Raina adalah seorang istri yang sholikha, baik hati, dan selalu patuh terhadap suami.
Tidak hanya itu saja dia adalah sosok wanita yang lemah lembut.
Pernikahan nya dengan Nurman Hadiwinata awalnya berjalan dengan hangat dan penuh kebahagiaan walaupun sudah 5 tahun mereka belum memiliki seorang anak.
Namun kebahagiaan itu hancur saat ibu mertua Raina yang bernama Miranda datang mengusik kehidupan mereka.
Akankah Raina mampu menghadapi semua dilema kehidupan dengan ikhlas ataukah dia akan berhenti sampai disitu saja
yuk ikuti kisahnya
dan jangan lupa kasih dukungan
like
komentar
favoritkan
vote ya
dukungan kalian sangat berarti buat author
terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uma shidqiyya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Kini mereka berdua sudah berada didalam pesawat.
Terlihat Raina menyandarkan kepalanya di bahu Nurman.
"Apa kamu capek sayang, tidurlah nanti akan aku bangunkan" pinta Nurman.
"Nggak kok mas, aku hanya ingin bersandar sama mas aja.
Rasanya nyaman sekali bila bersandar" kata Raina yang sebenarnya dia hanya ingin menyalurkan setiap kesedihannya tetapi dia selalu bisa menyembunyikan dengan baik apa yang dia rasakan.
Nurman membelai kepala Raina dengan sayang.
Perjalanan yang hanya membutuhkan waktu 2 jam akhirnya sampai juga.
Di sana sudah ada yang menjemput mereka di bandara.
Nurman langsung menuju sebuah resort yang sudah dibooking oleh Nicko sebelumnya.
Raina dan Nurman memasuki mobil yang sudah disediakan oleh pihak hotel.
Mereka kini menuju ke hotel dan Raina begitu bahagianya saat sudah sampai dikamar mereka karena tempat mereka menginap sungguhlah sangat indah dan berhadapan langsung dengan pantai yang begitu indahnya.
"Mas, apa aku sedang bermimpi" kata Raina yang seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Nurman memeluk Raina dan mulai menciumi istrinya itu.
"Mas geli" kata Raina mencoba melepaskan pelukan suaminya namun sia-sia karena pelukan itu semakin erat.
"Jadi kami tidak bermimpi sayang, kamu kan bisa merasakan geli ya kan.
Jadi ini memang nyata" kata Nurman sambil terus saja mengendus-endus kan kepalanya di ceruk leher istrinya itu.
Tanpa menunggu penolakan Nurman segera menggendong istrinya ala bridal style dan merebahkan tubuh istrinya itu.
Dan akhirnya terjadilah pergulatan panas diantara mereka berdua.
Tak sedetikpun Nurman membiarkan Raina terbebas dari kukungannya.
Nurman tak ingin melepaskan istrinya barang sejenak pun seakan dia takut istrinya pergi meninggalkannya.
"Mas, aku sudah gak kuat lagi.
Sudah ya please mas" mohon Raina yang sudah kuwalahan dengan keganasan sang suami.
"Sebentar lagi ya sayang, ini sudah hampir kok" kata Nurman lembut disain telinga istrinya hingga kembali membakar hasrat istrinya.
Sangat lama pergulatan itu terjadi hingga akhirnya mereka berdua tumbang di atas tempat tidurnya yang lembut itu.
Mereka terbangun saat alarm di ponsel Raina menunjukkan waktu ashar.
Raina seketika terbangun.
Dia melupakan lagi ibadah sholat dhuhur nya.
Dengan segera dia beranjak dan segera mengenakan pakaiannya yang tadinya berserakan di lantai.
Dia mulai membersihkan tubuhnya dan segera mengambil wudhu.
Raina mengambil peralatan sholatnya dan memulai ibadahnya.
Tak henti-hentinya dia mengucap istighfar karena dia sudah melupakan waktu dhuhur nya karena tertidur.
Raina masih saja belum menyelesaikan ibadahnya sampai sang suami akhirnya terbangun dari tidurnya.
Nurman menggeliat dan mencari keberadaan Raina disebelahnya namun tak menemukannya.
Nurman akhirnya bangun dan melihat ke sekeliling dan mendapati Raina masih serius dengan aktifitas ibadahnya.
Nurman melihat jam yang sebelumnya dia letakkan diatas nakas dekat tempat tidur.
"Ternyata sudah pukul 5 sore, aku benar-benar sangat terlelap hingga tidak sadar waktu sudah sangat sore" batin Nurman dan segera beranjak menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Nurman pun dengan secepatnya melakukan ibadah seperti istrinya.
Sampai Nurman selesai beribadah dia masih mendapati istrinya masih bersimpuh dan berdoa.
"Sayang, apa kamu belum selesai" tanya Nurman memecahkan konsentrasi Raina dalam berdzikir.
Raina memberhentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Nurman.
"Iya mas, ini sudah selesai kok" jawab Raina
"Mas lapar nih sayang, yuk kita pesan makan.
Atau kamu mau kita makan diluar saja" tanya Nurman memberikan pilihan kepada Raina.
"Sebaiknya kita pesan saja mas, lagian kan sebentar lagi sudah adzan Maghrib lho" Raina memperingatkan.
