Hanya karena kesalahan yang dilakukan oleh kakaknya,Jamilah harus rela dihina,diperlakukan dengan tidak baik.
Harus membayar hutang-hutang kakaknya pada seorang bos besar dan sangat berkuasa.
Dapatkah Jamilah melepaskan diri dari belenggu yang merantai hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naya siswanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADDC 8
Bramasta merebahkan tubuhnya di kasur,tepat di samping Jamilah.Perlahan Bramasta mulai memejamkan matanya,sebulan lebih dia tidak bisa tidur dengan leluasa.
" Tuan" panggil Jamilah lirih.
" Hemmm" dehem Bramasta tanpa membuka matanya sedikit pun.
Jamilah diam,dia ingin berbicara tapi bingung memulainya dari mana.Bramasta membuka matanya lalu menoleh ke arah Jamilah.
" Kalo hanya untuk mengajakku berdebat,nanti saja.Aku lelah" ujar Bramasta.
" Maaf" ucap Jamilah.
Bramasta memiringkan tubuhnya menghadap Jamilah,lalu menopang kepalanya menggunakan satu tangan." Ada yang ingin kamu tanyakan atau kamu menginginkan sesuatu?" tanya Bramasta.
" Tidak" jawab Jamilah singkat.
" Bagus! Karena aku tidak suka perempuan manja dan banyak maunya.Merepotkan" kata Bramasta lalu membetulkan posisi tubuhnya dan mulai terpejam.
Setelah Bramasta benar-benar tertidur,Jamilah berusaha menggapai kursi roda yang tadi diletakkan oleh Bramasta tepat di samping tempat tidurnya.Jamilah berusaha untuk pindah dari kasur ke kursi roda,setelah berhasil dia pun berniat untuk keluar dari kamar.
Ceklek
Jamilah membuka pintu dan di sambut oleh dua orang penjaga yang berdiri tegak di depan kamarnya.
" Ada yang bisa saya bantu,Nona?" tanya salah satu dari mereka.
" Antarkan saya ke kamar Suster Meta" pinta Jamilah.
" Baik Nona"
Salah satu penjaga mengantarkan Jamilah ke kamar Suster Meta yang berada tepat di samping kamar Bramasta.
" Tunggu sebentar,Nona" pinta Pengawal itu.
Tok tok tok
Pengawal mengetuk pintu,tidak lama kemudian suster Meta membuka pintu kamarnya.
" Apa Nona butuh sesuatu?" tanya Suster Meta.
" Aku butuh teman" jawab Jamilah, membuat suster Meta dan Pengawal itu saling bertukar pandang.
" Maaf Nona,saya tidak berani" ujar Suster Meta.
" Kenapa?" tanya Jamilah bingung.
" Majikan dan pelayan dilarang berteman,Nona.Tolong mengertilah,kami masih ingin hidup" jawab Suster Meta.
" Aku hanya butuh teman ngobrol,aku suntuk.Apa itu salah?" seru Jamilah.
" Maaf Nona,ini sudah peraturan yang harus kami patuhi.Tolong mengertilah" balas Suster Meta.
" Peraturan macam apa ini,sungguh membingungkan" sungut Jamilah lalu mendorong sendiri kursi rodanya.
" Saya bantu,Nona" tawar pengawal.
" Tidak perlu,terima kasih" tolak Jamilah dengan halus.
Pengawal membukakan pintu kamar untuk Jamilah,setelah Jamilah masuk pengawal itu menutup kembali pintunya.Jamilah memilih duduk di balkon,sambil menikmati angin sore yang terasa sangat sejuk.
" Kamu tidak berniat bunuh diri kan?" tanya Bramasta.
" Rencananya sih begitu,tapi aku tidak mau mati penasaran" jawab Jamilah.
" Tidak perlu sibuk untuk mencari tahu,urus saja urusanmu dan ikuti peraturan yang ada" ujar Bramasta lalu kembali masuk ke kamar.
" Dasar orang aneh.Kadang baik,lucu,imut.Tapi,lebih sering menyebalkan" oceh Jamilah.
Bramasta bersiap-siap untuk pergi,ada transaksi besar yang akan dia lakukan malam ini.Setelah rapi,Bramasta keluar dari kamarnya.
" Nona" panggil Suster Meta.
" Bagaimana suster bisa masuk?" tanya Jamilah.
" Tuan yang meminta saya masuk dan menemani Nona selama Tuan pergi" jawab Suster Meta.
" Tuan Bram Pergi?" tanya Jamilah yang tidak menyadari kepergian Bramasta.
" Iya Nona" jawab Suster Meta.
Suster Meta duduk di sofa yang ada di balkon.
" Suster,apa saya boleh mandi?" tanya Jamilah.
" Tentu saja boleh.Akan saya siapkan" jawab Suster Meta.
...****************...
Sudah pukul sebelas malam,tapi Bramasta belum kembali.Suster Meta sudah berulang kali menguap karena mengantuk.
