.
"Jangan nangis, berisik," kata Skala sambil menghapus air yang jatuh di pipi gadis itu dengan ibu jarinya.
Rasa nyaman menjalar masuk ke dalam hati yang seumur hidupnya tak pernah tersentuh oleh siapapun. Skala malah memejamkan matanya menikmati apa yang baru pertama kali ia lakukan.
Ya ampun, dada gue udah gak perawan! bathin Skala yang baru pertama kali merasakan nyamannya berpelukan.
Isak tangis gadis itu pun kini tak sekeras tadi, lebih dari dua puluh menit akhirnya Skala mengurai pelukan. Ia tangkup wajah yang sembab dan merah itu dengan kedua tangisnya.
"Yah, cantiknya ilang deh," goda Skala sambil tersenyum.
"Huaaaaaaaa, Ibuuuuuuuuuuu," tangisnya kembali.
"Mampus gue!" rutuknya yang panik lagi.
"Cup-cup-cup, cantik kok sumpah, aku gak bohong. Kan aku bilang cantiknya ilang, bukannya gak cantik," rayu Skala yang kembali memeluk sambil di usap juga punggungnya.
"Aku memang gak cantik," jawabnya di sela isak tangis.
"Semua perempuan cantik, karna yang ganteng itu laki-laki, paham ya.".
Gadis itu mengangguk dalam pelukan Skala yang semakin erat karna terlalu nyaman.
" Aku gak bisa napas," ujarnya sambil sedikit mendongak.
"Hah? Eh, maaf. Keenakan!" kekeh Skala yang malu sendiri, rasanya ia berlebihan sekali saat ini yang tak bisa menahan hasrat untuk dekat dengan gadis itu.
"Rumah mu dimana? ayo ceritakan padaku, kenapa bisa sampai sini?" tanya Skala.
"Ketiduran di angkot," jawabnya pelan dengan menundukkan kepala.
Skala menggigit bibirnya sendiri untuk menahan tawa karna gemas dengan gadis yang ada di hadapannya kini, entah tidur yang seperti apa sampai membuatnya tak sadar sudah dibawa pergi sejauh ini.
Ia memang terlihat polos tak seperti gadis SMA di kota yang kekinian, tapi justru membuat Skala seolah jatuh hati dengan kesederhanaan yang gadis itu kenakan. Wajahnya yang putih mulus, tak ada sisa makeup yang luntur saat basah oleh air mata menandakan jika cantiknya begitu alami, serta mata yang merah pun masih terlihat berbinar memancarkan kesenduan dengan bulu mata yang lentik, sungguh baru kali ini Skala berani menatap wajah seorang wanita apalagi berani menyentuhnya.
"Mau pulang?" tanya Skala, senyumnya tak berkurang sama sekali sejak sejak mereka berhadapan.
"Iya."
"Kemana?" Skala kembali menggoda.
"Kerumah ku, masa kerumah mu!" jawabnya dengan nada kesal.
.
.
.
Tak apa, datanglah kerumahku. Tapi Kupastikan kamu tak takan bisa keluar lagi. ucap Skala tanpa sadar jika itu seperti sebuah doa untuknya.