Kecelakaan membawa Rein bertemu dengan jodohnya. Ia merasa terjebak karena harus menikah dengan seorang polisi, sedangkan dirinya adalah seorang pencuri. Rein menerima pernikahan itu karena merasa berhutang budi.
Bagaimana perjalanan hidup Rein bersama suaminya tersebut. Apakah mereka akan tetap hidup bersama, walaupun suaminya tahu jika Rein adalah penyebab kakaknya meninggal dunia? Ikuti kisah mereka ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amih_amy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Kota
...Happy Reading...
...****************...
Sudah berulang kali Rein mondar-mandir di dalam kamar. Ia resah menghadapi kenyataan yang baru saja menghinggapinya. Kenyataan yang buruk bagi Rein. Ia harus menjadi seorang istri dari seorang polisi. Bagaimana dengan nasib pekerjaannya nanti?
"Gue mesti gimana? Kalaupun nanti kembali ke kota, mungkin gue bakalan sulit buat mencuri lagi. Apalagi sekarang gue cuma sendiri. Gimana caranya gue cari duit buat anak panti?"
Rein bingung, satu-satunya pekerjaan yang bisa dia lakukan hanyalah mencuri. Akan sulit untuk dirinya beraksi jika bersuamikan seorang polisi. Dia jadi teringat akan Bahar, yang sudah pensiun jadi preman. Bahar pernah bercerita kalau dirinya terpaksa pensiun, karena alasan anak-anaknya. Rein pikir karena Bahar tidak mau anak-anaknya mengikuti jejak Bahar, tetapi ternyata Bahar takut dipenjarakan oleh anak-anaknya sendiri. Kini, Rein merasa nasibnya akan bernasib sama seperti Bahar. Apakah dia juga akan masuk jeruji besi, jika ketahuan mencuri oleh sang suami?
"Haih ... kalau misalkan gue tahu dari awal, mungkin gue nggak bakal setuju dengan pernikahan ini. Sial banget, sih!" Rein mengerang frustrasi sambil mengacak rambutnya sendiri. Ia tidak bisa menyalahkan Bahar ataupun Ranti. Tentang mengapa sepasang suami-istri itu tidak pernah menceritakan profesi anaknya yang seorang polisi. Tadi Aska sudah cerita, jika Abian akan histeris jika mendengar tentang profesi ayahnya yang sama dengan Aska. Maka dari itu, sebisa mungkin tidak ada yang membahas tentang polisi di rumah itu.
Ceklek!
Rein tersentak ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka. Tak lama tubuh Aska masuk ke dalam kamarnya. "Kamu lagi ngapain berdiri di situ?"
Pertanyaan Aska membuat Rein sedikit grogi, apalagi saat dirinya sadar jika dirinya sedang berdiri di atas ranjang. Entah sejak kapan Rein melakukan itu. Dia pun tidak tahu. Rein hanya menyengir kuda sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku ... tadi mau ngejar nyamuk pas kamu masuk." Rein membuat alasan yang tidak masuk di akal. Ia tidak peduli, yang penting dia punya alibi. Tubuhnya melorot perlahan, lalu duduk bersila di atas ranjang, "kamu mau ngapain masuk ke kamar lagi? Bantuin ambunya udah selesai?" tanya Rein basa-basi.
"Udah, sekarang saya mau mandi." Aska menjawab sambil berjalan menuju lemari. Mengambil sebuah handuk dan baju ganti.
Di rumah itu kamar mandi hanya ada satu kamar mandi yang terletak di sudut rumah dekat dengan ruangan dapur.
"Ini udah sore, kalau mau mandi, nanti setelah saya. Jangan lupa bawa baju ganti dari sini! Kayaknya baju kamu juga udah dipindahin sama Ambu ke lemari saya," tutur Aska sebelum dirinya pergi ke luar kamar.
Rein hanya menganggukkan kepalanya, lalu menoleh ke arah lemari pakaian Aska. Sejak tadi ia tidak berani menyentuh barang-barang apa pun di dalam kamar itu, jadi ia tidak tahu jika pakaiannya sudah ada di dalam lemari pakaian Aska. Pakaian Rein tidak banyak, hanya beberapa lembar pakaian yang dibelikan oleh Ranti untuknya selama dia tinggal di sana.
"Aaargh! Nyebelin banget, sih!" jerit Rein sambil menghempaskan badannya di atas tempat tidur Aska. Ia bingung harus berbuat apa?
...***...
Hari berganti begitu cepat. Pagi-pagi sekali Rein sudah bangun dan membantu pekerjaan Ranti di dapur. Menyiapkan sarapan untuk keluarga Bahar. Semalam dia tidak bisa tidur. Badannya pegal-pegal gara-gara tidak diizinkan tidur di kasur.
Ya, Rein kalah adu suit dengan Aska. Hingga dirinya harus rela tidur di lantai beralaskan tikar saja. Rein sangat kesal kepada Aska. Suaminya itu benar-benar raja tega.
