Ini adalah spin off dari novel Ryanthi (Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan).
Arumi yang patah hati, memutuskan menyendiri selama tiga tahun, sampai Edgar datang dan kembali menawarkan cinta yang telah lama terkubur. Berbagai penolakan Arumi lakukan, tetapi tak membuat Edgar lari atau menjauh. Pria itu terus maju, ketika Arumi memintanya mundur.
Selagi Edgar berusaha, Arumi justru terus mengharapkan cinta Moedya yang telah terlepas dan jadi milik wanita lain.
Akhirnya, Arumi sadar dan memutuskan pergi ke Perancis. Dia menyusul Edgar ke sana, untuk menerima pinangan dari pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Dalam Diam
Dengan kesal Arumi mencoba menghubungi nomor misterius itu. Akan tetapi sudah tiga kali ia mencoba menghubunginya, namun tak satu pun dari panggilannya ada yang dijawab oleh si pemilik nomor tersebut. Arumi menjadi semakin kesal karenanya. Ia merasa semakin yakin, jika ini semua adalah perbuatan Edgar.
"Dasar Edgar bodoh! Menyebalkan! Taik kucing!" Umpat Arumi dengan wajah yang mulai memerah. Ia lalu melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur dengan kesal.
Beranjak dari duduknya, Arumi kemudian melangkah dengan malas ke dalam kamar mandi. Sudah lama ia tidak berendam air hangat di dalam bathub kamar mandinya yang mewah. Hampir lima belas menit, gadis itu menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Arumi sudah keluar dengan bathrobes dan handuk putih yang melilit rambutnya. Rasanya begitu menyegarkan. Arumi merasa jika hari ini ia telah benar-benar mandi.
Ya, tentu saja. Di toilet toko tidak ada fasilitas mewah seperti di rumahnya. Ia hanya cukup mandi dengan sabun cair murahan, yang ia beli dari sebuah swalayan. Lumayan untuk sekedar menghilangkan bau asap setelah seharian bergelut dengan oven panas.
Baru saja Arumi akan mengeringkan rambutnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Arumi tertegun untuk sejenak. Sesaat kemudian, ia lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Tampaklah Zulaikha, salah seorang pelayan di rumah itu. Gadis seusia Arumi dengan tampilan yang sangat sederhana.
"Selamat malam, Nona," sapa gadis itu dengan ramah. Sedangkan Arumi tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
"Makan malam sudah siap. Pak Keanu dan bu Puspa sudah menunggu Nona di ruang makan," ujar Zulaikha lagi.
"Iya," sahut Arumi, "aku berpakaian dulu."
"Iya, Nona. Permisi," Zulaikha kemudian berlalu dari hadapan Arumi yang saat itu segera menutup kembali pintu kamarnya.
Kembali ke dalam, Arumi segera berpakaian dan merapikan dirinya. Ia juga membiarkan rambutnya tergerai dengan bebas. Kebetulan sekali pengering rambutnya rusak, jadi malam itu ia harus turun ke ruang makan dengan membawa rambutnya yang sedikit basah.
Berjalan dengan begitu tenang, langkah kecil Arumi harus terhenti seketika saat ia melihat ada seseorang yang lain, selain Keanu dan Puspa di meja makan itu. Seseorang yang juga tengah menatap ke arahnya.
Arumi ingin berbalik dan berniat untuk kembali saja ke kamarnya. Namun ia tidak memiliki alasan untuk melakukan hal itu. Dengan terpaksa, ia melanjutkan langkahnya menuju meja makan.
"Segar sekali ...." goda Puspa seraya melirik nakal adik iparnya. Sementara Arumi hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman kecil.
"Aku pikir kamu sudah melarikan diri dari rumah ini," ucap Keanu dengan seenaknya. Arumi hanya membalas ledekan dari sang kakak dengan mendelik ke arahnya.
Tidak nyaman, itulah yang Arumi rasakan saat itu. Sesekali ia menatap pada seseorang yang sedang duduk di kursi sebelah kiri Keanu. Seorang pria yang terlihat tidak peduli kepadanya.
Pria yang tiada lain adalah Moedya, lebih memilih untuk mencurahkan seluruh perhatiannya kepada Keanu. Ia terus berbincang dengan pria berambut cepak itu, dan seakan menganggap jika Arumi tidak ada di sana
Entah apa yang tengah dilakukan pria itu di rumahnya? Arumi juga merasa heran, karena ini sudah merupakan yang kedua kalinya ia bertemu dengan Moedya secara tanpa sengaja.
Tanpa sengaja? Arumi mengernyitkan keningnya.
Gadis itu kemudian melirik ke arah Puspa yang saat itu hanya senyum-senyum, sambil mengerlingkan matanya le arah pria berambut gondrong itu. Arumi tahu jika situasi ini pasti sudah direncanakan oleh sang kakak ipar.
Moedya masih terlihat asik berbincang-bincang dengan Keanu. Sementara Arumi terus beradu kode rahasia dengan Puspa, bahkan mereka tidak menyadari jika apa yang mereka lakukan itu telah menjadi pusat perhatian dari Keanu dan Moedya. Kedua pria itu menatap mereka dengan wajah yang dipenuhi rasa heran.
"Ada apa ini? Kenapa kalian bermain kode-kodean seperti itu?" Selidik Keanu yang seketika membuat Arumi dan Puspa tersentak kaget. Mereka berdua pun menoleh kepada Keanu dengan bersamaan dan langsung memasang senyuman yang sangat dibuat-buat.
