NovelToon NovelToon
Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Status: tamat
Genre:Mafia / Pembunuhan / Tamat
Popularitas:40k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Persahabatan tiga cowok yaitu Izam, Roki dan Martin disekolah menengah.cerita ini sudah direvisi silakan para pembaca untuk datang menikmati kisahnya. Jika ada kesalahan penulisan atau kata, saya meminta maaf. Ayo datang meriahkan kisah fantasi ini.Terima kasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suka dan Duka 1.1: Bayangan di Balik Tembok

Udara di gang belakang sekolah itu pengap, berbau debu dan kelembapan dari tumpukan sampah yang jarang diangkut. Area ini adalah labirin tembok bata kusam yang menjulang tinggi, tersembunyi jauh dari lapangan utama dan keramaian. Suara burung hantu yang menyendiri menjadi satu-satunya saksi bisu. Di sinilah Roki terperangkap, tubuhnya merosot ke dinding yang kasar.

Tubuh Roki terasa seperti diisi dengan air, lemas tak berdaya di bawah sentuhan dingin dan kasar Remon. Setiap sentuhan Remon, yang kini telah merayap hingga ke pantatnya, mengirimkan gelombang kejutan yang mematikan saraf perlawanan Roki. Nafasnya tercekat, mata Roki mulai berkaca-kaca, dipenuhi kepanikan yang mendalam.

Roki tahu ini adalah usaha terakhir. Ia mengerahkan sisa tenaga dan udara di paru-parunya, berusaha keras untuk membuat suaranya terdengar meyakinkan.

“Tolong... tolong!” teriak Roki, suaranya terdengar serak, lebih mirip ratapan yang tertahan daripada teriakan pertolongan.

Remon, seringainya lebar, wajahnya tampak mengerikan dalam gairah yang tak terkendali. Ia mencondongkan tubuhnya ke telinga Roki.

“Percuma saja,” bisik Remon, suaranya rendah dan mengancam, seolah berbagi rahasia gelap. “Kita jauh dari keramaian. Tak ada siswa bodoh yang tahu jalan tikus ini. Pasrah saja, Roki.”

Jari Remon mulai meraba celana Roki, hendak mencari celah. Ketakutan Roki berubah menjadi rasa jijik yang mendidih. Dia tahu dia harus mengalihkan perhatian, harus mendapatkan kembali kendali atas situasi ini, meski hanya sesaat.

“Tidak! Apa yang kamu lakukan ini salah! Kita ini teman sekolah. Ini akan membawa masalah besar untukmu, Remon,” desak Roki, berusaha membuat suaranya terdengar logis, meskipun tubuhnya gemetar.

Remon hanya tertawa kecil, suara tawa yang hampa dan dingin. "Masalah? Masalahku adalah gairah yang kamu bangkitkan, Roki. Dan soal teman..." Remon mendekatkan wajahnya. "Aku akan tunjukkan bagaimana caraku memperlakukan teman baik."

Tiba-tiba, Roki mengeluarkan teriakan yang lebih tajam, diselimuti rasa sakit dan penolakan yang paling mendalam.

“Tidak! Lepaskan aku! Hentikan!”

Remon tidak menggubris. Matanya berkilat, penuh nafsu. “Tidak akan aku lepaskan kamu. Karena aku masih ingin memeluk, mencium, dan... memasukannya di dalam kamu.”

Tanpa peringatan, bibir Remon menabrak bibir Roki. Rasa panik Roki memuncak ketika Remon memaksakan lidahnya masuk. Ciuman itu terasa menjijikkan, agresif, dan penuh paksaan. Roki mencoba mendorong dada Remon, mengerahkan semua otot lengannya.

Sia-sia. Tenaga Remon jauh lebih kuat. Roki merasa seperti boneka kain di tangan Remon. Tubuhnya terus dicium dan diraba dalam keheningan yang menyesakkan, napas Roki mulai putus-putus. Ia menutup mata, membiarkan air mata keputusasaan mengalir ke pelipisnya.

Sementara itu, hanya beberapa meter di seberang tembok bata yang sama, suara mesin mobil mewah terdengar merdu, meluncur perlahan seperti bisikan angin. Izam, yang keluar dari mobilnya, segera menghela napas panjang, ekspresi kelesuan yang dalam terpancar di wajahnya.

“Lelahnya,” keluh Izam, merentangkan bahunya yang terbalut kemeja mahal. “Kenapa baru bisa selesai hari ini? Membuat aku capek saja. Tapi untung saja bisa selesai tepat waktu.”

Mizuki, pengawalnya, berdiri di luar pintu mobil. “Tuan Izam, jika Anda tidak harus menyelesaikan dokumen holding keluarga, Anda tidak akan terlambat.”

Izam mendengus, melirik tinggi ke tembok di belakang sekolah.

