Naura Aurora, (18thn). Gadis SMA yang memiliki nasib menyedihkan, karena selalu diremehkan oleh ketiga kakaknya bahkan dia nyaris dijual untuk membayar hutang sang kakak.
Arnold William Maxime (35thn). Seorang pengusaha besar, tampan dan gagah yang memiliki hobi membawa racun serangga kemanapun dirinya pergi, memiliki tangan ajaib, takut ketinggian, dan hal-hal aneh yang belum pernah dia lihat.
Kira-kira, bagaimana jadinya jika mereka disatukan secara tidak sengaja dalam satu rumah? Ikuti terus kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zia Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Sudah dua hari Naura tinggal di rumah Calista, ada perasaan kurang enak di hati Naura karena banyak merepotkan keluarga sahabatnya itu.
Namun mau bagaimana lagi, ia tidak tahu harus kemana dirinya pergi. Jika pergi ke rumah Fredi atau Renita, Naura takut akan ada pertengkaran diantara Laila dan kedua kakaknya yang lain.
Di atas loteng rumah Calista, Naura menarik napasnya dalam. Ia berpikir untuk mencari pekerjaan paruh waktu, sebentar lagi akan menghadapi ujian dan dirinya memerlukan biaya untuk mengikuti ujian tersebut.
"Ra, terus rencana lo apa?" suara Calista mengejutkan Naura yang sedang melamun.
"Astaga, Ca. Kaget gue."
"Hem, jangan kebanyakan ngelamun Ra. Nanti dikejar om-om gila loh," ujar Calista terkekeh.
Entah teori dari mana, melamun bisa mengakibatkan dikejar om-om gila.
"Ngarang, lo yang ada kesambet kali bukan dikejar om-om," timpal Naura yang kembali menscroll ponselnya.
"Masa iya sih, kalau ngelamun bisa kesambet. Kok gue tiap ngelamun nggak pernah kesurupan ya malah inget cicilan pay later mulu," celoteh Calista sambil terkikik.
"Ya gimana lo mau kesurupan, orang setannya lo sendiri Ca." Naura tertawa meledeki sahabatnya.
"Sialan, lo ngatain gue setan haha."
"Ya kali, gue harus manggil lo sang Dewi, jauh dari kenyataan Ca … eh ngomong-ngomong soal om-om, apa gue nyari sugar Daddy aja kali ya biar cepet dapet duitnya," celetuk Naura sambil mengkhayal.
"Naura, kalau lo niat nyari sugar Daddy udah aja sama juragan Jaka. Ngapain repot-repot nyari om-om,"
"Please lah, Ca. Gue nyarinya sugar Daddy bukan sugar aki." Naura mendelikkan matanya pada Calista.
"Lagi pula bayangan sugar Daddy gue itu kayak, Shah Rukh Khan, Salman Khan, Goong Yoo, Lee dong Wook, joo—,"
"Hei-hei, halu lo kejauhan Naura," sela Calista memotong ucapan Naura.
"Biarin aja, sirik aja lo. Siapa tahu jadi kenyataan kan ya."
"Hem … serah lo deh, Ra yang penting lo bahagia."
Kedua gadis itu kembali terkekeh, dan mencari lowongan pekerjaan lagi lewat media sosialnya masing-masing.
🌸🌸🌸
"Laila!" teriak Jaka di depan rumah wanita yang memiliki hutang padanya.
Rahangnya mengeras, matanya melotot kalau mengaum yang lain langsung mundur Jaka Jaka Jaka itu namanya /skip garing.
"Laila! Keluar kamu, saya tahu kamu ada didalam," teriak Jaka lagi. Suaranya yang keras membuat para tetangga keluar dari rumah.
Laila yang mendengar ada orang yang berteriak di luar rumahnya mengintip dari balik tirai, si pemilik suara petir itu langsung terhenyak saat mendapati Jaka tengah berdiri di depan pintu gerbang rumahnya.
"Juragan Jaka, ngapain dia disini?bukannya hutang aku udah lunas ya," gumam Laila heran.
"Laila! Kalau kamu tidak keluar saya hancurkan rumah kamu sekarang juga." Jaka melontarkan ancaman agar wanita yang di panggilnya keluar dari rumah.
Laila yang takut juragan Jaka menghancurkan rumahnya, bergegas ke luar dan menghampiri juragan Jaka.
"J-juragan Jaka, ada apa ya?"
"Ada apa, ada apa kamu nggak lihat nih kepala saya bocor gara-gara si Naura!" sentak Jaka, ia menunjukan kepalanya yang dibalut perban.
Laila membulatkan matanya. "N-naura juragan?"
"Iya, sekarang dimana dia? Berani sekali dia setelah melukai saya dia kabur begitu saja."