Terdengar keluhan pendek dari mulut ayah dua anak itu. Perhatiannya kini kembali tertuju kepada Moedya. Entah masalah apa yang tengah mereka bahas saat itu. Hingga makan malam selesai, perbincangan mereka nyatanya masih terus berlanjut di ruang keluarga.
Arumi lebih memilih untuk bermain bersama si kecil Dinan. Sementara Puspa tengah menidurkan Jenna.
Dinan adalah anak yang sangat aktif. Arumi sampai kewalahan dalam mengasuhnya. Berkali-kali Arumi menahan rasa gemasnya terhadap anak itu. Ia bahkan terus berlarian di dekat Keanu yang saat itu tengah asik berbincang dengan Moedya.
"Come on, Dinan!" Arumi berkali-kali menyuruh anak itu untuk diam, namun Dinan memang terlalu aktif. Keluhan yang Puspa ungkapkan kepada Arumi tentang anak itu, memang benar adanya.
Arumi terduduk pada undakan anak tangga. Ia lalu memegangi kepalanya dengan wajah memelas. "Oh my God. Aku tidak bisa membayangkan, punya anak ternyata seperti ini rasanya," gumam Arumi pada dirinya sendiri. Rasanya saat itu ia ingin sekali menangis histeris. Untunglah saat itu Puspa muncul dan segera menyelamatkannya.
"Ah ... syukurlah ...." ucap Arumi. Akhirnya ia kini dapat bernapas lega. Sementara Puspa hanya tertawa pelan. Ia lalu menggendong Dinan.
"Sudah waktunya untuk tidur, Sayang!" Ucap Puspa kepada putra sulungnya.
"No, Mommy!" Tolak Dinan. Ia beronatak dan meminta untuk turun. Anak itu sepertinya masih ingin bermain.
"Tidak, Dinan! Ini sudah terlalu malam!" Tegas Puspa. "Anak kecil tidak boleh tidur terlalu malam!"
"Tente ... tolong aku!" Isak Dinan. Sementara Arumi hanya melambaikan tangannya dengan senyum lega ketika Puspa membawa anak itu menuju kamarnya.
Arumi kemudian beranjak dari duduknya. Ia bermaksud untuk naik ke kamarnya. Akan tetapi, langkahnya seketika terhenti ketika ia mendengar suara Moedya di sana.
Pria itu tampaknya akan pulang, karena ia sudah terlihat rapi dengan jaket kulitnya. Dengan segera Arumi menaiki anak tangga dan bersembunyi katika Keanu dan Moedya melewati area tangga itu. Samar-samar Arumi dapat mendengar percakapan di antara kedua pria itu.
Moedya mengatakan jika saat ini Ranum tengah sakit dan membuatnya sangat khawatir. Mendengar hal itu, Arumi menjadi ikut khawatir. Sudah sekian lama, ia tidak bertemu dengan wanita cantik itu. Ia bahkan tidak tahu dengan keadaannya saat ini.
Arumi terdiam untuk sesaat. Timbul niat dalam hatinya untuk menjenguk wanita itu. Seperti hubungan antara Keanu dan Moedya yang selalu terjalin dengan baik, maka tak ada salahnya jika ia pun tetap membina hubungan baik dengan Ranum.
Ada setitik rasa malu dalam diri Arumi. Ia merasa bersalah dan tidak enak, kepada wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu kedua baginya setelah Ryanthi.
Diam-diam, ditatapnya wajah itu. Wajah dengan penampilannya yang eksentrik dan sangat apa adanya. Moedya sangat mencintai rambut gondrongnya, itu yang selalu ia katakan. Ya, setidaknya rambut itu jauh lebih setia menemani dirinya, jika dibandingkan dengan Arumi.
Arumi terus memperhatikan pria itu, bahkan hingga menghilang dari pandangannya. Sesaat kemudian, Arumi pun segera berlari menuju balkon. Dari sana ia dapat melihat Moedya dengan jelas.
Pria itu tengah memakai helmnya dan bersiap untuk pergi. Beberapa saat kemudian, motor yang dikendarai Moedya akhirnya melaju dan meninggalkan halaman rumah megah itu. Ia sudah benar-benar menghilang dari pandangan Arumi.
Tertegun, Arumi mulai memikirkan banyak hal. Ditatapnya langit malam yang gelap. Langit yang selalu terlihat sama meskipun waktu terus berganti. Ia masih dan selalu setia menaungi bumi hingga saatnya nanti semua akan berakhir.
Lalu, apa yang terjadi pada kesetiannya? Pantaskah jika ia disebut sebagai seorang pengkhianat?
moemoe & Mimi.. sudah bersama kembali setelah moemoe keluar dari penjara selama 3 th.
tapi kenapa sekarang malah jadi mantan ?
jadi gak nyambung baca cerita ny
harus tegas terhadap moemoe...
jaga hati Edgar..
moemoe rasain... nyesel kan akhirnya. makanya jadi orang jangan plin plan...
putus dengan Diana pelan2 aja.. yakinkan Diana klo cinta tidak bisa dipaksakan.... lalu mulai lembaran baru dengan arumi juga pelan2 aja..
skrg udah mulai move on km datang n seenaknya bilang masih cinta...
maumu ap moe"
pdhal pemilihan ktanya bagus trus jrang ada typo jg perbabny jg GK kbnyan trus GK sedikit jg sedang lh ...
semangat kk otot😘😘