Nuna, gadis cantik berhidung mancung dengan kulitnya yang putih bersih, diam diam menyukai seorang laki laki yang biasa ditemuinya di cafe langganannya, dalam diam nuna hanya bisa memperhatikan pujaan hatinya tersebut,
Tanpa berusaha untuk mengenalnya lebih dalam, tak jarang Nuna mencuri curi foto dengan kamera ponselnya...
Dimas, laki laki yang dcintai nuna dalam diam, seorang pengusaha di bidang properti, tampan, kaya dan arogan dan dia tak mudah jatuh cinta.
Akankah mereka bisa slaing mengenal dan jatuh cinta satu sama lain????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek Nanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bag.8
"kita sudah sampaaaai....ayo turun" kata Dimas dengan nada bicara yang tak biasa, kali ini bicaranya lebih santai dan terkesan manja.
Akupun turun dan mengikuti langkah Dimas memasuki sebuah restoran mewah,
"waduhhh ke tempat beginian, dengan pakaianku yang begini, payah payah..." batinku.
"kenapa ga bilang sih kalo kita mau kesini? aku kan bisa menyesuaikan pakaianku!"protesku.
"kalo aku bilang mau mengajakmu kesini, apa kamu mau?" tanya Dimas.
"yaa... enggak sih" jawabku sambil menggaruk jidatku yang tak gatal.
"maka dari itu, aku tak bisa bilang padamu.. begini saja harus berbohong.. dan kamu tak usah risau, penampilanmu malam ini sangat cantik" kata Dimas.
Kata katanya mampu membuat wajahku merona, apa katanya cantik? apa aku ga salah dengar?? batinku terus saja bergejolak.
"saya pesan koloke, capcay, dan nasi goreng serta orange jus 2 ya..." kata Dimas memesan makanan untuk kami berdua, dan yang dia pesan, semuanya menu favoritku.
"wah sepertinya selera kita sama" kataku mulai berbasa basi.
"oh yaaa?? apa kamu juga menyukai menu yang aku pesan?" kata Dimas berpura pura antusias, padahal itu semua memang makanan kesukaan Nuna, Dimas tau setelah membaca riwayat hidup yang diberikan oleh Sendi waktu itu.
"tentu saja.. semua yang kau pesan itu adalah menu favoritku!" jawabku sambil membuang muka, jengah dengan sikap Dimas yang sok manis tak seperti biasanya.
"wahhh kebetulan sekali kalau begitu, aku juga menyukai menu menu tersebut" jawab Dimas sambil tersenyum manis.
"seandainya tadi Lena dan Pita ikut, pasti mereka senang" kataku pelan nyaris tak terdengar.
"kamu ga usah khawatir, Sendi akan membawa mereka bersenang senang dan makan ditempat yang tak kalah mewah dengan tempat kita sekatamg" jawab Dimas sambil terus memandangiku.
"kenapa kamu ngeliat aku seperti itu?? aku merasa terganggu!" kataku salah tingkah.
"kenapa? apa aku tak boleh menikmati pemandangan indah di depan mataku?"
"hahh??? apa kau samakan wajahku ini dengan pegunungan? pemandangan katanya, ckk...!" jawabku sambil berdecak kesal.
"kamu dan pegunungan, sama sama ciptaan yang maha kuasa, ciptaanNya yang indah, yang sangat sayang jika tak di nikmati" kata Dimas lagi lagi dengan senyumnya yang sangat manis membuatku hampir terbawa suasana.
"ciihhh.... gombal!" kataku sambil memainkan sendok dan garpu di hadapanku.
"apa kamu sangat lapar? sampe ga sabaran langsung memegang sendok dan garpu" goda Dimas.
"cih.... !" decihku makin kesal dengan godaan Dimas.
"nah itu makanannya sudah datang, jadi jangan cemberut begitu, kata mamaku, kita tak boleh cemberut di depan makanan" kata bima sambil menata meja agar lebih luas ditempati makanan yang baru saja dibawa oleh pelayan.
"baiklaaah anak mama" kataku mencibirnya.