Ketika sarapan sudah dihidangkan di atas meja makan, Aska pun datang. Ia langsung duduk di kursi kosong yang biasa dia tempati untuk makan. Berseberangan dengan Bahar dan Abian yang terhalang oleh meja di depannya. Rein pun duduk di sebelah Aska, karena tidak pilihan lain selain di sana.
"Gimana, Aska? Durennya udah dibelah?"
"Duren apa?" Aska balik bertanya kepada Bahar yang bertanya.
"Ck, itu ...." Bahar berdecak, kedua matanya melirik ke arah Rein yang tidak terlalu memperhatikan pertanyaan mertuanya.
Aska mengikuti arah pandang Bahar. Ia mendengus saat melihat senyuman aneh yang terukir di bibir ayahnya. Dia baru mengerti maksud dari pertanyaan Bahar. Jangan aneh-aneh, deh! Ada Bian di sini," cetus Aska kesal.
"Iya, nih, si Abah. Nggak tahu tempat nanya gituan di depan anak kecil," sebuah Ranti menimpali.
"Cuma nanya doang." Bahar mencebikkan bibir, lalu memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya dengan kesal.
Rein sebenarnya penasaran, tetapi ia memilih untuk diam. Jika dia bertanya urusannya pasti panjang.
"Ambu, Abah ... hari ini Aska mau ajak Rein dan Bian ke kota."
"Loh, katanya cuti kamu seminggu. Baru dua hari, kok, udah mau balik lagi? Ambu, kan, masih kangen sama kamu," sahut Ranti.
"Mungkin mereka nggak mau diganggu sama kita, Ambu. Mereka, kan, pengantin baru. Biarin aja, atuh!" celetuk Bahar tidak keberatan.
"Abah yang suka ganggu, Ambu mah enggak," sanggah Ranti memanyunkan bibirnya.
Rein tersenyum melihat kelakuan mertuanya. "Rein yang minta buru-buru, Ambu. Rein udah kangen sama ibu panti dan pengin ketemu adik-adik di panti juga."
Alasan Rein membuat Ranti akhirnya memberikan izin kepada anak dan menantunya untuk kembali ke kota, pun dengan cucu mereka satu-satunya. Berat sebenarnya melepaskan Abian yang sudah enam bulan tinggal bersama mereka. Namun, Abian perlu melanjutkan sekolahnya. Fasilitas sekolah di kota lebih bagus daripada di desa mereka.
...***...
"Aku pamit, ya, Ambu, Abah. Terima kasih atas semuanya." Rein berpamitan kepada mertuanya. Beberapa saat seusai sarapan, mereka pun bergegas untuk pulang.
"Iya, Neng, sami-sami. Ambu nitip Bian sama Aska, ya. Ambu tahu kamu pasti belum terbiasa dengan status baru kamu, dan belum ada cinta di antara kalian berdua. Tapi Ambu yakin, kalau kalian selalu bersama, lama-lama cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya," ujar Ranti panjang lebar.
Rein hanya mengangguk sambil tersenyum getir. Dalam hatinya dia berkata, "Mana bisa jatuh cinta. Yang ada gue bisa mati muda kalau terus tinggal sama Aska. Gue mesti cepat membuat Bian terbiasa tanpa gue lagi, supaya gue bisa cepat pergi."
"Ayok!" Suara Aska mengembalikan pikiran Rein. Ia pun mencium punggung tangan mertuanya bergantian.
Air mata Rein yang sudah membendung, dan hampir saja luruh, jika saja Rein tidak buru-buru menghapusnya di pelupuk mata. Rein ikut sedih saat melihat Ranti menangis sambil memeluk Abian. Mungkin perempuan paruh baya itu teringat akan anak pertamanya yang meninggal, yakni ayahnya Abian.
...***...
"Aska, abah nitip salam buat Neng Asti, ya!"
Bahar berpesan kepada Aska yang sudah duduk di depan kemudi mobil.
"Asti?" Rein yang duduk di samping Aska jadi penasaran, siapa perempuan yang dimaksudkan oleh Bahar.
"Ih, Abah ini gimana, sih? Jangan bahas si Asti lagi. Anak kita udah nikah sama Rein. Apa apa Abah lupa?" Ranti menegur suaminya.
"Kenapa atuh, Ambu? Dulu waktu kita nginep di rumahnya Aska, Neng Asti itu suka ngasih makanan sama kita. Sekarang Abah cuma nitip salam aja masa nggak boleh, pelit pisan," dengus Bahar. Seolah itu bukan merupakan masalah besar.
Rein masih diam sambil mencerna perbincangan mertuanya. Ia sedikit penasaran.
"Udah, jangan ribut! Nanti Aska sampein, Bah. Kami pergi dulu," ucap Aska, membuat perdebatan orang tuanya terhenti seketika. Ia lantas menghidupkan mesin mobilnya. Mobil pun melaju perlahan di jalan bebatuan. Dari sinilah kehidupan baru Rein dimulai.
...****************...
To be continued....