“Itu karena kalian yang membuat aku harus lewat sini,” ucap Izam, nadanya sedikit tajam karena frustrasi. “Lain kali, jika tidak mendesak, jangan panggil aku sampai aku lulus. Apa kalian mengerti?”

“Baik, Tuan,” jawab Mizuki singkat, tidak membantah.

Izam mulai memanjat tembok yang kusam dan tinggi itu. Ia tidak peduli dengan penampilannya yang kini sedikit kotor, yang penting ia tidak tertangkap basah oleh penjaga sekolah karena terlambat.

Saat Izam mencapai puncak tembok, dan melompat turun dengan cermat, pemandangan di depannya membuatnya terhenti. Ia melihat Roki, tubuhnya setengah tersembunyi, di bawah tekanan Remon. Ekspresi kebencian dingin segera menggantikan rasa lelah di wajah Izam.

“Aku rasa aku bisa meluapkan amarahku pada orang itu,” gumam Izam dengan suara kecil yang dipenuhi senyum licik yang berbahaya.

Mizuki, yang sudah kembali ke dalam mobilnya, hanya bisa menggeleng pelan sambil bergumam, “Kasihan orang yang di balik tembok itu.” Mobil sedan hitam itu segera melaju, meninggalkan Izam sendirian.

Izam tidak langsung bergerak. Dia mengambil ponselnya, mengarahkan kameranya, dan mengambil beberapa gambar sebagai bukti cepat. Setelah mendapatkan rekaman yang cukup, barulah ia melangkah maju.

Di belakang Remon, Izam berbicara dengan suara yang tenang, mematikan, dan penuh ancaman.

“Apa aku juga boleh gabung?”

Remon tersentak kaget, sentuhannya pada Roki terhenti seketika. Izam bergerak cepat. Ia melangkahi tiga teman Remon yang ternyata sudah terkapar di tanah, wajah mereka babak belur karena pukulan cepat Izam.

Izam berdiri tepat di belakang Remon, meletakkan tangan kirinya di bahu Remon. Cengkeramannya kuat, menjanjikan rasa sakit.

“Aku rasa enak jika aku juga ikut bergabung dengan kalian,” kata Izam, suaranya kini dingin seperti baja.

Remon menoleh dengan kasar, terkejut melihat Izam dan rekan-rekannya yang sudah tak berdaya. Ia melihat ke arah Roki, yang kini meneteskan air mata, ketakutan dan kelegaan bercampur aduk melihat Izam.

“Bagaimana Remon?” desak Izam, tekanan pada bahu Remon menguat.

Remon menghempaskan tangan Izam. Matanya menyala tajam karena marah. “Bagaimana kamu bisa ada di sini?!”

“Kenapa? Apa aku tidak boleh ikut bermain dengan kalian? Kayaknya seru juga kalau aku ikut bermain,” balas Izam, nada bicaranya memprovokasi, matanya setajam pisau.

Tiba-tiba, Izam menarik pergelangan tangan Roki, menariknya menjauh dari Remon, menempatkannya di belakang tubuhnya sebagai perisai. Izam melepas jasnya, sebuah jas sekolah berharga yang rapi, dan melemparkannya ke Roki.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Izam, nadanya berubah total menjadi khawatir yang tulus.

Remon, yang marah karena terganggu, tidak berpikir. Dia melayangkan serangan pertama. Namun, Izam sudah menduganya. Izam lebih dulu menendang perut Remon dengan tendangan yang keras, membuat Remon mundur beberapa langkah, terbatuk kesakitan.

“Aku tanya lagi, apa kamu tidak terluka?” ulang Izam, menoleh sekilas ke arah Roki.

Roki hanya bisa menggeleng pelan, rasa takut masih menggumpal di tenggorokannya. Ia mundur, bersembunyi sepenuhnya di belakang punggung Izam.

“Baiklah,” kata Izam, suaranya menenangkan. Ia kembali menoleh ke Roki. “Jika ini selesai, kita pergi ke ruang kesehatan, ya?”

Izam berjalan lurus menghampiri Remon. Pertarungan itu brutal dan singkat. Pukulan di perut Remon disambut dengan pukulan Remon ke wajah Izam. Mereka saling adu tinju dengan amarah yang tak tertahankan. Izam, yang sudah dipenuhi amarah terpendam sejak pagi, melepaskan segalanya. Pukulan terakhir mendarat telak, membuat Remon terhuyung dan ambruk tak bergerak.

Selesai dengan urusan Remon, Izam segera kembali menghampiri Roki yang masih gemetar di balik punggungnya. Kondisi Roki terlihat sangat tidak berdaya.

“Ayo kita pergi ke ruang kesehatan,” ajak Izam, suaranya kembali lembut.

Roki tetap diam. Kepalanya tertunduk dalam, rasa malu dan takut melumpuhkannya.

“Kenapa kamu tidak menjawab?” desak Izam, berusaha bersabar. “Jika kamu tidak mau, apa perlu aku hubungi Martin atau wali kelas kita?”