"Iya juga ya, ya sudah biar mas aja yang pesan makanannya" kata Nurman kepada Raina.
Raina menganggukkan kepalanya tanda setuju sambil membereskan semua peralatan ibadahnya itu.
Sedangkan Nurman kini mulai menghubungi pihak resort untuk memesan makanan melalui sambungan telepon nya.
Sambil menunggu makanan datang Raina menuju balkon sambil memandang nan jauh disana.
Tepatnya dilautan lepas.
Tampak matahari sudah mulai tergelincir menciptakan suatu pemandangan yang sangat mempesona.
"Ya Allah sungguh indah alam ciptaan Mu ini.
Semoga hari-hari ku selanjutnya akan seindah ini dan tidak akan ada gangguan lagi dalam rumah tangga kami" batin Raina.
Raina membayangkan betapa bahagianya saat nanti dia dikaruniai anak-anak yang lucu dan manis.
Anak-anak yang akan menambah kebahagiaan mereka.
Raina tersenyum membayangkannya dan itu terlihat oleh pengawasan suaminya.
"Sayang, kamu kenapa tersenyum sendiri.
Apa ada yang membuat kamu bisa tersenyum seindah ini" kata Nurman memecahkan lamunan sang istri.
"Eh mas.
Nggak kok, cuma aku sedang membayangkan betapa bahagianya apabila kita nantinya akan dikaruniai anak-anak yang cantik dan tampan" kata Raina jujur.
Nurman berjalan mendekati Raina dan memeluk Raina dari belakang.
"Percayalah sayang, Allah pasti akan mempercayakan kita anak-anak yang cantik dan tampan seperti yang kamu harapkan.
Kita tidak boleh patah semangat ya" Nurman berusaha meyakinkan sang istri.
"Aku percaya kok mas, mungkin saat ini Allah berkehendak agar kita bisa merasakan indahnya berpacaran" jawab Raina penuh dengan senyuman yang merekah.
Begitu indah senyuman itu sampai-sampai Nurman mengabadikan senyuman itu lekat-lekat didalam kepalanya.
"Aku akan mengingat senyum indah mu ini sayang" batin Nurman.
"Mas lihatlah senja itu begitu indah ya" kata Raina dengan wajah yang berseri-seri.
"Iya sayang" jawab Nurman.
Mereka berdua larut dalam romantisme disenja hari sampai-sampai mereka disadarkan oleh suara ketukan pintu kamar mereka.
"Biar mas aja yang buka sayang" kata Nurman mengurai pelukan nya dan beranjak menuju ke pintu itu.
Ternyata pelayan resort sedang mengantarkan makanan untuk nya.
Nurman memberikan perintah kepada pelayan itu untuk menaruh semua pesanannya diatas meja.
Setelah pelayan selesai menghidangkan makanan itu diatas meja, pelayan itu keluar dari kamar Nurman dan Raina.
Nurman memanggil Raina yang terlihat masih enggan meninggalkan balkon.
"Sayang makanan kita sudah datang.
Ayo kita makan dahulu.
Kita belum makan siang lho ya tadi.
Aku tidak mau nanti kamu sakit" pinta Nurman dengan penuh permohonan.
Raina akhirnya masuk dan kini duduk tepat disamping Nurman.
Nurman tampak membuka semua hidangan.
Dia mulai menyuapi istrinya itu.
"Ayo sayang buka mulutnya" pinta Nurman.
"Mas, aku bisa makan sendiri" tolak Raina.
"Ayolah sayang, aku ingin sekali menyuapi mu" Nurman masih kekeh dengan keinginannya.
Mau tidak mau akhirnya Raina membuka mulutnya.
Nurman menyuapi istrinya dengan sangat telaten dan saling berpandangan.
Mata mereka seakan terpaku satu sama lainnya.
"Kenapa mas memandangiku terus sih" kata Raina salah tingkah karena merasa sedikit malu ditatap suaminya itu.
Terlihat jelas diwajahnya rona merah yang menambah kecantikan Raina membuat Nurman begitu gemas.
"Kamu kalau lagi tersipu menggemaskan deh sayang" goda Nurman.
"Ih mas, jangan begitu dong.
Aku nanti tambah malu nih.
Nih lihat pipiku sudah merah begini" kata Raina merajuk.
"Beneran sayang, kamu tambah cantik kalau begitu" Nurman masih saja terus menggoda istrinya.
"Mas udah dong gombalannya" pinta Raina.
"Beneran sayang, mana ada mas gombalan" jawab Nurman sehingga semakin membuat Raina semakin malu-malu.
"Sudah dong mas, kapan kita makannya kalau mas godain aku terus" mulai jengah dengan tingkah suaminya.
"Ya sudah kita makan saja ya, tapi sekarang kamu harus suapi aku dong sayang" pinta Nurman.
Raina pun menuruti permintaan suaminya.
Raina menyuapi Nurman dan bergantian menyuapi dirinya sendiri.
Sampai tak terasa makanan mereka sudah habis tak bersisa.
semangat terus updatenya kak
gdeg sm mmhnya nurmn .. bner" ichh mrtua kek gtu mit amit .. jgn smpe lh ... ckup d dunia novel aj hee