Stella tidak menduga jika kesalahan satu malam dalam misinya mengungkap perselingkuhan suaminya, justru membuat masalah baru untuknya. Dia hamil anak atasan suaminya.
Apa yang harus dilakukan Stella, pengadilan menunda perceraian yang dia ajukan untuk suaminya karena telah berselingkuh karena dia hamil. Tapi didalam rahimnya, bukanlah anak suaminya, melainkan atasan suaminya.
Silakan baca "Istri rasa simpanan" karya 'Mona Al' terlebih dahulu, ini adalah novel lanjutan dari kisah Stella.
Happy reading 🥰😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mona Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Tekanan untuk Vishal
Tuan Sanjaya berdiri mondar-mandir diruang kerjanya. Setelah melihat berkas kerja sama antara dirinya dan sahabatnya, Samir, maka dia terpaku menatap kertas itu. Nilai saham milik sahabatnya lebih besar dari miliknya. Artinya, dia berada diatas dirinya.
Permintaan sahabatnya dan kebahagiaan putranya juga kelangsungan bisnisnya seakan memecahkan seluruh isi kepalanya. Tidak ada satupun keputusan yang akan menguntungkan kedua belah pihak.
Setiap keputusan yang akan dia ambil, pasti menghancurkan salah satu pihak. Jika dia menikahkan putranya dengan Alice, maka kebahagiaan putranya akan hancur.
Jika dia menolak untuk menikahkan keduanya, maka bisnisnya yang akan hancur.
Dan jika dia tidak melakukan apapun, maka semuanya tetap akan hancur. Dia harus membuat sebuah keputusan, yang paling menguntungkan dirinya dan bisnisnya.
Bisnis yang sudah dia kembangkan sejak lama, ketika anak-anak mereka masih kecil, haruskah hancur, saat mereka dewasa? Tentu saja akalnya menolaknya. Bisnis adalah kehidupannya. Bisnis dan kekayaan adalah segalanya baginya diatas apapun didunia ini. Dia hidup untuk mengejar impiannya menjadi pebisnis besar, dan bukan seorang pecundang.
Akhirnya dengan langkah sigap, Tuan Sanjaya pergi ke ruang kerja putranya. Awalnya berbicara baik-baik dan santai, lama-lama mereka berdebat masalah pernikahan.
Saat ini di ruang kerja Vishal sedang terjadi perdebatan antara dirinya dan ayahnya. Ayahnya meminta Vishal menepati janjinya. Tapi Vishal menyanggah janji itu. Dia mengatakan jika dia tidak pernah berjanji untuk menikahi Alice.
"Saya hanya mengatakan jika akan menjaganya selamanya, tapi bukan menikah dengannya," kata Vishal mengelak.
Ayahnya menatap tajam seperti busur kearah Vishal.
"Papa tidak ingin mendengar alasanmu. Kau hidup karena gadis itu menyelamatkan dirimu. Jika tidak maka apakah kau masih hidup hari ini. Jangan keras kepala," Ayahnya mengatakan dengan nada jengkel tak tertahankan. Wajah sahabatnya melintas di kepalanya.
"Aku sudah membuat kekasihku hamil. Lalu papa ingin aku menikahi gadis lain. Ini tidak masuk akal," Vishal tidak mau menerima begitu saja perjodohan ini. Hidup bersama tanpa ada cinta bersama Alice, pasti terasa menyakitkan. Apalagi jika wanita yang di cintainya tengah hamil darah dagingnya. Vishal teringat tentang Stella.
"Jika kau tidak menurut apa kata papa. Maka jangan panggil aku papa lagi. Kau bukan anakku lagi jika kau bersikeras tidak mau menikah dengan Alice," kata papanya membuat Vishal diam seribu bahasa. Papahnya teringat akan bisnisnya dan juga nilai persahabatan antara dirinya dan Samir.
Ibunya berdiri tidak jauh dari tempat anak dan suaminya berdebat. Nyonya Shalma mengusap air matanya yang menetes melihat putra kesayangannya berada dalam tekanan dan dilema.
"Papah, jangan berkata begitu. Kau terlalu menekan putramu. Apakah kau tidak ingin melihatnya bahagia?" Nyonya Shalma akhirnya mendekati mereka berdua. Berusaha melerai pertengkaran diantara anak dan suaminya.
Berdiri diantara keduanya dan menghadapi suaminya yang ambisius.
"Mama jangan ikut campur. Ini demi kebaikan putra kita. Aku yang memutuskan apa yang terbaik di keluarga ini. Kalian harus patuh pada keputusanku. Jangan ada yang berani membantahnya!" Tuan Sanjaya menatap putranya dengan kesal. Lalu menatap tajam wajah istrinya yang berusaha membela anaknya. Bahkan seakan mendukung keputusan putranya bersama Stella.
Matanya berkilat tersirat amarah yang besar. Nyonya Shalma diam dan tidak membantah lagi. Suaminya memang keras kepala dan tidak mendengarkan pendapat orang lain. Itu sudah sifat yang melekat dalam dirinya sejak mereka menikah. Semua keputusan ada di tangan suaminya dengan mutlak. Pendapatnya kadang tidak penting sama sekali.
"Vishal, tenang nak, mama pasti akan berusaha agar kau menikah dengan Stella, apapun yang terjadi," Vishal tertunduk lesu. Duduk di kursi CEO tanpa daya. Vishal tahu benar sifat ayahnya.
Dia adalah CEO pemilik kapal pesiar, tapi semua itu masih dibawah bayang-bayang kekuasaan ayahnya. Dia tidak bisa memutuskan apapun sendiri karena ayahnya lebih berkuasa.
Nyonya Shalma memeluk putra kesayangannya dengan trenyuh. Hatinya sedih karena melihatnya tak berdaya dihadapan ayahnya sendiri.
"Kau pasti mendapatkan cintamu. Ibu akan melakukan apapun untukmu," kata Nyonya Shalma berbisik pada putranya.
"Aku tidak bisa melihat Stella menderita. Dia adalah ibu dari anakku. Bagaimana ayah membuat keputusan agar aku menikah dengan Alice demi sebuah persahabatan?" Vishal lalu menatap ibunya dan pergi meninggalkanya untuk menenangkan dirinya sendiri.
Stella yang sedang sendirian di balkon, melihat wajah sayu Vishal yang tidak seceria biasanya.
Stella lalu akan mendekatinya, namun tiba-tiba langkahnya dihadang oleh ayahnya, Tuan Sanjaya.
"Aku tahu kau mencintai putraku. Kau juga sengaja menyerahkan kehormatan dirimu demi menjadi menantu di keluargaku,"
"Tuan, kenapa kau berkata begitu?" Stella kaget dan shock. Tercengang mendengar kalimat pedas calon ayah mertuanya.
Stella menghentikan langkahnya dan tidak bisa mendekati Vishal. Vishal entah menghilang kemana karena dia tidak melihat arah dia pergi.
Sementara Tuan Sanjaya menatap Stella penuh intimidasi.
"Aku tahu kau hamil. Tapi perlu kau ketahui, sebelum kau datang menemui kami dan hamil anak putraku. Dia sudah berjanji untuk menikah dengan Alice. Dan kau tahu, kaki gadis itu bahkan lumpuh demi menyelamatkan dirinya. Bisakah kau berkorban seperti yang gadis itu lakukan demi putraku?" Pancing Tuan Sanjaya.
"Berkorban, maksud anda?" Stella bingung apa yang ingin disampaikan oleh calon ayah mertuanya.
(jgn jdikan alice jahat ya tor..)🙏👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