Mendengar nama Martin sahabat terbaiknya disebut, Roki mengangkat wajahnya. Matanya yang merah menatap Izam. Dia meraih tangan Izam yang terulur.

“Jangan...” bisik Roki, suaranya pecah.

“Jika kamu tidak ingin aku menghubungi mereka berdua, apa kamu mau tetap di sini atau mau ikut denganku ke ruang kesehatan?” tanya Izam, mulai melangkah pergi.

Roki menahan tangan Izam. “Ada apa?”

“Terima kasih telah menolongku... dan tolong, rahasiakan semuanya dari Martin,” pinta Roki, suaranya sangat pelan, penuh permohonan.

Izam menatap mata Roki sebentar, memahami beban emosional permintaan itu. “Baiklah, jika itu yang kamu mau.”

Mereka berjalan berdampingan. Roki, karena masih syok, hanya mengikuti setiap langkah Izam, tanpa menyadari mereka sudah berada di depan ruang kesehatan.

“Ayo masuk,” kata Izam. “Kenapa kamu masih diam saja di situ?”

Roki masih terdiam. Akhirnya, Izam dengan lembut menarik tangan Roki masuk. Kebetulan, ruangan itu kosong. Izam mencari kotak P3K dan baju olahraga bersih milik sekolah untuk Roki yang kini duduk di atas kasur periksa.

“Bagaimana kamu bisa ada di belakang gedung?” tanya Roki, suaranya sedikit pulih, menundukkan kepala karena malu.

“Karena terlambat,” jawab Izam singkat.

Roki tersenyum samar, senyum yang terasa rapuh. “Tidak biasanya kamu terlambat.”

“Itu karena suatu permasalahan yang harus aku selesaikan,” kata Izam, menyerahkan baju ganti bersih.

Roki menerima baju itu, memeganginya erat. Ia mengganti pakaiannya yang sudah kotor dan ternoda.

“Apa kamu yakin tidak apa-apa? Apa perlu minta izin tidak masuk?” tanya Izam, terlihat jelas kekhawatiran di matanya.

“Tidak. Aku akan tetap masuk kelas,” jawab Roki, menyembunyikan getaran dalam suaranya. “Aku tidak mau mereka tahu dengan aku tidak masuk kelas.” Ia menatap Izam dengan tekad yang pahit. “Ayo kita pergi ke kelas sekarang.”

Mereka keluar, berjalan menuju kelas. Keheningan yang panjang menyelimuti mereka, dipenuhi oleh kejadian mengerikan beberapa saat yang lalu. Izam akhirnya memecah keheningan itu saat mereka hampir tiba di depan kelas.

“Kenapa kamu tadi tidak melawan atau berteriak lebih keras? Jika tidak, kenapa kamu tidak menelepon Martin?” tuntut Izam, nadanya kini penuh keraguan dan kebingungan.

“Percuma saja aku berteriak, tidak ada yang datang sampai kamu muncul,” jawab Roki, suaranya terdengar hampa. “Untuk ponsel, kebetulan tidak bawa.”

Izam menatap Roki, melihat bayangan ketakutan yang masih menyelimuti matanya. Ia ingin memberikan dukungan. Dengan spontan, Izam merangkul bahu Roki, berniat menghibur dan menenangkan.

Namun, Roki terkejut. Tubuhnya menegang, dan ia segera mendorong Izam dengan kuat. Ia mundur beberapa langkah, ketakutan yang baru saja diredam kembali meledak.

Izam hanya bisa menatap tangannya yang kosong, wajahnya memancarkan rasa bersalah yang mendalam.

“Maaf,” kata Izam, suaranya pelan dan tulus. “Bukan maksudku melecehkan kamu. Aku hanya... mencoba untuk menenangkan kamu.”

Roki menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan dirinya. “Aku tahu maksud kamu. Tapi aku masih tidak bisa, jika itu laki-laki, apalagi dengan apa yang terjadi barusan.”

Ia mengangguk singkat, kembali menenangkan diri, dan melangkah lurus menuju pintu kelas. Izam hanya diam, memahami bahwa kepercayaan adalah sesuatu yang sangat rapuh, dan ia baru saja melanggarnya. Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam kelas yang sudah ditunggu oleh Martin.

1
anggita
up trus..
anggita
organisasi kegelapan jiwa...
anggita
klo mau promo novel, bisa ketempat kami.. bebas👌
anggita
authornya kurang promo. padahal cukup rajin update. 🙄
Herwanti: gx pintar promo. terima kasih untuk kunjungannya ya
total 1 replies
anggita
pelabuhan X
anggita
👍👍👌👌👏👏,,
anggita
sastra ilmu bela diri 🙄
anggita
organisasi rose black.
anggita
👌👌,,,
anggita
mizuki.
anggita
remon.. roki..
anggita
mampir ,👍saja..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!