Kamipun menikmati makanan dalam diam, setelah aku menyinggung tentang mamanya tadi, dia malah lebih banyak diam, apa mungkin aku salah bicara?? ahh.. mending selesaikan makan dulu baru aku bicara lagi nanti.
"hmmmm makanannya sangat enak" kataku berusaha memecah keheningan di antara kami.
Dimas tetap diam sambil menikmati orange jusnya,
"maaf, apa aku sudah menyinggung perasaanmu??" tanyaku hati hati.
"tidak..." jawabnya dengan ekspresi yang datar.
"maaf jika ada perkataanku yang salah dan menyinggung perasaanmu, aku hanya..."
"mamaku sudah lama meninggal" katanya memotong perkataanku.
aku langsung mengangkat kepalaku dan menatapnya...
"maaf...." hanya kata itu yang dapat aku ucapkan melihat raut wajahnya yang berubah sedih.
"tak apa..." jawabnya berusaha terlihat biasa di depanku.
"aku benar benar minta maaf, jika saja aku tau tentang mamamu.. aku tak akan berani bercanda seperti tadi... sekali lagi aku minta maaf" kataku benar benar menyesal.
"tidak apa apa, harusnya aku tak berlebihan seperti ini padamu.. aku juga minta maaf telah merusak suasana" jawabnya.
Kami lalu terdiam, tenggelam dalam pikiran masing masing, dengan takut takut aku mencoba memulai pembicaraan,
"apa setelah darisini kita akan langsung pulang?" tanyaku takut takut Dimas masih bersedih akibat ulahku tadi.
"apa kau mau ke suatu tempat?? aku bisa mengantarmu" jawab Dimas.
"ah tidak, bukan itu maksudku tapi...."
"apa kau mau kita melihat bintang di bukit?" lagi lagi Dimas memotong pembicaraanku.
"jika itu dapat menebus kesalahanku yang tadi, kenapa tidak" jawabku sambil tersenyum.
"baiklaah... kalo kamu sudah selesai, sebaiknya kita berangkat sekarang" kata Dimas
Lalu Dimas memanggil pelayan dan membayar makanan kami tadi, dan ketika aku liat billnya, harga makanan tadi setara dengan biaya kostku sebulan... gilaaa....
Sepanjang perjalanan menuju bukit, Dimas hanya fokus menyetir sedang aku tak bisa berhenti untuk terus menatap wajahnya yang sangat tampan, tak salah jika waktu itu aku bertingkah konyol dengan mencuri kesempatan untuk mengambil fotonya.
"apa sudah puas memandangiku sejak tadi?" tiba tiba Dimas bersuara.
"eh...." aku gelagapan karena tertangkap basah telah memperhatikannya dari tadi.
"heheee...ga perlu salah tingkah begitu" kekeh
Dimas.
Aku tak bisa menjawabnya, karena kali ini aku benar benar malu sudah tertangkap basah.
"kamu ga perlu malu, karena cuma ada kita berdua disini" ucapnya.
Bibirku terasa kelu untuk menjawabnya,
"ayo turun, kita kesini bukan untuk di dalam mobil..." ajak Dimas.
Akupun turun dari mobil tetap dengan wajah tertunduk karena malu berat.
Seketika pemandangan di hadapanku, membuatku takjub, sungguh indaah... langit yang penuh dengan bintang dan dibawahnya banyak lampu lampu berkelip, tanda tanda kehidupan dibawah sana.
"waahhh... indah sekali" tanpa sadar aku mulai bersuara.
"iya indah, ini merupakan tempat favoritku dikala sedih dan galau" kata Dimas.
"memang tempat ini akan menenangkan pikiran setiap orang yang melihatnya" sahutku.
"sama seperti aku melihatmu sekarang" kata Dimas, kata kata yang mampu menusuk sampai relung hatiku yang paling dalam.
"lagi lagi gombal" jawabku pura pura tak terpengaruh dengan perkataan Dimas barusan.
"aku serius Nuna..." kata Dimas mulai mendekat padaku. dan ini pertama kalinya dia memanggil namaku.
semangat Thor dgn karya selanjutnya 💪💪
terimakasih banyak Thor dah buat kami terhibur 🙏🙏🙏