" Antar saya ke kamar,setelah itu Suster boleh istirahat" kata Jamilah.
" Baik Nona"
Suster Meta mendorong kursi roda menuju lift.
" Apa Nona tidak masalah jika saya tinggal sendiri?" tanya Suster Meta setelah sampai di kamar Jamilah.
" Aku tidak apa-apa,pergilah.Suster juga butuh istirahat" jawab Jamilah.
Suster Meta membantu Jamilah untuk berbaring,lalu meletakkan kursi roda tepat di sampingnya.Setelah itu barulah dia keluar dari kamar Jamilah.
" Aku tidak tau harus senang atau sedih berada disini" gumam Jamilah sambil menerawang menatap langit-langit kamarnya.
Prang...
Dor dor...
Terdengar keributan dari lantai bawah,Jamilah beringsut pindah ke kursi rodanya,lalu bergegas keluar.Jamilah menutup mulutnya menggunakan telapak tangan saat melihat dua mayat tergeletak bersimbah darah.Ruang bawah berantakan,pecahan guci berserakan di lantai.
" Ini akibatnya jika berani berkhianat" ujar Bramasta.
Beberapa orang berdiri ketakutan di depannya,hanya Seno dan Jack yang terlihat sangat tenang.
" Siapa yang membawa dua tikus ini masuk kemari?" tanya Bramasta.
Tidak ada jawaban,semua memilih bungkam.Salah bicara,bisa berakibat fatal dan nyawa jadi taruhannya.
" Jawab" teriak Bramasta lagi.
" Bram" panggil Jamilah,dia tidak mau ada korban lagi.
Bramasta kaget mendengar suara Jamilah yang memanggilnya.Bramasta menoleh ke lantai dua,dimana Jamilah berada.
" Jamilah" kata Bramasta.
Wajah Jamilah terlihat sangat pucat,tubuhnya terlihat bergetar dan bermandikan keringat.
" Bereskan!" perintah Bramasta pada Seno dan Jack,lalu setelah itu dia menghampiri Jamilah.
" Kamu belum tidur? Apa Meta tidak merawatmu dengan baik?" tanya Bramasta lalu mendorong kursi roda Jamilah masuk ke kamarnya.
Bramasta membiarkan Jamilah tetap di kursi rodanya.Dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket.Setelah mandi dan berpakaian lengkap,Bramasta menghampiri Jamilah.
" Siapa sebernarnya dirimu,Tuan?" tanya Jamilah dengan suara bergetar.Setahu Jamilah,Bramasta seorang pengusaha minyak terbesar di negara ini,beberapa usaha lainnya yang tidak bisa dihitung dengan jari, dan juga memiliki hobi mengoleksi barang-barang antik.
" Kamu tidak perlu tahu siapa saya.Yang perlu kamu pikirkan adalah kesehatamu" jawab Bramasta.
" Dan satu hal,aku ini suamimu bukan majikanmu.Berhenti memanggilku dengan sebutan Tuan" sambungnya.
" Sepasang suami istri seharusnya saling terbuka,bukan saling menutupi" ujar Jamilah.
" Kita akan saling terbuka jika kamu sudah sembuh nanti" kata Bramasta.
" Bagaimana kalo aku tidak sembuh?" tanya Jamilah.
" Terpaksa aku harus melakukannya sendiri" jawab Bramasta sambil tersenyum.
" Senyummu sangat manis Tuan,tapi kenapa kamu begitu kejam" gumam Jamilah dalam hati.
" Melakukannya sendiri?" Apa maksumu Tuan?" tanya Jamilah yang tidak mengerti maksud dari perkataan Bramasta.
" Tadi kamu bilang suami istri harus saling terbuka.Kalo kamu tidak sembuh juga,terpaksa cuma aku yang membukanya.Membuka pakaianmu juga pakaianku,kita saling terbuka.Begitu kan" goda Bramasta.
" Astaga,sampai kesitukah jalan pikiranmu Tuan?" tanya Jamilah lalu geleng-gelengkan kepalanya.
" Sampai sayang,atau kamu mau aku melakukan buka-bukaan itu sekarang.Dengan senang hati aku akan melakukannya" jawab Bramasta sambil mencondongkan tubuhnya.
" Gila" ucap Jamilah.
" Kalo aku waras,aku tidak akan menikahimu,menjadikanmu istriku" kata Bramasta.
" Aku tahu" lirih Jamilah.
" Tau apa?" tanya Bramasta.
" Aku tahu kenapa kamu menikahiku,semua karena dendam keluarga Mahendra pada keluarga Atmajaya kan,juga dendammu pada Bang Jamal yang sudah membelot dan berkhianat padamu" jawab Jamilah.
" Nyawaku milikmu.Kamu bisa langsung mengambilnya tanpa harus menyiksaku terlebih dahulu.Karena sebelum bertemu denganku,tubuh dan hatiku sudah puas disiksa" sambung Jamilah membuat Bramasta tertegun.