"K-kabur juragan?"
Jaka menatap tajam Laila. "Cepat suruh dia keluar! Atau tidak saya akan mengubrak ngabrik rumah kamu."
"T-tapi j-juragan Naura tidak ada disini."
"Jangan bohong kamu, Laila."
"Saya berani bersumpah, kalau Naura tidak pulang kesini … saya saja baru tahu kalau Naura kabur, dari juragan," cerocos Laila meyakinkan.
"Kurang ajar! Kemana perginya gadis culas itu, temukan dia secepatnya atau rumah kamu akan saya sita."
"B-baik juragan, saya akan mencari keberadaan adik saya secepatnya." Laila menundukkan kepalanya, pada Jaka dan baru mengangkatnya setelah Jaka menjauh dari rumahnya.
Laila mengeraskan rahangnya, wajahnya terlihat begitu marah. Gara-gara Naura ia jadi di permalukan Jaka di depan para tetangganya.
"Awas saja kau Naura, begitu aku menemukanmu aku akan memberi kamu pelajaran." Laila mengepalkan kedua tangannya erat.
Selepas kepergian Jaka, Laila terus mondar mandir kesana-kemari Memikirkan dimana adiknya sekarang.
Rasanya ia sangat gemas sekali pada adik bungsunya yang begitu sulit diatur. Sudah bagus dirinya mengirim sang adik ke rumah juragan Jaka yang akan menjamin hidupnya, tapi Naura malah membuat ulah.
"Aku harus menemukan dia, aku tidak mau jika rumahku disita juragan Jaka. Kalau mas Edwin tahu rumah ini disita, bisa-bisa aku kena masalah," gerutu Laila yang terus berpikir dan di detik berikutnya, sepertinya ia tahu dimana keberadaan Naura sekarang.
Laila menyambar kunci motor yang ada diatas nakas, ia menyalakan mesin motornya dan bergegas pergi ke rumah kakak pertamanya Fredi.
Sesampainya Laila di rumah sang kakak pertama, Laila langsung menangis sesenggukan, mengatakan jika dirinya sudah tidak sanggup mengurus Naura lagi yang sulit di atur.
Dia juga mengatakan, jika Naura tidak pulang selama satu Minggu dan menginap di rumah pacarnya.
Mendengar pernyataan Laila, Fredi langsung naik pitam. Rahangnya mengeras, dan darahnya mulai mendidih. Tanpa membuang waktu lagi, Fredi meminta pada Laila untuk mengantarnya ke rumah pacar Naura.
"Ra, kakak lo dateng," bisik Calista yang terlihat khawatir.
"Kakak gue?"
Calista mengangguk.
"Kak Laila?"
"Iya, sama kakak lo yang cowok."
Tatapan Naura langsung sendu, tubuhnya bergetar, hatinya mulai merasakan hal buruk akan terjadi menimpa dirinya.
"Ca, gue takut." manik mata Naura mulai berkaca-kaca, ia menggemgam lengan Calista erat.
Calista menatap Naura iba, tidak ada yang bisa ia lakukan lagi untuk menolong sahabatnya. Ini adalah permasalahan keluarga sahabatnya dan ia tidak bisa ikut campur lebih dalam lagi.
"Ra, sorry ya gue nggak bisa banyak bantu lo. Gue cuman bisa bantu sampe sini aja, gue yakin lo bisa ngehadapin permasalahan ini … kalau lo butuh tempat buat berlindung, pintu rumah gue akan selalu terbuka lebar buat lo," tutur Calista menguatkan sahabatnya.
Naura mengangguk. "Gue ngerti, Ca. Thanks, ya lo udah mau tampung gue buat beberapa hari ini." Naura memeluk Calista, lalu menghampiri kedua kakaknya yang sedang duduk di ruang tamu dengan sorot mata berapi-api.
Mereka pun berpamitan pada ibunya Calista, dan meninggalkan rumah sederhana yang terasa nyaman bagi Naura.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Laila, suasana mobil terasa menegang. Semuanya diam membisu yang ada hanya suara tarikan napas dari kedua kakaknya.
Sementara Naura yang sejak tadi merasakan hatinya tidak karuan, memainkan jari-jarinya. Bibirnya bergetar ketakutan dan manik matanya menahan bulir bening yang sudah siap untuk diluncurkan.
Naura tidak tahu apa yang sudah dikatakan oleh Laila pada kakak laki-lakinya, sehingga Fredi bisa terlihat begitu marah padanya. Jangankan untuk bertanya, menatap wajahnya saja Naura sampai tidak berani.
Ia tahu betul sikap kakak laki-lakinya, jika Fredi sudah marah dan turun tangan berarti ada masalah yang begitu fatal yang telah dilakukan olehnya.
Bersambung.