Alina Stella Putri Denarjaya yang menikah dengan Ansel Raharga Satya Putra karena sebuah tragedi.
Pada awalnya Alina mengira jika dirinya adalah istri satu satunya namun dirinya salah. Ansel menyembunyikan sesuatu di balik pernikahan mereka.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan pernikahan Alina? Lanjut baca yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8.
"Maksudku...." tanya Ansel sendiri
"Apa maksudmu dengan mencampurkan obat di dalam minumanku" bentak Ansel sambil mencengkeram leher Jack.
"Oh... hahahah. Rupanya kau sudah tau" ucap Jack sambil tertawa keras.
"Sengaja. Aku ingin menghancurkan hidupmu" ucap Jack dengan senyum sinis.
Bug
Pipi Jack membiru seketika menerima pukulan yang di layangkan Ansel. Entah kekuatan apa yang di miliki Ansel hingga hanya sekali pukul bisa membuat musuhnya lemah.
Ansel mengambil senjata api yang ada di balik jaketnya kemudian menodongkan ke arah kepala Jack. Dia benar benar marah dengan apa yang di lakukan Jack.
"Kau mau membunuhku? Coba lihat belakangmu" ucap Jack
Ansel menoleh dan seluruh anak buah Jack sudah berdiri berjajar di belakangnya. Senjata api di tangan mereka sudah mengarah ke kepalanya.
"Pergilah. Mumpung aku baik hati" ucap Jack.
Ansel menggeram kesal. Dia tidak ingin mati konyol disini. Dia akan menghabisi Jack lain waktu. Banyak hal yang harus dia lakukan.
Ansel melepaskan cengkeramannya pada leher Jack. Pria itu pergi dari tempat gila itu. Urusan dengan Jack akan dia selesaikan lain waktu.
Pria itu mengendarai mobilnya keluar dari area basecamp Jack. Kembali melaju dengan kecepatan tinggi. Pikirannya melayang memikirkan sesuatu. Banyak hal yang menjadi beban dalam otak cerdasnya itu.
Ansel akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumahnya saja. Rumahnya yang berjarak cukup jauh memakan waktu yang cukup lama juga. Tiga puluh menit akhirnya Ansel sampai di rumahnya yang mewah dan menjulang tinggi. Lain dengan rumah Alina yang bernuansa putih, rumah milik Ansel bernuansa hitam. Lebih terlihat tegas dan cocok untuk dirinya yang seorang laki laki.
Ansel membawa mobilnya masuk ke dalam garasi dimana jejeran mobil sport mewah miliknya di parkirkan. Ansel turun dari mobilnya sambil memegangi keningnya yang sedikit pusing.
"Berikan teh hangat untukku" ucap Ansel singkat dan berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
Brak
Ansel menutup pintu menggunakan kakinya. Pria itu langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk. Beberapa kancing kemejanya terbuka menampilkan dada polosnya.
Ansel meletakkan satu tangannya untuk menutup matanya dan tidur. Beberapa saat kemudian seorang pelayan mengantar teh hangat ke kamar Ansel.
Mengetuk pintu beberapa kali namun tak ada sahutan dari dalam membuat pelayan itu meninggalkan teh tersebut di atas meja yang ada di depan kamar.
Bahkan beberapa panggilan pun ia hiraukan dan kembali tidur dengan pulas. Matanya begitu mengantuk. Pikirannya kacau akibat semalam.
Namun beberapa saat kemudian Ansel langsung terbangun dari tidurnya. Ansel duduk di atas ranjang dengan menatap kosong ke arah depan. Bahkan Alina pun mengacaukan mimpi indahnya. Ansel mengusap wajahnya gusar. Ingin tidur nyenyak saja sangat sulit.
"Arkhh" teriak Ansel frustasi sambil mengacak rambutnya.
Ansel menoleh saat sebuah panggilan masuk. Dahi pria itu mengkerut saat melihat siapa yang menghubunginya.
"Hm"
"Kau ada dimana" ucap seorang di balik telepon
"Rumah" jawab Ansel singkat
"Aku akan kesana"
"Untuk?"
"Aku sahabatmu. Apa kau tadi tertembak? Aku mendengar kabar jika kau mendatangi markas Jack"
"Hm memang"
Tut
Ansel langsung menutup panggilan secara sepihak. Pria itu kembali merebahkan tubuhnya. Menjadikan tangannya sendiri sebagai bantal dan menatap langit langit kamarnya.
"Huft" Ansel menghembuskan nafas dengan berat.
"Ini benar benar menggangguku" gumam Ansel.
.
*Like dan Komen*