Yang dia inginkan hanyalah kehidupan normal sama seperti yang lainnya, sesekali ia berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan keinginan sederhananya namun masih juga di abaikan.
Sejenak ia berhenti bertanya pada mereka yang memburunya, ia selama ini lari dari tanggung jawab namun saat ia lelah ia berhenti berlari, berbalik kemudian menyambut mereka.
"Saya lelah jadi akhiri saja di sini"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Dina oktafia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oke
Tak butuh waktu lama agar situasi yang semula tidak menguntungkan menjadi benar-benar berada di pihaknya, langkahnya kini mulai mengarah pada sosok laki-laki bertubuh besar layaknya binaragawan yang saat ini tengah tertidur pulas di atas sofa berukuran besar di sana, "sampah" gumam Nana mengedarkan pandangannya ke sekitar yang mana menampakkan situasi yang begitu kotor layaknya tempat sampah.
Botol bekas minuman berceceran dimana-mana, tak ada yang namanya ruang kosong di sana, semuannya adalah sampah termasuk dengan orang yang masih tertidur itu, "Jadi" hanya dengan menatapnya sebentar saja sudah bisa membangunkan hasrat membunuhnya, "Jadi bagian mana yang harus aku potong terlebih dahulu?" kali ini yang memimpin tubuh Nana adalah sisi kegelapan nya , rasa haus akan balas dendam membuatnya kehilangan akal.
Saat akan mengarahkan pisau di tangannya tiba-tiba saja ada seseorang di belakangnya "Apa kau benar-benar akan membunuhnya?" namun sebelum ia melancarkan aksinya, rupanya Nana sudah di pergoki oleh seseorang atau lebih tepatnya beberapa orang yang kini tengah berdiri tepat di belakangnya, "Apa ada masalah?" gumam Nana yang berbalik menatap mereka datar.
Ada sekitar lima orang laki-laki dan satu orang perempuan yang berpakaian serba hijau lumut menatap Nana kaget, "anak manis apa yang sedang kau lakukan, itu berbahaya" pekik seorang perempuan yang langsung berjongkok serta mengisyaratkan Nana untuk segera menjauh dari Teo.
Melihat ada seseorang yang mencoba menghentikannya membuat Nana kesal, "Apa menurut kalian hanya dengan melihat saja bisa membuatku puas?" gumam Nana mulai menengadahkan wajahnya menatap mereka dengan bringas, "Perlu kalian ketahui, aku sama sekali tidak takut berhadapan dengan kalian, jadi-" menghentikan kata-katanya saat salah satu dari mereka mengisyaratkan Nana untuk diam.
"Bisa ikut kami sebentar?" katanya dengan lembut seraya membujuk Nana untuk ikut dengan mereka.
Perlahan tapi pasti Nana mulai luluh dengan kelembutan yang mereka berikan padanya, melihat tak ada yang mencurigakan dari mereka membuat nya ikut saja "Jadi katakan" kata Nana sesaat setelah mereka sampai di sebuah ruangan yang letaknya beberapa meter dari tempatnya semula, "Jangan lakukan itu" kata perempuan tadi langsung to the point, tentunya itu membuat Nana terkekeh, "Hehehe".
"Kalian yang tidak tahu apa-apa kenapa mencoba menghentikan ku, apakah kalian sama sekali tidak punya otak!" teriak Nana dengan nada yang bisa ditoleransi, "Maafkan kami, tapi ini sangat berbahaya" kata mereka dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Apapun yang mereka katakan adalah sebuah harapan yang sudah lama tak mereka dapatkan, "Sangat tidak mungkin bagi kami untuk menang melawannya apalagi kau yang masih sangat kecil ini, dan jika kamu melakukannya maka adik kami akan-" menghentikan kata-katanya, saat itu barulah Nana teringat akan sesuatu.
"Jadi, adik yang kalian maksud, yang ada di gudang itu?" gumam Nana asal yang langsung mendapatkan pelotoan tajam dari mereka, "Apa yang kau katakan tadi, gudang?" bertanya balik seakan-akan baru mengetahuinya, "Jadi kalian tidak tahu ada di mana anak-anak itu? mereka ada di gudang" kata Nana dengan santai, "Be-benarkan? bagaimana keadaannya?" tanya mereka satu persatu yang kelewat bahagia.
Layaknya sebuah mukjizat mereka semua pun tak mampu menahan kesedihan, ada banyak luka di tubuh mereka namun itu semua seakan-akan sudah terobati tatkala mendengar kabar bahwa mereka masih hidup.
"Babak belur, kelaparan dan mungkin ketakutan" jawab Nana asal, yang semakin membuat mereka kelewat senang, hingga "Terimakasih" bisik seorang laki-laki muda yang langsung memeluk Nana dengan lembut.
"Adikku ada di sana , aku kira dia sudah di habisi tapi kau malah mengatakan hal ini, kami sangat senang terimakasih" hingga tanpa sadar ada sesuatu yang berhasil mengusik Nana, "Jadi apa ini yang membuat kalian tunduk pada Sampah itu?" gumam Nana menatap perempuan yang saat ini juga berkaca-kaca.
"Bukan hanya adik kami, tapi keluarga kami semua juga ada di sini, pemimpin kami menjadikannya sebagai sandera agar kami tidak memberontak, jadi apa boleh buat kan?" balas perempuan tadi mulai mengusap sudut matanya yang berair.
"Owwwh" membulatkan mulut, sebenarnya Nana sama sekali tidak peduli akan hal tersebut, tapi mereka seakan-akan memaksanya untuk mengurungkan niatnya dalam menghabisi Teo, "Jadi bisakah kalian menyingkir" kata Nana kembali mengatakan tujuannya yang terhambat.
"Tidak" kata perempuan tadi menolak Nana, "Bagaimanapun juga kami harus melindungimu, jadi-" menghentikan kata-katanya saat Nana secara cepat mengarahkan pisaunya ke leher perempuan tadi yang langsung membuatnya diam seketika, "Aku sangat benci omong kosong, jadi diam dan pergi saja dari sini" bisik Nana yang langsung membuat mereka semua terdiam begitu saja.
"Heh kau-" hendak memegang Nana namun di halangi oleh perempuan yang saat ini masih dalam genggaman Nana, "B-Baik kami mengerti" katanya gelagapan tatkala Nana semakin mendekatkan dirinya.
"Kalian pergi saja dari sini, jangan menghalangi" kata Nana langsung menarik tangannya dan berjalan menuju tempat sampah tadi berada, "Pergilah" sebelum meninggalkan mereka Nana menyempatkan diri untuk memperingati mereka, "Kalau sampai ada yang menghalangi maka, kalian akan bernasib sama" kata Nana menunjukkan sisi keberingasannya.