Abhi Athaillah. Seorang lelaki yang sedari kecil merawat ibu nya yang mengalami gangguan jiwa harus menikah dengan wanita yang juga mengalami gangguan jiwa. Siapakah wanita itu? Akankah Abhi mencintai wanita gila itu? Dan akankah wanita itu menerima Abhi sebagai suami nya setelah kembali sehat? Mohon like, and koment nya. Serta dukungannya ya 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 Maharani Group
Ketika sesi mandi dan ganti baju berhasil dilalui Abhi dengan rasa berdebar di hati ditambah lagi kekonyolan Abhi saat mengeringkan rambut Tania.
Tania makan dengan lahap dan benar saja ketika mata Tania tertuju pada Nagasari yang terlihat seperti orang tersenyum itu.
"Dia manis sekali Abhi."
Baru Tania ingin mengambil nagasari itu untuk dilahapnya namun Abhi memegang tangan Tania. Kali pertama Abhi memegang telapak tangan Tania. Kulitnya yang halus, putih dan lembut membuat jantung Abhi kembali berdebar. Ini kali pertama Abhi bersentuhan dengan wanita.
Wajah Abhi bersemu merah dan hal itu menarik perhatian Tania yang melihat wajah Abhi.
"Abhi sakit?"
Suara Tania sedikit lembut dan yang semakin membuat dada Abhi makin bergetar tak sesuai irama nya ketika wajah Tania mendekat sehingga kening mereka berdua bersatu.
"Tapi tidak panas, atau Abhi mau makan ini?"
Tania memundurkan wajahnya dan mengangkat Nagasari yang tadi mau dilahapnya.
"Ehm.... Ehm.... Tidak Abhi tidak sakit. Tania tidak boleh memakan ini langsung tapi Suryo pesan kalau mau makan boneka ini harus mata nya dulu. Satu persatu dikasih air biar lancar masuk ke perut."
Abhi kembali mengambil satu butir pil yang berwarna oranye lalu mengarahkan ke Tania dan segelas air lali meminumkannya pada Tania.
"Apakah ini maksud Suryo membuat anak Abhi?"
Tania memperhatikan Nagasari itu dengan seksama. Lalu Abhi memberi butir obat terakhir yang lebih kecil dari pil pertama tadi. Tania berhasil menelannya tanpa memejamkan mata seperti pil pertama tadi yang terlihat lebih besar dari pil kedua ini.
"Iya Tania harus minum pil itu sampai habis. Nanti kalau sudah habis kita buat anak sama-sama ya. Sudah sekarang Tania menggambar ya. Abhi mau beres-beres di dapur."
Tania mengangguk seperti anak kecil yang patuh pada orang tuannya. Menggambar dan mewarnai adalah salah satu hal yang sering dilakukan Tania selama dalam perawatan Suryo. Keadaan Tania sekarang jauh lebih tenang dibandingkan 2 bulan yang lalu saat Suryo membawa Tania dari rumah sakit jiwa yang mengalami kebakaran di bangsal para pasien.
Abhi meninggalkan Tania sendiri di kamarnya tidak lupa Abhi menyetel musik instrumen dari piano sesuai pesan Suryo ketika Tania sedang sendiri.
❤️❤️❤️❤️
Berbeda dengan suasana hati Abhi yang harus berdebar dan bergetar menghadapi Tania. Di suatu kantor yang menjulang tinggi nan megah sedang diadakan nya rapat perusahaan dalam bidang Pertambangan yaitu Maharani Group.
Pagi ini diadakan rapat pemegang saham. Setelah dinyatakan bahwa pemilik perusahaan itu dinyatakan menjadi salah satu korban yang meninggal ketika mengalami perawatan di rumah sakit jiwa.
Maka Sebagai pemilik saham 70 persen di perusahaan itu tentu saja tindakan cepat harus diambil perusahaan demi menjaga stabilitas perusahaan itu. Tampak didalam ruangan itu sedang bersitegang pengacara keluarga Maharani dengan satu pasang suami istri didalam ruangan rapat itu yang tidak lain adalah bibi Tiri dari Tania dan suaminya.
"Anda bukan siapa-siapa Nona Maharani tuan Adi Mulyo!"
Suara seorang wanita yang berumur sekitar 45 tahun meninggi dan menatap tajam pengacara Adi Mulyo yang tidak lain adalah ayah dari dokter Suryo. Ya Tuan Adi adalah pengacara resmi keluarga Maharani.
"Baik, Saya tidak punya hubungan keluarga ataupun darah dengan nona Maharani. Tapi di dalam surat ini saya sah dan resmi sebagai pengacara nona Tania Maharani. Dan hari ini saya akan memberikan sebuah alasan yang harus kalian lihat sendiri apakah saya mengada-ada atau itu memang wasiat almarhum."
Tuan Adi tampak mencolokkan satu kabel ke laptop nya dan fokus ke layar laptop nya. Tak lama muncul sebuah video. Dimana terlihat seorang Tania Maharani mengenakan blazer yang sangat seksi dan cukup mengekspos bagian dadanya. Tampak wanita itu sedang duduk di atas kursi dan menangkupkan jari-jari tangan nya lalu menopang dagu.
"*Ca**tat ini. aku ingin apabila selama aku belum menikah semua saham, harta baik yang bergerak maupun tidak bergerak menjadi milik yayasan Maharani dimana seluruh hasilnya akan menjadi milik semua yayasan itu tuan Adi. Aku ingin kamu mencatat di surat wasiat ku, kamu serta Suryo dan Dinda menjadi pengawas untuk semua dana itu jika hal terburuk itu terjadi pada ku. Kalian akan digaji setiap bulannya*. Jika terjadi apa-apa pada diriku. Aku ingin video ini berguna dimasa depan. Feeling ku tidak pernah meleset
"Praaaang!"
Infokus yang berada di atas meja rapat pun harus berantakan karena dihempas oleh seorang lelaki yang berbadan tegap dan cukup tampan diusianya yang terbilang tidak mudah lagi.
"Kau pasti mengancam Tania, Adi! Jelas-jelas Mirna adalah bibi dari Tania. Lantas kenapa bisa di wasiat itu tidak ada nama Mirna. Dan kenapa kau bisa memiliki ini. Jangan-jangan kau dalang dari kebakaran dirumah sakit itu agar bisa menguasai harta Maharani."
Lelaki itu mendekat ke Tuan Adi dan wajah mereka cukup dekat.
"Baik lah Tuan-tuan. Hari ini saya Adi Mulyo, Bambang Suryo sebagai dokter atau psikiater Nona Maharani dan Regita Adinda menyatakan kalau kami hanya akan menerima gaji seperti selama ini. Untuk perihal mengurus yayasan maka kami akan melakukan sebagai sukarelawan layaknya penghormatan kami pada Almarhumah Nona Maharani yang membuat kami seperti sekarang ini. Silahkan anda-anda pegang salinan surat pernyataan ini guna kepentingan kedepannya."
Tampak beberapa peserta rapat berkomentar dengan rekan mereka dengan seksama. Alhasil rapat yang berlangsung hingga siang hari itu berakhir dengan Pemegang Saham tertinggi adalah Seluruh yayasan Maharani.
Dimana Yayasan Maharani adalan Yayasan yang mengurus Anak Yatim piatu. Terdapat 4 Yayasan Maharani di 4 provinsi berbeda.
Adi Mulyo baru akan meninggalkan ruangan rapat namun ditahan oleh sepasang suami istri yang dari tadi memandang Tuan Adi dengan penuh benci.
"Katakan berapa yang kau minta untuk bisa merubah keputusan gila ini Adi?"
Wanita berbaju merah itu mendekati Tuan Adi dan memegang pundak tuan Adi.
"Nyawa hanya akan bisa mampu dibalas nyawa, Nyonya Mirna!"
Tuan Adi masih fokus membereskan berkas-berkas kedalam tas hitamnya.
"Tuan Adi, jangan bermain-main dengan kami!"
Suami tuan Mirna makin terprovokasi mendengar jawaban Tuan Adi.
"Aku hanya melakukan tugas ku Tuan dan Nyonya. Bagi ku mengabdi pada Nyonya maharani setelah kepergian kedua orang tuanya adalah sebuah penebus dosa!"
Tuan Adi membuka kaca matanya dan menatap tajam sepasang suami istri itu.
"Saya tidak akan menjadi pengacara yang lugu seperti 18 tahun yang lalu. Jika harus kehilangan nyawa saya sekalipun saya rela. Dan satu lagi, Semua gerak gerik anda sedang saya pantau dengan orang-orang saya. Hati-hati menggerakkan budak catur anda jika sebagai ratu dan raja kalian tidak ingin di depak dari Maharani Group.!"
Tuan Adi melangkahkan kaki meninggal kan gedung Maharani Group.
Didalam mobil Tuan Adi menelpon Seseorang.
"Perketat pengawalan keluarga ku dan Nona Maharani. Ingat jangan terkesan kalau kalian ada disana!" Tuan Adi memejam kan matanya ketika berada di kursi penumpang.
"Kemana tuan?" tanya sang sopir.
"Pemakaman Indah Sari"
Mobil Lexus LM berwarna hitam itu pun meninggalkan gedung Maharani Group menuju pemakaman Indah Sari yang memakan waktu satu jam perjalanan.
kka sebutir debu.. maa syaaAlloh rindu akan ilmumu.. kak /Sob/ gmna kbarnya kka?? sejak tahu novel yg kka belum up sya gak buka noteltoon lagi.. tp sekarng bbrpa hri tiba2 mau buka lagi ternyata kka bkin karya baru..
makasih kak../Rose/
alhamdulillah ibu kinan bener" sdh sembuh